Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Apa kau Ingat?
3
Suka
37
Dibaca

   “Apa kau ingat?”

Tanya anak perempuan dengan setelan dress panjang berwarna merah muda, yang dipadukan bandana kuning bermotif volkadot. Rambutnya dibiarkan terurai dan sedikit bergelombang. Ale yang tidak terlalu tertarik dengan cerita orang lain pun, hanya fokus pada gawainya.

“Hari ini adalah ulang tahunku. Berita hari ini bilang bahwa cuaca akan cerah, tapi ternyata perkiraan mereka keliru, aku jadi harus menunggu begini, “ Gadis itu tetap bicara meski tidak seorang pun mendengarnya. Jalan yang biasa Ale lalui sedang diperbaiki, ia terpaksa mengambil jalan lain. 

Risak, begitulah nama jalan itu disebut, hanya ada satu rute bus disana, yang terhubung ke kota X. Meski hanya butuh 10 menit untuk sampai disana, tetap saja orang-orang enggan untuk menggunakan rute ini. Mungkin karena jalannya terlalu terjal, ditambah banyaknya pohon-pohon rindang yang nyaris menutupi area sekitar. Lebatnya pohon di hutan tersebut, membuat sekitar tampak seperti malam hari.

Ale berpikir itu akan menjadi hari terakhir ia menggunakan rute tersebut. Sayangnya Ale harus melalui jalan ini untuk kedua kalinya, karena jalan yang biasa masih belum selesai diperbaiki. Suasana cukup ramai, sepertinya ada festival.

“Satu jam lagi kita berangkat, “ ujar sopir kemudian minum secangkir kopi yang ia pesan dari kedai terdekat, “hari ini sedang ada Festival Risak Igung Bengkok, Pamali jika berangkat sekarang,”

Ale menghela nafas kasar, tidak akan ada bus lagi di jam seperti ini. Ditambah area ini cukup sepi, jadi jarang ada yang lewat. Tidak ada yang bisa Ale lakukan selain menunggu. 

Rasa cemas menyelimuti dadanya. Suhu semakin dingin meski ramalan cuaca bilang hari ini akan hangat. Ketika Ale tengah asyik bermain ponsel, baterai ponselnya pun habis. Satu kesialan lagi menimpa dirinya. Ale memutuskan untuk berjalan-jalan, menghabiskan waktu yang tersisa. 

“Ah kau kesini rupanya. Kupikir aku tidak akan pernah melihatmu,” celetuk seorang pria paruh baya, ia memakai setelan serba hitam dengan ikat kepala berwarna biru tua. Ale mengernyitkan dahi heran. 

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Ale penasaran. 

“Tentu saja. Waktu itu kau sekecil ini, setiap tanggal 28 Oktober pas hari festival seperti ini, kau selalu datang bersama adikmu, membawa banyak makanan untuk persembahan, apa kau ingat itu?“ Kakek itu mencoba untuk memastikan ingatan Ale.

Festival itu dimulai, semua orang berbaris menghadap satu pohon besar. Seorang pria dengan topeng merah dan ukiran emas, menari mengelilingi pohon tersebut, mengibarkan bendera putih yang ditengahnya ada semacam gambar kepala kambing. Keduanya matanya melotot besar, dengan taring yang melengkung di kedua pipinya. Orang-orang yang semula duduk santai di kedai pun, langsung berkumpul menaruh tangan kanannya di dada, sementara tangan kirinya mereka letakkan di perut.

“Saat itu ramai, banyak orang berdatangan. Karena itu aku tersesat, menerobos gerombolan para pria itu, tahu-tahu aku sudah di tengah dekat pohon besar itu, “ celetuk gadis perempuan itu menunjuk ke arah kerumunan. Pakaiannya masih sama seperti yang Ale temui saat di halte bus, yaitu merah muda dengan bandana warna kuning bermotif volkadot. 

“Ini hanya ritual biasa, setiap tanggal 28 Oktober orang-orang akan berkumpul disini,” Gadis itu lalu menoleh ke atas, tepatnya ke arah patung besar menyerupai wajah seseorang,”untuk memberi anak pada raja mereka,” 

Irama gendang semakin kencang, bersamaan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penari pria, seolah menyatu dengan suara gadis yang masih melihat ke arah yang sama. 

“Kelahiran disini sudah diatur, setiap ibu wajib untuk mengandung sesuai dengan giliran yang sudah ditentukan. Jika bayinya perempuan, maka harus diberikan pada Raja pada saat usianya menginjak 9 tahun,” jelas gadis tersebut. 

Penari pria itu menghentakkan kakinya, membuat jejak di sekitar pohon tersebut. 

“Sak”

“Risak!”

Penabuh gendang itu mulai bersuara dengan lantang.

“Sak”

“Risak!”

Ale ingin bertanya, tapi mulutnya seakan terkunci oleh sesuatu.

“Suatu keberuntungan, satu ibu melahirkan sepasang kembar dengan jenis kelamin perempuan ..,” Alisnya menurun bersamaan dengan helaan napas pelan, kemudian ia tersenyum tipis,”Sayang sekali, salah satu harus dikorbankan. Ibu itu memilih putri yang paling banyak kecacatannya,” lanjut gadis itu.

