Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Alamatnya salah Han..
1
Suka
3,044
Dibaca

Sore itu, angin menyapu tubuhku lebih kencang dari biasanya. Rambutku terhempas ke belakang, mengikuti irama yang tak pernah benar-benar tenang.

Tangan mungilku terangkat perlahan, mengusap air asin yang tanpa izin membanjiri pipiku. Langit sudah berubah menjadi Jingga, seolah berusaha menenangkan dua dunia yang diam-diam terasa berat.

Aku menatap langit itu, mendongakkan kepalaku menatapnya. Mungkin air mataku akan tertahan

Tit. Tit. Tit.

Suara klakson tiba-tiba memecah lamunanku. Aku tersentak, buru-buru menepi ke pinggir jalan.

Sebuah mobil sedan putih melaju pelan melewatiku. Namun, entah kenapa... Mataku justru tertahan pasa kursi belakang.

Di sana, ada seseorang.

Seorang laki-laki dengan tatapan yang tidak benar-benar kosong. Tapi juga tidak sepenuhnya hidup. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia pun baru saja melewati sesuatu yang tidak ingin ia ceritakan.

Untuk beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya, mata kami bertemu.

Aku membeku

Dan anehnya... Dia tidak langsung memalingkan wajah. Ada sesuatu di matanya. Seperti... Lelah. Atau mungkin? Tatapan kehilangan?

Angin kembali menghembus, membuat rambutku semakin berantakan. Tanpa sadar, aku mengusap pipiku lagi. Terlambat menyadari bahwa ia mungkin melihat semuanya. Dan benar saja, ekspresinya berubah tipis.

Bukan kasihan... Lebih seperti mengerti

Mobil itu tetap berjalan. Perlahan, hingga jarak kami memanjang. Namun sebelum benar-benar berlalu, ia sedikit menoleh ke belakang, ke arahku. Seakan ingin memastikan... Aku, benar-benar ada

Aku bahkan tidak sempat bereaksi. Mobil itu pun pergi, meninggalkan hanya suara mesin yang perlahan menghilang. Aku berdiam diri beberapa saat

“...Tetangga baru?” gumamku pelan, lebih seperti bertanya pada angin daripada diriku sendiri

Aku mengalihkan pandangan ke sungai di samping jalan. Sekelompok bebek berenang sambil bersuara ramai, memecah kesunyian yang sejak tadi menelanku.

Aneh.

Suara itu... Sedikit membantu. Setidaknya, untuk beberapa detik, aku tidak merasa selalu sendirian.

Aku memang lelah.

Setiap hari di sekolah terasa seperti ujian yang tidak pernah selesai. Mereka selalu menemukan alasan untuk menggangguku. Seolah keberadaanku saja sudah cukup untuk dijadikan bahan tawa.

Hari ini pun sama. Dan mungkin... Besok juga akan sama.

Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Setelah merasa cukup “baik-baik saja”, aku melangkah pulang. Langkah demi langkah, sampai akhirnya aku tiba di depan rumah.

Aku membuka pintu, Lalu seperti biasa

“Assalamualaikum...”

“waalaikumsalam,” jawab ibu dari ruang tamu dengan suara hangat yang selalu sama

Dan untuk pertama kalinya hari ini, dadaku terasa lebih ringan. Meskipun entah kenapa, bayangan laki-laki di dalam mobil itu masih tertinggal di pikiranku.

Kami mengobrol sejenak di ruang tamu, hal-hal sederhana yang entah kenapa terasa hangat. Hingga akhirnya, Ibu berdiri dan berkata ingin mulai memasak untuk makan malam.

Setidaknya... Ada satu hal yang selalu ku syukuri. Aku masih punya ibu yang menyayangiku.

Kring kring

Suara telepon rumah tiba-tiba berbunyi nyaring, memecah suasana. Aku sedikit meringis cukup berisik untuk telingaku. Ibu berjalan mendekat dan mengangkatnya. Ternyata dari bu RT. Aku tidak terlalu memperhatikan awal percakapannya, sampai suara tawa Ibu terdengar pelan. Sudah lama Aku tidak mendengarnya tertawa seperti itu.

