Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
ANTIMA
5
Suka
9,162
Dibaca

Jam 11:44 – Jalan Mendaki dan Surat yang Tak Pernah Dikirim

Mobil putih itu mendaki pelan, menapaki jalanan sempit berbatu menuju kaki bukit Dieng yang diselimuti kabut tipis. Udara sejuk menembus celah kaca jendela yang sedikit terbuka, membawa bau tanah basah dan sayup-sayup aroma pinus yang baru tumbuh. Dalam mobil yang menghela napas seperti makhluk tua kelelahan itu, duduk empat jiwa yang tidak lebih muda dari jalan yang mereka lewati.

Di kursi depan sebelah kiri, Ardhika, lelaki berusia 69 tahun, memeluk buku kecil bersampul kulit—Rumi: The Essential Teachings. Tangannya kurus, jari-jarinya gemetar sesekali saat ia membalik halaman. Bukan karena Parkinson atau gemetar usia, tapi karena kata-kata. Kata-kata selalu mengguncang seseorang yang terlalu lama menyimpan perpisahan dalam diam.

“Pernah kau rasakan, bagaimana cinta tak memerlukan tubuh untuk tinggal?” gumamnya, entah pada dirinya sendiri atau angin yang masuk dari celah jendela.

Di sebelahnya, duduk Pak Surya, sopir sewaan dari kota. Usianya tampak tiga dekade lebih muda dari penumpangnya, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tua: semacam kelelahan yang tak berasal dari tenaga. Ia hanya mengangguk pelan sambil tetap fokus pada tikungan tajam di depan. Di dasbor, ada gantungan kecil bergambar lukisan bunga melati. Tidak ada ornamen Islami atau Kristen, hanya sepotong sajak: "To vanish gently, is a kind of bravery."

“Bapak suka puisi?” tanya Ardhika.

Pak Surya menoleh sekilas, senyum tipis. “Saya hanya menyalin, Pak. Yang menulis, bukan saya. Tapi... saya paham rasa di baliknya.”

Di bangku belakang, Satya merapikan jam kantong perak miliknya. Jam tua itu pernah berhenti berdetak saat istrinya tewas dalam kecelakaan menara jam yang ia rawat selama puluhan tahun. Sejak hari itu, ia tak pernah benar-benar mempercayai waktu. Tapi tetap membawanya, seperti orang yang membawa abu istrinya dalam liontin kecil—bukan untuk dikenang, tapi untuk tidak lupa bahwa kehilangan pernah terjadi.

“Kalau jam ini berdetak hari ini,” katanya, “mungkin waktuku sudah habis.”

Di sebelahnya, Rumi mem...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
ANTIMA
glowedy
Cerpen
Langkah yang Tak Seirama
Riadatun Hasanah
Cerpen
Paket Penyelamat Nyawa
Adrikni LR
Cerpen
Di Antara Detik yang Berlari dan Tatapan yang Meneka
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Jalur Langit
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Matahari Kembar di Langit Bruistagi
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
Lonceng Bel sepeda dan Petak Umpet di Ujung Senja
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Mendekap Surga
Trippleju
Cerpen
Bronze
Uang-uang yang Tercecer di Jalan
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
"Puss. . . Meong. . . "
Izzatunnisa Galih
Cerpen
Bronze
Kulkas Berbicara
Athea Magnolia
Cerpen
Retak Dinding Rumah Petak
Duwi Rachmawati
Cerpen
Harapan
Cassandra Reina
Cerpen
Kisah Masa Orientasi Sekolah
Nadia Safa Nurmalacita
Cerpen
Senja Selalu Pulang ke Halte Nomor Tiga
Penulis N
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
ANTIMA
glowedy
Novel
ADA CINTA DI SALON JENAZAH
glowedy
Cerpen
Bronze
Ngaku Saja Pak Dul!
glowedy
Cerpen
Bronze
JAZZBUK
glowedy
Novel
Bronze
JANDA & THE TABLE
glowedy
Cerpen
Bronze
BOY BEHIND THE VEIL
glowedy
Novel
Bronze
MOTHERVAN
glowedy
Novel
Bronze
SWEET INK
glowedy
Cerpen
Bronze
JUAL BELI NAMA
glowedy
Cerpen
Bronze
TERSESAT DI IPOH
glowedy
Novel
Bronze
CLUB FANTASY
glowedy
Novel
Bronze
KAPULAGA
glowedy
Cerpen
Bronze
LANGKAH KETUJUH DARI LIANG
glowedy
Cerpen
Bronze
NADINE
glowedy
Novel
The Coffee Before The Break
glowedy