Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Ananta dalam Diam Kita
1
Suka
34
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Malam ini, tanpa alasan yang benar-benar jelas, aku membuka kembali percakapan kita.

Layar ponselku menyala pelan di tengah kamar yang remang. Tidak ada pesan baru. Tidak ada namamu muncul di bagian atas. Semuanya diam, seperti rumah tua yang telah lama ditinggalkan penghuninya.

Aku tidak benar-benar tahu apa yang kucari.

Mungkin hanya ingin memastikan bahwa semua ini pernah sungguh-sungguh terjadi. Bahwa engkau, dengan segala tawa dan diam yang pernah engkau tinggalkan, bukan sekadar bayangan yang kubuat sendiri di dalam ingatan.

Jempolku berhenti di atas riwayat percakapan kita. Beberapa detik aku ragu. Rasanya seperti hendak membuka kembali pintu yang dulu kita tutup perlahan—pintu yang di baliknya masih tersimpan banyak hal yang belum sempat benar-benar kita selesaikan.

Namun akhirnya aku menekan.

Percakapan lama itu terbuka—utuh, tidak berubah, tidak menua. Seolah waktu hanya berjalan untuk kita, bukan untuk kata-kata yang pernah kita tinggalkan di sana.

Aku mulai membaca ulang, pelan.

Di bagian awal, aku tersenyum kecil. Masih kuingat bagaimana dulu engkau bisa membuat malam terasa begitu pendek. Kita tertawa hanya karena hal-hal sederhana—stiker yang tidak lucu, salah ketik yang konyol, atau candaan tengah malam yang sebenarnya tidak penting.

Dulu, bersamamu, waktu seperti selalu punya cara untuk melambat.

Sekarang, bahkan satu menit terasa panjang.

Aku terus menggulir layar. Ada bagian yang dulu membuatku bahagia, dan anehnya, masih menyisakan hangat yang sama—meski tipis, meski jauh. Namun ada pula bagian yang membuat dadaku mengencang. Kata-kata yang dulu terasa biasa saja kini berubah asing, seperti milik dua orang yang perlahan-lahan kehilangan cara untuk saling memahami.

Aneh rasanya.

Dulu kita bisa berbicara sepanjang malam tanpa kehabisan sesuatu untuk dibagikan. Seolah selalu ada cerita baru, keluh baru, mimpi baru yang ingin kita tukar sebelum tidur datang menjemput.

Sekarang…

bahkan untuk saling menyapa pun, kita sudah tidak punya tempat.

Aku berhenti menggulir.

Lama.

Percakapannya masih ada—rapi, utuh, tidak pernah benar-benar hilang. Teknologi memang pandai menyimpan jejak, tetapi ia tidak pernah tahu cara mengembalikan manusia yang pernah hidup di dalamnya.

Dan manusia itu… adalah engkau.

Engkau adalah bayang-bayang yang diam-diam menetap di puisi-puisiku. Tanpa izin, tanpa suara, tanpa pernah benar-benar pergi. Namamu mungkin tak lagi kutulis, tetapi jejakmu masih hidup di antara sebilah kata, tinta, dan air mata yang pernah jatuh diam-diam.

Aku tidak pernah benar-benar tahu kapan semuanya mulai berubah.

Mungkin pelan-pelan.

Mungkin sejak kita mulai terlalu sering menunda bicara yang seharusnya diselesaikan.

Atau mungkin sejak ego kita sama-sama tumbuh, tetapi tidak ada yang mau lebih dulu menunduk.

Yang jelas, retak itu tidak pernah datang tiba-tiba.

Ia selalu mulai dari hal kecil yang kita anggap akan baik-baik saja.

Tidak ada gading yang tidak retak—begitu pula aku, engkau, dan kita.

Aku menarik napas panjang.

Maaf.

Kata itu sederhana, tetapi hampir selalu datang terlambat. Selalu muncul setelah semuanya terlanjur jauh, setelah jarak tidak lagi bisa dijangkau hanya dengan niat baik.

Maafkan aku, selagi maaf itu masih mungkin engkau dengar—meski mungkin tidak lagi engkau butuhkan.

Puncak pengharapan paling tulus dalam hidup ini adalah pernah mengenalmu. Aku tidak sedang melebih-lebihkan kalimat itu. Ada begitu banyak hal dalam diriku yang berubah sejak engkau datang—cara berpikirku, caraku memandang diam, bahkan caraku memahami arti kehilangan.

Sayangnya, tidak semua perubahan itu membuatmu bahagia.

Jika selama bersamaku lebih banyak luka yang engkau temui, maka percayalah—itu juga menjadi penyesalan yang diam-diam tinggal dalam diriku sampai sekarang.

Bukankah masalah adalah cara paling sunyi untuk mendewasakan kita?

Aku tersenyum tipis.

Dulu aku pikir kedewasaan datang dari seberapa kuat kita bertahan. Sekarang aku mulai mengerti—kadang kedewasaan justru datang dari keberanian untuk melepaskan, meski hati belum benar-benar siap.