Beberapa menit kemudian, Ibu memanggilku.

“Ama, tolong antar ini ke tetangga baru, ya.”

Aku mendekat. Di meja sudah ada satu wadah makanan yang cukup besar.

“kata bu RT, semua warga diminta menyambut. Kebetulan ibu masak banyak.”

Aku mengangguk kecil

“Baik, Bu”

Aku mengambil wadah itu, lalu berpamitan.

Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya. Kaos pendek dan celana pendek yang kupakai jelas tidak cukup hangat. Aku bersin pelan beberapa kali.

“Dingin banget...”

Saat hampir sampai, Aku melihat beberapa tetangga keluar dari rumah itu sambil mengobrol. Sepertinya mereka sudah lebih dulu datang.

Aku berhenti di depan gerbang. Menarik nafas sebentar.

“Permisi!” panggilku agak keras

Tak lama, seorang ibu-ibu keluar. Wajahnya ramah, senyumnya hangat

“Iya, nak?”

Aku membalas senyum itu, sedikit canggung

“Ibu.. ini, tadi Mama masak banyak. Jadi.. sekalian bisa dicoba hehe.”

“Oh, ya ampun. Terima kasih, ya, Ndok,” katanya sambil menerima wadah itu. “repot-repot sekali.”

kami mengobrol sebentar. Hal-hal ringan, seperti asal kami, sekolahku, dan suasana lingkungan sini.

Aku hampir merasa nyaman... Sampai akhirnya aku merasakan sesuatu. Seperti ada yang memperhatikanku. Pelan-pelan, Aku menoleh. Dan benar saja, dia laki-laki yang kulihat di dalam mobil sore tadi.

Ia berdiri tidak jauh dari pintu, bersandar santai, tapi matanya... Tertuju padaku. Tatapannya sama seperti tadi. Tenang... Tapi dalam. Seolah ia mencoba memastikan sesuatu.

Jantungku langsung berdebar, aku refleks mengalihkan pandangan pura-pura melihat ke arah lain. Tanganku jadi dingin, padahal tadi masih menggenggam wadah hangat.

Kenapa... Dia terus lihat aku?

Beberapa detik terasa sangat lama, Aku bahkan tidak berani menoleh lagi

“Sudah ya, Bu.. saya pamit dulu,” ucapku sedikit terburu-buru

“Iya, hati-hati, ya,” jawab ibu itu

Aku mengangguk, lalu berbalik. Langkahku tanpa sadar jadi lebih cepat. Angin malam kembali menerpa, tapi kali ini... Yang terasa bukan dingin. Melainkan degup jantungku sendiri. Aku menyentuh dadaku pelan

“Kenapa sih...” aku membuka pintu agak keras

“Astagfirullah!” Ibu kaget

Aku tersentak

“Eh—maaf, Bu...”

“Kenapa, Ama?” tanya ibu, menatapku penuh curiga

Aku langsung menggeleng cepat

“nggak papa...”

Ibu menatapku sebentar, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya hanya menghela nafas kecil.

“Ya sudah, cepat makan. Nanti dingin.” Aku mengangguk

Beberapa menit kemudian, Aku sudah di kamar. Lampu redup, suasana tenang.

Aku berguling-guling di atas kasur, menatap langit-langit. Apa ini... Perasaan aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

“Jangan-jangan...” gumamku pelan. Aku menutup wajah dengan bantal. “cinta pada pandangan pertama?” hening. Lalu aku membuka mata lagi, menatap kosong.

“Nggak mungkin... Kan?”

tapi wajahnya terus muncul di pikiranku, tatapannya, cara melihatku.

“dia... Kayaknya seumuran denganku deh...”

aku tersipu sendiri, lalu tiba-tiba duduk

“HAH?!”

Kalau... Ternyata

“KITA SATU SEKOLAH?!”

Aku langsung menutup mulut sendiri

“Ya ampun.. jangan-jangan satu kelas juga...”

Aku terdiam, lalu tersenyum kecil, tanpa sadar. Malam itu... Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aku tidak memikirkan hal-hal yang menyakitkan.

