Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Alamat yang Ditulis Ulang Hujan
0
Suka
7
Dibaca

Hari itu hujan turun sejak pagi, tipis-tipis seperti seseorang yang menangis diam-diam.

Raka duduk di depan kios kecilnya di Pasar Lama Tangerang menghitung sisa uang di laci. Tidak banyak. Terlalu sedikit untuk disebut hasil dagang.

“Kalau minggu depan masih begini, kita tutup aja, Kak.”

Suara itu datang dari Lila, adiknya, yang sedang membungkus gantungan kunci rajut. Tangannya cekatan, tapi matanya menyimpan lelah yang tidak selesai tidur.

Raka diam.

Di luar, motor-motor lewat membawa percikan air. Di sudut kios, Ibu merapikan sisa kain perca. Sejak Ayah sakit, Ibu lebih banyak diam. Bukan tidak peduli, tetapi terlalu banyak hal ia tahan agar anak-anaknya tidak roboh.

Kios mereka kecil, menjual kerajinan kain, dompet rajut, dan hampers. Tidak pernah benar-benar ramai. Tapi dulu cukup. Sejak Ayah sakit, Raka menunda kuliah, sementara Lila tetap sekolah sambil membantu kios sepulangnya.

Sebelum Ayah sakit, sebelum rumah digadaikan, sebelum utang datang seperti tamu yang tidak tahu malu.

“Kalau tutup...” Raka bicara pelan. “Terus kita makan dari mana?”

Lila diam. Ibu juga tidak berkata apa-apa. Jarum di tangannya berhenti sebentar.

Pertanyaan itu terlalu nyata.

Tiga bulan sebelumnya, mereka menjual barang lewat media sosial. Awalnya hanya iseng. Memotret dompet rajut dengan HP di dekat jendela rumah.

Hasilnya biasa saja.

Sampai suatu malam, ada pesan masuk.

Mbak, ini bisa kirim ke Balikpapan?

Lila sampai melonjak dari kasur.

“Kak! Ada yang mau beli!”

Raka yang sedang memperbaiki resleting tas langsung mendekat.

“Serius?”

“Iya! Dia mau dua.”

Dua.

Bukan jumlah besar. Tapi bagi mereka, itu seperti seseorang mengetuk rumah yang lama sepi.

Masalahnya: mereka belum pernah mengirim paket keluar kota.

Besok paginya, Raka dan Lila pergi ke kantor JNE terdekat dengan wajah kebingungan. Mereka membawa paket pertama dalam tas kain, dibungkus tebal karena takut rusak.

Petugas perempuan itu tersenyum ramah.

“Mau kirim pertama kali ya?”

Raka mengangguk kikuk.

“Iya, Mbak. Takut salah.”

“Santai aja, Mas. Pertama kali kirim memang suka bingung. Nanti juga kebiasa.”

Raka lega.

Mereka diajari menulis alamat, membungkus paket, memilih layanan, sampai mengecek resi. Lila sempat salah menempel label.

“Kalau alamatnya kebalik gini,” kata petugas itu, “paketnya bisa ikut bingung.”

Sejak hari itu, hidup bergerak pelan-pelan.

Tidak langsung berubah drastis. Tetap ada hari sepi, cicilan, dan rasa takut ketika pesanan tidak masuk.

Tapi harapan mulai tumbuh.

Enam bulan kemudian, pesanan mereka datang dari banyak kota.

Bandung. Makassar. Batam. Pontianak.

Kadang Lila membaca alamat pelanggan keras-keras seperti belajar geografi kehidupan.

“Kak, ini lucu banget. Ada yang beli buat hadiah ibunya.”

“Atau ini,” sahut Raka sambil membungkus paket. “‘Buat pacar yang lagi LDR.’”

Lila tersenyum kecil.

“Lucu ya. Orang-orang ternyata mengirim rasa sayang dalam bentuk barang.”

Raka diam-diam setuju.

Ada sesuatu yang hangat ketika melihat paket-paket itu pergi. Seolah benda kecil buatan tangan mereka sedang membawa cerita.

Dan di tengah semua itu, Ayah meninggal.

Pemakaman Ayah berlangsung di bawah langit murung. Tanah masih basah oleh hujan semalam. Raka berdiri paling depan, memegang payung yang ujungnya miring tertiup angin.

Ibu duduk di dekat pusara, menatap tanah merah yang baru diratakan. Wajahnya tenang, terlalu tenang, sampai Raka tahu ada yang pecah di dalam sana. Lila berdiri di sampingnya, menggenggam ujung kerudung kuat-kuat.

Saat orang-orang mulai pulang, Lila berbisik, suaranya hampir kalah oleh gerimis.

“Kak, Ayah sudah nggak sakit lagi, ya?”

Raka merangkul bahu adiknya.

“Iya,” katanya pelan. “Ayah sudah selesai berjuang.”

Kalimat itu membuat Lila menangis. Ibu menunduk, mengusap tanah di dekat pusara seperti sedang merapikan selimut terakhir.

