Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Anastesi di Jari Jemari Kiri
0
Suka
474
Dibaca

Sunyi menyapa malam ini, angin di luar jendela menusuk kalbu menyapaku seperti biasanya. Malam-malam telah ku lewati dengan sesak pilu di dada, sendu batinku kian menyiksa. Di ruangan ini, tempat yang seharusnya membuatku nyaman sejak belasan tahun lalu berubah menjadi jeruji besi yang dingin.

Orang lain menenangkan diri dengan meminum alkohol, berbeda denganku yang hanya setiap harinya mengkonsumsi obat-obatan penenang dari psikiater. Sudah hampir bertahun-tahun perasaan ini kian menyiksaku.

Aku hanya bisa memeluk erat sebuah kayu yang tengahnya kopong berongga, memiliki enam senar dan bersuara. Si Hitam ini selalu menemani tiap hariku, terlebih lagi disela-sela kesedihanku yang berlarut. Setiap nada yang dihasilkannya membuatku terlena dan larut dalam alunan irama.

Obat penenang berdosis tinggi yang di resepkan psikiaterku kalah cepat dengan serangan ingatan yang mendadak meluap. Kepalaku terasa sangat bising, maka ku peluk si hitam dengan erat.

Tringgg...

Bunyi suara gitar yang ku petik melalui jemariku.

"Suara apa itu?" Teriak kakakku.

"Ini kak, aku sedang memainkan gitar," ucapku dengan gemetar.

"Berisik, sudah malam ganggu orang tidur aja!" teriakknya semakin lantang.

Aku kembali menaruh gitarku dalam pelukan hangat dadaku, tak terasa air mataku jatuh membasahi kayu yang bernada itu.

"Mengapa hidupku selalu dihantui rasa takut ini?" Ucapku terisak tangis.

"Aku hanya ingin tidur, mengapa sesusah ini?Menangis tersedu-sedu.

Malam itu, aku hanya bisa berharap untuk tertidur pulas tanpa mimpi yang berulang. Namun sayangnya, insomnia ini kerap melanda membuatku terjaga semalaman seperti penjaga kastil.

Bentakan Kakak masih menyisakan dengung di telingaku, berbaur dengan kompleksnya rasa traumaku yang juga belum reda. Di dalam kastil kepalaku, Sang Penjaga menolak untuk memejamkan matanya.

"Aku tahu, kalau ku petik ini gitar orang rumah pasti akan marah padaku, apalagi kakakku." gumamnya dalam hati yang bersedih.

Maka dalam remangnya lampu kamar, aku meletakan gitarku dalam pangkuan. Memetiknya tanpa suara yang hanya ku sentuhkan jariku dengan kawat baja. Aku membius diriku dengan harmoni yang sunyi.

Klekk..klekkk

Begitulah bunyinya, kayu bernada ini tak mengeluarkan melodi indah malam ini. Aku memainkan nada-nada minor untuk mengekspresikan kesedihan, dan kekecewaanku atas semua yang terjadi dalam hidupku. Begitupun sebaliknya, nada-nada mayor aku mainkan ketika diriku merasa bahagia.

Mungkin bagi orang luar, gitarku ini bisu. Tapi bagiku, gitar ini benar-benar memukau. Aku bisa membayangkannya dengan jelas ketika bunyi antar chordnya yang ku petik menghasilkan suara indah disertai alunan nyanyian yang penuh makna.

Aku hanya bisa berimajinasi, gitar yang hening ini menjelma menjadi sebuah tangan yang memeluk erat diriku, memberiku tissue dan menghapus air mataku. Di ketukan ke berapa, entah aku lupa tiba-tiba mataku perlahan mulai buram dan menyerah untuk terjaga.

*****

Keesokan harinya, aku terbangun dalam keadaan masih memeluk gitarku si Hitam manis yang penuh harmoni.

Beberapa saat kemudian, Ibuku mengetuk pintu kamar.

"Ra, sudah saatnya bangun. Ibu sudah buatkan makanan untukmu Nak," membujukku dengan nada penuh kasih.

"Iya Bu, nanti saja. Rara belum lapar," ucapku Pagi itu.