Aku kembali menggulir percakapan kita hingga berhenti pada bagian yang paling jarang ingin kubaca.

Bagian ketika nada kita mulai berubah.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata kasar. Hanya jeda yang makin panjang… balasan yang makin singkat… dan perasaan yang pelan-pelan kehilangan rumahnya.

Hubungan kita tidak hancur dalam satu malam.

Ia meredup.

Pelan.

Hampir tidak terasa.

Sampai akhirnya kita sama-sama sadar—tetapi sudah terlambat untuk kembali ke awal.

Tanganku kemudian beralih membuka galeri.

Dan di situlah engkau kembali hadir dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling menyakitkan.

Perlu engkau tahu, sayangku,

saat ini aku hanya bisa melihat foto-foto kita. Senyummu yang menawan itu masih sama—terlebih ketika engkau memakai baju putih khasmu yang dulu sering kau kenakan. Ada cahaya yang tidak pernah bisa aku jelaskan setiap kali melihatmu di sana.

Aku hanya rindu pada engkau yang dulu pernah aku kenal.

Rindu pada caramu tertawa tanpa beban.

Rindu pada caramu memanggil namaku seolah dunia ini tidak pernah terlalu rumit untuk kita jalani bersama.

Kadang aku membayangkan—betapa tenangnya jika aku bisa kembali mengenalmu, tetapi dengan versi kita yang tidak akan pernah berubah.

Walaupun, jauh di dalam hati, aku tahu… mungkin itu hanyalah harapan yang semu.

Aku menutup galeri pelan.

Terima kasih telah memulai semua ini.

Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam hidupku.

Terima kasih… bahkan untuk semua kerepotan yang pernah engkau tanggung karena ulah seseorang sepertiku.

Di dunia ini ada banyak pilihan. Banyak orang datang dan pergi tanpa sempat meninggalkan makna. Namun aku tetap percaya, salah satu hal baik yang pernah terjadi dalam hidupku adalah pernah berjalan cukup jauh bersamamu.

Jika suatu hari kisah ini benar-benar selesai—dan mungkin memang sedang menuju ke sana—anggaplah bersamaku adalah pelajaran.

Bahwa setiap pasangan layak diakui.

Layak dihargai.

Layak didengarkan… sebelum semuanya terlambat.

Dan jika nanti bukan aku yang engkau pilih untuk berjalan pulang, maka perlakukanlah lelaki yang datang setelahku dengan cara terbaik yang pernah kita pelajari bersama.

Jangan ulangi kesalahan yang sama.

Jangan biarkan diam tumbuh terlalu lama.

Jangan menunda kata yang seharusnya diucapkan sejak hari itu juga.

Layar ponselku perlahan meredup.

Percakapan itu masih terbuka. Masih utuh. Masih menyimpan kita yang dulu—dua orang yang pernah percaya bahwa kebersamaan ini akan berjalan jauh lebih lama dari kenyataannya.

Aku tidak menutup percakapan itu.

Tidak malam ini.

Karena akhirnya aku mengerti satu hal sederhana: tidak semua yang berakhir benar-benar selesai.

Ada yang tetap tinggal—diam, tenang, nyaris tak terlihat—namun menolak hilang sepenuhnya.

Dan di antara sunyi yang kita sisakan,

rasa itu masih ada.

Masih bernapas pelan.

Masih menahan isak yang dulu pernah kita tata dengan asa.

Masih setia menunggu di tempat yang sama yaitu dipuncak ketarasingan—

Ananta "abadi tanpa tanda"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Pengantin Sang Jendral
Serenade18
Novel
Bronze
Still Waiting for A Reason
Roormniax
Cerpen
Ananta dalam Diam Kita
Septia Arya Nugraha
Novel
Gold
The Memories of Algebra
Bentang Pustaka
Novel
SUAMIKU CRAZY SHOPPING
Ochiieet Queenbee
Novel
We are Not Done Yet
Fitri Fatimah
Cerpen
Bronze
Sastranala ☆
Zohreta Yuspiani
Novel
Gold
#Berhentidikamu
Mizan Publishing
Novel
Alpha Woman
Clodyth.
Cerpen
Takdir Cinta
Areta Swara
Novel
Sajak Derai Ombak
Bernika Irnadianis Ifada
Cerpen
Bronze
Hopeless Romantic
Mia Fransiska
Cerpen
Bronze
Cinta di Bawah Langit Pegunungan
SADNESS SECRET
Novel
Gold
Drama
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Sudut Lancip
Zaga Masi
Rekomendasi
Cerpen
Ananta dalam Diam Kita
Septia Arya Nugraha
Cerpen
Di Bawah Awan Jingga
Septia Arya Nugraha
Cerpen
Di Antara Sarkas dan Pelukan
Septia Arya Nugraha
Cerpen
MENUJU JALAN SETAPAK
Septia Arya Nugraha
Cerpen
Kita, Rumah yang tak pernah selesai dibangun
Septia Arya Nugraha
Cerpen
Asing Lagi
Septia Arya Nugraha