“Sak”

“Risak!”

Ale meneguk ludahnya, napasnya seakan tercekat. Hawa dingin semakin menusuk, gemuruh mulai terdengar kencang. Tempo dari gendang yang ditabuh semakin keras. 

“Sak”

“Risak!”

“Untungnya Tuhan masih punya belas kasih. Dua saudara kembar itu saling melindungi dan berjanji untuk lari dari desa itu,” suara gadis itu mulai gemetar, airmatanya menetes membasahi kedua pipinya.

“Tapi langkahnya terlalu kecil. Mustahil untuk melarikan diri dari belasan pria yang mengejar dua gadis seperti hewan buas kecuali ..,” Gadis itu terdiam selama beberapa saat, cukup lama sampai Ale tidak menyadari sudah ke putaran berapa penari laki-laki itu mengelilingi pohon besar,”Ada satu orang yang bisa menjadi umpan,” 

“Aarghhh!” teriak para penari pria secara bersamaan. 

“Lupakan dan lanjutkan hidupmu seperti biasa, itu janji indah yang diucapkan di momen tidak tepat,” 

“Sak”

“Risak!”

Tubuh Ale mulai gemetar, ia ingin berteriak. Namun suaranya tidak keluar. Rapalan itu semakin keras, menjejali pikirannya. 

“Sak”

“Risak!”

Gadis itu menoleh, membuat Ale melongo tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Separuh wajahnya terdapat bercak berwarna keabuan. Itu bukan bekas luka, melainkan tanda lahir.  

“Sak”

“Risak!”

Gadis itu mendekati Ale, tersenyum padanya. 

“Aku berjanji akan melupakan semuanya dan hidup dengan baik, itu janji lain yang diucapkan untuk membalas pengorbanan seseorang. Jujur saja, aku senang ketika mendengarnya,” ujar gadis itu.

“Sak”

“Risak!”

“Dibawah bulan purnama sempurna, kita saling bertukar janji. Apa kau ingat itu, Ale?” ucapan gadis itu membuat Ale terisak. 

....

“Sak”

“Risak!”

 

Suara teriakan Sam membuat Ale tersentak, ia mendapati dirinya berada di kantor. Kartu yang digambar dengan karakter manusia kepala kambing dilempar oleh Sam ke meja. Sudah tiga jam mereka bermain, waktu sudah menunjukkan pukul dini hari. 

“Ah kalah lagi,” Wan mengerucutkan bibirnya. Wajahnya tampak frustasi.

“Apa kau serius dengan cerita tadi? Maksudku tentang mitos Festival di tengah hutan itu,” 

“Entahlah, tapi kata orang itu benar-benar ada,” sahut Ale menatap satu kartu yang bergambar bulan purnama. 

“Aku harap itu hanya mitos. Mengerikan membayangkan bagaimana kelompok mengorbankan gadis di bawah umur untuk persembahan konyol raja apa lah itu namanya,” keluh Wan. 

“Kau benar, sangat mengerikan jika mereka benar-benar ada,” timpal Ale lalu membereskan tumpukan kartu ke kotaknya.

Sam menyandarkan dirinya ke sofa, sambil menikmati keripik kentang yang ia beli lewat aplikasi online,”Permainan kartunya cukup bagus. Aku tidak percaya jika kau yang membuat ini. Apa tadi kata kamu namanya ..,” Sam berpikir keras, keningnya berkerut.

Ale tersenyum,”Namanya Risak.” 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Apa kau Ingat?
Linggarjati Bratawati
Novel
Bronze
Zona Zombie -Novel-
Herman Sim
Cerpen
Bronze
KALA: Perjalanan Terakhir
afdal pratama
Novel
Parasomnia
Alfian N. Budiarto
Cerpen
Mangkir
Topan We
Cerpen
Bronze
Tempat Tidur Emak
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Tumbal Lorong Sewu
Dewie Sudarsh
Novel
Bronze
CURSE
Yattis Ai
Novel
Gold
Fantasteen Mistery of Archelloite
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Simfoni Gema Yang Membeku
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
ALONE~Novel~
Herman Sim
Novel
Cursed on the Witching Hours
Roy Rolland
Novel
Keluarga Darayan, Misteri Rumah Gadai
Sisca Wiryawan
Novel
Missing
Nathaniel Deandre Devin Subagia
Novel
Gold
Dering Kematian
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Flash
Yang Gila Disini Siapa?
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Apa kau Ingat?
Linggarjati Bratawati
Novel
Hata-Hata Ni Dodo
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Dogma
Linggarjati Bratawati
Flash
DISKUSI
Linggarjati Bratawati
Flash
AKU SUDAH BERJANJI
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Pelelangan
Linggarjati Bratawati
Flash
AKU TIDAK MENGERTI CARA JATUH CINTA!
Linggarjati Bratawati
Skrip Film
Jika Bunuh Diri Tendang Saja Kakiku
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Orleander
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Destinasi Wisata Nirwana
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Kāma-Manas
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Sintak Mangilas
Linggarjati Bratawati
Cerpen
Laki-laki Hijau
Linggarjati Bratawati
Cerpen
In Ternebris
Linggarjati Bratawati