Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Senin pagi. Hari di mana matahari bersinar dengan semangat yang tidak perlu, dan gravitasi bumi terasa dua kali lebih berat dari biasanya. Aku berdiri di lobi utama gedung kantor PT Maju Mundur. Di kakiku, tergeletak sebuah benda yang menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber penderitaan umat manusia: Galon Air Mineral 19 Liter.
Tugasku sederhana: Bawa benda biru gembul ini ke pantry di lantai 12, karena stok air di sana sudah habis total dan Pak Bos (Si Botak) sudah mulai berteriak haus seperti unta yang tersesat di Sahara.
Biasanya, ini tugas mudah. Masukkan galon ke troli, dorong masuk lift, tekan tombol 12, ting, sampai. Selesai dalam 5 menit. Tapi hari ini, Tuhan sedang menguji iman dan ototku.
Di depan dua pintu lift yang biasanya berkilau, berdiri sebuah papan kuning bertuliskan: "LIFT UNDER MAINTENANCE / SEDANG DALAM PERBAIKAN. MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANANNYA."
Aku menatap tulisan itu. Lalu menatap lift barang. Sama saja. Ada teknisi yang sedang membongkar kabel-kabelnya. "Mas, lift mati semua?" tanyaku penuh harap. "Iya Mas. Kabel sling-nya putus digigit tikus mutan kayaknya. Estimasi bener 3 jam lagi," jawab teknisi itu santai sambil ngopi.
Tiga jam? Dalam tiga jam, Pak Bos bisa mati dehidrasi dan arwahnya akan gentayangan menuntut kopi. Staf satu lantai bisa berubah menjadi zombie yang saling mangsa karena kehausan. Aku tidak punya pilihan.
Aku menatap tangga darurat di pojokan. Pintu besi tebal itu seolah menyeringai padaku. "Halo Aryo," bisik pintu itu. "Selamat datang di neraka kardio."
12 Lantai. Setiap lantai rata-rata 20 anak tangga. Total 240 anak tangga. Beban: 19 Kilogram (belum termasuk berat dosa dan beban hidup).
Aku menarik napas panjang. Mengucapkan Bismillah dan Innalillahi secara bersamaan. Aku mengangkat galon itu ke pundak kananku. KREK. Bunyi tulang selangkaku protes. "Tenang tulang, kita bisa. Kita kuat. Kita... kita butuh koyo cabe nanti malem."
Aku mulai melangkah. Satu. Dua. Tiga. Misi bunuh diri dimulai.
Lantai 1, 2, dan 3 masih bisa kulewati dengan senyum getir. Fisikku masih segar (walau sarapan cuma bubur ayam setengah porsi). Aku mengatur strategi: "Setiap satu lantai, aku istirahat 30 detik. Taruh galon, napas, lanjut. Santai. Kayak latihan CrossFit, tapi tanpa instruktur yang teriak-teriak."
Sampai di bordes Lantai 3, aku menurunkan galon. Napasku mulai ngos-ngosan dikit. Keringat mulai muncul di jidat. "Oke, lumayan. Masih 9 lantai lagi. Kecil."
Tiba-tiba, pintu darurat di Lantai 3 terbuka. Muncul sesosok pria dengan setelan jas mahal, kepala licin memantulkan cahaya lampu neon, dan sepatu pantofel mengkilap. Pak Bos. Si Botak.
"Lho? Aryo?" sapanya dengan suara baritonnya yang menggelegar di lorong tangga yang bergema.
"E-eh... Pagi Pak," jawabku kaget, refleks hormat (sambil tangan satu megang leher galon).
"Lift mati ya? Saya juga mau naik nih. Saya abis dari lantai 3 ngecek divisi Marketing, mau balik ke ruangan saya di lantai 12. Sekalian olahraga lah ya! Healthy Life!" seru Pak Bos penuh semangat. Dia tidak membawa apa-apa selain HP.
"I-iya Pak. Sehat Pak."
"Ayo bareng! Wah, kamu bawa galon? Kuat banget kamu Yo! Kayak Ade Rai! Ayo jalan!"
Pak Bos mulai menaiki tangga dengan langkah ringan. Masalahnya: Dia mengajakku ngobrol. Dan dia berjalan di sampingku (atau sedikit di depan). Ini menghancurkan strategiku. Aku tidak bisa berhenti istirahat tiap lantai kalau ada Bos di sebelah. Gengsi dong masa OB kalah stamina sama Bos yang perutnya buncit? Dan lebih parahnya, aku harus mendengarkan podcast kehidupan pribadinya secara live.
