Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Seorang jurnalis kriminal bernama Mira mengepak barang-barangnya dengan tergesa-gesa. Sudah dua bulan ia mencari apartemen yang cocok, dan akhirnya, ia menemukan sebuah bangunan tua bergaya art-deco di pusat kota. Apartemen itu tampak sempurna, dengan langit-langit tinggi, jendela-jendela besar yang menghadap ke jalanan ramai, dan sebuah lorong panjang yang memisahkan ruang tamu dari kamar tidur.
Meskipun usianya sudah puluhan tahun, bangunan itu tetap terawat dengan baik. Dinding-dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan abstrak, dan lantai kayunya yang mengilap memancarkan kehangatan. Mira tidak sabar untuk pindah ke sana dan memulai hidup baru. Ia membayangkan dirinya duduk di dekat jendela, menikmati secangkir teh hangat sambil menulis artikel-artikelnya.
Namun, malam pertama di apartemen baru itu, harapan Mira berubah menjadi kegelisahan. Ia terbangun di tengah malam karena suara yang aneh. Suara itu terdengar seperti langkah kaki, tapi tidak seperti langkah kaki biasa. Lebih mirip seretan, seperti seseorang yang menyeret kakinya perlahan di lantai kayu. Suara itu berasal dari lorong panjang yang gelap.
Mira menahan napasnya, mencoba mendengarkan lebih saksama. Langkah-langkah itu semakin jelas, semakin dekat. Jantungnya berdebar kencang, ia merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia melirik jam di samping tempat tidurnya, pukul 03.00 dini hari. Ia yakin tidak ada orang lain di apartemen itu selain dirinya.
Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Mira memejamkan matanya, berharap suara itu akan menghilang. Tetapi, suara itu justru semakin jelas, diiringi dengan suara ketukan pelan di pintu. Mira merasa seperti ada orang yang sedang mencoba membobol pintu kamarnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Tiba-tiba, suara ketukan itu berhenti. Hening. Mira membuka matanya perlahan. Ia menyalakan lampu, dan pandangannya langsung tertuju pada pintu. Tidak ada seorang pun di sana. Ia menghembuskan napas lega. "Hanya imajinasiku," gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Mira mencoba mencari tahu tentang apartemen itu. Ia bertanya pada pengelola dan tetangga-tetangganya, apakah mereka pernah mendengar suara aneh di malam hari. Semua orang menggelengkan kepala.
"Tidak, Nona. Saya sudah tinggal di sini selama 20 tahun, dan tidak pernah mendengar suara aneh apa pun," kata pengelola apartemen.
Mira merasa aneh. Apakah hanya ia yang mendengar suara itu? Ia mulai merasa paranoid. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya ilusi, bahwa ia terlalu lelah. Namun, saat malam tiba, ia kembali mendengar suara itu. Langkah kaki yang menyeret, ketukan pelan di pintu. Kali ini, ia memberanikan diri. Ia membuka pintu kamarnya, dan melihat ke lorong.
Tidak ada seorang ...