Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Alarm Ma'had
0
Suka
23,771
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Kupandangi langit lekat – lekat hari ini yang seakan sedang tersenyum padaku, ku hirup udara segar nan sejuknya wangi daun - daun yang berembun dan batang pepohonan mangga yang wangi. Tiba – tiba ku dengar suara teriakan ibu memanggilku,

“Raaa, iki lho lek vi tumbas koran enek jenengmu lulus PTN ” teriak ibuku dengan penuh semangat.

Kuhampiri suara ibuku yang penuh semangat itu, 

“Geh tho bu pundi? ,” sahutku.

“Iki lho nduk delok en di stabilo karo bulekmu, oalah akhire enek seng iso kuliah perguruan tinggi negeri keluarga iki ,” ujar ibu sembari menyerahkan koran yang sedari beliau pegang kepadaku.

Ku cari namaku dengan teliti di media cetak itu dengan seksama dan mencocokkan pengumuman yang masuk lewat e-mailku yang berisikan aku lolos menjadi mahasiswi di salah satu Universitas Islam di Jawa Timur. 

“Alhamdulillah ya Allah, kedah bayar biaya daftar ulang minggu ngajeng meniko bu, ” kataku sambil menunjukkan pesan e- mail yang ku terima dari panitia penyelenggara SNMPTN di handphoneku.

“ Yo wes ngomongo nang bapake toh” jawab ibuku sambil mengembalikan handphone ku.

“Yo wes mariku karo bapak nduk nang kampusmu daftar ulange” jawab bapak Dari arah belakang kami duduk sedari tadi.

Hari yang ku tunggu pun datang juga, aku akan berangkat daftar ulang ke kampus di kota yang selama ini kuimpikan dan saat ini kebetulan langit sedang cerah – cerahnya. Aku dan bapak pun menunggu bus jurusan Banyuwangi – Malang di halte bus yang paling dekat jaraknya dari rumah kami sekalipun berjarak 3km dari rumah kami, tak lama kemudian bus itu datang dan berhenti menunggu kami dan penumpang lainnya yang sama dengan kami sedari tadi menunggu di halte bus. Sesampainya terminal Arjosari kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke kampus dengan naik angkot biru kebanggaan kota ini. 

Suara kursi penumpang yang berdenyit serta angin yang berhembus dengan kencang seakan membisikkan telingaku dengan ucapan "Selamat datang di kota Malang". hembusan angin ini membuatku melamun membayangkan, bisakah nanti aku beradaptasi dengan lingkungan baru? apakah semuanya akan mau berteman dengan aku? isi kepalaku saat ini. Dan tanpa ku sadari aku dan bapak sudah sampai tujuan kami yaitu kampus Universitas Islam Negeri Malang.

Sesampainya di gerbang Ma'had putri, aku dan bapak mengantri berdiri untuk daftar ulang.

“Maaf pak pengantar laki – laki tidak boleh memasuki area Ma’had putri” kata panitia penerimaan mahasiswi di kampus ini.

"Oh geh sekedap - sekedap ," jawabku sambil menggandeng tangan bapak untuk duduk di masjid sebelah gerbang Ma'had.

"Pak, mboten angsal mlebet jenengan, kulo mawon mpun ngantri bayar daftar ulange bapak lenggah teng mriki geh, " kataku meminta bapak untuk memberikan uang daftar ulangku.

Alhasil aku menitipkan barang bawaanku di masjid tempat bapak duduk. Selesai bayar daftar ulang dan di beri nomor kamar asrama yang nanti akan aku tinggali selama setahun menjadi maba/mahasiswi baru. Aku pun mengajak bapak berkeliling melihat – lihat gedung kampus yang akan menjadi tempatku menimba ilmu selama 4 tahun ke depan . Kupandangi dan ku hirup aroma wangi tanah dan rerumputan yang berada di kampus hijau ini, seger, sendu, dan nyaman.

“Sinau seng bener yo nduk nek kene ki kampus apik ngajari agomo pisan, butuh opo saiki di goh ndek Ma’had? ,” tawar bapakku sembari terus melangkahkan kakinya sedari tadi.

“ Tumbas peralatan mandi kale nyuci baju pak, kale dereng maem siang, ” jawabku sambil nyengir malu - malu karna perutku berbunyi menandakan ia sudah lama tak mencerna lagi.

“Yo wes ayok, golek butuhmu karo maem, ”jawab bapak sambil terus berjalan ke depan gerbang utama kampus untuk melihat di sepanjang trotoar mencari warung makan.

