Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Denting demi denting pedang menggema di udara. Sorakan prajurit bertebaran disetiap kubu, seakan menang adalah kata yang tepat untuk mereka raih hari ini. Kedua Raja terlihat terus melanjutkan perlawanan tanpa sedetik pun rasa takut. Perselisihan antar dua Raja sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu, namun kali ini semakin memanas ketika kerajaan merah bersikeras merebut Dewa Kucing untuk menaklukan wilayah selatan.
”Tidak akan ku biarkan kau mengambil Dewa Kucing demi keserakahan orang-orangmu,” ujar Raja Putih setelah menghadang pedang Raja Merah.
”Wahai Putih, apakah kau tak mengerti juga? Wilayah kami bukanlah daerah yang subur seperti wilayah mu, jadi anggaplah kami sedang mempertahankan kehidupan.” Dengan senyum kecil di wajahnya, Raja Merah menyindir Raja Putih.
”Aku paham apa yang kalian rasakan, tapi tidakkah kau berpikir apakah kejahatan memang hal yang diinginkan oleh Dewa Kucing?” Balas Raja Putih mengenai keresahan Kerajaan Merah.
Tak ada kata perlawanan dari Raja Merah. Seketika kedua pedang mereka saling mengunci satu sama lain, raut wajah Raja Merah menyiratkan bahwa kali ini bukanlah waktu nya untuk menyerah.
”Paham, katamu? Apa yang bisa kalian pahami dari sebuah wilayah yang hidupnya menumpu pada pohon kehidupan sedangkan wilayah kalian bisa hidup dengan kesuburan dan kemakmuran?” ujar Raja Merah sambil mendorong pedang dengan sekuat tenaga, hingga membuat Raja Putih tersungkur diatas tanah.
”kesuburan dan kemakmuran, kah,” gumam Raja Putih ”Tapi bagiku, Dewa Kucing tetap bukanlah alat yang harus kau gunakan untuk merampas wilayah lain,” ucap Raja Putih. Dengan sisa-sisa energi ia kembali mengayunkan pedang ke arah Raja Merah.
Gema peperangan tak terlihat akan meredup, tatapan mata Raja Merah sama sekali tak berpaling dariku. Aku—yang dikenal sebagai Raja Putih—tahu apa yang sedang ia khawatirkan, menjaga keseimbangan wilayah dengan kebutuhan pangan yang semakin meningkat tidak lah mudah. Saat ini, bahkan matahari pun bersinar terik seakan mewakili Kerajaan Merah dengan semangat yang membara. Hal ini membuat ku teringat akan kenangan masa lalu yang berharga.
Bertahun-tahun lalu saat musim paceklik melanda empat wilayah, dua anak kecil berlari menuju pohon kehidupan.
Tawa mereka berkejaran mengelilingi pohon kehidupan yang rindang dengan ranting pohon serta akar yang lebar menahan teriknya matahari. Sesekali mereka bermain lempar batu hingga kelelahan lalu berbaring sambil menikmati sejuknya pohon kehidupan.
Saat hari mulai sore, salah satunya terbangun karna seekor bulu hitam lembut yang berada sisi kirinya. Bulu hitam itu mengeluarkan dengkuran panjang seakan sore ini memang waktunya untuk tidur. Anak itu membangunkan temannya secara perlahan agar bulu hitam tidak terbangun.
”Hei, Merah. Sudah saatnya kita kembali, Ayahku dan Paman Jingga pasti sudah mencari kita.” ucap Putih sembari menggoyangkan badan Merah.
Namun tak ada yang mengalahkan nikmatnya angin sore dibawah pohon kehidupan. Mata rasanya ingin selalu terpejam dan badan enggan terbangun, tapi waktu tidak menunggu lama hingga matahari kembali ke arah barat. Merah akhirnya mengerjapkan mata yang masih buram setelah sejam terlelap dalam mimpi. Sama seperti Putih, Merah dibuat kaget oleh seekor bulu hitam yang mendengkur disebelahnya.
”Apa ini Putih?” sambil mengucek mata, Merah menanyakan tentang bulu hitam itu.
