Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku termenung menatap rintik hujan di jendela. Kemarin aku mendapatkan mimpi buruk. Aku bermimpi mengenai kekhawatiranku. Dalam mimpiku tersebut, rasa khawatir yang selama ini menumpuk tiba-tiba saja menjelma menjadi sebuah sosok yang menakutkan.
Kalian tahu apakah sosok yang menakutkan itu?
Makanan.
Terdengar konyol?
Tidak bagiku.
Bagiku, makanan merupakan hal yang sangat mengerikan.
Di dalam mimpi itu, aku menangis karena memakan sepotong pizza. Padahal dalam mimpi tersebut aku sudah berhenti makan selama 45 jam. Aku hanya butuh tiga jam lagi untuk menggenapkannya menjadi 48 jam, dua hari. Tetapi tiba-tiba saja teman sekamarku pulang sambil membawa pizza dan memberiku sepotong pizza. Aku ingin menolak tapi aku takut menyakiti hatinya. Karena aku selalu menolak makanan yang ia tawarkan kepadaku sebelumnya. Setelah makan, aku izin pergi ke kamar mandi. Di situlah aku mulai menangis dan berusaha memuntahkan pizza itu.
Ketika terbangun, aku merasa detak jantungku meningkat. Tidak ada pizza. Tidak ada teman sekamar. Aku sendirian dan puasaku masih berjalan.
Lucu sekali. Hidupku berubah menjadi berantakan hanya karena makanan. Aku tidak tahu bahwa pola pikir seseorang, khususnya pikiran terhadap makanan, bisa rusak ketika seseorang tersebut tanpa sengaja jatuh ke dalam starvation mode.
Itulah yang terjadi padaku.
Aku tidak tahu sejak kapan, tetapi tiba-tiba saja makanan terasa seperti siksaan. Aku selalu merasa bimbang, apakah aku harus makan atau tidak. Jika aku makan, aku akan merasa sangat mual hingga memuntahkan makanan yang kumakan. Perutku perih seperti teriris. Aku akan menangis karena merasa bersalah. Karena telah makan dan karena memuntahkannya. Aku merasa aku tidak pantas untuk makan.
Dan bila aku memutuskan untuk tidak makan, otakku akan bekerja sangat keras supaya aku dapat makan. Ia tahu bagaimana caranya untuk membuatku tersiksa. Seperti mimpi itu, misalnya. Rasa tak nyaman yang kurasakan akan berlanjut dalam mimpi. Aku merasa lapar. Pikiranku dipenuhi dengan makanan dan aku berubah menjadi orang yang sangat sensitif. Dan yang paling menyakitkan dari semuanya, aku menjadi seorang pembohong.
Aku akan berkata kepada orang lain bahwa aku tidak lapar. Bahwa aku sudah makan. Bahwa aku baik-baik saja.
Hingga berat badanku terus berkurang. Dan terus berkurang.
Aku menatap tubuhku di cermin dan mengangkat tanganku. Aku dapat menghitung jumlah tulang rusukku dengan mudah. Apabila aku terjatuh dan menabrak sesuatu, aku akan merasakan sakit dan rasa linu yang teramat sangat karena benturan tersebut langsung terkena tulangku. Tidak ada lagi lemak yang membantuku untuk meredam rasa sakit akibat benturan.
Aku bukan perempuan tipikal yang menginginkan diet supaya menjadi cantik. Aku tidak pernah berkeinginan menjadi seseorang yang cantik ataupun kurus. Aku menerima diriku apa adanya. Aku tidak mengerti kenapa semua ini dapat terjadi kepada seseorang seperti diriku.
Pada awalnya aku berhenti makan sebagai upayaku untuk menghukum diri sendiri.
Tetapi akhirnya aku malah terjatuh dan terobsesi menjadi kurus. Bukan untuk menjadi cantik. Alasannya hanya karena aku senang melihat tubuhku menyusut. Aku senang melihat tubuhku menderita secara fisik. Aku bisa melihatnya secara nyata. Karena selama ini penderitaan yang kurasakan tidak terlihat secara visual hingga aku terus bertanya-tanya apakah perasaan menderita yang kualami benar-benar nyata atau hanya ada di dalam pikiranku semata.
Awalnya semuanya terasa menyenangkan dan sesuai dengan rencanaku. Berat badanku turun hingga belasan kilogram. Aku merasa sanggup tidak makan apa-apa selama 3 hari. Aku merasa aku memiliki sesuatu yang dapat kukontrol dalam hidupku. Berat badanku.
Semua hal yang kulakukan pada saat itu, fokusku, pikiranku, terpaut pada satu kata. Makanan.
Begitu aku sadar, rupanya semua sudah terlambat.
