Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Belum sempat bel berbunyi, selembar kertas telah jatuh diatas meja Raka.
40
Angka itu dilingkari tinta merah.
“Lagi?” bisik seseorang dari bangku belakang.
Raka tidak menjawab. Ia menatap angka itu lama, seolah berharap angka tersebut berubah jika dipandangi cukup lama.
Raka kemudian mengangkat tangannya
“Pak kalau nilai saya jelek apakah berarti saya tidak bisa belajar?”
“Tidak bukan begitu Raka” jawab pak Arman
“Lalu mengapa, angka begitu menentukan apakah saya pintar atau tidak?”
Seisi kelas hening, tidak ada jawaban.
Raka memang bukan murid berprestasi, namanya pun tak pernah terpanjang di papan peringkat kelas. Ia juga sering mendapat nilai rendah ketika ujian. Namun ada satu hal yang tidak pernah tercatat di dalam rapornya: ia selalu mempunyai pertanyaan.
Mengapa sungai di belakang sekolah selalu kotor dan penuh sampah?
Mengapa teman sekelas yang tidak bisa membaca selalu takut untuk maju di depan kelas?
Dan mengapa pelajaran sejarah selalu berakhir dengan menghafalkan deretan tahun yang membosankan?
Semua pertanyaan itu sayangnya tidak pernah masuk ujian
Sekolah sedang sibuk membicarakan cara mengajar tentang nilai, guru berbicara tentang nilai, siswa berbicara tentang papan peringkat, dan papan pengumuman peringkat hanya dipenuhi dengan angka.
Sejenak Raka mulai berpikir bahwa mungkin sekolah mulai melupakan sesuatu.
Mereka sibuk mengajarkan tentang cara menjawab, tapi lupa menyediakan ruang untuk bertanya.
Karena itu, pada suatu sore Raka menulis di sebuah secarik kertas dan menempelkannya di pojok perpustakaan.
KELAS PERTANYAAN
Tidak ada nilai, tidak ada peringkat.
Setiap Jumat, siapapun juga boleh datang membawa pertanyaan.
Hari pertama hanya Raka dan kedua temannya.
“Ini buat apa?” tanya Dimas.
“Entahlah?” jawab Raka “mungkin untuk pertanyaan yang terlalu besar untuk dimasukkan di soal ujian.”
Tertawalah mereka.
Namun minggu berikutnya, ternyata banyak siswa yang mulai datang.
Ada yang bertanya, mengapa mereka harus mempelajari sesuatu yang mereka tidak sukai?. Ada yang bertanya apakah kegagalan berarti mereka tidak punya masa depan?, ada pula yang hanya duduk diam dan mendengarkan.
Tanpa mereka sadari setelahnya, perpustakaan kecil itu menjadi tempat mengatakan dimana para siswa tidak takut untuk mengetahui, bahwa “aku tidak tahu.”
Sampai suatu hari, Kepala sekolah mengetahuinya.
Raka dipanggil menghadap dan disuruh menemui kepala sekolah.
“Kamu membuat kegiatan tanpa izin!!,” kata kepala sekolah.
Raka menunduk.
“Saya minta maaf, pak.”
“Sekolah membutuhkan program yang jelas, hasilnya. Apa hasil dari kegiatanmu?.”
Raka terdiam sejenak.
“Saya tidak tahu, Pak.”
“Lalu untuk apa?.”
Raka mengangkat kepalanya
“Saya cuma ingin sekolah punya tempat untuk pertanyaan yang tidak masuk ujian.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
“Pendidikan itu membutuhkan hasil yang bisa diukur,” jawab kepada sekolah.
Raka menghela nafas
“Kalau begitu Pak, mungkin kita terlalu sibuk mengukur jawaban sampai lupa, mengukur rasa ingin tahu.”
Beberapa detik kemudian, tidak ada pembicaraan yang terdengar. Pak Arman yang sedari tadi berdiri dibelakang kepala sekolah, akhirnya angkat suara.
“Pak mungkin anak ini, ada benarnya apakah tidak bisa dipertimbangkan lagi?.”
Ia menatap Raka.
“Selama ini kita terlalu sering, melihat siswa melalui angka.”
Seminggu kemudian, papan kecil dipasang di di depan perpustakaan.
Di atasnya tertulis.
PERTANYAAN MINGGU INI
Tidak ada nama.
Tidak ada nilai.
Hanya pertanyaan.
Raka berdiri di depannya suatu pagi dan membaca tulisan pertama:
“Kalau aku belum pintar sekarang, apakah aku masih boleh punya cita-cita?”
Raka tersenyum.
Hari itu ia tetap mendapatkan nilai empat puluh.
Namun untuk pertama kalinya, ia merasa sekolah memberinya sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh angka:
Yaitu kesempatan untuk didengar.
-TAMAT-