Aku mengangkat galon itu lagi ke pundak. UGH. Beratnya terasa nambah 5 kilo. Kami mulai mendaki.
Lantai 4. "Kamu tau gak Yo," oceh Pak Bos sambil melangkah santai. "Saya kemaren baru beli kucing Anggora. Mahal lho, impor dari Turki. Namanya 'Sultan'. Tapi anehnya, dia gak mau makan wet food yang mahal, maunya makan ikan asin. Aneh kan?"
"I... iya Pak... aneh..." jawabku terengah-engah. Galon di pundakku mulai menekan saraf leher. Rasanya aliran darah ke otak mulai tersendat.
Lantai 5. "Terus istri saya marah-marah, Yo. Katanya saya lebih sayang kucing daripada dia. Padahal ya emang bener sih, kucing kan gak pernah minta tas Hermes. Hahaha! Menurut kamu gimana Yo? Wanita itu emang misterius ya?"
Aku ingin berteriak: "PAK, SAYA GAK PEDULI SAMA KUCING BAPAK! PUNDAK SAYA MAU PATAH PAK! BISA DIEM GAK?!" Tapi mulutku hanya bisa mendesis: "B-bener Pak... mis... terius... hah... hah..."
Keringatku mulai bercucuran deras. Kemeja seragamku basah kuyup di punggung. Kakiku mulai gemetar. Pak Bos jalannya konstan. Dia tidak capek sama sekali. Mungkin karena dia tidak bawa beban 19 kilo, atau mungkin karena dia robot.
Lantai 6. Napasku sudah senin-kemis. Paru-paruku rasanya menyusut jadi seukuran kismis. "Pak..." panggilku lemah. "Saya... istirahat bentar..."
"Lho? Kok berhenti Yo? Dikit lagi! Eh, tapi saya duluan ya, ada telepon nih. Istri saya nelpon, pasti mau bahas kucing lagi. Duluan ya Yo! Semangat! Keep Strong!"
Pak Bos menepuk bahuku (bahuku yang lagi nahan galon!). NYUT. Sakitnya sampai ke ulu hati. Lalu dia melesat naik sambil ngomel di telepon. "Halo Ma? Iya si Sultan kenapa lagi?"
Akhirnya. Dia pergi. Aku sendirian di bordes Lantai 6. Aku menjatuhkan galon itu ke lantai. BUGH. Aku bersandar di dinding, merosot duduk di lantai. Napas memburu. Pandangan berkunang-kunang. "Gila... baru setengah jalan... Gue mau mati..." Aku melihat galon itu dengan tatapan benci. "Heh Air, kenapa lu berat banget sih? Lu kan cuma H2O? Kenapa rasanya kayak bawa Uranium?"
Aku memijat betisku yang keras seperti batu kali. "Oke Aryo. Istirahat 5 menit. Tarik napas. Minum air... eh, gak bisa minum, galonnya masih disegel. Sialan."
Baru satu menit aku duduk mengangkang dengan posisi tidak estetik (lidah hampir menjulur), tiba-tiba pintu darurat Lantai 6 terbuka.
Ceklek.
Cahaya terang dari koridor kantor menyinari kegelapan tangga darurat. Dan di sana, berdiri sesosok gadis pujaan hatiku. Mbak Devi.
Dia memakai blus warna peach yang manis. Rambutnya diikat kuda. Di tangannya, dia membawa tumpukan Binder (Ordner) tebal. Ada sekitar 5 tumpuk binder laporan keuangan yang tebalnya kayak batu bata.
Devi kaget melihatku yang sedang ndeprok di lantai kayak pengemis kelelahan. "Lho? Mas Aryo?"
Aku langsung tersentak. Adrenalin (dan rasa malu) membanjiri tubuhku. Refleks, aku langsung melompat berdiri tegak. Menyembunyikan rasa capek, menyembunyikan napas yang ngos-ngosan, dan memasang wajah cool (walau keringet segede biji jagung ngalir di pelipis).
"Eh... Mbak Devi. Hai. Lagi ngapain Mbak?" sapaku sok santai.
"Ini Mas, lift mati kan? Aku harus bawa berkas audit tahunan ini ke ruangan Pak Bos di lantai 12. Darurat, katanya mau dipake meeting jam 10."
Aku melihat tumpukan binder di tangan Devi. Itu berat juga pasti. Mungkin sekitar 5-6 kilo. Devi yang badannya kecil mungil gitu, kuat ngangkatnya. Lalu aku melihat galon di kakiku.
"Mas Aryo bawa galon ya? Ke lantai 12 juga?" tanya Devi polos.
