Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Angka yang tidak pernah bertanya
1
Suka
377
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Belum sempat bel berbunyi, selembar kertas telah jatuh diatas meja Raka.

40

Angka itu dilingkari tinta merah.

“Lagi?” bisik seseorang dari bangku belakang.

Raka tidak menjawab. Ia menatap angka itu lama, seolah berharap angka tersebut berubah jika dipandangi cukup lama.

Raka kemudian mengangkat tangannya

“Pak kalau nilai saya jelek apakah berarti saya tidak bisa belajar?”

“Tidak bukan begitu Raka” jawab pak Arman

“Lalu mengapa, angka begitu menentukan apakah saya pintar atau tidak?”

Seisi kelas hening, tidak ada jawaban.

Raka memang bukan murid berprestasi, namanya pun tak pernah terpanjang di papan peringkat kelas. Ia juga sering mendapat nilai rendah ketika ujian. Namun ada satu hal yang tidak pernah tercatat di dalam rapornya: ia selalu mempunyai pertanyaan.

Mengapa sungai di belakang sekolah selalu kotor dan penuh sampah?

Mengapa teman sekelas yang tidak bisa membaca selalu takut untuk maju di depan kelas?

Dan mengapa pelajaran sejarah selalu berakhir dengan menghafalkan deretan tahun yang membosankan?

Semua pertanyaan itu sayangnya tidak pernah masuk ujian

Sekolah sedang sibuk membicarakan cara mengajar tentang nilai, guru berbicara tentang nilai, siswa berbicara tentang papan peringkat, dan papan pengumuman peringkat hanya dipenuhi dengan angka.

Sejenak Raka mulai berpikir bahwa mungkin sekolah mulai melupakan sesuatu.

Mereka sibuk mengajarkan tentang cara menjawab, tapi lupa menyediakan ruang untuk bertanya.

Karena itu, pada suatu sore Raka menulis di sebuah secarik kertas dan menempelkannya di pojok perpustakaan.

KELAS PERTANYAAN

Tidak ada nilai, tidak ada peringkat.

Setiap Jumat, siapapun juga boleh datang membawa pertanyaan.

Hari pertama hanya Raka dan kedua temannya.

“Ini buat apa?” tanya Dimas.

“Entahlah?” jawab Raka “mungkin untuk pertanyaan yang terlalu besar untuk dimasukkan di soal ujian.”

Tertawalah mereka.

Namun minggu berikutnya, ternyata banyak siswa yang mulai datang.

Ada yang bertanya, mengapa mereka harus mempelajari sesuatu yang mereka tidak sukai?. Ada yang bertanya apakah kegagalan berarti mereka tidak punya masa depan?, ada pula yang hanya duduk diam dan mendengarkan.

Tanpa mereka sadari setelahnya, perpustakaan kecil itu menjadi tempat mengatakan dimana para siswa tidak takut untuk mengetahui, bahwa “aku tidak tahu.”

Sampai suatu hari, Kepala sekolah mengetahuinya.

Raka dipanggil menghadap dan disuruh menemui kepala sekolah.

“Kamu membuat kegiatan tanpa izin!!,” kata kepala sekolah.

Raka menunduk.

“Saya minta maaf, pak.”

“Sekolah membutuhkan program yang jelas, hasilnya. Apa hasil dari kegiatanmu?.”

Raka terdiam sejenak.

“Saya tidak tahu, Pak.”

“Lalu untuk apa?.”

Raka mengangkat kepalanya

“Saya cuma ingin sekolah punya tempat untuk pertanyaan yang tidak masuk ujian.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

“Pendidikan itu membutuhkan hasil yang bisa diukur,” jawab kepada sekolah.

Raka menghela nafas

“Kalau begitu Pak, mungkin kita terlalu sibuk mengukur jawaban sampai lupa, mengukur rasa ingin tahu.”

Beberapa detik kemudian, tidak ada pembicaraan yang terdengar. Pak Arman yang sedari tadi berdiri dibelakang kepala sekolah, akhirnya angkat suara.

“Pak mungkin anak ini, ada benarnya apakah tidak bisa dipertimbangkan lagi?.”

Ia menatap Raka.

“Selama ini kita terlalu sering, melihat siswa melalui angka.”

Seminggu kemudian, papan kecil dipasang di di depan perpustakaan.

Di atasnya tertulis.

PERTANYAAN MINGGU INI

Tidak ada nama.

Tidak ada nilai.

Hanya pertanyaan.

Raka berdiri di depannya suatu pagi dan membaca tulisan pertama:

“Kalau aku belum pintar sekarang, apakah aku masih boleh punya cita-cita?”

Raka tersenyum.

Hari itu ia tetap mendapatkan nilai empat puluh.

Namun untuk pertama kalinya, ia merasa sekolah memberinya sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh angka:

Yaitu kesempatan untuk didengar.

-TAMAT-

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Angka yang tidak pernah bertanya
Aris Setiawan
Cerpen
Bronze
Terpaksa Merampok
Putri Rafi
Cerpen
Bronze
15 Tahun Untuk Apa?
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
Manto dan Ayam Robot Bertopi Koboi
Arief Rahmanto
Cerpen
Bronze
Kelam
Dewi Fortuna
Cerpen
Retak Dinding Rumah Petak
Duwi Rachmawati
Cerpen
Bronze
Pending Apologize (Sintas Universe)
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
Rambut Merah Ceri
Red Cherry
Cerpen
Semar Mendem
hyu
Cerpen
Bronze
Tipu-Tipu Media Sosial
Amalia Puspita Utami
Cerpen
Raenna
Hilda Pratiwi
Cerpen
DIVISI
Terry Tiovaldo
Cerpen
Bronze
Mutasi
Nadya Wijanarko
Cerpen
Bronze
Submerge
Faisal Susandi
Cerpen
Bakpau
Flaww
Rekomendasi
Cerpen
Angka yang tidak pernah bertanya
Aris Setiawan
Cerpen
PEPELING
Aris Setiawan
Cerpen
Porsi yang sudah ditentukan
Aris Setiawan
Flash
Bunga terakhir
Aris Setiawan
Cerpen
Catatan dari hal-hal yang sederhana.
Aris Setiawan
Cerpen
Tumbuh dengan caraku
Aris Setiawan
Novel
Komunitas tingkat bawah
Aris Setiawan
Novel
Dilihat lagi dan lagi
Aris Setiawan