Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
ANAK LELAKI DI ATAS KURSI
1
Suka
353
Dibaca

Seorang anak laki-laki duduk di kursi khusus miliknya yang sangat nyaman dan juga empuk di balkon lantai tiga istana kediamannya. Rumah besar itu dibangun menjulang megah di antara rumah sederhana milik para tetangga. Dari balkon lantai tiga dia di sana saban sore, ketika langit menemani matahari yang akan segera beranjak meninggalkan hari.  

Mata lelaki muda itu menatap segerombolan anak laki-laki lain seusianya yang sedang bermain bola di lapangan tengah kampung. Setiap sore yang cerah begitulah keseharian mereka. Begitu jua dengan dia yang hanya bisa menatap dari kejauhan pertandingan yang penuh teriakan dan juga keringat. Kadang kakinya menendang lantai saking terbawa suasana. Saat bola yang akhirnya membobol gawang anak itu berdiri di atas kursinya sambil melompat-lompat.  

Memang hanya begitu yang bisa dia lakukan. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam dia ingin bergabung bersama dan berlarian hingga lelah dan keringat keluar membasahi seluruh tubuh. Tak pernah pengalaman itu dia rasakan. Harinya sungguh membosankan, di rumah saja. Dia iri dengan kebebasan anak-anak di lapangan. 

“Rakai...” Suara ayah terdengar menyapanya.  

Dia yang tadinya asyik berjingkrang di atas kursi segera membetulkan posisi. Dia kembali duduk manis. Memastikan ayahnya tidak marah dengan apa yang dia lakukan. Murka ayah terlalu menyeramkan.  

“Iya.” dia segera menyahut panggilan ayahnya.  

Tak lama sang ayah muncul mendekatinya yang duduk di balkon. Semua situasi yang telah dia susun, penuh ketelitian. Tangannya tampak sibuk memainkan permainan yang ada di telepon genggam dengan segelas es jeruk yang menemani.  

Ayah tersenyum. “Apa yang sedang anak ayah lakukan di sini?” 

“Menghirup udara sore sambil menikmati es jeruk dan ini.” Rakai menunjukkan gawai di tangan.  

“Wah pasti menyenangkan. Ingat nanti malam bersiaplah, ayah mengundang Jendral Bram untuk makan malam. Kamu harus bertemu dengannya.” 

Rakai mengerutkan dahinya, kemudian menggelengkan kepalanya. “Boleh tidak aku di kamar saja. Jangan bawa aku ke dalam dunia dewasa-mu. Aku masih kecil...”  

Brak... 

Telapak tangan ayah dengan keras mendarat tepat di kepala bagian kiri. Rakai dapat merasakan telinganya berdengung hebat sehabis tamparan itu. Dia tak bisa melawan sedikit pun. Bahkan menarik napas saja tidak sempat dia lakukan. Jari telunjuk tangan kanan ayahnya kembali mendorong kepala kecilnya ke belakang.  

“Aku sudah katakan jangan sekali-kali membantah.” 

Rakai menahan air yang ingin keluar dari pelupuk matanya. Dia dengan cepat merespon dengan menganggukkan kepalanya. “Iya ayah.” 

Ayah kembali menatap Rakai dengan tajam. “Satu hal yang harus kamu ingat. Kamu itu anak paling beruntung di dunia ini. Semua hal telah aku penuhi. Tidak perlu bersusah-susah layaknya anak di luar istana kita ini. Lihat kursimu itu.” Ayah masih dengan jari telunjuk yang sama mengarahkan tangannya pada kursi yang diduduki sang putra.  

“Tidak semua anak bisa memiliki kursi itu. Tapi lihat dirimu, kamu bisa dengan mudah duduk dan menikmatinya. Ayahmu sudah berkerja keras untuk hidup dan kursimu itu. Tak ada anak lain yang punya, hanya kamu.” Masih dengan jari telunjuk yang menunjuk ke tubuh Rakai.  

“Maaf ayah.” Suara perau Rakai terdengar pelan.  

Akhirnya jari telunjuk itu turun. Ayah menghela napas panjang, kemudian tersenyum lebar. “Ingat kamu anak paling beruntung. Semua anak di dunia ini iri padamu.” 

Pelan Rakai mengangguk.  

