Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ini adalah kisah nyata dari sepenggal perjalananku menjadi wartawan. Peristiwa itu terjadi sekitar sepuluh tahun lalu, saat emosi dan profesionalisme saling bertabrakan di dalam kepala.
Pagi itu, aku duduk di balkon kosan sambil berjemur. Secangkir kopi dan sebatang rokok menemaniku menyusun berita di ponsel. Udara masih dingin, jalanan belum ramai.
Lalu ponselku berbunyi. Pesan singkat dari seorang kenalan anggota polisi muncul di layar.
“Bro, ada penemuan mayat bayi di selokan.”
Beberapa detik kemudian, dia mengirim foto.
Aku terpaku.
Di dalam sebuah selokan kecil di pinggir jalan desa, terlihat karung putih tergeletak di antara rumput liar. Di sebelah kiri terbentang sawah dengan padi menguning siap panen. Karung itu sudah terbuka. Plastik merah dan hitam menyembul dari dalamnya. Dan di sela plastik itu, tampak kepala bayi yang sudah membiru.
Aku menelan ludah pelan.
Lokasinya berada di pelosok daerah di Bandung. Tempat yang biasanya tenang. Sulit membayangkan ada seseorang yang tega meninggalkan tubuh sekecil itu di sana.
Aku langsung bersiap. Motor kupanaskan, lalu berangkat menuju lokasi.
Sepanjang perjalanan, bayangan bayi di dalam karung itu terus muncul di kepalaku. Sesekali aku menarik napas panjang. Ada marah yang sulit dijelaskan. Juga rasa iba yang mengendap perlahan.
Satu setengah jam kemudian, aku tiba.
Polisi dan tim Inafis sudah berada di lokasi. Garis polisi terbentang di sekitar selokan. Warga berkerumun memenuhi jalan sempit desa. Mereka berbisik-bisik pelan. Beberapa menutup hidung karena bau menyengat mulai tercium.
Aku berdiri agak jauh ketika ambulans membawa bayi itu pergi menuju rumah sakit.
Seorang polisi yang kukenal menghampiri.
“Kalau mau wawancara Kapolsek, susul saja ke rumah sakit,” katanya singkat.
Aku mengangguk, tapi tidak langsung pergi. Aku memilih menghampiri warga yang mulai membubarkan diri.
Seorang lelaki paruh baya diperkenalkan kepadaku. Dialah orang pertama yang menemukan karung itu.
“Abah mau ke sawah,” katanya pelan sambil menunjuk lokasi penemuan. “Tiba-tiba kecium bau anyir darah. Pas dilihat, ternyata dari karung.”
“Bapak yang buka karungnya?” tanyaku.
“Bukan. Pak RW yang buka. Abah langsung lapor dulu.”
“Jenis kelaminnya?”
“Perempuan.”
Wajah lelaki itu tampak pucat. Sorot matanya kosong seperti masih belum percaya dengan apa yang dilihat pagi tadi.
“Bapak tahu siapa yang buang?” tanyaku lagi.
Dia menggeleng pelan.
“Tapi kata Pak RW, ada warga yang lihat dua orang naik motor Mio bawa karung sebelum adzan subuh.”
Aku lalu mencoba meminta keterangan kepada Pak RW. Namun lelaki bersarung putih itu tampak berhati-hati.
“Aduh... takut salah ngomong,” katanya lirih. “Nanti saja ke polisi.”
“Tapi benar ada warga yang melihat?”
“Iya. Ada laporan itu.”
Tak banyak yang bisa digali lagi.
Aku duduk sebentar di pinggir jalan, menulis berita sambil menghabiskan sebatang rokok. Setelah itu, aku melanjutkan perjalanan ke rumah sakit daerah tempat jenazah bayi dibawa.
Kenalanku sudah menunggu di sana.
“Jangan difoto,” katanya tegas sebelum membawaku masuk ke ruangan forensik.
Aku mengangguk.
Di atas meja besi, tubuh bayi itu sudah dikeluarkan dari karung. Plastik-plastik pembungkusnya diletakkan di samping.
Kondisinya memprihatinkan. Kulitnya membiru. Bau busuk mulai keluar. Ari-arinya masih ikut terbungkus bersama tubuh kecil itu.
Aku memperhatikan lebih dekat.
Di lehernya ada bekas jeratan. Bibirnya robek. Tangan kirinya terluka seperti terkena benda tajam.
Dokter forensik menjelaskan dengan nada datar, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat kematian.
“Diperkirakan meninggal tiga sampai lima hari lalu. Mulut robek kemungkinan karena disumpal. Penyebab kematian sementara diduga akibat jeratan di leher.”
Aku diam. Bulu kudukku berdiri, bukan karena takut. Ada campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Marah. Kasihan. Muak.
Aku sudah beberapa kali meliput kecelakaan dan pembunuhan. Tapi melihat tubuh sekecil itu di atas meja besi menghadirkan sesak yang berbeda.
Kenalanku kemudian mengajakku keluar ruangan. Dia menyodorkan rokok.
“Bro wawancara warga tadi? Ada rekaman?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil menyalakan api.
“Kata warga ada pasangan naik Mio bawa karung sebelum subuh.”
Dia menatapku sebentar, lalu mengembuskan asap rokok pelan.
