Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Alena. Namun mengapa judulnya Aline? Baca sampai selesai.
Ini merupakan lanjutan dari Bisakah Kupunyai Kamera? yang mengisahkan Clement.
Aline adalah kisah tentang politik yang busuk, dengan seorang gadis bernama Alena sebagai tumbalnya. Politik yang tampak tidak berdarah, tetapi membunuh dan meninggalkan bau busuk.
Setelah berpisah dengan Clement akibat berhasil menipunya, Alena memutuskan menjadi seorang penipu profesional meski masih amat muda. Dengan wajah yang cantik dan kepandaiannya, ia berhasil menipu banyak orang. Tidak jarang Alena juga menipu pejabat karena memang memiliki bakat sebagai seorang penipu.
Selama dua belas tahun menjadi penipu, Alena akhirnya memutuskan berhenti setelah sering melewati gereja dan mendengar kidung. Namun, ia masih terus diburu banyak orang yang menyimpan dendam karena pernah ditipunya. Berkat kecerdasannya, Alena selalu berhasil lolos dari berbagai masalah.
Kemudian Alena bekerja sebagai asisten perawat dengan menggunakan ijazah palsu, karena ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Orang yang membantunya adalah Alain Clair, seorang politikus yang dikenal dermawan dan sedang mencalonkan diri sebagai ketua umum Partai Buruh.
Sebagai syarat memperoleh ijazah tersebut, Alena yang sudah berusia cukup dewasa dipaksa tidur bersama Clair setiap malam. Selama beberapa tahun Alena menjadi wanita simpanan Clair.
Di tempat kerjanya, Alena bertemu Rene. Pemuda seusianya yang bekerja paruh waktu. Rene adalah seorang yatim piatu yang harus menghidupi kedua adiknya.
Adik bungsu Rene, Jean, sangat temperamental dan sering memukuli orang lain hanya karena persoalan kecil. Sementara adik tertua Clair, Lean, adalah seorang provokator ulung yang gemar mengadu domba pihak yang bertikai, hingga sering memicu kerusuhan massal. Pada saat itu, situasi politik di Paris memang sedang memanas.
Akibat ulah kedua adiknya, Rene sering kali harus mengurus mereka seorang diri. Kedua adiknya lebih sering tidur di penjara daripada di rumah.
Suatu hari Lean ditembak mati oleh orang tak dikenal. Banyak orang menduga ia dibunuh karena terlalu sering menjadi provokator, sehingga memiliki banyak musuh.
Namun Alena mencurigai bahwa dalang pembunuhan itu adalah Clair. Kecurigaan tersebut muncul setelah Clair memergoki Alena dan Rene sedang berhubungan intim.
Rene yang baru beberapa bulan menjadi kekasih Alena tidak percaya pada tuduhan itu. Namun Alena tetap yakin bahwa Clair ingin membalas dendam, sekaligus memberikan trauma kepada Rene. Tidak ingin kasus itu terkubur begitu saja, Alena memutuskan menyelidikinya sendiri.
Dengan kepiawaiannya menipu dan menggali informasi, Alena mendekati satu per satu petinggi Partai Buruh. Demi memperoleh pengakuan, ia bahkan rela bersandiwara dengan berpura-pura mau melakukan apapun demi kepuasan mereka.
Lambat laun para petinggi mulai membuka rahasia. Hingga akhirnya Alena mengetahui, bahwa memang Clair lah yang memerintahkan anak buahnya membunuh Lean.
Alasan Clair membunuh Lean sama sekali tidak pernah diduga Alena. Semuanya berawal dari kasus korupsi pengadaan buku pendidikan. Clair bersekongkol dengan Menteri Pendidikan saat itu, Andrea Bresson.
Lean mengetahui kasus tersebut, karena ikut terlibat sebagai kurir pembagi uang suap, kepada sejumlah pejabat yang disogok oleh Clair dan Bresson.
Lean dijanjikan memperoleh bagian sebesar lima persen. Namun setelah tidak menerima jatah yang dijanjikan, ia memaki Clair dan Bresson. Takut Lean membongkar semuanya kepada publik, Clair memerintahkan pembunuhan terhadap Lean.
Bresson murka mengetahui tindakan Clair yang bertindak di luar kesepakatan. Ia kemudian memecat Clair dari partai dan mencoret namanya sebagai calon ketua umum Partai Buruh dalam konvensi tingkat tinggi. Alasan resmi yang disampaikan kepada publik adalah karena Clair dianggap terlalu vokal.
Masyarakat pun terkejut karena alasan tersebut terdengar tidak masuk akal. Selama ini Clair justru dikenal sebagai kader yang sangat loyal kepada partainya.
Setelah mengetahui bahwa Lean dibunuh akibat kasus korupsi, Alena menceritakan semua nya kepada Rene. Rene berniat melaporkan kasus itu kepada pihak berwenang.
