Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Apel Fuji dan Sabtu Merah yang Tak Lagi Indah
1
Suka
734
Dibaca

BAGI orang pelosok seperti keluarga kami, hiburan mewah sebatas memakai baju monyet dan sepatu sandal Homyped yang bisa menyala ketika terinjak. Lalu pergi ke alun-alun tiap malam Minggu, nongkrong di depan masjid agung sambil makan apel fuji dan es krim Spongebob.

Namun, kebahagiaan yang tak pernah bosan kusombongkan kepada teman-teman sekelas dan sekampung itu, tidak berlangsung lama. Ketika usiaku lima tahun, suami ibuku kecelakaan parah hingga tulang kakinya patah dan hanya bisa berbaring di dipan di ruang tengah.

Selama berbulan-bulan aku kesepian karena Ibu harus menunggui suaminya di Sangkal Putung. Selama berbulan-bulan aku muak ditanya keadaan dia acapkali bertemu dengan tetangga. Padahal aku tidak tahu apa-apa. Tidak boleh tahu apa-apa. Tidak mau tahu apa-apa.

Setelah dia diperbolehkan pulang, perasaanku campur aduk. Di satu sisi aku sebal karena ketenanganku dicabut paksa—aku tidak pernah tenang berada di dekatnya. Di sisi lain, aku juga senang karena bisa berdekatan kembali dengan Ibu setelah lama hanya tinggal bersama Nenek yang mirip nenek lampir—sumpah, rambutnya panjang awut-awutan, bibirnya merah karena kinang, suaranya menyalak lantang.

Namun, ternyata harapanku itu juga fana semata. Setelah dia pulang, aku diungsikan ke rumah Bude yang galaknya melebihi Narayan Shankar. Setiap pagi, aku harus pasrah mendapati kenyataan bahwa badanku telah basah kuyup, terkena ompol sepupuku, yang bau pesingnya bikin pusing. Ibu terlalu sibuk mengurusi suaminya yang lemah dan papa, hingga lupa ada anaknya yang juga butuh diurusnya.

Tiap ada kerabat yang menjenguk dan membawa buah tangan, Ibu selalu mengantarkannya ke rumah Bude untuk kumakan. Menurut Ibu, semua makanan itu bisa menggantikan absensi kehadirannya dalam hidupku selama masa pemulihan suaminya. Pertama, itu jelas keliru. Kedua, semua makanan itu tidak pernah sampai ke tanganku. Habis dibagi ke anak-anak Bude yang banyak itu, tanpa sepengatahuan Ibu. Konon sebagai “upah” karena telah repot-repot merawatku.

Pada Sabtu sore yang abu-abu—karena si nenek lampir sedang membakar sampah hingga asapnya membumbung ke penjuru pekarangan; aku diam-diam pulang ke rumah Ibu dan merengek pergi ke alun-alun.

“Ibu 'kan harus merawat Bapak.”

“Dan melupakan anak.”

“Hush! Jaga bicaramu, ya!”

“Memang begitu kok. Ibu lupa sama aku!”

“Seorang ibu tidak akan mungkin melupakan anaknya. Kamu pikir Ibu cukup tenaga untuk bekerja, mengurus Bapak, mengurus kamu juga?”

“Ke alun-alun 'kan cuma sebentar, Bu? Aku janji kita beli apel dan es krim saja, lalu pulang. Akan aku makan di rumah, tidak perlu nongkrong seperti biasanya.”

“Nanti Bapak sama siapa?”

“Selama Ibu bekerja, dia di rumah sendiri, tidak ada masalah 'kan?”

“Dia, Dia! Bapak!”

“Ya, itu maksudku.”

“Ibu minta Om untuk mengantarmu, ya?”

“Aku maunya sama Ibu!”

“Bu...” Terdengar suara serak, manja, dan menjijikkan dari dalam. Ibu tergopoh-gopoh menghampiri dan melupakan negosiasi kami.

Atau barangkali, ini justru kesempatan baginya untuk menghindari permintaanku? Semua orang dewasa memang suka semaunya sendiri, seolah mereka tidak pernah merasakan menjadi anak-anak yang diduakan. Dilupakan.

Aku merenung di teras, bersandar kepada tiang kayu jati. Menatap si nenek lampir yang khusyuk mengobok-obok sampah agar terbakar seluruhnya. Kulihat sudut bibirnya terangkat hingga cairan merah di mulutnya muncrat. Dia pasti sedang menertawakan kesedihanku.

