Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Angin Sejuk Di Bawah Matahari Terik
0
Suka
932
Dibaca

Larut malam tiba saat rintik hujan mulai membanjiri kota. Percakapan ringan mengalir tiada henti, seperti mengirim sinyal agar mata tak lekas tertutup. Tak ada yang aneh, semua berjalan normal. Namun setelahnya, sorot lampu itu datang dari arah yang tidak terduga, semakin luas hingga menutup pandangan. Dentuman keras menusuk gendang telinga diikuti bunyi mesin yang tak lagi terdengar normal. Tubuhnya terdorong ke depan, menyentuh permukaan yang kasar dan dingin. Semua terasa sunyi, dadanya berat seolah udara tak sigap memenuhi paru-parunya. Sayup-sayup orang memanggil namun tubuh seakan membeku, lalu gelap seketika.

***

Pandangannya kosong, kedua kakinya menekuk diikuti tangan yang melingkar seperti menginginkan dua jiwa saling berpelukan. Sepi itu datang tanpa aba-aba, Raya duduk di ruang makan yang tak lagi dipenuhi canda tawa ketika makan siang.

”Yang sabar ya, Ray.” ”Raya harus Ikhlas.” Atau “Semangat Raya.” Kalimat-kalimat yang terucap silih berganti, membuatnya semakin membenamkan kepala di antara kedua lutut. Rumah yang dulu berisi percakapan lucu kini dipenuhi orang-orang berbaju hitam, suasana yang berhasil membuat Raya terasa asing di rumahnya sendiri.

Nenek datang dengan segelas air putih, “Nak, minum dulu ya” matanya sembab, suara serak keluar dari wajah keriputnya. Raya memandangi gelas yang penuh dengan air, lalu melihat ke arah nenek yang duduk disampingnya. Tak ada kata-kata, tak ada gerakan, hanya dua orang yang memiliki luka yang sama.

”Nenek.” wajah yang awalnya berisi kekosongan, seketika berubah menjadi kesedihan yang mendalam. Dadanya sesak, air matanya terus bergulir seperti bendungan yang pecah menyemburkan segala emosi yang tertahan sejak kemarin.

“Iya, Raya, ada Nenek disini sayang” dengan sisa kekuatannya memeluk Raya yang semakin tenggelam dalam tangisnya. Malam itu telah merenggut setengah hidup Raya, menyisakan mereka berdua yang kini mulai rapuh. Takdir seperti apa yang sebenarnya terjadi, mengapa makhluk serapuh mereka diberi luka seberat ini?

Menjelang sore, suasana rumah memasuki keheningan mendalam. Beberapa orang mulai berpamitan, dengan kalimat yang sama sejak kemarin. Raya hanya bisa mengiyakan setiap ucapan mereka. Salah satunya tiba-tiba duduk mendekatkan diri disebelah Raya, dengan tangan yang memegang pundak Raya, ia berkata ”Kamu harus bersyukur Ray. Kamu kan masih hidup.” suaranya lembut, juga tersenyum manis.

Raya mengangguk, tapi rahangnya mengeras tanpa ia sadari.

Bersyukur? Kata itu menggantung lama dikepalanya. Untuk mereka, itu seperti hiburan yang berhasil, namun bagi Raya itu seperti ribuan jarum yang menghujani nuraninya. Kenapa ini disebut syukur? Disaat takdir begitu cepat menyita kebahagiaannya.

Nafasnya tersendat, dadanya terasa mengeras, seolah ada sesuatu yang dipaksa masuk ke tempat yang belum sembuh. Nenek terus berusaha menenangkan cucu semata wayangnya itu. Ia tahu perjalanan Raya tidak sepenuhnya berhenti disini, masa depannya masih jauh terbentang. Raya hanya butuh waktu. Waktu yang menyamarkan kenangan pahit dan berharap menghilang jauh dalam memorinya.