“Jangan hanya mengangguk. Jawab iya ayah aku adalah anak paling hebat dan beruntung di dunia ini.” 

Rakai kembali membuka mulutnya dengan mengulang kalimat yang barusan diucapkan oleh ayahnya. “Iya ayah, aku adalah anak paling hebat dan beruntung di dunia ini.” 

“Kurang nyaring.” 

“IYA AYAH, AKU ADALAH ANAK PALING HEBAT DAN BERUNTUNG DI DUNIA INI.” Lagi tanpa membantah Rakai mengulang kalimat, kini dengan suara nyaring dan lantang.  

Ayahnya tertawa puas.  

 

 

Orang-orang yang dibayar ayah siap setiap saat membantu Rakai untuk melakukan apa pun bahkan untuk mengangkat kursi beratnya ke sana kemari. Dia memang tidak dibolehkan turun dari kursi paling keramat itu. Kursi khusus yang dibuat dengan bahan terbaik. Ayah menganggap itu merupakan simbol betapa dia sangat menyayanginya. Tapi tidak bagi Rakai.  

Kursi bermaterial emas murni dari tambang milik ayahnya yang entah berapa organisme yang harus menemui ajalnya demi kursi spesial itu. Ayahnya tak pernah peduli apalagi memperhitungkannya. Dia hanya fokus pada kursi.  

Kursi yang merupakan salah satu ambisi terdalam ayahnya sejak mengetahui sang ibu memilik bayi laki-laki dalam kandungan. Ayah pun mulai dengan kegilaannya. Dia selalu tampak bangga terlebih Rakai yang berusia dini dipoles gagah duduk di sana. Rasanya semua impian itu terwujud.  

Tak tahu Rakai menderita di sana. Malam itu setelah pertemuan dengan tamu yang diundang khusus oleh pria yang memberikan sebagian DNA padanya, Rakai segera masuk ke kamarnya.  

“Aku ngantuk, Ayah. Bolehkah aku tidur?” Bisiknya sebelum para dayang-dayang ayahnya diperintahkan untuk memikul dia dan kursi.  

Ayah mengangguk. “Iya, istirahat ya nak.” Ayahnya mengeluskan tangannya ke bagian kiri kepalanya yang masih terasa ada benjolan serta diiringi dengan rasa sakit saat tersentuh, sisa pukulan keras tadi sore.  

Para dayang yang telah ayah bayar untuk setia melayani seluruh keluarga bergerak mengangkat anak sang majikan. Beratnya kursi yang dipikul tak pernah dikeluhkan. Tetap melayani sesuai perintah. Dapur rumah-rumah mereka yang sibuk menjadi alasan utama tetap betah, walau Rakai sendiri merasa beban kerja orang-orang itu sangat keterlaluan. Siap sedia melayani dua puluh empat jam.  

“Ambilkan satu bola untukku.” Perintah Rakai pada satu orang pelayan setelah mereka mendaratkan kursi yang dia duduki dengan perlahan.  

“Siap, Mas.”  

Memang tanpa bertanya atau mengkritisi, semua mereka lalukan. Layaknya Jim Carey yang berperan sebagai Carl di film yang tayang tahun 2008 bertajuk Yes Man, sangat patuh. Bola yang diminta kini telah berada di tangan Rakai. Sudut bibir Rakai melengkung senang.  

“Keluarlah.”  

Satu persatu mereka keluar dengan berbaris. Rakai memperhatikan gerakan dayang sang ayah hingga pintu kamarnya tertutup rapat. Rakai menatap bola di tangannya. Bola yang didapatkannya dari salah satu orang kepercayaan ayahnya dengan sedikit memaksa.  

Iya, memang tidak ada orang yang berinteraksi dengannya, selain orang-orang dewasa dari dunia ayah. Tak ada teman kecil yang dia miliki. Rakai menarik napas panjang jikalau harus mengingat dunianya yang merupakan fotocopy dari dunia sang ayah. Dia kadang merasa sedih bukan hanya karena tidak memiliki teman sebaaya, tetapi dia yang tidak memiliki dirinya sendiri.  