Walau tidak pasti, tapi Putih menjawab sesuai yang ia ketahui.”Sepertinya ini adalah Kucing. Hewan mamalia berbulu lembut yang diceritakan Bibi Nila siang kemarin.”
Mata Merah membesar dengan senyum takjub yang terlihat di wajahnya. Putih pun ikut merasa kagum. Di wilayah mereka belum ada yang pernah melihat bahkan memegang secara langsung hewan berbulu lembut tersebut.
Kedua anak itu tak bisa menyimpan rasa penasarannya, “Wah, bulu nya lembut dan terasa sangat lebat. Pasti ia tidak merasa kedinginan jika musim dingin tiba.” ujar Merah ketika tangan mereka berdua mengelus bulu lembut tersebut.
Tanpa sadar elusan mereka membangunkan hewan mungil itu, ia terlihat meregangkan badan yang membuat Putih dan Merah tertawa bersama. Mereka sangat senang melihat hewan langka di musim ini. Kucing itu diberi nama Si Hitam yang akhirnya menemani kehidupan masa kecil mereka.
Suatu pagi, Putih menyadari suaranya mulai berubah dan Si Hitam tidak lagi muat dalam satu genggamannya. Bulu hitamnya semakin mengkilat yang dipadukan oleh mata kuning dengan iris kehijauan. Setiap hari mereka bermain bersama di kebun bunga, melihat kupu-kupu yang berterbangan untuk menyebarkan serbuk sari dan setiap Si Hitam memasuki kebun maka bunga-bunga itu akan segera bermekaran seakan menyambut Sang Pemberi Kehidupan. Waktu juga akan terasa lambat saat mereka saling bercanda dan tertawa bersama Si Hitam. Namun, saat itu pun tidak ada menyadari keanehan yang terjadi.
Hingga musim paceklik kembali melanda wilayah mereka. Kali ini menjadi paceklik paling ekstrim yang pernah terjadi. Hal ini terlihat dari sungai-sungai yang mulai surut dan mengering.
”Hei Merah, kata Paman Jingga kalian tidak ikut ke daerah timur?” tanya Putih saat mereka sedang berkumpul diteras bungalo desa. Mereka bersantai sambil menonton Si Hitam yang sedang bermain.
”Ayahku bersikeras untuk tetap tinggal di tanah leluhur, kami pun tak bisa membantah. Lagipula, kita memang tidak bisa meninggalkan tempat asal kita, bukan?” jawab Merah dengan pandangannya yang terus menonton Si Hitam.
Putih tidak membantah perkataan Merah, ia tahu bahwa manusia tidak bisa meninggalkan asal muasalnya. Ada perasaan sedih ketika Merah mengatakan hal tersebut, namun ia pun mengerti tentang keluarga Merah yang sangat menghormati leluhur. Putih menghela napas panjang sambil mengamati sekitar pohon kehidupan. Saat sedang mengamati Si Hitam, ia menyadari sesuatu yang berbeda dari kucing itu. Sepasang mata emas sempat terlintas dalam pandangannya, namun ia juga tak mengerti arti mata itu. Ia hanya merasakan seperti ada sesuatu yang belum saat nya ia ketahui.
”Apakah kau tidak merasa aneh?” tanya Putih dengan raut wajah serius. Hembusan angin sore terlihat menerpa lembut bulu-bulu Si Hitam yang sedang bersandar di salah satu akar pohon kehidupan.
”Aneh, apanya?” jawab Merah yang kebingungan dengan pertanyaan Putih.
“Aku hanya merasa Si Hitam sedikit berbeda dari saat kita menemukannya pertama kali,” ujar Putih ”Ia bahkan masih begitu lincah saat paceklik seekstrim ini melanda, bagaimana bisa ia punya energi sebanyak itu?” lanjut Putih menganalisis kebingungannya.
”Benar juga, Hitam seperti tidak terpengaruh dengan musim apapun, tapi sepertinya itu hanya hal yang biasa,” jawab Merah seadanya, Merah cenderung tidak memikirkan hal yang rumit baginya.