Dengan berat kaki, pelan-pelan aku beranjak melewati halaman rumah yang penuh asap dan bau tahi kambing. Aku berjalan menuju rumah Mak yang berada di serong kanan dari rumah ibuku. Pintu tertutup. Tok tok tok. Rumahnya sepi. Mak yang bukan siapa-siapa itu, biasanya selalu menghiburku. Ia memperlakukan aku seperti cucunya sendiri karena anak semata wayangnya telah mati, hanyut di kali. Belum sempat menikah. Tapi sekarang Mak tidak di rumah. Dan aku tidak punya opsi melepas gundah.

Aku memilih menunggu Mak di depan rumahnya. Duduk di ban bekas yang telah disulap menjadi “ayunan proletar”—aku tidak tahu artinya, tapi begitulah Pakde memperkenalkannya kepadaku. Katanya, warisan sejak anaknya masih kanak-kanak. 

Karena aku kurang gizi (ini menurut kader posyandu), tubuhku bisa muat masuk seluruhnya ke atas ban. Kakiku ditekuk ke depan, kupeluk erat-erat. Dahiku bersandar di lutut dan meringkuk. Menumpahkan air mata yang selama ini kupendam.

Aku rindu Ibu.

Aku butuh Mak.

Aku benci dia.

Aku benci semua orang dewasa!

Ketika aku sedang khusyuk meringkuk dan memeluk diriku sendiri, samar-samar kudengar teriakan. Seseorang memanggil namaku. Suara yang sangat kukenal dan tidak ingin kudengar.

“Asu! Awas, asu!”

Tak kuhiraukan pekikan itu. Nenek lampir memang selalu memanggilku “anak asu”. Itulah muasal aku sangat membencinya, sebagaimana aku membenci suami ibuku. Sebab ia tidak pernah mengasihiku selayaknya kasih nenek kepada cucu.

“Heh, anak asu! Awas ada asu!”

Aku baru saja mengangkat muka ketika kulihat dari arah Selatan, tiga ekor anjing hitam berlari ke arahku. Ukurannya bahkan lebih dari dua kali lipat tubuhku! Mereka berlari, menggonggong, menjulurkan lidahnya yang penuh liur.

Sekonyong-konyong aku melompat dari ayunan. Tiga rumah dari rumah Mak, kulihat para sepupuku, anak-anak Bude tertawa ngakak melihatku kepayahan mencari perlindungan, sembari menabrak semak-semak sebab kedua bola mataku masih digenangi air kesedihan.

“Ibu! Ibu!” Kukerahkan segenap tenaga yang kupunya, berharap Ibu mau sebentar saja meninggalkan suaminya.

“Ibu! Tolong, Bu!” Aku terus berlari sembari menyemai harapan bahwa Ibu akan datang.

“Ibu, aku bukan anak anjing. Aku anak Ibu....”

Kakiku tersandung balok kayu. Tubuhku yang gempi nyemplung begitu saja ke selokan lebar di depan rumah. Seketika aku dilumuri cairan pekat berbau busuk campuran kencing dan kotoran. Hanya pipiku yang bersih karena dilinangi air mata. Mulutku bahkan sudah penuh lumpur dan kotoran entah apa, terus mangap memanggil-manggil nama ibuku. Ibu yang lebih sayang suaminya. Ibu yang tidak mendengar teriakanku. Ibu yang tidak datang menolongku.

Aku terus menjerit. Tak peduli ayat suci Al-Quran mulai terdengar dari speaker musala, pertanda magrib segera tiba. Aku terus berteriak, tak peduli para sepupuku pulang sembari membual soal anak anjing yang malang. Aku terus merintih, tak peduli meski anjing-anjing itu telah berdiri di tepi selokan. Memandangku nanar. Lalu pergi setelah dilempari batu oleh nenek lampir.

“Diamlah! Sana pulang ke budemu!” Nenek lampir melirik ke arahku, tanpa setitik pun niat membantu. “Anak anjing kok takut sama anjing.”

“Aku bukan anak anjing! Kamu yang anjing!”

“Riz!” Kini kudengar suara Ibu, ia berdiri di ambang pintu. Matanya melotot nyaris keluar menatapku. “Bicara yang sopan ke Nenek!”