Dari kursinya Rakai melepaskan bola dari tangannya. Bola itu jatuh lurus ke lantai dan kembali memantul kembali padanya. Dengan cekatan tangan Rakai menangkap bola itu. Tak hanya sekali, Rakai melakukannya berulang-ulang kali. Kamarnya yang tadi sepi kini riuh dengan suara tubrukan bola yang juga mengubah moodnya. Matanya yang tadi menyorotkan kesedihan sedikit menyala.  

“Rakai...” 

Terdengar suara lembut dari balik pintu kamarnya yang menyapa. Suara ayahnya dengan intonasi yang terdengar penuh kasih malah memberikan kesan horor di telinga Rakai. Anak laki-laki itu tampak panik dengan cepat kembali meraih bola. Dia segera menyembunyikan bola di belakang tubuhnya.  

Daun pintu kamar Rakai bergerak terbuka. Sosok dengan pembawaan tenang tersenyum padanya. Entah mengapa jantung Rakai harus berdegup kencang.  

“Kamu belum tidur, Nak?” Laki-laki dewasa melangkah mendekat.  

Rakai berusaha menguasai dirinya. Dengan sekuat tenaga dia kembali mengumpulkan keberanian. “Belum, ayah.” Jawabanya sukses terdengar normal.  

Ayah memicingkan matanya. “Tadi ayah mendengar suara sesuatu yang memantul dari kamarmu, apa itu?”  

Rakai bisa merasakan keringat dingin keluar dari permukaan kulit di pelipisnya. Namun tak mampu tangan bergerak untuk menyeka. Dia hanya bisa menggunakan ekspresi wajah untuk menutupi ketakukannya.  

“Iya, ayah. Aku memainkan bola yang dihadiahkan Om Andi.” Rakai tahu pasti dia tidak bisa berbohong atau menyembunyikan apa pun dari ayahnya. Mengaku pilihan yang tepat, sebelum amarah orang tua itu meledak.  

“Bisa ayah lihat bolanya?” Ayah tak terdengar marah. Nada suaranya masih stabil. Tangan ayah terulur pada Rakai.  

Tangan Rakai meraih bola dari balik tubuhnya dan segera memberikan pada sang Ayah. Kini bola berpindah tangan. Ayah mengamati bola itu dengan serius. Dia bahkan membolak-balik melihat detail permukaan benda bulat itu.. Rakai diam saja memperhatikan tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.  

“Mau main bola dengan ayah?” 

Pertanyaan ayahnya menjadi pembalik keadaan. Mata Rakai bulat melebar tak percaya dengan apa yang didengar. Namun tak dapat menutupi kenyataan bahwa dia senang sekali. Dengan penuh semangat Rakai secepat kilat menganggukkan kepalanya.  

“Tentu saja mau, Ayah.” Sahutnya dengan nada kegirangan. “Kapan kita mainnya dan di mana, ayah? Apa di lapangan kampung? Main bersama anak-anak lainnya?” 

Ayah melemparkan bola dari tangannya kembali pada Rakai. “Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin bola mahal itu dimainkan bersama anak-anak kampung? Apa kamu sedang menguji kesabaran, Ayahmu ini?” 

“Tidak, Ayah.” Lagi respon Rakai cepat. “Aku hanya memastikan ayah tidak menyuruhku bermain bersama mereka.” Rakai meralat ucapannya dengan berbohong. Lemparan dusta dia utarakan demi tubuhnya tak lagi luka.  

Ayah tersenyum lebar mendengar kebohongan yang luwes keluar dari mulut sang putra. Dia senang bukan kepalang, ajaran yang selama ini dia bangun perlahan meresap dalam diri anak kesayangannya itu. Kebohongan kecil itu akan memulai perjalanan sang putra sebagai manipulator handal yang mempunyai kursi berkilau.  

Sementara Rakai bergidik melihat ayahnya yang menyeringai. Bulu kuduknya bahkan berdiri merespon gejolak yang datang dari tempat terdalam seorang manusia.  

“Ayo kita bermain!” 

Ayah memundurkan tubuhnya beberapa langkah. 

“Di kamar ini?” 

“Kamarmu cukup luas untuk bermain bola.” 

Tak membantah. Rakai bangkit dari duduknya. Dia berdiri di atas kursi kebesarannya. Dari tempat tinggi itu dia memicingkan mata mengarahkan bola di tangan sebelum ditendang.  

“Ayo tendang. Ayah akan menangkap bolamu.”  