”Bukan,” gumam Putih. Kejanggalan yang dirasakan putih sudah ia rasakan sejak mereka bertumbuh bersama. Ia teringat dengan keanehan di kebun bunga. Awalnya ia mengira hanya seekor kucing yang memiliki energi yang positif, namun untuk pertama kalinya putih merasa bahwa suatu hari ia harus memilih Si Hitam atau dunia yang ia kenal.
Beberapa hari setelahnya, keluarga kami akhirnya berhijrah ke wilayah timur. Awalnya aku ingin mengajak Si Hitam, namun Merah menolaknya. Ia merasa bahwa ditinggalkan olehku cukup menyedihkan untuknya, sehingga ia tidak mengizinkanku untuk membawa Si Hitam. Namun, saat ayah masih berpamitan dengan Paman Jingga, tiba-tiba terjadi sesuatu di kebun bunga.
Hawa disekitar desa terasa panas menusuk seperti kobaran api besar yang sedang melahap sebagian desa. Semua bergegas ke arah kebun bunga, tampak kebun tersebut telah hangus terbakar bersamaan dengan kobaran api yang masih menyebar ke arah kebun lain. Semakin angin bertiup, kobaran itu membesar, seperti santapan di siang hari. Aku dan Merah ikut menyaksikan fenomena besar dalam sejarah paceklik yang melanda wilayah barat. Kami semua tak bisa melakukan banyak hal, namun Paman Jingga bergegas mengambil air seadanya untuk menyelamatkan sisa kebun dari serangan si jago merah.
Hampir dari kami semua menyerah untuk melawan kobaran api tersebut. Saat api semakin melahap kebun kami, tiba-tiba Si Hitam turun dari pelukanku.
”Hitam!.” teriakku saat Si Hitam berlari ke arah kobaran api yang semakin ganas. Melihat itu, Aku dan Merah mengejar Hitam, tapi tubuh kami tidak memiliki kemampuan secepat Hitam. Airmataku tak terbendung, dada ku terasa berat dan sekililing seperti berdenging, membayangkan Hitam diselimuti oleh kobaran api sebesar itu. Sejenak, kami terpaku.
Setelah beberapa saat, salah seorang warga berseru ”Hei, semuanya lihat,” sambil menunjuk kearah kebun. Mendengar itu wajahku kembali memancarkan harapan, aku berharap ia kembali. Angin di sekitar kami mulai berhembus pelan hingga lembut saat menyentuh kulit, serangan panas yang sebelumnya sungguh menyengat di dada seketika hilang, titik demi titik hujan turun membasahi kebun. Hujan semakin deras, memadamkan sisa api yang mengganas.
Semua merasa lega sekaligus takjub, beberapa warga memanjatkan syukur kepada pohon kehidupan. Paman Jingga dan Ayahku juga terlihat berlutut kepada langit. Namun, posisiku masih sama, menunggu Si Hitam kembali.
Merah mulai mengeluarkan suara sambil sesenggukan menahan tangis ”Apakah dia akan kembali?”
Aku tahu, yang menunggu Si Hitam hanya kami berdua, seekor kucing kecil yang membuat masa-masa indah bersama kami itu tak kunjung terlihat. Tiba-tiba, ia merasa sekitarnya menjadi hening, suara warga yang masih mengucap syukur seketika tak terdengar lagi, dan saat itulah kami berdua melihat ada bayang-bayang hitam bercampur warna mata keemasan.
Langkah demi langkah mulai mendekat ke arah kami, aku memastikan bahwa Merah juga melihat apa yang ku lihat. Bulu hitam yang mengkilat, mata emas yang memancarkan cahaya diikuti dengan tubuh yang menjulang tinggi. Angin yang sejak tadi berhembus mendadak diam saat ia berhenti tepat didepan kami berdua.
Dadaku menegang. Apapun yang kami lihat saat itu, bagiku seperti tanda bahaya.
Dengan wajah takjub Merah berkata “Wah, ternyata ia bisa melakukan ini, seharusnya ia juga bisa menyelamatkan wilayah kita.” kalimat itu menimbulkan rasa takut dalam diriku.
Benar, ternyata inilah keanehan yang kurasakan sejak dulu. Tapi, bagaimana cara untuk melindungi Si Hitam?