Sesudah makan siang, bapak mengajakku ke toko swalayan yang dekat dari kampus dan disitu tersedia lengkap di lantai satu makanan ringan,berat, segala macam sabun, dan make up lengkap. Sedang di lantai 2 terdapat segala pakaian lengkap dan lantai 3 tersedia peralatan rumah tangga seperti panci,wajan, kompor,ember, rak, gayung dan lain – lain. Setelah lama ku memilah – milah barang apa saja yang sekiranya ku butuhkan, aku dan bapak berjalan ke kasir dan mengantre untuk membayar barang yang berada di keranjang belanjaanku ini.

“Wes yo bapak muleh, mengko ibumu seng ngunjungi yo mbek ngirim sangumu, ” pamit bapakku.

“Geh pak, atos – atos, ” jawabku.

Setelah ku berjalan sekitar 3 menit dari toko tadi, sampailah aku di Ma’had putri tak lupa aku mengambil bawaanku yang ku titipkan di masjid saat itu. Dan berjalanlah aku untuk registrasi menjadi mahasantri di Ma’had yang di sediakan kampusku dan di wajibkan untuk para mahasiswa – mahasiswi baru selama 2 semester. Ma’had putri terdiri dari 4 mabna (gedung asrama), saat itu namanya mabna ABA, FAZA,USA dan KH. Aku menjadi mahasantri di mabna ABA dan kamar 39, dalam satu kamar terisi 4 ranjang susun , 4 lemari pakaian, satu meja besar dan 1 kamar mandi.

Hari – hari ku menjadi mahasiswi sudah di mulai, setelah aku melaksanakan kegiatan pengenalan kampus. Inilah awal mula pengalaman bullying itu, saat itu ibuku yang slalu menelpon cemas dan mengkhawatirkanku dari segala macam hal kecil dan berbagai kegiatan yang mesti aku laporkan pada ibuku. Ibuku yang sering datang mengunjungiku di Ma’had. Ternyata membuat tak suka salah satu teman kamarku namanya Kiki, dia tidak memiliki ibu yang dapat mengunjunginya di Ma’had karna ibunya sudah meninggal dunia. Dia slalu mencari kesalahanku, aku slalu di anggap paling berisik di kamar, dan mengganggunya karna slalu di telpon ibu setelah selesai kuliah PKPBA (program khusus perkuliahan bahasa arab) sedang teman yang lain yang telponan hingga malam dengan kekasihnya ia maklumi tak adil, iya sangat tak adil bagiku.

“Usia berapa sih padahalan yang lainnya lho gak ada yang sampek laporan sana sini ke ibunya, mentang – mentang punya ibu gitukah semua di laporin,” gerutu Kiki dibalik buku yang sedang ia baca di meja belajarnya.

“Wes ta mbk Ki, mbek ne Ira salah opo seh kok yo di goleki salahe trus, ” kata Nita salah satu teman kamarku, mungkin dia sudah bosan dengan Kiki yang selalu mojokin aku di kamar ini.

Pernah di satu waktu aku bangun kesiangan akibat begadang mengerjakan tugas summary dari jurnal ilmiah tentang mutu pendidikan di Jepang, Mesir, Turkey dengan Indonesia. Salah satu mata kuliah yang dosen pengampunya terkenal miss perfect tak boleh ada salah ketik satu huruf sekalipun kalau tidak mau mengulang di semester depan. Ketika aku yang begitu panik akan telat datang mengumpulkan tugas, aku mendapati gayung berisi alat mandiku tak ku temukan di tempat yang seharusnya kemarin ku letakkan seusai aku mandi sore kemarin.

"Lho, gayung isi sabun mandiku kemana ya ini?,"ucapku dalam hati.

"Duh, mana telat lagi ini jam setengah 9 ya Allah, ya Allah, ya Allah",

"Cari opo nduk?," tanya mbk Vian teman kamarku yang paling tua di antara kami ber 8 sambil mengambil handuknya yang tergantung di tempat kami biasa mencuci pakaian.

"Eh mbak, ini lho gayung isi sabun mandiku kemana ya? seingetku, ku letakkan di rak sini," jawabku sembari menunjuk rak yang memang tempatku untuk meletakkan alat mandiku.

"Lali sekek 'e paling nduk, wes di cari ndek lemarimu ta?," ucapnya dan menutup pintu kamar mandi meninggalkanku yang melongo melihat tertutupnya pintu kamar mandi yang sedari tadi aku ingin mandi tapi sudah di pakainya.