Sesuai aba-aba, Rakai bak pemain profesional dengan pengalamam beberapa tahun ini di dunia pengamat sepak bola dari atas balkon. Bola yang ditendang melambungkan ke atas dan dengan cepat bola didorong oleh kakinya. Namun sayangnya bola itu meleset. Jauh dari tujuan awal.  

Ayah tertawa mengejek. “Mau menyerah atau coba lagi.”  

Ayah meraih bola dan melambungkannya kepada Rakai. Mendapat umpan, Rakai pun tidak menyia-nyikan kesempatan bola itu ditendang dengan sekuat tenaga. Bola yang mengarah tepat pada titik ayah berdiri. Dan sukses, bola menghantam bagian wajah ayah hingga tubuh tegapnya ambruk.  

Rakai terdiam melihat bola yang akhirnya jatuh mengelinding di lantai. Dia tak tahu harus berbuat apa. Terdiam beberapa saat melihat tubuh ayahnya terbaring tanpa daya. Perintah sang ayah untuk tetap di kursi dalam keadaan apa pun, dia patuhi.  

“Ayah...”  

“Ayah...” 

“Ayah...” 

Beberapa kali Rakai berusaha memanggil-manggil ayahnya berharap sang ayah mendengar dan bangun. Namun tak ada reaksi apa pun. Rakai menjadi lebih tegang. Namun bola yang masih bergerak di lantai menuju pintu membuat runtuh pertahanan Rakai. Anak laki-laki itu menyerah pada kepatuhan.  

Untuk pertama kalinya dia membiarkan kakinya menyentuh lantai. Kursi yang dibangga-banggakan ayah, selangkah demi selangkah dia tinggalkan. Bola yang memanggil segera dia raih. Tanpa berpikir panjang Rakai berlari menuju pintu dan keluar. Dia terus berlari meninggalkan ayah dan semua yang dia miliki. Hingga akhinya dia menemukan cahaya putih yang sangat terang. Senyum terukir di wajahnya, rasa haru menyeruak. Kehangatan menyambut dirinya yang datang dengan memeluk bola.  

 

-the End- 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
ANAK LELAKI DI ATAS KURSI
Lady Mia Hasneni
Flash
Rumah yang Berbicara
Hans Wysiwyg
Flash
Harimau si raja hutan
Nunu nugraha
Flash
Langkah Pertama
Penulis N
Novel
Tak Apa Belum Sembuh
Kelisyum
Flash
Bronze
Kata Mereka Akan Baik-Baik Saja
lidia afrianti
Novel
Aku Bermimpi Gigiku Patah
Heren setun
Cerpen
Berkah
Titin Widyawati
Flash
Bronze
Gion Night Time Slip
Silvarani
Novel
Halo, Bahagia
Deni Denol
Flash
Bronze
Tertakar
Adam Nazar Yasin
Flash
Bronze
Piye? Enak Jamanku, Tho?
Rere Valencia
Flash
Table Manner
Rin
Novel
Anyaman di Rambut Si Kribo
Ulva Idaryani Daulay
Flash
Hidup Setelah Mati
Ika nurpitasari
Rekomendasi
Cerpen
ANAK LELAKI DI ATAS KURSI
Lady Mia Hasneni
Cerpen
Menuju Negeri Cahaya
Lady Mia Hasneni
Novel
Bronze
Mr. Melancholic dan Subscriber-nya
Lady Mia Hasneni
Flash
FULL DOT
Lady Mia Hasneni
Flash
POHON PEPAYA
Lady Mia Hasneni
Novel
Bronze
Baling Kipas Angin Yang Berputar
Lady Mia Hasneni
Flash
Chat Terakhir
Lady Mia Hasneni
Skrip Film
MANIPU(LUV)ION
Lady Mia Hasneni
Cerpen
Rumah Beratap Langit
Lady Mia Hasneni
Novel
Bronze
Gelanggang Di Bulan Mei
Lady Mia Hasneni
Flash
Parang
Lady Mia Hasneni
Cerpen
Hening
Lady Mia Hasneni
Flash
Matahari Senja Pergi
Lady Mia Hasneni
Flash
Saat Tangannya Menyentuh Ujung Jilbabku
Lady Mia Hasneni
Flash
Dialog Maghrib dan Isya
Lady Mia Hasneni