 ***

Hawa dingin bercampur kilau hangat dari matahari membangunkan Raya dari tidur lelapnya. Ia duduk di tepi ranjang, tidak menangis tapi mata nya berat untuk menatap dunia didepannya. Nenek datang dengan nampan berisi nasi dan lauk.

“Raya, makan ya, nanti habis makan Raya temani nenek antar pesanan kue ke bu RT.” ucap Nenek sembari menyodorkan nampan tersebut. Raya menerima tanpa kata apapun. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, berharap beban dalam dada bisa sedikit menghilang. Melihat itu Nenek sedikit tenang, ia lalu keluar untuk menyiapkan pesanan.

Jam dinding berdetak pelan. Tangannya tetap mencuci piring, sementara pikirannya masih dipenuhi potongan-potongan kejadian malam itu. Raya menutup mata sembari mengatur kembali pertukaran oksigen dalam dadanya. Ia berharap ingatan itu tidak menghantuinya lagi. Ketika kesadarannya mulai pulih, Raya bergegas menghampiri Nenek yang sudah siap sejak tadi.

”Ayo, kita berangkat Nek.” sembari membantu Nenek membawa box berisi kue-kue tersebut.

Di luar, suara motor dan langkah orang-orang terdengar biasa saja. Tidak ada yang berubah, hanya dirinya saja yang berjalan sedikit lebih lambat hari itu. Kami tiba didepan rumah minimalis dengan lampu ruang tamu yang menyala lembut dan cukup terang untuk menyambut malam yang sebentar lagi datang.

“Permisi, Bu Jono, ini saya Ningsih mau nganter pesanan kue Bu.” Ucapnya sembari memastikan bahwa Bu Jono berada dirumahnya.

“Iya, tunggu sebentar Mak.” Balasnya dengan panggilan khas Nenek di kalangan warga komplek. “Wah, Mak kue nya kelihatan enak semua nih, emang gak pernah salah saya langganan sama Mak Ningsih.” Lanjut Bu Jono. Ia menyodorkan beberapa lembar uang untuk melunasi pesanannya lalu kami pun pamit pulang.

Suasana canggung menyelimuti Nenek dan Raya dalam perjalanan pulangnya. Mereka tidak memiliki guncangan emosional yang sama. Jalan itu tampak sunyi, gelap malam semakin pekat hanya sesekali kendaraan saling berlalu lalang. Namun, tanpa peringatan sebuah mobil melaju sedikit kencang yang membuat kendaraan lain membunyikan klakson masing-masing. Nenek merasa kaget sejenak, begitupun bagi Raya.

Ia berhenti melangkah. Klakson itu hanya satu detik, tapi satu detik yang cukup untuk merobek waktu. Tangannya dingin. Bukan karena udara. Ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba menarik semua panas pergi. Tidak ada suara, tidak ada tanda, seolah dunia akan segera jatuh. Nenek menyadari bahwa Raya masih berada di tempat yang sama, lalu detik selanjutnya ia jatuh. Tidak ada suara keras, hanya tubuh yang menyerah.

”Raya.” Nenek bergerak lebih cepat dari usianya. Tangannya gemetar, jari-jarinya mencari denyut, napas, apa saja yang bisa menahannya tetap disini. Ketika dada itu masih naik-turun, Nenek menutup mata sejenak. Tangisnya pecah perlahan. Nenek menyadari sesuatu. Hal yang tidak membiarkannya melangkah maju, bahkan disaat tubuhnya memaksa tetap tidak merubah keadaan. Raya, masih terjebak dalam kejadian malam itu.

Hari-hari terus berganti namun waktu tak benar-benar membuatnya berubah. Raya akan duduk di tempat yang sama menatap langit dan bumi, beberapa kejadian akan memancing ingatannya lalu serangan itu datang. Kadang saat menemani nenek mengantar pesanan atau berupa mimipi buruk yang tak diinginkan. Ia bangun dengan napas yang tersengal, tangan dingin dan jantung yang berlari tanpa tujuan. Semua ini seperti memberitahu Raya bahwa dunia tetap berjalan sementara ia tertinggal.