Pagi pun tiba, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, ragaku terasa sangat bersemangat hari ini. Aku terduduk sebentar di tepi ranjang, memeluk lututku. Ada sesuatu yang berbeda. Seperti... Ada hal yang kutunggu.

“Ama! Bangun! Nanti telat!” teriak Ibuku dari luar kamar

“Iya, Bu! Udah bangun kok!” jawabku cepat

Daripada nanti dimarahi, aku segera beranjak ke kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitku, membuatku sedikit tersadar. Tapi perasaan aneh itu... Masih ada.

Setelah selesai, aku mengenakan seragam dengan rapi. Kancing demi kancing ku tutup perlahan. Lalu menyisir rambut panjangku, berusaha terlihat biasa saja. Padahal... Di dalam tidak.

===

Suasana kelas seperti biasa. Bisikan-bisikan kecil masih terdengar. Dan, seperti biasa... Itu tentangku.

Aku duduk di bangkuku sendirian, menatap jam dinding kelas. Berharap waktu berjalan lebih cepat

Ding Dong

Bel masuk berbunyi. Aku sedikit menegakkan badan. Terdengar suara wali kelas dari luar, seperti sedang berbicara dengan seseorang.

Pintu terbuka, dan.. aku langsung terdiam

Seorang murid laki-laki masuk setelah guru. Wajahnya.... Familiar

Jantungku langsung berdebar.

“Halo, selamat pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan murid baru,” ucap bu guru dengan ceria. “silakan perkenalkan dirimu.”

“Rehan, pindahan dari Bogor,”

Sederhana. Tapi entah kenapa... Namanya terasa lama di telingaku. Aku tersenyum kecil tanpa sadar

“Rehan ya...” gumamku pelan

Dan saat itu, dia menoleh. Matanya bertemu denganku, sekejap saja, tapi cukup membuat jantungku kembali tidak tenang.

“Baik Rehan. Kamu bisa duduk di bangku kosong mana saja,” kata bu guru.

Beberapa kursi memang masih kosong. Aku menunduk, pura-pura membuka buku

‘Jangan ke sini. Jangan ke sini. Jangan—‘

Langkah kaki terdengar mendekat, berhenti. Tepat di sampingku

“Ama, ya?” aku membeku. Pelan-pelan Aku menoleh. Rehan berdiri di sana, menatapku dengan senyum tipis.

“Kita bertemu lagi.”

Aku benar-benar tidak siap

“I-iya..” jawab buku pelan

Dia menunjuk kursi di sebelahku.

“boleh duduk di sini?”

JANTUNGKU. Aku mengangguk cepat

“Iya... Boleh..”

dia duduk, santai, seolah semuanya biasa saja. Sedangkan aku, lupa harus bersikap seperti apa.

Tanganku menggenggam ujung rok pelan. Dan diantara suara bisikan yang masih terdengar... Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sepenuhnya sendirian. Saat jam pelajaran pertama, kami hanya saling curi pandang. Aku pura-pura fokus ke

buku. Dia pura-pura melihat ke depan.

Tapi entah kenapa... Rasanya seperti ada benang tipis yang terus menarik perhatianku ke arahnya. Sampai akhirnya, Aku memberanikan diri.

“Gimana... Sekolah ini?” tanyaku pelan. Dia menoleh, matanya bertemu denganku lagi.

“Lumayan,” jawabnya singkat, sambil mengganggu kecil. Aku menelan ludah

“Mau... Keliling sekoalah?” ucapku ragu. “biar aku perkenalkan.”

Dadaku berdebar, aku sudah siap ditolak

“Boleh.”

Aku membeku. Hah? Dia... Nerima?

“B-bener?” tanyaku tanpa sadar. Dia mengangguk santai “Iya”

aku langsung menghadap ke depan lagi, mencoba menyembunyikan wajahku yang mulai panas.

‘kenapa jadi panik sih?! Ya udah... Nanti pas istirahat. Tenang... Tenang...’

Ding Dong

Bel pelajaran berikutnya berbunyi. Pelajaran IPS dimulai, dan seperti biasa ada pembagian kelompok. Bu guru menulis nama-nama di papan tulis, dan aku Dan Rehan satu kelompok. Jantungku langsung berdebar lagi.