Aku mulai menyadari sesuatu. Aku semakin menjauh dari orang-orang di sekitarku. Untuk menghindari perasaan lapar dan keinginan untuk makan, aku melarikan diri dengan cara tidur. Aku mengisolasi diri. Aku juga tanpa sadar mulai menyakiti perasaan teman-temanku. Aku juga menyakiti kedua orangtuaku karena aku sering berbohong kepada mereka.
Pikiranku mulai kalut. Kinerja otakku melemah. Badanku terasa lemas. Nilai akademisku menurun. Ibadah-ibadahku juga menurun. Dan aku tidak pernah merasa puas. Sekalipun aku dapat melihat tulang-tulang di tubuhku semakin menonjol, aku merasa diriku sangat gemuk. Aku merasa frustasi. Aku mulai mempertanyakan apa yang selama ini telah kulakukan.
Aku mulai sering menangis. Aku tersadar bahwa masalah yang kumiliki belum sepenuhnya teratasi. Dengan menjadi kurus, tidak merubah kenyataan bahwa aku masih benci kepada diriku sendiri.
Membenci diri sendiri. Menghukum diri sendiri. Itulah akar masalah yang membuatku terjerumus ke dalam lingkaran setan ini.
***
Anorexia Nervosa.
Aku menyebutnya dengan nama Ana. Aku mengetahui istilah Anorexia sedari dulu karena aku sangat menyukai dan mengikuti bahasan mengenai mental health. Tapi aku tidak pernah berusaha untuk mengenalnya lebih jauh. Saat itu aku lebih gemar membaca bahasan mengenai social anxiety dan ocd. Walaupun begitu, lambat laun aku mulai mengenalnya lebih dekat.
Aku teringat mengenai temanku sewaktu SMA yang mengaku bahwa dirinya didiagnosa memiliki Anorexia. Aku cukup terkejut. Aku tidak menduga ada seseorang di sekitarku yang pernah berteman dengan Ana. Saat itu, walaupun tidak mengenal Ana dengan baik, aku merasa takut dengannya. Di pikiranku Ana merupakan sebuah penyakit kejam yang membuat seseorang terobsesi dengan kurus. Pada saat itu aku masih terpapar dengan stigma dan berpikir bahwa gangguan makan itu disebabkan oleh keinginan untuk kurus semata. Syukurnya temanku berkata bahwa dia sudah berada dalam tahap recovery pada saat itu.
Dan tibalah masa itu. Masa dimana aku merasa kehilangan kendali akan diriku sendiri. Dan yang paling berubah adalah sikapku terhadap makanan. Awalnya aku selalu dipuji oleh keluargaku karena aku merupakan seseorang yang banyak makan namun tidak pernah menjadi gemuk. Aku selalu tertawa miris di dalam hati ketika mendengarnya. Aku akan menjawab dengan sinis, di dalam hati tentunya, bahwa kalori yang kumakan terkuras oleh stress yang kurasakan makanya aku tidak menjadi gemuk.
Lalu stressku semakin menumpuk dan aku mulai kehilangan nafsu makan. Dan itu terjadi menahun. Itu merupakan hal pertama bagiku. Aku jarang sekali kehilangan nafsu makan. Guru-guruku di sekolah terlihat khawatir karena tubuhku yang mengurus. Mereka menyuruhku untuk makan. Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka.
Waktu berlalu. Depresiku memuncak ketika aku akan mengikuti ujian masuk kuliah. Saat itu aku tidak bisa belajar sama sekali. Hal yang kulakukan hanyalah menangis karena monster tak terlihat yang kuhadapi terasa lebih menakutkan daripada ujian masuk kuliah. Tentu saja aku khawatir, tetapi tidak ada yang dapat kulakukan. Aku merasa kalah.
Tidak dapat kusangka, aku lulus ujian masuk kuliah dan masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Saat itu aku merasa terberkati, padahal aku tidak belajar sama sekali tetapi Allaah mengizinkanku untuk dapat menginjak bangku kuliah. Karena hal itu, aku merasakan hal yang sudah lama tidak kurasakan. Perasaan bahagia. Saking terlenanya aku dengan perasaan bahagia tersebut, aku tidak sadar bahwa bayang-bayang gelap yang membayangiku terus bertumbuh.
Pada saat itu, nafsu makanku tetap seperti itu, tidak membaik.
Aku sadar, ada beberapa hal remeh yang membuatku mulai mendekati Ana.
Aku yang merasa diberi kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik memaksa diri untuk menjadi lebih perfeksionis. Perfeksionis di sini membuatku menjadi lebih keras terhadap diri sendiri. Aku menjadi lebih mudah khawatir akan ekspektasi orang di sekitarku dan menjadi semakin sering menyalahkan diri sendiri.