Sampai suatu ketika tubuhnya tidak lagi meminta izin. Hari itu kota seolah begitu sibuk, orang-orang saling mendesak waktu bahkan lalu lintas tidak menyelipkan jeda walau sedetik. Raya melangkah lebih jauh dari rumah, tidak ada kanan atau kiri, seolah ia tidak lagi mengendalikannya—mungkin ini caranya menyerah. Tidak ada suara, seolah tubuh mengajaknya jalan tanpa tujuan. Mobil itu pun tidak memiliki waktu untuk menarik tuas rem, tetapi sepersekian detik sebuah harapan menyadarkannya. Namun takdir tidak berhenti disitu hingga membuatnya hampir terlambat menarik diri.

Wajahnya pucat dan tubuhnya lemah, Nenek bergegas mengantar cucu satu-satunya itu, ia tidak meminta keajaiban—hanya penangguhan. Malam itu sudah menahan Raya terlalu lama.

”Raya, kamu sudah banyak menahan selama ini.” ucap Nenek saat menemaninya terbaring diruang perawatan. ”Waktu terus berjalan, tapi kenapa hanya kamu yang tidak izinkan maju nak?” wanita tua itu tampak menahan kesedihan, tangannya gemetar sambil mencengkeram ujung selimut.

***

Jendela terbuka lebar saat tengah hari datang dengan angin yang menerbangkan setiap tirai di sana. Membuat udara dalam kamar terasa segar, seperti di izinkan untuk menenangkan jiwa yang sedang terbaring di sana. Raya membuka mata, pandangan buram perlahan menjadi jelas. Ia melihat seseorang duduk di hadapannya. Bukan dokter. Bukan keluarga.

”Em, Nek?” panggilnya sambil mengamati sekitar.

”Nenek sedang kembali ke rumah untuk membuat pesanan kue.” Jawab laki-laki yang sedang duduk di samping ranjang tersebut. Tangannya terangkul ke depan, ada sedikit senyuman diujung bibirnya.

”Kamu siapa?” tanya Raya yang masih bingung akan kedatangannya.

”Aku? Teman mu.” jawabnya santai dengan pandangan yang terus melihat ke arah Raya.

”Teman? Aku nggak punya teman laki deh.” Anehnya Raya terus menerus menjawabnya. Seolah tubuhnya menuruti kehadiran laki-laki itu.

Tidak ada jawaban darinya. Ia lalu berjalan menuju jendela yang terbuka. Dan berkata,

“Anginnya sejuk ya, padahal mataharinya terik” sambil melihat pemandangan diluar sana.

“Nggak. Hawa nya panas.” Jawab Raya ketus.

”Emang yang bilang dingin siapa?”

Raya menoleh. “Kamu.”

“Aku bilang anginnya sejuk, bukan hawa” jawabannya membuat Raya kesal. Ia beranjak turun dari tempat tidur lalu mengambil jaketnya.

“Hei, mau kemana?” tanya laki-laki itu saat melihat Raya keluar dari kamar. ”Lah, marah ya?”

Aroma disinfektan tersebar di udara, khas untuk sebuah rumah sakit yang menampung jiwa-jiwa yang lemah. Ia berjalan hingga menemukan sebuah taman di ujung lorong. Taman yang tidak luas, namun bisa membuat Raya merasa hidup.  Saat udara benar-benar memberinya ketenangan, laki-laki tadi justru muncul membuyarkan semuanya.

”Kamu sering bengong,” katanya

Raya menoleh.”Itu kritik atau saran?”

”Saran sih. Kritik biasanya lebih menyakitkan”

”Bagus. Aku alergi yang menyakitkan.” jawab Raya.

Ia tersenyum kecil. ”Ah, oke.” Laki-laki itu mengambil tempat disebelah Raya, sama seperti dikamar tadi, tangannya terangkul ke depan dengan sedikit senyuman di ujung bibir.

Walau masih membingungkan, namun kehadirannya seakan melengkapi Raya siang hari itu.