Meja-meja dirapatkan, 4 orang jadi satu.

Dekat. Terlalu dekat.

Kami mulai membahas topik presentasi untuk besok, awalnya canggung. Tapi lama-lama...

“Jadi bagian ini kamu aja, ya?” ucapnya sambil menunjuk buku.

“Iya, nanti aku cari tambahan materinya,”

“Bagus.” Singkat.

Tapi entah kenapa... Aku senang. Kami jadi lebih banyak mengobrol, hal-hal kecil, tapi cukup membuat suasana jadi ringan.

Dan tanpa sadar, rasa canggung itu... Perlahan hilang.

Saat bel istirahat berbunyi

“Ayo ke kantin,” ucap Rehan tiba-tiba. “Aku gak tahu arah mana”

aku langsung menoleh, lalu mengangguk cepat

“Iya, ayo”

Di lorong sekolah, Aku berjalan sedikit di depannya. Menjelaskan ini itu

“Ini ruang guru... Itu lab... Yang sana anak kelas tiga.” aku terus berbicara. Seperti... Pemandu wisata, sampai–

“Ahh... Kamu bawel juga ya,” ucapnya, sedikit mengejek

Aku langsung berhenti “HAH?!”

Dia tersenyum tipis, aku mendengus kecil “Hump” kesal sih... Tapi anehnya Aku tidak benar-benar marah. Ada perasaan lain yang sulit dijelaskan. Setelah dari kantin, aku mengajaknya ke perpustakaan

“Ini perpus, lumayan nyaman,” ucapku, kami masuk. Awalnya hanya ingin melihat-lihat, tapi malah jadi membaca. Aku mengambil novel, dia ikut. Kami duduk bersebelahan, sesekali tertawa kecil karena isi ceritanya, sampai akhirnya

“SSSTTT!” kami berdua langsung menoleh, guru penjaga perpustakaan menatap tajam

“kalau mau ngobrol, di luar!” aku langsung menutup mulut, menahan tawa. Rehan juga. Kami saling pandang... Lalu tertawa pelan.

===

Sepulang sekolah, kami berjalan bersama keluar gerbang. Tapi... Arah rumah kami berbeda, aku sedikit diam sampai akhirnya

“Mau ke dermaga sebentar?” tanya Rehan. Aku menoleh

“ngapain?”

“lihat orang mancing”

Aku ragu sebentar, lalu mengangguk.

“Yaudah...”

Di dermaga, angin sore kembali menyapa, beberapa bapak-bapak duduk santai memancing. Kami tidak jauh dari mereka, melihat air yang tenang

“Tiap sore ramai ya,” gumamku

“iya,” jawab Rehan. Tiba-tiba

“Heh; Pacaran, ya?” salah satu bapak itu berseru sambil tertawa. Aku langsung kaget

“Hah?! Enggak kok, Pak!” jawabku cepat, wajahku panas. Aku menunduk, malu banget. Sedangkan... Rehan? Dia malah santai sedikit tersenyum tanpa membantah. Aku semakin panik,

‘kenapa diem aja sih?!’

Langit mulai gelap, kami berjalan kembali ke arah jalan utama

“Udah, aku ke sini” ucapku pelan

“Iya. Aku ke sana” kami berdiri sebentar, canggung lagi. Aneh. Padahal tadi tidak, aku mengangkat tangan kecil

“Dah..”

Rehan juga mengangkat tangannya “Dah.. Ama” Aku tersenyum, lalu berbalik berjalan menjauh tapi entah kenapa aku merasa... Hari ini akan terus kuingat

===

Beberapa bulan kemudian, kami mulai semakin dekat. Hal-hal kecil berubah jadi kebiasaan, sapaan pagi, pesan singkat sebelum tidur, dan tawa-tawa yang dulu terasa asing... Sekarang jadi hal yang kutunggu. Sampai akhirnya... Kami berdua... Pacaran

Aku masih sering tidak percaya. Kalau semua ini benar-benar terjadi.

Bulan November pun tiba. Di desaku, selalu ada festival budaya setiap tahunnya. Rama, selalu penuh lampu-lampu dan suara tawa di mana-mana.