Aku ternganga. Aku termangu. Rasa pesing dan bacin di mulutku seketika lenyap sesaat setelah mendengar kalimat itu.

Ibu berjalan ke arahku. Memaksaku berdiri. Menyeretku ke bilik mandi. Mengguyurku dengan air dingin. Menyemprot rambutku dengan sampo. Membersihkan lumpur-lumpur dengan menjambak rambut dan menggosok kulitku. Dua kali memukul kepalaku dengan gayung cinta berlumut. Satu kali mencubit lenganku hingga biru.

Ibu membuka pintu. Menyeretku yang tengah telanjang. Membawaku melewati dipan di ruang tengah berisi manusia paling jahanam. Membuka pintu lemari dengan kasar. Menutup tubuhku yang bugil secara kasar. Menyisirku dengan geram.

Ibu meraih kunci motor. Menyeretku dari kamar. Membawaku ke teras. Mendudukkanku di jok belakang. Menyetarter motor Suzuki hadiah buruh teladan. Mengabaikan kumandang azan. Melewati comberan. Melewati anjing-anjing yang bergumul di depan rumah tetangga sembari menyoraki kami yang lewat tanpa permisi.

Aku melalui dan menyaksikan semua itu dengan mulut terkatup.

Ibu membawaku ke alun-alun. Berhenti di depan pedagang buah, memilih sekilo apel fuji. Melajukan motornya. Berhenti di depan toserba. Menyeretku masuk. Mengambil lima bungkus es krim Spongebob. Membayar di kasir. Marah-marah ke tukang parkir. Melajukan motornya. Mengomeliku di sepanjang jalan.

Motor Ibu berhenti di depan rumah Bude. Meninggalkanku yang masih duduk melamun di atas jok. Menyerahkan kresek berisi apel fuji dan es krim Spongebob kepada Bude, tanpa mengambilkan satu untukku.

Ibu datang. Tangannya mendarat di telingaku. Menarik dan memutarnya hingga kurasakan nyaris copot. Dari spion, kulihat telingaku telah semerah saga.

Masih dengan tangan yang menempel di telingaku, Ibu menariknya hingga tubuhku terangkat dan diturunkan begitu saja.

“Dasar anak asu.” Kulihat matanya merah berair. Lalu pergi begitu saja menyisakan getir. Seharusnya memang ia menjewerku hingga telingaku betul-betul putus. Agar aku tidak perlu mendengar itu.

Aku berdiri di pekarangan rumah Bude. Dan tidak ada yang menyuruhku masuk.

“Aku bukan anak asu, Bu.”

“Aku anak Ibu....”

“Atau, Ibu juga asu?”

***

Kendal, 01.01.2026

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Apel Fuji dan Sabtu Merah yang Tak Lagi Indah
Rizky Anna
Cerpen
Bronze
PINTU TUA
Rohid Firmansyah
Cerpen
Bronze
Maghdiraghar Nyurathala
JWT Kingdom
Cerpen
Bronze
Cinta Tanpa Batas
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Mati Itu Pasti; Lapar Itu Setiap Hari
Andriyana
Cerpen
Bronze
A Little Secret
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Cerpen
Narasi Perempuan
Meilisa Dwi Ervinda
Cerpen
Bronze
Pelajaran dari Ban
Nuel Lubis
Cerpen
Estafet Pulpen
Fionny Dita Arianti
Cerpen
Bronze
Hanya Untukmu
mareta amelia
Cerpen
Perhatikan Rani (Part 2)
Cassandra Reina
Cerpen
MINE & YOURS
Racelis Iskandar
Cerpen
Bronze
Grooming
Alya Nazira
Cerpen
Satu Hari di 2010
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
Sipanggaron
Muram Batu
Rekomendasi
Cerpen
Apel Fuji dan Sabtu Merah yang Tak Lagi Indah
Rizky Anna
Cerpen
MERAH TERAKHIR
Rizky Anna
Cerpen
Wani Wedi
Rizky Anna
Cerpen
Manusia Berjantung Pisang
Rizky Anna
Novel
SARU [Kumpulan Cerita]
Rizky Anna
Cerpen
SEPOTONG DASIMAH
Rizky Anna
Cerpen
LALI
Rizky Anna
Cerpen
Keras Kepala
Rizky Anna
Cerpen
Bakso Madura
Rizky Anna
Flash
GERHANA
Rizky Anna