“Cocok,” katanya. “Kita sudah tahu terduga pelakunya.”
Aku menoleh cepat.
“Siapa? Dimana?”
“Nanti ikut saja. Tapi jangan sampai ketahuan kalau kamu wartawan.”
“Aman.”
Malam turun ketika kami berangkat menggunakan Avanza hitam tanpa tanda polisi.
Target pertama berada di sebuah gang sempit dekat warung Madura. Kawasannya kumuh dan padat. Polisi berpakaian preman menyebar pelan-pelan.
Aku hanya berdiri di ujung gang.
Tak lama kemudian, mereka keluar membawa seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan. Rambutnya acak-acakan. Telinganya memakai anting besar. Pakaiannya lusuh.
Dia tidak melawan.
Di dalam mobil, pria itu langsung diinterogasi. Anehnya, dia mengakui semuanya dengan cepat.
Kami lalu bergerak menuju lokasi kedua.
Rumahnya berada di pinggir jalan kecil. Saat itu aku diminta ikut masuk.
Sebelum masuk, dua polisi yang berada paling depan berbisik pelan.
“Sedang makan.”
Pintu diketuk perlahan. Begitu terbuka, suasana hangat langsung terasa kontras dengan apa yang kami bawa malam itu.
Satu keluarga sedang makan sambil menonton televisi. Ada suara tawa kecil.
Seorang anak perempuan duduk di dekat televisi. Masih sangat muda. Parasnya cantik. Kelas dua SMP, kata polisi tadi. Di pangkuannya masih ada piring berisi nasi.
Ayahnya menyambut kami dengan wajah bingung. Kami bahkan sempat ditawari makan. Namun, polisi menolak dengan sopan.
Tak ada yang langsung bicara. Semua menunggu makan malam itu selesai. Sampai piring-piring dibereskan. Sampai televisi dikecilkan volumenya.
Lalu suasana berubah. Seorang polisi memandang ayah gadis itu.
“Pak... ini putri bapak?”
“Iya.”
Polisi mulai menjelaskan penemuan mayat bayi. Tentang CCTV di pinggir jalan. Tentang pria yang sudah diamankan.
Gadis itu langsung membantah.
“Itu bukan aku!”
Ayah dan ibunya saling menatap. Kebingungan mulai berubah menjadi ketakutan.
Beberapa detik kemudian, pria yang tadi ditangkap dibawa masuk dalam keadaan diborgol.
Begitu melihatnya, gadis itu langsung menangis histeris.
“Iya, Pak...” kata pria itu lirih. “Itu pacarku. Kami yang buang bayinya.”
Suasana pecah seketika.
Ayah gadis itu berdiri dan langsung menampar anaknya keras sekali sampai polisi buru-buru menahan tubuhnya. Ibunya menangis sambil memegangi dada.
“Kenapa, Neng... kenapa...?”
Ayahnya beralih memukul pria itu hingga darah keluar dari hidungnya.
“Kamu masih sekolah!” bentaknya kepada anaknya. “Masih kecil! Kenapa bisa melakukan hal sekeji itu?”
Gadis itu menangis, lalu menjawab dengan suara tinggi dan bergetar.
“Mau gimana lagi? Aku bingung! Aku takut! Itu anak haram!”
Ruangan mendadak sunyi sesaat. Lalu ayahnya berteriak lebih keras.
“Kelakuan kamu yang haram!”
Pecinya dilempar ke arah muka anaknya. Keras.
Polisi menahan tubuh lelaki itu yang terus meronta. Sementara istrinya mulai lemas sebelum akhirnya pingsan.
Di luar rumah, warga mulai berdatangan. Bisik-bisik memenuhi gang sempit itu.
Aku hanya berdiri diam di sudut.
“Anak haram...” kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Aku melihat ayah yang hancur karena kenyataan tentang anaknya sendiri. Melihat seorang ibu yang seperti kehilangan seluruh tenaganya dalam satu malam. Dan seorang anak perempuan yang ketakutan, tapi sudah terlambat untuk kembali.
Polisi akhirnya membawa gadis itu keluar menuju mobil.
Aku berjalan paling belakang. Sebelum masuk mobil, aku sempat menoleh sekali lagi.
Ayahnya masih berdiri di depan pintu rumah. Matanya merah. Tatapannya penuh marah dan kecewa saat melihat mobil itu perlahan pergi membawa anaknya.
Saat itulah aku sadar, malam itu aku bukan hanya menyaksikan kasus kriminal. Aku menyaksikan sebuah keluarga runtuh dalam hitungan menit. Bukan karena perceraian. Bukan karena kemiskinan. Tetapi karena rahasia, ketakutan dan keputusan buruk yang terlambat disesali.
Di dalam mobil, tak ada yang bicara.
Aku duduk di kursi depan, membuka sedikit kaca jendela, lalu menyalakan rokok. Suara tangis gadis itu masih terdengar pelan dari belakang.
Lampu-lampu rumah melintas cepat di luar kaca, memotong kegelapan. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam pekerjaanku sebagai wartawan, aku benar-benar merasa sesak. Bukan karena melihat kematian. Tetapi karena melihat bagaimana satu kesalahan bisa menghancurkan hidup begitu banyak orang sekaligus.