Katanya... Untuk melestarikan budaya. Tapi bagiku, festival itu jadi sesuatu yang lebih dari itu. Karena tahun ini... Aku akan pergi bersama Rehan.

Aku berdiri di depan cermin, menyisir rambutku yang kini pendek sebahu, dan poni yang jatuh tipis di dahi.

Aku terdiam sebentar, mengingat sesuatu

“Aku pengen lihat kamu rambut pendek dan berponi... Pasti cantik” Ucapan Rehan waktu itu terngiang lagi, tatapannya, cara melihatku. Semuanya masih jelas di ingatanku

Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tangan

“Ahhh!” teriakku pelan, malu sendiri.

‘Kenapa aku jadi kepikiran lagi sih?!’

Aku berjalan mondar-mandir di kamar, tidak bisa diam. Rasanya tidak sabar, besok... Aku akan pergi dengannya. Aku melirik ke arah tempat tidur, di sana sudah terlihat rapi kebaya berwarna kuning. Warna favoritnya, aku mendekat, menyentuhnya pelan.

“Semoga dia suka...” gumamku. Jantungku kembali berdebar. Aku duduk di kasur, memeluk bantal. Dan tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, seolah waktu sengaja berjalan lambat, padahal Aku hanya ingin cepat sampai ke hari esok. Hari di mana... Aku bisa berjalan di antara lampu-lampu festival, bersama seseorang yang kini... Memiliki tempat khusus di hatiku.

===

Suara angin sore festival beradu cepat dengan detak jantungku. Aku berdiri di depan rumah, berusaha mengatur nafas. Tanganku memegang dada, mencoba menenangkan degup yang terasa terlalu keras

Hari ini... Aku akan pergi bersamanya

Kring Kring

Suara bel sepeda terdengar, aku langsung menoleh. Rehan

Senyumku otomatis terbit, saat mata kami bertemu dia terdiam. Menatapku lama. Aku jadi salah tingkah, tetap tersenyum lebar. Rambut pendek ku tertiup angin, kebaya kuning yang kupakai bergerak pelan. Cahaya sore menyentuhku hangat. Dan untuk beberapa detik... Hanya terdiam

“Kamu... Cantik banget’” ucapnya akhirnya. Aku tertawa kecil, menutup mulut dengan satu tangan.

“Apaan sih...”

Dia menggaruk tengkuknya pelan, lalu menepuk jok belakang sepedanya.

“Ayo.”

Aku mendekat, lalu duduk di belakang. Rehan mulai mengayuh sepedanya. Aku memegang bagian belakang bajunya, tepat di dekat perutnya. Erat,

“Hey... Pelan-pelan,” protesku. Dia malah tertawa.

Angin sore, jalanan desa, dan suara tawa kami semuanya terasa... Hangat.

Sebelum ke festival, kami berhenti di sebuah minimarket kecil

“Aku beli sesuatu dulu ya” Ucap Rehan, aku mengangguk

Dia menyerahkan ponselnya padaku. “tolong pegangin.” aku menerimanya “iya”

Rehan masuk ke dalam, Aku duduk di kursi depan minimarket menunggu. Awalnya biasa saja, tapi... Lama. Aku melirik ke arah dalam, masih antre. Tanganku menggenggam ponselnya. Dan entah kenapa aku jadi penasaran. Aku menatap layar itu ragu

“Buka.. gak ya...”

Aku menghela nafas pelan

“Kan aku pacarnya..” gumamku

Tapi tetap saja... Rasanya seperti melanggar sesuatu. Aku diam beberapa detik, lalu jariku bergerak membuka ponselnya. Aku tidak tahu harus membuka apa, sampai akhirnya- pesan.

Satu kontak, tetapi nomornya tidak aktif. Aku membukanya dan..

2015, Juni 27

“Selamat ulang tahun, Jia.. kamu sekarang 16 tahun kalau kamu masih hidup.”

jantungku terasa jatuh, tanganku gemetar. Aku melanjutkan sekolah

“Aku kangen kamu... Yang ninggalin aku karena kecelakaan.”

Mataku mulai panas. Siapa... Jia? Aku terus membaca

2016, Februari 14

“Jia, Hari ini aku pindah kota. Aku gak bisa nyiram makam Kamu setiap hari... Maafkan Aku.””