Kedua. Aku baru menyadari bahwa orang-orang di sekitarku memerhatikan mengenai berat badan lebih sering daripada sebelumnya. Ketidaksukaan mereka menjadi gemuk, seakan gemuk merupakan hal yang buruk. Teman kuliahku selalu mengkhawatirkan berat badannya, Anggota keluargaku yang menyuruh seseorang untuk menahan diri untuk tidak makan supaya tidak gemuk, sampai keadaan salah satu anggota keluargaku yang sedang sakit dan selalu muntah sehabis makan. Hal-hal tersebut, masuk ke dalam alam bawah sadarku dan tanpa sadar menjadi pemicu bagiku.
Hal lainnya yang mendekatkanku kepada Ana adalah kecemasan sosial yang kumiliki. Kecemasan yang kurasakan ketika berinteraksi dengan orang lain membuatku menahan diri dari hal-hal yang kuinginkan. Aku terlalu takut untuk makan di tempat umum. Aku terlalu malu untuk makan di dalam asramaku. Dan kecemasan sosialku ini, membuatku kembali merasakan depresi. Dan hidupku kembali berantakan.
Lalu dimulailah masa pedekate-ku dengan Ana.
Seperti yang kubilang sebelumnya, aku menghukum diriku sendiri dengan cara tidak makan. Karena depresi yang kumiliki. Karena kebencianku terhadap diri sendiri.
Namun saat itu aku belum menyadarinya.
Selama setengah tahun aku mulai merasa takut dengan yang namanya makanan. Setiap aku makan, aku akan merasa kesakitan. Maag-ku kambuh. Aku menggunakan alasan tersebut untuk tidak makan. Waktu itu aku berada dalam tahap denial. Aku merasa aku tidak apa-apa. Aku tidak ingin makan karena aku tidak ingin maag-ku kambuh. Hanya karena itu.
Padahal sesungguhnya, jauh di dalam hatiku aku sadar bahwa aku tidak mau makan karena aku merasa tidak pantas untuk makan.
Aku tidak mau makan sampai akhirnya aku terbiasa untuk tidak makan
Awalnya hanya begitu. Pola makanku yang buruk hanya sebatas itu.
Sampai akhirnya suatu hari aku menimbang berat badanku dan aku melihat angka yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Berat badanku turun 10 kg.
Entah mengapa, aku merasa sesuatu berdesir di dalam dadaku. Aku merasa senang. Rasanya aku mendapat sedikit percikan semangat entah darimana. Di saat aku merasa segala hal di sekitarku telah hancur, masih ada satu hal yang dapat kulakukan. Losing weight.
Aku ingat diriku berpikir seperti ini.
Ternyata menurunkan berat badan itu tidak sulit! Sepuluh kilo kurang dari sebulan? Tidak, bahkan kurang dari tiga minggu? Yang benar saja!
Hidupku berubah sejak saat itu.
Entah karena apa, aku ingin tahu sejauh mana aku dapat menurunkan berat badan.
Hidupku sejak saat itu, kucurahkan untuk Ana.
Aku semakin ketat dan keras terhadap diriku sendiri. Aku mencatat kalori setiap makanan di dalam sebuah buku. Aku membuat sebuah katalog. Aku menuliskan daftar makanan apa saja yang boleh kumakan. Aku menulis di dalam buku tersebut, apa saja makanan yang kumakan pada hari itu. Berapa kalorinya. Tidak ada makanan berat. Satu keping malkist untuk satu hari, setara dengan 53 kalori. Dua keping biskuit, setara dengan 30 kalori untuk kumakan keesokan harinya. Aku menargetkan untuk tidak makan lebih dari 300 kalori dalam sehari. Bahkan sebenarnya, aku akan marah saat aku makan lebih dari 200 kalori.
Aku juga mulai berolahraga dengan lebih sering. Senam kardio, jogging. Aku bahkan secara sembunyi-sembunyi olahraga di dalam kamar mandi ketika teman sekamarku sedang tertidur. Haha!
Aku mulai berteman dengan Ana. Dan Ana menjadi teman baikku.
Untuk sementara, rasanya aku merasa bahagia. Aku merasa saat aku tidak punya apa-apa lagi, aku masih memiliki Ana. Satu-satunya yang mengerti akan diriku hanyalah Ana. Saat aku merasa kesulitan, Ana berada di sana, bersamaku. Ketika aku merasa takut ataupun khawatir, Ana akan mengalihkan pikiranku. Ana menyayangiku dan aku mempercayainya.
Sayangnya, semua itu hanyalah kebahagiaan yang semu. Andaikan aku bisa memutarbalikan waktu, aku tidak akan memilih jalan hidup ini. Aku tidak ingin menjalani hidup seperti ini.