"Iya Mbak. Stok abis."
"Wah, hebat banget Mas Aryo. Kuat ya. Yaudah yuk bareng, mumpung satu tujuan."
MAMPUS. Bareng? Bareng naik 6 lantai lagi? Tanpa istirahat? Di depan Devi?
Kalau tadi sama Pak Bos aku menderita karena kuping panas, sekarang aku menderita karena HARGA DIRI. Masa aku, Aryo, laki-laki, kalah sama Devi yang cewek mungil? Masa aku ngeluh capek sementara dia bawa tumpukan binder dengan senyum ceria? Gak mungkin aku bilang: "Mbak, duluan aja, aku mau pingsan dulu 10 menit di sini." Itu akan menghancurkan citraku sebagai calon imam yang kuat (dalam mimpiku).
"Boleh Mbak. Yuk," jawabku gagah.
Aku mengambil galon itu. Mengangkatnya ke pundak dalam satu gerakan cepat (biar kelihatan macho). KREK-TEK-TEK. Bunyi tulang punggungku terdengar jelas.
"Bunyi apa itu Mas?" tanya Devi.
"I-itu... bunyi sendi Mbak. Biasa, terlalu banyak tenaga. Tanda otot bekerja maksimal," ngelesku.
Kami mulai mendaki. Aryo dan Devi. Romeo dan Juliet versi Tangga Darurat.
Lantai 7. "Berat juga ya Mas tangganya," kata Devi ringan. Napasnya masih teratur.
"Ah, biasa aja kok Mbak. Anggep aja kardio pagi," jawabku. Padahal di dalam hati: "YA ALLAH BERAT BANGET! INI GALON DIISI AIR RAKSA YA?!" Kakiku mulai gemetar. Setiap anak tangga terasa seperti mendaki Monas.
Devi berjalan di sampingku. Wangi parfumnya tercium samar, sedikit menghibur di tengah bau keringatku sendiri. "Mas Aryo rajin olahraga ya? Keliatannya enteng banget bawa galon segede itu. Itu 19 kilo lho Mas."
"Oh ya? Gak kerasa Mbak. Rasanya kayak bawa bantal. Styrofoam," jawabku sombong. Padahal otot trapezius-ku sudah menjerit minta tolong. Tanganku yang memegang leher galon sudah mati rasa, jarinya kaku kayak ceker ayam goreng.
Lantai 8. Keringatku mulai menetes masuk ke mata. Perih. Pandanganku mulai buram. Lorong tangga terlihat bergelombang. Devi masih ngoceh soal kerjaannya. "Pak Bos tuh aneh deh Mas. Masa laporan udah bener disuruh revisi font-nya doang. Kan nyebelin."
"Iya Mbak... nyebelin..." Napasku mulai berbunyi ngik-ngik pelan. Aku berusaha menahannya agar tidak terdengar seperti asma. Aku menarik napas lewat hidung, membuang lewat telinga (kalau bisa). Jantungku berdetak sangat kencang, rasanya mau lompat keluar lewat tenggorokan dan lari sendiri ke lantai 12.
Lantai 9. Aku mulai berhalusinasi. Aku melihat cahaya putih di ujung tangga. Apakah itu lantai 12? Atau itu cahaya akhirat? Aku melihat bayangan nenek moyangku melambaikan tangan. "Ayo Le, sini istirahat..."
"Mas Aryo? Mas Aryo oke?" tanya Devi. Dia menoleh padaku.
Aku tersenyum. Senyum yang mungkin terlihat seperti orang stroke sebelah karena menahan sakit. "Oke Mbak. Prima. Never better." "Muka Mas Aryo merah banget lho. Kayak kepiting saos padang."
"Oh, ini blush on alami Mbak. Efek sirkulasi darah lancar. Sehat ini."
Devi tertawa. "Ada-ada aja Mas Aryo."
Tawa itu. Tawa Devi adalah bahan bakarku. "Demi tawa Devi... Demi tawa Devi..." mantrakku dalam hati. "Ayo kaki, jangan meledak dulu. Tahan. Tiga lantai lagi."
Lantai 10. Kakiku sudah bukan milikku lagi. Mereka bergerak secara otomatis, digerakkan oleh sisa-sisa gengsi lelaki. Galon di pundakku rasanya sudah menyatu dengan daging. Aku merasa aku adalah Manusia Galon.
Devi mulai sedikit ngos-ngosan. "Hah... lumayan juga ya Mas lantai 10. Dikit lagi."
"Iya Mbak... Dikit... lagi..." Suaraku sudah hilang. Tinggal desisan ular.
