Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ceritanya ini ku buat tepat 100 hari meninggalnya Ameng, kucing persia yang sudah tiga tahun ku adopsi dan rawat sedari umur bulan. Selamat menikmati.
Seandainya kucing putih bermata biru itu tidak mati setelah menggigit tulang kering kekasihku mungkin dia sedang bersandar di tepi teras sambil sarapan tulang ikan yang sengaja aku siapkan tiap pagi. Suara sambutan khasnya ketika pintu kamar ku buka ditambah gesekan bulu-bulu halus yang selalu menyentuh kedua kaki menjadi kenangan yang tidak bisa kulupakan setiap hari. Namun, dua hari setelah hari tunanganku dengan sang kekasih, kucing betina itu sikapnya perlahan berubah.
Ada rasa kecemburuan mulai menjamuri perasaannya. Kehadiran Kekasih menggantikan rasa kasih sayangku terhadapnya sampai kadang-kadang aku lupa memberikan sarapan juga sambutan perhatian yang perlahan terabaikan. Pernah sesekali ia melukai tangan ini dengan gigitannya yang tajam saat diriku sedang menikmati romantika berdua di ruang tamu.
Darah segar yang menetes di tulang sofa sudah cukup menghilangkan rasa sabarku sampai akhirnya hukuman datang dengan mengurungnya ke kandang besi di taman belakang rumah.
Setiap hari aku biarkan dia meringkuk di balik jeruji dengan makan dan minum yang ku usahakan tak lupa aku sajikan. Sejenak aku menatap dua bola matanya nan berkaca-kaca menampilkan kesedihan diiringi suara raungan manis yang mengisyaratkan akan kerinduan hidup bebas dan mendapatkan kasih sayangnya kembali. Tapi apalah dayaku. Di saat mata ini melirik luka yang terselimuti perban putih—membuat diriku akhirnya memilih mengurungnya lebih lama lagi.
Persiapan pre-wedding sudah mantap saat itu. Aku dan kekasih berangkat ke Lembang di mana pemandangan asri di sana jadi latar foto kami untuk dipajang saat pesta pernikahan nanti. Aku memberi kesempatan pada kucingku kembali bebas sekaligus menjaga rumah selama ditinggal pergi. Pernah sesekali mencoba menitipkan dia pada ayah-ibuku yang tinggal tak jauh dari rumah namun mereka menolaknya dengan alasan alergi.
Malam setelah pemotretan aku sempatkan melihat kondisi rumah melalui rekaman CCTV yang bisa diakses melalui ponsel. Ruangan yang gelap dan kosong sudah menjadi pemandangan biasa karena aku singgah di rumahku hasil jerih payahku sendiri. Wajar jika rumah kosong tiap Senin hingga Jumat—meninggalkan si manis berlalu-lalang menjelajah tiap ruangan. Tapi ada momen aku dikejutkan dengan kehadiran dia di kamar tidur dengan kondisi duduk melamun sambil melihat foto kecilku yang terpajang nyaman di tembok biru.
Sepuluh menit lebih aku menyaksikannya seperti patung sampai-sampai aku tidak menggubris panggilan sang kekasih hingga raut wajahnya berubah kesal. Aku berusaha menjelaskan tapi ponselku langsung mati karena siaran CCTV yang cukup menguras daya baterai. Untungnya dia paham dan menganggap aku sedang melepas rindu dengan binatang yang telah ku rawat sejak umur satu bulan.
Apa yang memang kekasihku duga ada benarnya. Rasa bersalah atas sikap kasarku kemarin-kemarin datang menghantui di samping kerinduan yang muncul secara bersamaan. Rindu saat pertama kali menemukannya di depan ruko dalam kondisi kurus kelaparan, bertemu dan bercanda, memulihkan badan ini yang lelah setelah pulang kerja dan merawat serta mengobatinya dikala sakit melanda. Bahkan ada momen aku hampir gila saat dia tak sadarkan diri akibat keracunan obat. Untungnya Tuhan masih baik dan memberi kesempatan berbagi kebahagiaan bersama majikannya ini.