"Ayolah Nak, temanmu sudah menunggumu didepan. Kamu segera siap-siap," bujuk ibu dengan nada rayuannya.

Aku hampir lupa, memang hari ini aku berniat mengunjungi toko musik bersama temanku, Tasya.

"Oh iya, hampir lupa. Tasya kan ngajak aku pergi beli alat musik," ucapku sambil menepuk kepalaku.

Aku melirik ponsel.

11.00 Siang.

12 Panggilan Tak Terjawab: Tasya

13 Pesan Belum dibaca: Tasya

"Yaampun, Tasya maafkan aku," lagi-lagi aku menyalahkan diriku sendiri atas kondisi mentalku yang kurang stabil.

Lantas aku sesegera mandi, mengambil alih kendaliku kembali dengan obat-obatan penenang yang ku minum setiap hari, dan menemui Tasya diruang Tamu.

"Ra, kamu gapapa kan?" ucap Tasya penuh kekhawatiran.

"Aku gapapa, cuma lagi kambuh aja," ucapnya sambil menepuk dadanya dengan pelan.

"Beneran gapapa? Kamu bisa cerita padaku," ucap Tasya sambil menepuk bahuku.

"Aman, ayo kita pergi saja," ucapku pelan sambil meraih tangan Tasya dengan tarikan nafas panjang.

*****

Jalanan kota terasa bising dan cepat, berbanding terbalik dengan isi kepalaku yang kian melambat meninggalkan sisa-sisa traumaku semalam. Tasya membawa motor dengan pelan, sengaja mengajakku untuk menyusuri jalanan dengan nyaman tanpa menggebu-gebu.

Saat lampu merah tiba, pengamen jalanan memainkan biola dan gitarnya lengkap dengan suara vokal yang indah. Diriku seolah-olah ditarik ke dalamnya. Aku hanyut dalam permainan melodi yang indah, dalam sekejap ingatan akan masa lalu yang menyakitkan tergantikkan dengan indahnya pemandangan suara di tepi trotoar lampu merah itu.

Aku melanjutkan perjalanan dan berbincang-bincang dengan sahabatku Tasya. Dia tidak pernah sekalipun menghakimi kondisiku.

"Tasya, maaf ya aku suka buat kamu khawatir atas sikapku," ucapku dengan nada lirih

"Tenang aja, kita kan sahabatan. Aku bangga punya sahabat sepertimu. Kamu hebat Ra!" menolehku dengan tersenyum bangga dikaca spion motor.

Tiba-tiba pandanganku teralihkan ketika melihat sebuah toko musik dengan papan besar bertuliskan "Simfoni Jiwa: Toko Alat Musik & Barang Antik".

"Tas...stop, kita kesana yu?" jarikku menunjuk toko tersebut.

"Oh, ayooo." Tasya mengiyakan ajakanku.

Tasya memarkirkan motornya di halaman toko yang dinaungi pohon beringin. Begitu mesin motor mati, telingaku langsung disambut oleh suara gemerincing lonceng angin yang tergantung di pintu masuk toko.

Saat aku mendorong pintu kayu itu, aroma kayu pinus, besti tua dan dupa langsung menyergap hidungku. Tempat ini aneh, tapi entah kenapa bagiku ini menenangkan seperti ada nuansa magis yang menghipnotis pikiranku.

Puluhan gitar berbaris rapi di dinding, tak lupa piano klasik yang anggun juga terpampang nyata dipojok-pojok ruangan toko musik itu. Hal ini terasa seolah-olah sedang menyambutku.

"Wah, tempatnya estetik parah Ra. Kamu, jadi kan mau cari senar gitar buat si Hitam?" ucap Rara padaku dengan mata yang berbinar.

"Iya, aku mau cari senar tapi pengen lihat-lihat dulu," ucapku dengan kagum melihat begitu banyak alat musik antik yang berbaris rapi.

Kakiku melangkah perlahan menyusuri lorong dengan barisan gitar yang memukau. Namun, pandanganku terfokus pada satu alat musik bersenar enam diatas meja yang diselimuti kain beludru hitam, bentuknya bulat, terbuat dari kayu cemara dengan ukiran yang indah namun tampak rumit, seperti bagan dalam peta bintang kuno.