Pandanganku tak bisa berpaling darinya, seakan tatapan mata emas nya menghipnotis diriku ”Bukan hanya menyelamatkan, tapi mungkin juga menghancurkan.” ujarku terhadap pernyataan Merah. Mendengar itu Merah melirik ke arahku dengan raut kebingungan.
Masih dalam pergejolakan batin, tiba-tiba keheningan mulai menghilang diikuti dengan suara warga yang kembali bersaut-sautan. Saat itu aku menyadari bahwa Si Hitam sudah kembali ke tubuh nya semula, namun mata emas bercahaya itu masih menetap pada matanya. Dan semua warga melihat keajaiban itu. Sesaat sebelum berjalan, mata emas itu menatapku—tidak lama, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa ia sadar aku melihatnya.
Si Hitam berjalan menuju pohon kehidupan. Tanpa sadar, kucing hitam itu seperti membelah kerumunan warga yang berkumpul didepan pohon kehidupan. Ia berhenti tepat di Tengah pohon dan seketika itu juga daun-daun mulai berhenti berguguran dan kembali bermekaran. Seakan kucing hitam sedang mengidupkan kembali pohon tersebut.
Setelahnya mata emas itu perlahan meredup, tubuhnya kembali mengecil dan bersandar diatas akar lebar pohon kehidupan. Untuk pertama kalinya, aku takut—bukan kehilangan desa, tapi kehilangan dia.
Setelah kejadian itu, Paman Jingga memberikan hak kepada Ayahku untuk memelihara Si Hitam, ia yakin Si Hitam bukan sekedar hewan mamalia biasa dan Ayah memiliki kemampuan untuk menjaganya. Itu cukup membuat ku senang namun tidak bagi Merah. Raut wajahnya seperti membenciku karna menerima Si Hitam kembali, tapi aku juga tak bisa menolaknya, mungkin ini seperti langkah awal untuk melindunginya. Dan sejak hari itu, cerita tentang Si Hitam tak lagi sama dikalangan warga wilayah barat.
Kebencian itulah yang memicu perang kami di masa depan.
Prajurit dari dua Kerajaan semakin berkurang. Semangat yang sejak tadi membara, sekarang mulai redup. Hal ini bukan kabar baik untuk kedua Raja yang masih bersitegang.
“Aku tahu, kau tidak akan mengorbankan seluruh prajuritmu demi melindungi kucing hitam itu.” Ujar Raja Merah yang memahami sifat Raja Putih.
Raja Putih menyadari bahwa kerajaan Merah akan terus menyerang meski seluruh prajuritnya mati. Namun, walaupun begitu Raja Putih terus berusaha agar Si Hitam tidak direbut oleh kerajaan Merah.
”Tidak ada yang bisa kau lakukan Merah, aku harap kau mundur dan melupakan Si Hitam” ucap Raja Putih, kalimat itu membuat Raja Merah semakin geram. Saat pedang Raja Merah menghadang Raja Putih, ia memberikan aba-aba kepada seseorang yang entah dimana.
”Tembak!” teriak Raja Merah. Tiba-tiba sebuah panah melayang ke arah Raja Putih. Sesungguhnya Raja Putih tidak menduga bahwa Raja Merah melakukan strategi seperti ini. Segala prasangkanya seketika hancur saat mengetahui sahabat kecilnya dulu, Merah yang selalu berpikir sederhana dan berhati lembut berubah menjadi Raja yang kejam dan tak kenal takut.
”Kau memang tidak tau apa yang sudah ku lakukan untuk mempertahankan wilayahku, tapi kali ini tidak akan ku biarkan kau mengambil Si Hitam untuk yang kedua kali nya” ujar Raja Merah wajah penuh kemenangan.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar derap langkah yang sangat kencang dan saat panah hampir mencapai Raja Putih tampak gumpalan bulu hitam berhasil menangkap panah tersebut lalu mendarat dengan sempurna. Seluruh prajurit yang menyaksikan kejadian itu seakan terhipnotis dan tak bergerak dari tempat mereka, hanya menyisakan kedua Raja yang masih tersentak akan kedatangannya.