Hal ini buka satu maupun dua kalinya mereka memperlakukanku, padahalan mereka sendiri yang mengadakan peraturan untuk mengantri sesuai jadwal kuliah yang dapat kuliah jam pagi menjadi urutan pertama yang mandi. Pernah satu waktu hal ini terjadi padaku Dan akhirnya aku numpang mandi di kamar mandi teman kuliahku.

"Oh., sudahlah aku berangkat aja begini, yang penting terkumpul tugas ini aku dapet nilai," gumamku sambil terus berjalan menuju arah lemariku dan segera bersiap - siap untuk berangkat menuju gedung kuliah.

Saat aku berjalan menelusuri lorong lantai 1, sesampinya aku di aula lantai satu tanpa sengaja aku melihat gayungku beserta isinya di dalam tong sampah cleaning service yang sedang bersih - bersih di aula lantai 1.

"Kok?, apa ini maksudnya ya?," hanya kalimat itu terlintas di pikiranku saat ini sambil terus melanjutkan perjalananku menuju tempat kuliahku.

Sesampainya di kelas,aku mengumpulkan tugas summary itu pada ketua kelas. Sesaat aku melamunkan kejadian yang ku alami pagi ini Apa salahku ya?siapa yang udah tega buang alat mandiku itu? Apakah aku tak boleh menggunakan kamar mandi ya? dalam lamunku bertanya - tanya dan tanpa sadar namaku di panggil oleh teman satu kelompok yang menebeng namanya karna ketika kumpul mengerjakan tugas dia tidak datang malah sibuk jalan - jalan dengan pacarnya.

"Eh Ira, tugas summarynya aman kan?," tanyanya sesampainya masuk kelas, kulihat tas yang Masih bergelantung di pundaknya.

"Iya kok aman, nama kamu ada," jawabku dengan berat hati karna ia sama sekali tak berkontribusi dalam mencari journal ilmiahnya.

"Kelompoknya ira, di panggil dosen tuh giliran kalian presentasi," ucap ketua kelas

"Eh, eh iya. aku pun gelagapan mencari buku coret - coretku kemarin sebelum mengerjakan tugas itu.

Kebiasaan ku bila ada tugas aku selalu menulis rancangannya seperti apa dulu di buku tersendiri, karna bagiku yang suka lupa mending semuanya aku tulis list di buku agar semuanya terancang sempurna. Ku jelaskan kenapa pendapatku seperti itu dan kenapa kesimpulan yang aku ambil seperti itu untuk tema yang di tentukan miss perfect. 

Selesai presentasi, aku mendapatkan aplause dari miss perfect yang artinya beliau setuju dengan pendapatku akan polemik dari isi journal ilmiah yang ku kumpulkan ini. Hal ini membuatku menyadari akan apa yang sudah aku lalui selama tinggal di ma'had kampus ini dan apa yang seharusnya menjadi tujuan awalku masuk Universitas ini.

Seperti halnya kalimat yang tertulis di salah satu jurnal yang aku jadikan referensi tugasku ini, kurang lebih kalimatnya seperti ini, Waktu memiliki cara yang luar biasa untuk menunjukkan kita apa yang benar – benar penting, dan Jangan buang waktu, tenaga, dan pikiran untuk hal yang sia-sia. Berfokuslah pada hal yang menjadikan dirimu bernilai

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Alarm Ma'had
Rokho W
Novel
sari pati
F. Chava
Novel
SANG DUKUN
Ikhwanus Sobirin
Flash
SAD-BOY
Donquixote
Novel
MEMORI BUNGA DAISY
trianpn_
Novel
Gold
KKPK The Naughty Girl
Mizan Publishing
Novel
Gang Merpati
Anon1m
Flash
Iri hati
Cahaya HusMa
Cerpen
Bronze
Langis
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Northern Star
Silvarani
Novel
This Is Why We Don't Break People
Aurum
Novel
Bronze
ANYTHING COULD HAPPEN
Katarina Kallinda
Novel
Cakrawala yang Sunyi
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
Air Tenang
Delpiariska
Cerpen
Hadiah Terindah
pena aksara
Rekomendasi
Cerpen
Alarm Ma'had
Rokho W
Novel
Skenario-nya
Rokho W
Novel
Aozora
Rokho W
Novel
Bronze
Serpihan Kaca
Rokho W