Di sebuah meja beludru itu, ada papan kecil bertuliskan "Matriks Takdir & Nada" .

Mataku terlena begitu melihat indahnya gitar tersebut, dadaku berdebar kencang, tanganku gemetar seolah-olah ingin meraihnya sesegera mungkin. Tanpa sadar, aku meraih gitar tersebut dengan kedua tanganku, mendekapnya dalam dadaku dan memangkunya.

Getaran magis begitu terasa ketika jemariku mulai memetik senar dan memainkan melodi. Aku merasa mendapatkan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sebuah getaran hangat menyulut jiwaku yang sebelumnya terasa dingin seperti kutub es.

Seketika, rasa takut, cemas dan traumaku hilang. Benar-benar bising dikepalaku menghilang total.

Aku terlena dalam hanyutan melodi indah gitar tua itu. Memori dimasa lalu yang menyakitkan seperti direkayasa ulang kembali menjadi sebuah hal yang biasa saja. Tak hanya itu, kenangan akan kebahagiaan mulai familiar kembali dalam benakku.

Kemudian, seorang kakek tua penjaga toko berambut putih menghampiriku.

"Hanya seseorang tertentu yang memainkan gitar ini, ini bukanlah gitar sembarangan Nak," ucapnya sambil tersenyum dan menepuk bahu kananku.

"Lantas, mengapa aku bisa memainkannya?" ucapku dengan terheran-heran.

"Ini adalah Spirit Of Guitar, tapi di toko kami menyebutnya resonator jiwa," suara berat yang meneduhkan pandanganku.

"Gitar ini tidak dijual," tersenyum tipis.

"Mengapa?" Ucapku penuh pertanyaan.

"Ia hanya sedang menunggu seseorang yang memiliki frekuensi luka yang sama dengan pembuatnya, untuk menyelaraskan kembali garis takdir yang sempat kusut," ucapnya sambil menatap mataku dengan dalam.

Tasya yang berdiri di sampingku langsung menoleh, menatapku dan pria tua itu bergantian dengan dahi berkerut, heran dengan atmosfer magis yang mendadak tercipta di antara kami.

Begitu pulang dari toko tersebut, diriku seperti mendapatkan hembusan angin lembut dengan sensasi menyejukkan jiwa. Seketika, trauma itu hilang hanya lewat petikan dari sebuah anastesi di jari jemari kirinya.

Hari-hari berlalu, aku mulai kembali memetik gitar dan membuat sebuah lagu-lagu tentang pengalamanku. Begitulah kiranya, sebuah nada yang ku mainkan dengan si Hitam benar-benar membiusku.

Tamat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Ariana of Zarya
Ravistara
Cerpen
Anastesi di Jari Jemari Kiri
Skaya
Novel
Bronze
Expired Girl Expired Money
daun kecil
Cerpen
Persahabatan dan Obsesi
adinda pratiwi
Novel
Pretty Thing
clearesta nathania
Novel
When I Love You
Nahla Shaliha Fithri
Novel
TEGAR
Blogky
Novel
Bronze
CETHIK
Wulan Kashi Dhamar
Skrip Film
ELEGI SEORANG BIDUAN
Ronie Mardianto
Novel
Tatap Semesta
Alfi Zakira
Novel
Bronze
MVP (Most Valuable Partner)
SOS (Share Our Story)
Flash
Bronze
Reuni Bumi
Farida Zulkaidah Pane
Cerpen
Bronze
SENANDIKA
P' Jee
Novel
Selagi Masih Ingat
Caiden Roux
Komik
Gold
Nalsal's Essay
Kwikku Creator
Rekomendasi
Cerpen
Anastesi di Jari Jemari Kiri
Skaya
Cerpen
Kado Seharga Kelas Pekerja
Skaya
Cerpen
UMR PAS-PASAN
Skaya
Flash
Memendam Rasa
Skaya
Cerpen
Anak Jalanan
Skaya
Cerpen
Lensa yang Retak
Skaya
Flash
Have Fun, Muka Dua!
Skaya