Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Apakah bakatku 'Spiritualis?'
0
Suka
3,937
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di sebuah kampung pinggiran kota Jogja aku dilahirkan. Seorang lelaki, bungsu dari empat bersaudara. Ayah seorang pegawai negeri biasa, dan ibu seorang pedagang nasi gudeg. Aku hidup dalam suasana kekeluargaan dan keagamaan yang hangat.

Ayah seperti orang Jawa pada umumnya, menyimpan peninggalan benda- benda pusaka. Tiga bilah keris yang konon bertuah. Aku belum paham akan benda-mistik seperti itu. Waktu kecil, aku hanya merasa itu benda hiasan biasa yang tak ubahnya dengan benda-benda peralatan rumah tangga biasa.

Ayah tidak pernah memberi tahu perihal simpananya. Belakangan baru kuketahui, bahwa beliau sendiri sudah tidak mempedulikan. Tidak merawat, apalagi memberi makan, kepada pusaka simpananya, sebagaimana kak...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Apakah bakatku 'Spiritualis?'
Budi susilo
Novel
Bronze
Layang-Layang Putus Tak Pernah Salah
DMRamdhan
Flash
Di Balik Kamera
Sekar Kinanthi
Flash
Menuju Pergantian Tahun Baru
Diyanti Rita
Novel
Absence
Arialdi Kaspari
Cerpen
Iblis Betina
Tiri Tirtha
Novel
Bitterfly
Anisah Aulia Putri
Novel
Gold
Sherlock Holmes: Locked Rooms
Mizan Publishing
Novel
Gold
Suster Misterius
Mizan Publishing
Novel
Temukan Aku!
Rexa Strudel
Novel
Di Kehidupan Kedua
Quaanra
Cerpen
Bronze
Cinta Bisa Sehijau Rumputan atau Seguguran Salju
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Cerpen
Bronze
Großmutters Zitronengericht (Masakan Lemon Nenek)
Silvarani
Novel
Bronze
Mayat Wanita Bercadar itu, Istriku (Bukan Pesona Cleopatra)
Alibnu A.
Flash
Kitab Manhyang
Tourtaleslights
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Apakah bakatku 'Spiritualis?'
Budi susilo
Cerpen
Bronze
Kapan sebaiknya 'proklamasi' isi hatimu...?
Budi susilo
Flash
Bronze
Dikejar malah mau makan genderuwo
Budi susilo