Malamnya, rumah sunyi.

Doa selesai. Pelayat pulang. Di ruang tamu, masih ada tikar dan beberapa kardus paket yang belum dikirim.

Raka duduk memandangi paket-paket itu.

Lila datang membawa dua gelas teh hangat.

“Kak...” suaranya pelan. “Besok paketnya gimana?”

Raka menunduk lama.

“Kirimin aja.”

“Tapi kita lagi begini.”

“Justru karena lagi begini.”

Lila memandang kakaknya tanpa bicara.

“Ada orang yang lagi nunggu hadiah ulang tahun. Ada yang nunggu barang buat jualan lagi. Ada yang mungkin cuma nunggu kabar lewat paket kecil.”

“Aku nggak mau kesedihan kita bikin cerita orang lain ikut berhenti.”

Dari dapur, Ibu akhirnya bicara.

“Kirim saja, Rak. Ayahmu dulu juga begitu. Kalau sudah janji, dia usahakan sampai selesai.”

Mata Ibu merah, suaranya kokoh.

Malam itu, mereka bertiga membungkus sisa paket dalam diam. Hanya ada suara gunting dan lakban.

Beberapa minggu menjelang Lebaran, pesanan datang hampir tanpa jeda.

Rumah mereka berubah seperti gudang kenangan. Bubble wrap, pita, nota, dan aroma kopi bercampur jadi satu.

Lila sedang menulis kartu ucapan ketika listrik padam.

“Yah...” ia mengeluh kecil. “Belum selesai.”

Raka menyalakan lilin. Api kecil itu membuat bayangan bergerak di dinding kusam.

“Ayah dulu paling suka suasana begini,” kata Lila tiba-tiba.

“Masih inget nggak? Kalau listrik mati, Ayah pura-pura jadi pendongeng. Padahal cerita yang diulang itu-itu aja.”

Raka tertawa lirih.

“Iya. Tentang sopir truk yang jatuh cinta sama penjual bakso.”

Ibu yang sedang melipat kain di sudut ruangan ikut tersenyum.

“Cerita itu dari zaman kalian belum sekolah juga sudah ada,” katanya.

Lila tertawa sampai matanya berair.

Kehilangan bekerja dengan cara aneh. Ada hari ketika duka terasa seperti batu besar. Tapi ada juga malam ketika seseorang yang sudah pergi terasa duduk dekat sekali.

Di luar, hujan turun di atap seng.

Lila menatap tumpukan paket.

“Kak, menurut Kakak, orang-orang yang menerima paket kita tahu nggak ya... kalau sebenarnya mereka juga ikut nolong kita bertahan?”

Raka memandangi nama-nama asing di paket. Medan. Palu. Kudus. Samarinda.

Orang-orang yang tidak pernah mereka temui, tapi ikut hadir dalam hidup mereka.

“Aku rasa...” suara Raka pelan sekali, “manusia memang sering saling menyelamatkan tanpa sadar.”

Lila berhenti menulis.

“Kadang lewat makanan. Kadang lewat pelukan. Kadang cuma lewat kalimat kecil. Atau lewat sesuatu yang dikirim tepat waktu.”

Malam makin larut. Listrik belum menyala. Tapi rumah itu terasa hangat.

Di antara hujan, aroma kardus, dan cahaya lilin, Raka mengerti: hidup tidak selalu berubah karena kejadian besar.

Kadang seseorang bertahan karena tahu, di luar sana masih ada yang menunggu kirimannya sampai.

Tidak lama setelah Lebaran lewat, datang pesan dari seorang pelanggan bernama Bu Mira di Lombok.

Isinya bagus sekali, Nak. Saya sampai nangis buka paketnya.

Lila tersenyum membaca pesan itu.

Tapi ada satu foto yang membuat mereka terdiam.

Foto seorang perempuan tua memakai syal rajut buatan mereka di ranjang rumah sakit.

Ini ibu saya. Beliau kena kanker. Katanya sudah lama tidak merasa secantik hari ini.

Raka membaca pesan itu berkali-kali.

Dadanya terasa sesak.

Malam itu, ia duduk di luar rumah. Kadang hidup memang aneh. Kita membuat sesuatu kecil tanpa sadar benda itu menjadi penguat bagi orang lain.

Besoknya, Raka berkata, “Mulai sekarang, setiap bulan kita sisihin beberapa barang kecil.”

“Buat siapa?”

“Buat diselipin ke paket pelanggan yang kelihatannya lagi butuh dikuatin.”

“Maksudnya?”

“Kadang ada pembeli yang cerita di catatan pesanan. Buat ibunya yang sakit, sahabatnya yang sedih, atau anaknya di rantau. Kita tambahin satu benda kecil. Nggak usah bilang dari siapa.”

Ibu yang mendengar itu mengangguk pelan.

Sejak itu, mereka menyisihkan hadiah kecil untuk diselipkan ke paket tertentu. Bukan paket tanpa alamat. Hadiah tambahannya saja yang dibiarkan diam-diam.