Esok harinya aku juga sang kekasih sudah kembali ke rumah dan langsung disambut keheningan ruang tamu. Aku memanggilnya berulang kali tapi tubuh gembulnya tidak menghampiri seperti biasanya. Sisi lain, tunanganku meminjam kamar tidur tuk mengistirahatkan tubuh terangnya setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan sedangkan, daku masih berkutat—mencari kucing peliharaan yang daritadi ekor panjangnya tak terlihat satu senti pun.
Suara teriakan dari arah kamar tiba-tiba menggema menusuk gendang telinga. Kekasih terus memanggil namaku berulang kali diiringi rintih kesakitan. Segera langkah kaki beranjak ke lantai dua rumah dan menemukan calon istriku sedang bertengkar dengan kucing peliharaanku sendiri. Aku bergegas memisahkan mereka setelah ada darah mengalir deras dan merah pekat yang keluar dari tulang keringnya akibat gigitan serta cakaran yang terjadi berulang.
Tangis dan jerit sang kekasih meledak begitu juga dengan marahku yang seketika melempar si kucing dengan guling sampai ia berlari kencang keluar kamar.
Aku berusaha tutupi tulang keringnya dengan perban dan kapas lalu segera ku gotong tubuh kurusnya ke motor untuk di bawa ke klinik terdekat. Luka yang dialaminya cukup dalam dan parah bahkan bisa menyebabkan infeksi jika tidak ditangani dengan segera. Luka itu juga yang membuat kakinya susah melangkah dan harus dirawat mandiri.
Akhirnya aku yang terkena imbasnya di mana calon ibu mertua menegur keras karena tidak bisa merawat peliharaannya sekaligus mengancam akan membatalkan pernikahan jika kucing itu tidak segera disingkirkan.
Kepala menjadi pusing berat karena dua hal. Melepas si manis yang telah aku anggap keluarga lalu menikah atau mempertahankan kucingku yang entah kabur kemana kemudian berpisah dengan kekasih tercinta. Bahkan hingga tengah malam tiba, tubuhnya kembali tak menampakkan diri sampai esok paginya, aku mencoba memutuskan mencari dengan mengelilingi setiap blok perumahan meski belum berhasil di ketemukan. Bahkan ada seorang bapak-bapak penjual ikan keliling menyuruhku membeli kucing baru namun langsung ku bantah keras karena ini bukan soal mampu atau tidak melainkan hubungan batinku dengannya sudah terikat sebegitu luar biasa.
Dua hari berlalu. Salah satu tetangga baikku memberitahu keberadaannya yang ditemukan di dekat ruko jalan raya dekat perumahan. Begitu tiba di sana perasaanku seketika terpukul hebat. Ia berada di kerumunan orang dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Seorang tukang parkir yang kenal denganku juga mengatakan bahwa tubuhnya tertabrak sebuah mobil pembawa ikan ketika hendak menyeberang. Tukang parkir juga sempat mengusirnya untuk kembali ke rumahku tapi tidak digubris sampai aksi konyolnya berakhir dengan kematian.
Aku berusaha menahan sedih dan membawa bangkainya ke taman belakang rumah untuk segera dimakamkan. Setelah selesai air mataku seketika tumpah—mengisi keheningan ruang. Ada penyesalan berarti yang harus kuterima sebagai kutukan atau balasan terhadap kelalaianku dalam menjaga hubungan baik dengannya.
Kekasih yang kebetulan datang dengan jalan terpincang-pincang ikutan syok dan segera menenangkan hati ini. Tidak ada benci dibenak perasaannya setelah kaki indahnya dibuat terluka. Malahan dia turut larut dan merasa bersalah karena telah menganggu hubunganku dengannya.
Aku berusaha berdamai dengan diri sendiri dan berjanji untuk tidak membeli kucing baru karena sudah cukup kapok sekaligus melaksanakan syarat dadakan dari calon ibu mertua demi lancarnya hubungan kami sampai waktu pernikahan tiba bahkan punya anak dan menua tetap sama-sama.
Selamat tinggal Ameng. Kucing putih manis yang telah aku rawat dari jahatnya dunia.
End.