Namun sebelum sempat melapor, Clair terlebih dahulu ditangkap dalam kasus lain, yaitu terlibat kasus narkotika. Ia bekerja sama dengan kartel.
Tanpa diduga, Alena yang masih dipaksa tidur bersama Clair demi mempertahankan ijazahnya ternyata telah hamil dua bulan. Belakangan Clair juga didiagnosis mengidap penyakit kelamin, dikarenakan kebiasaan hidupnya yang serampangan dalam hal nafsu.
Nasib buruk kembali menimpa Alena ketika Clair, yang telah menjadi sasaran kebencian publik, mengungkap bahwa Alena adalah wanita yang paling sering tidur dengannya. Akibatnya, Alena menjadi sorotan masyarakat. Ia dicap sebagai wanita nakal yang hanya mengincar harta Clair.
Ditambah lagi banyak orang mengetahui bahwa Alena adalah seorang penipu, sehingga penghinaan terhadap dirinya semakin membesar. Akibatnya Alena mengalami depresi berat.
Selama masa kehamilan, ia lebih banyak mengurung diri di rumah dengan hanya ditemani seorang asisten rumah tangga, Claudette.
Sementara itu, Rene meyakini bahwa bayi yang dikandung Alena adalah anak hasil hubungan mereka, bukan anak Clair. Karena itu Rene dengan tulus merawat Alena hingga akhirnya ia melahirkan dengan bantuan beberapa asisten yang berpengalaman sebagai bidan.
Seorang bayi perempuan pun lahir. Bayi itu diberi nama Aline.
Suatu hari Alena dijemput Rene setelah selesai memberikan kesaksian dalam rekonstruksi kasus Clair. Rene mengantar Alena pulang dan menitipkannya kepada Claudette. Setelah itu Rene kembali menuju lokasi rekonstruksi yang masih berlangsung.
Ia berhasil menyusup dengan menyamar sebagai penonton sambil menghindari polisi, dan para pejabat yang mungkin mengenalinya. Sesampainya di lokasi, Rene menerobos kerumunan, lalu menembak Clair berulang kali di bagian dada dan perut.
Clair roboh bersimbah darah. Rene berusaha melarikan diri. Polisi mengejarnya. Di tengah kerumunan, massa meneriakkan Rene sebagai seorang pahlawan.
Saat Rene hampir berhasil meloloskan diri, seorang komandan polisi yang tidak gentar menghadapi massa, memerintahkan anak buahnya menembak Rene. Rene pun tewas di tengah kerusuhan.
Claudette melihat jasad Rene dan seluruh kejadian yang menimpa majikannya melalui siaran televisi. Ia segera berlari memberi tahu Alena.
Dengan tatapan kosong, Alena berkata, bahwa ia sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Rene. Begitulah sifat Rene. Alena telah memahami konsekuensi yang akan diterima kekasihnya sehingga tidak terkejut dengan apa yang terjadi.
Alena kemudian meminta Claudette membawa Aline, kepada seseorang yang diyakininya mampu memberikan kehidupan yang lebih baik. Orang itu adalah Clement, orang paling baik yang pernah ia temui. Walau pertemuan itu terjadi kala dirinya menipu Clement.
Alena percaya Clement telah menjadi seorang sineas besar. Ia tidak mengetahui bahwa Clement selama ini telah berada di dalam penjara.
Sebelum menyerahkan Aline kepada Claudette, Alena memberkati putrinya dengan harapan agar kelak Aline tidak tumbuh menjadi seperti dirinya. Claudette memeluk Aline dengan penuh kasih sayang, saat menyeberang menggunakan kapal. Di dalam benaknya masih terngiang doa penuh harapan dari Alena.
Sementara itu, dari pelabuhan, Alena memandangi putrinya yang pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia merasa tenang, karena yakin Aline kini berada di tangan seseorang yang akan menjaganya dengan baik. Namun jauh di lubuk hatinya, Alena merasa suatu hari nanti Aline pasti akan mencari tahu siapa ibu kandungnya.
Walau melalui surat ia telah memohon kepada Clement, agar mengatakan pada Aline bahwa ibunya telah meninggal dunia, ia percaya naluri seorang anak akan terus mencari asal-usulnya.
Memikirkan semua itu, ditambah beban hidup yang terus menghancurkan jiwanya, Alena akhirnya memutuskan menceburkan diri ke sungai. Beban psikologisnya terlalu berat, apalagi jika nanti Aline tahu masa lalu ibunya. Alena percaya Aline bisa sangat nekat seperti diri nya.
Saat Claudette masih tenggelam dalam ingatan akan doa terakhir Alena kepada Aline, Alena telah menenggelamkan diri. Ia melakukannya bukan karena egoisme. Melainkan karena keyakinannya. Bahwa ketiadaannya, akan memberikan masa depan yang lebih baik bagi putrinya.