“Kok tahu sih kalau aku disini?” tanya Raya sedikit berbasa basi.

“Karna anginnya sejuk,” jawab laki-laki itu “Padahal mataharinya terik” lanjutnya dengan kalimat yang sama persis saat dikamar tadi.

Kali ini Raya tak kesal mendengarnya. Ucapannya seperti dibuat untuk mengusir cemas. Keduanya dipisahkan oleh keheningan panjang sampai seorang perawat menghampiri Raya. Tampaknya saat ini sudah waktunya minum obat sehingga ia harus segera kembali ke kamar. Raya mengiyakannya, lalu berencana pamit pada laki-laki itu. Tapi, Kemana dia? Pikir Raya.

***

Nenek baru kembali saat waktu maghrib selesai. Selama perawatan, Nenek selalu membawa kue-kue kesukaan Raya. Anehnya beberapa waktu ini ingatan itu sudah tidak muncul kembali. Perasaan yang aneh namun terasa damai di hati, mungkinkah ini sudah saatnya Raya melangkah maju?

”Nenek,” panggilnya ”Maafin Raya untuk semua yang membuat Nenek repot.” ucapnya setelah menyuap bolu kukus kesukaannya. Ia merasa dirinya yang dulu memang belum menerima takdir, tapi saat ini ia menyadari bahwa hidup tidak boleh tertinggal lagi.

Tangan Nenek menyentuh kedua pipi Raya, lalu berkata ”Nenek tidak pernah sedikit pun repot Ray. Jangan sampai kamu di selimuti rasa bersalah lagi, Nenek harap kamu bisa membuka lembaran baru dengan ikhlas.” senyumnya merekah begitu indah. Usianya boleh tua, namun hati dan pikiran Nenek sangat muda dalam menghadapi takdirnya. Raya merasa kata-kata Nenek adalah kalimat ternyaman yang didengar nya setelah malam mengerikan itu. Langit seakan menjawab doa dan harapan yang terus menerus mengudara tanpa henti dan tidak berujung.

Malam tak lagi terdengar seperti ancaman, udara sejuk menyelip dari sela jendela dengan suara dedaunan yang gugur. Raya menenggelamkan badan dalam selimut putih dengan senyuman yang telah terukir kembali pada wajahnya. Seperti masa depan sudah siap menyambutnya. Setidaknya, untuk pertama kali Raya tidak takut pada kegelapan.

Namun, semua harapan itu menjadi fana. Ia terbangun. Dadanya sedikit sesak. Ia sadar bulan masih menyajikan cahayanya.

“Cuma mimpi,” ucapnya lalu kembali melanjutkan tidurnya.

Tapi setelahnya ia berada dalam ruangan gelap. Samar-samar ia mendengar percakapan kecil, diikuti rintik hujan yang mengenai langit-langit. Raya sadar, ia bangun dalam sebuah mobil berisi dua orang yang sangat dirindukannya. Keberadaannya terasa nyata, suaranya nyaman saat didengar, namun gelap menghalangi pandangan. Tapi tanpa cahaya pun, bayangan mereka seakan membuktikan langit tak pernah bermain sebelumnya.

Suasananya terasa hangat hingga membuat Raya percaya bahwa takdir mengerikan kemarin tidak pernah terjadi. Hanya saja semua tiba-tiba menjadi harapan palsu saat jalan itu kembali. Sorot lampu tak beraturan itu akan menutup pandangan. Lalu dentuman keras akan terdengar. Raya mencoba menarik napas, tapi paru-parunya seperti dilipat dari dalam. Ia terus membuka mulut, namun udara tak menemukan jalan masuknya.

Saat matanya hampir tertutup karena rasa panik terus menggeroti tubuhnya, sebuah tangan menyentuh bahunya. Hangat dan nyaman.

”Raya.” ucap suara itu. ”Lihat aku. Tarik napas. Sekarang” suaranya lembut namun ketenangannya ikut terguncang.