Air mataku hampir jatuh, tapi aku tahan.

2016 Februari 15

“aku tadi lihat cewek yang mirip kamu... Tapi tenang aja, aku gak suka dia. Aku tetap suka kamu.”

Aku terdiam, lama. Dadaku terasa sesak. Jadi.. selama ini... Aku menggigit bibir. Aku sadar. Jia, adalah cinta pertamanya. Dan aku? Hanya... Pengganti? Pelampiasan?

Air mataku akhirnya jatuh, tapi aku cepat-cepat mengusapnya. Aku menarik nafas dalam. Lalu aku mengetik. Dengan tangan yang masih gemetar

“Aku gak tau siapa kamu, Jia... Tapi aku tahu kamu sangat berarti untuk dia. Aku kecewa... Karena ternyata aku bukan orang yang dia lihat saat menatapku. Tapi anehnya... Aku gak menyesal. Aku tetap senang pernah ada di sampingnya, meski mungkin... Bukan di hatinya. Kalau kamu benar-benar tempat dia pulang, Aku harap kamu tetap menjaganya... Meski aku di sini, masih berharap Dia melihatku... Walau hanya sekali, sebagai diriku sendiri.”

Aku menatap pesan itu. Lalu mengirimkannya. Cepat-cepat menghapus air mataku lagi. Mengunci ponselnya, seolah tidak terjadi apa-apa

“maaf lama.” suara Rehan membuatku tersentak. Aku menoleh, dia tersenyum. Dan.. tetap sama. Seolah tidak ada yang berubah. Dia menyodorkan es krim vanila.

“Ini buat kamu.”

Sebenarnya es krim rasa vanila bukan rasa favoritku, aku menyukainya karena Rehan sering memberikannya. Dia yang selalu memberiku es krim rasa vanila mungkin mengingat cinta pertamanya

Aku tersenyum kecil “Makasih...” aku menerimanya, berusaha terlihat biasa saja. Kami berdua berboncengan, menikmati pemandangan sore seperti pasangan yang romantis. Aku duduk di belakang. Memakan es krim itu perlahan, manis. Tapi, entah kenapa terasa pahit.

Angin sore kembali menyentuh wajahku. Aku menata punggungnya. Dan untuk pertama kalinya aku sadar. Orang yang ku genggam sekarang... Mungkin tidak pernah benar-benar menggenggamku. Tapi aku tetap tersenyum di belakangnya. Diam-diam

Kami menikmati festival budaya itu sampai festival selesai. Aku memilih menikmati ini, daripada bertanya siapa perempuan itu.

“Kamu merindukan dia yang tak bisa lagi kembali, dan aku yang ada di depanmu, tak pernah benar-benar kamu lihat. Aku kamu genggam, tapi bukan yang kamu cari. Lucunya, aku tetap tinggal... Meski tahu aku hanya tempat kamu melarikan rindu”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Tanya Hati
macan nurul
Cerpen
Alamatnya salah Han..
h3ikeyy
Novel
Sedikit Tentang Cinta
Mittah Latif
Novel
Akhirnya aku pergi
Rhymes Gia Afton
Flash
Sepotong Senja di Halte Lama
Penulis N
Cerpen
RAHMA
Sarjana MIPA
Novel
Gold
Athlas
Mizan Publishing
Novel
Calm Yellow : Seperti Langit yang dilihat
Rika Adelia
Novel
Menuju Titik Nol
Murasaki Okada
Flash
Sebatas teman
Anisa Dhea Pratiwi
Flash
Ruang Tersembunyi dalam Hati
Cheri Nanas
Cerpen
Bronze
Perihal Kematian
Anjrah Lelono Broto
Cerpen
Bronze
Temanku Om-Om
Geovania Loppies
Novel
Gold
Sejujurnya Aku...
Bentang Pustaka
Flash
Pemilik Suara Merdu
Agnes Dzahniyah
Rekomendasi
Cerpen
Alamatnya salah Han..
h3ikeyy
Komik
Owow
h3ikeyy
Novel
Blood Oath Beyond the Screen
h3ikeyy