Si Hitam, dengan tubuh setinggi lutut orang dewasa dan berbulu hitam yang mengkilat serta mata keemasan yang memancarkan Cahaya, berjalan ke arah Dua Raja yang masih memegang pedangnya masing-masing. Si Hitam berhenti tepat ditengah kedua Raja lalu mengibas-ibaskan ekornya sambil mengamati kedua Raja tersebut. Tatapan mata itu seperti menyiratkan kerinduan akan pertemanan yang terjalin bertahun-tahun lalu, kucing itu seakan mengetahui bahwa pemicu peperangan ini adalah dirinya sendiri. Si Hitam menggosokkan kepalanya ke kaki Raja Merah dan mata mereka bertemu satu sama lain lalu mata emas itu berkedip dua kali.
Pemandangan itu membuat Raja Putih menyesali perbuatannya, ia hanya ingin melindungi Si Hitam dan tak bermaksud membuat konflik antar Dua Kerajaan, ”Wah, sepertinya Si Hitam memang percaya padamu,” ucap Raja Putih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Raja Merah sendiri masih terpaku akan perilaku Si Hitam yang begitu tiba-tiba.
Seperti tersadar akan niatnya yang tidak mulia, Raja Merah seakan menahan tangis setelah melihat Si Hitam kembali. Ia hanya ingin pohon kehidupan di wilayah barat menemukan cahaya nya kembali, tapi tanpa sadar malah membuat dua Kerajaan terpecah belah.
Saat kedua Raja merefleksikan semua yang sudah mereka lakukan, Si Hitam mulai berjalan ke arah barat diikuti oleh mereka berdua. Semakin lama langkah mereka semakin cepat dan ketiganya saling berkejaran, hal ini mengingatkan mereka saat berlarian dibawah pohon kehidupan lalu menemukan Si Hitam yang mendengkur panjang, seolah dunia memang menakdirkan mereka bersama.
Di ujung pandangan mereka mulai terlihat sebuah pohon yang menjulang tinggi, Si Hitam seperti mengajak mereka kembali ke Pohon kehidupan tempat mereka bertemu pertama kali. Suara tawa riang seakan menggema di udara, di ikuti oleh percikan air dari sungai-sungai menyambut kedatangan mereka didepan pohon kehidupan.
Si Hitam menatap mereka sekali lagi, lalu berbalik. Tidak pada Putih, tidak pada Merah. Seketika, mereka melihat pohon kehidupan yang kembali hijau. Rumput-rumput bertumbuhan, kicauan burung yang berterbangan serta angin yang berhembus pelan menerpa dedaunan lebat. Sejak hari itu, mereka sadar bahwa perdamaian bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang terjalin antar makhluk hidup.
Dan untuk pertama kalinya mereka merasakan sebuah perpisahan. Si Hitam tidak lagi memancarkan mata emas yang cantik, tubuhnya mulai mengecil namun kali ini berbeda. Tampak cahaya terang terpancar dari Si Hitam diikuti dengan butiran cahaya yang melayang di udara.
”Ternyata kau memberikan seluruh hidupmu demi pohon kehidupan ini.” ucap Raja Putih dengan perasaan sedih yang menusuk.
”Tak kusangka, kau akan pergi ditempat kami menemukan mu.” sambung Raja Merah, suara nya terdengar parau seperti tangisan yang tertahan.
Mereka akhirnya menyampaikan perpisahan dengan tegar dan penghormatan terhadap kawan kecil mereka. Seluruh cahaya berbaris mengikuti arah angin yang berhembus menuju langit. Setelahnya tidak ada lagi jejak Si Hitam kecuali denyut kehidupan yang terus tumbuh. Kucing itu tidak pernah mengucapkan kasih dengan kata-kata. Ia memilih cara yang lebih sunyi—dengan itu, ia memilihmu sebagai dunianya.
Perang berakhir, Raja Putih dan Raja Merah sepakat untuk melindungi Pohon Kehidupan bersama walau jarak barat dan timur tidak dekat. Namun hanya dengan cara itulah, mereka bisa bersama kembali dengan Si Hitam.