Sentuhannya begitu tenang, tubuh Raya juga menuruti keberadaanya. Ia berdiri didepan Raya, tapi wajahnya tidak tenang seperti biasanya. Alisnya berkerut, matanya cemas, seolah waktu tak lagi menunggu.

”Jangan kesini lagi. Ini bukan tempatmu.” ucap laki-laki itu. ”Ayo, ikut aku.”

Bercak cahaya muncul dibelakangnya, memanjang sebagai jalan keluar. Ruangan gelap tadi seketika menjadi gudang cahaya yang indah. Raya menggengam tangannya. Mereka terus berjalan, merasakan angin yang sejuk, walau sinarnya membawa kehangatan. Dan genggaman tangan itu tidak sekali pun terlepas. Baru sekarang Raya paham. Kalimat yang selalu diulangnya bukan untuk mengusir cemas, tapi untuk memastikan ia tidak menghadapinya sendirian.

Raya terbangun dengan napas tersengal. Keringat membasahi leher dan punggungnya. Kali ini matahari sudah menyapa bumi. Ruangan itu kosong menyisakan Raya yang masih terbaring menatap langit-langit kamar. Dadanya kini tidak lagi sesak, tapi ada ruang kosong yang tertinggal.

***

”Nenek.” suara cempreng itu menggema seperti alunan lagu di udara. ”Kata Bu Jono minggu ini ada arisan desa, pesanan kali ini akan lebih banyak dari sebelumnya.” ucapnya dengan intonasi yang berantakan, napas yang sesekali tersengal dan senyuman yang tak pudar.

”Wah, kabar baik ini.” Nenek merespon dengan penuh suka cita. “Kalau begitu siang ini kita harus segera berbelanja, Ray.” ujarnya sembari mencolek pipi gembul Raya.

“Siap, laksanakan Mak.” Jawab Raya penuh keceriaan, tangannya terangkat, jari-jarinya merapat di depan pelipis kanan menghadap kepada panglima dapur yang agung. Nenek mengangguk tegas menanggapi tingkah lucu cucunya itu.

Raya tersenyum kecil. Ia menarik napas panjang. Tidak ada lagi perasaan yang tertinggal. Tidak ada lagi suara. Tidak ada lagi sosok yang menunggunya terbangun. Beberapa hal memang tidak diciptakan untuk tinggal, jika pertemuan mereka hanya sejauh ini maka Raya bersyukur karena ia sempat diselamatkan. Mungkin saja selama ini bukan malam itu yang mengurungnya, tapi egonya yang belum di izinkan untuk melindungi dirinya sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Menutup Diri
Rida nurtias
Novel
Keluarga Aurea
Heidyanne R. Kaeni
Novel
Bronze
PEREMPUAN NAGA
Efi supiyah
Flash
Bronze
Pangeran di Bus Kota
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Alvin dan Lagunya
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Menyerah
Elisabet Erlias Purba
Cerpen
Angin Sejuk Di Bawah Matahari Terik
faridhachacha
Novel
OPEN THE HEART
RF96
Skrip Film
Yang Hilang
Sholichatun Nisa
Skrip Film
Retak Yang Mengutuh (Skrip)
Dzalabu
Novel
Bronze
Earmuffs
Riski Nasution
Novel
Gold
KKPK Gerhana Pasti Berlalu
Mizan Publishing
Flash
Ketika Mendung Bukan Lagi Pertanda Hujan
M Fadly Hasibuan
Novel
Selamanya
zaky irsyad
Novel
Wo Ai Ni "Novel"
Herman Siem
Rekomendasi
Cerpen
Angin Sejuk Di Bawah Matahari Terik
faridhachacha
Cerpen
Bronze
Rumah Lila
faridhachacha
Cerpen
Matcha-IN You
faridhachacha
Cerpen
I am a tea, You are a coffee
faridhachacha
Cerpen
Gadis Pagi Bernama Nara
faridhachacha
Cerpen
Angin Sore dan Pohon Kehidupan
faridhachacha
Cerpen
Bronze
Satu Langkah Yang Belum Terjadi
faridhachacha