Kadang gantungan kunci. Kadang dompet kecil. Kadang surat pendek dengan tulisan tangan Lila:

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.

Mereka tidak menulis, “Ini dari kami.” Mereka hanya membiarkan kebaikan itu sampai, seperti doa yang tidak meminta dikenali.

Dan kadang balasannya datang.

Ada mahasiswa rantau yang hampir putus kuliah. Ada ibu yang baru kehilangan anak. Ada pegawai terkena PHK. Ada perempuan yang membuka paket itu sambil menangis di kamar kos.

Dan perlahan, Raka mulai mengerti sesuatu.

Ternyata yang bergerak bersama bukan cuma barang, tapi juga harapan.

Suatu sore, kantor JNE tempat mereka biasa mengirim paket sangat ramai.

Kurir keluar masuk membawa kiriman. Seorang bapak tua tampak bingung sambil memegang kotak sepatu lusuh.

“Pak, bisa saya bantu?” tanya Raka.

Bapak itu tersenyum canggung.

“Saya mau kirim ini ke cucu saya di Surabaya. Isinya sepatu bola.”

“Hadiah ulang tahun?”

“Iya.” Bapak itu tertawa kecil. “Dia bilang pengen jadi pemain timnas.”

Kotak itu sederhana sekali. Lakban di sudutnya bahkan mulai mengelupas.

Tapi cara bapak itu memegangnya membuat Raka sadar: bagi seseorang, kotak itu mungkin berisi dunia.

Saat membantu menuliskan alamat, Raka tiba-tiba teringat sesuatu.

Dulu, ia juga datang dengan wajah bingung dan takut. Dulu, ia juga merasa hidupnya hampir selesai.

Tapi ternyata hidup tidak benar-benar berhenti.

Kadang ia hanya sedang mencari alamat baru untuk melanjutkan langkah.

Malam harinya hujan turun lagi.

Lila sedang menempel resi pengiriman sambil bersenandung kecil.

“Kak.”

“Kalau nanti usaha kita besar, pengen punya apa?”

Raka berpikir sebentar.

“Rumah.”

“Rumah doang?”

“Iya.”

Lila tertawa. “Nggak pengen hidup enak? Mobil baru, liburan, gitu?”

Raka tersenyum tipis.

“Aku cuma pengen rumah yang kalau hujan turun, kita nggak takut lagi besok makan apa.”

Kalimat itu menggantung lama di udara.

Di luar, motor kurir melintas membelah gerimis. Ibu menutup jendela, lalu menoleh.

“Kalau rumah ini tetap hangat, itu juga sudah hidup enak,” katanya.

Dan untuk pertama kalinya, rumah kecil itu tidak terasa sesempit dulu.

Karena di dalamnya, masih ada orang-orang yang mau bergerak bersama. Masih ada mimpi yang dikirimkan dari satu kota ke kota lain.

Masih ada harapan yang dituliskan ulang, bahkan setelah hidup berkali-kali menghapusnya.

Dan mungkin, begitulah cara manusia bertahan: dengan saling mengantarkan cerita, tanpa pernah benar-benar tahu siapa yang sedang kita selamatkan di perjalanan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Alamat yang Ditulis Ulang Hujan
Tresnaning Diah
Cerpen
Seorang Asing
Billy Yapananda Samudra
Cerpen
Bronze
Bukan Babi Ngepet
Jasma Ryadi
Cerpen
INGATAN MONOKROM
ChikiMaru
Cerpen
Bronze
Tidak Benar Benar Terlihat
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Dari Lampu Merah Ke Panggung Gemerlap
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Bronze
Donat
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Antara Gurami Bakar dan Kerangka Terios
Bang Jay
Cerpen
Bronze
Cinta yang Terlupakan
Novita Ledo
Cerpen
Esensi Asasi Afeksi
Rairaa
Cerpen
Bronze
Kala Sepi Melanda
ThidaRak
Cerpen
Royadi dan Jin Ifrit dari dalam Kendi
Ryan Esa
Cerpen
Pendusta Nggak Enakan
bismikaaaaa
Cerpen
Bronze
Conversation with Me
hyu
Cerpen
Bronze
Prenuptial Agreement: Antara Luka dan Logika
Jasma Ryadi
Rekomendasi
Cerpen
Alamat yang Ditulis Ulang Hujan
Tresnaning Diah
Cerpen
Dalam Setiap Musim, Aku Memilihmu
Tresnaning Diah
Cerpen
Ibu di Balik Jeruji
Tresnaning Diah
Cerpen
Melesat Sat Set: Di Antara Peluh, Paket, dan Perjuangan Tanpa Batas
Tresnaning Diah
Cerpen
Barang Biasa, Cerita Luar Biasa
Tresnaning Diah
Cerpen
Putus, Tapi Nggak Putus Asa
Tresnaning Diah
Cerpen
Hal-Hal yang Tidak Pernah Kupelajari dari Ibu
Tresnaning Diah
Cerpen
Sebuah Dermaga untuk Pulang
Tresnaning Diah