Lantai 11. Setiap langkah adalah penderitaan. Dengkulku bergetar hebat. Dug-dug-dug-dug kayak mesin jahit. Aku takut kalau aku berhenti, aku akan jatuh menggelinding ke bawah dan membunuh Devi dengan galon ini. Jadi aku harus terus maju. Maju atau mati.
"Mas, kamu gemeteran lho," kata Devi khawatir. "Mau istirahat dulu?"
"GAK! Eh maksudnya... Gak usah Mbak. Tanggung. Pantang mundur sebelum nyampe." Aku menggigit bibir bawahku sampai hampir berdarah untuk mengalihkan rasa sakit di punggung.
Lantai 12. Pintu surga terlihat. Tulisan angka "12" di dinding terlihat lebih indah daripada lukisan Monalisa. "Sampe Mas!" seru Devi ceria. Dia membuka pintu darurat yang berat itu dengan sikunya.
Kami melangkah masuk ke koridor lantai 12 yang ber-AC dingin. Hawa sejuk langsung menerpa wajahku. Rasanya seperti dipeluk malaikat.
Devi meletakkan tumpukan bindernya di meja resepsionis. "Fiuuh... Akhirnya. Makasih ya Mas Aryo udah barengan. Jadi semangat akunya."
Aku menurunkan galon itu di lantai. Pelan-pelan. DUK. Saat beban itu lepas dari pundakku, rasanya tubuhku mau melayang ke langit-langit saking ringannya. Tapi di saat yang sama, seluruh ototku berteriak serentak: "KITA MOGOK KERJA!"
Aku berdiri sempoyongan. Dunia berputar. Lantai terasa miring 45 derajat. Wajahku pucat pasi, bibirku putih, keringat membasahi seluruh tubuh sampai sepatu kets-ku bunyi cekit-cekit karena basah di dalem.
Devi menatapku. Matanya membelalak kaget. "Astaga! Mas Aryo! Kamu pucet banget! Bibir kamu biru! Kamu mau pingsan?!"
Devi mendekat, memegang lenganku. "Mas? Mas Aryo? Masih sadar kan?"
Aku memaksakan senyum terakhir. Senyum Pahlawan Kesiangan. "Aman Mbak... Saya... Saya cuma lagi meditasi sambil berdiri... Biasa... Teknik pernapasan..."
"Meditasi apanya?! Itu mata kamu juling sebelah! Sini duduk dulu!"
"Gak usah Mbak... Saya harus... nganter galon... ke pantry... Pak Bos haus..." Dengan sisa tenaga terakhir (yang entah dapet dari mana), aku mengangkat galon itu lagi (kali ini diseret dikit). "Misi Mbak... Tugas negara..."
Aku berjalan gontai menyeret galon menuju pantry, meninggalkan Devi yang menatapku dengan campur aduk antara kagum dan ngeri. "Mas Aryo aneh banget..." gumamnya.
Aku masuk ke pantry. Tidak ada siapa-siapa. Sunyi. Aku mengangkat galon itu ke atas dispenser. GLUK GLUK GLUK. Air mengisi tangki dispenser. Misi selesai.
Dan detik itu juga, sistem tubuhku Shut Down. Aku ambruk. Bukan pingsan total, tapi collapse. Aku tergeletak di lantai pantry yang dingin. Posisi terlentang. Tangan dan kaki terbuka lebar (posisi bintang laut). Mataku menatap langit-langit pantry.
Napas masih memburu. Hah... hah... hah... Punggungku rasanya patah di tiga tempat. Kakiku kram. Tapi... Aku berhasil. Aku berhasil naik 12 lantai bawa galon 19 kilo. Aku berhasil menjaga gengsi di depan Devi. Aku berhasil tidak pingsan di depan dia.
Pintu pantry terbuka. Mas Hanif (temen divisinya Devi) masuk mau bikin kopi. Dia kaget melihat ada mayat hidup berseragam OB tergeletak di lantai.
"Astagfirullah! Aryo! Lu kenapa?! Mati lu?!" Mas Hanif panik, hampir nyiram aku pake air panas.
Aku menoleh pelan, mengangkat jempol dengan tangan gemetar. "Mas... tolong... ambilin... koyo cabe... sepuluh biji..."
"Lu ngapain tiduran di sini woy?"
"Abis... mendaki gunung... lewati lembah... sama pujaan hati..." jawabku ngelantur.
"Hah? Kesambet setan tangga darurat lu ya?"
Aku tertawa lemah. Biarlah. Biar Mas Hanif mengira aku gila. Yang penting, tadi Devi bilang aku hebat.
TAMAT.