Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Aku Yakin Ini Nyata
0
Suka
7,609
Dibaca

Bab 1: Aroma Karat dan Bisikan Malam

Arjun menatap Panti Jompo Damai Abadi dengan campuran antusiasme dan sedikit rasa kecut. Bangunan kolonial tua itu berdiri megah namun kusam, diselimuti oleh rimbunnya pohon beringin raksasa yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin, seolah berbisik rahasia. Warna catnya yang dulu putih kini menguning dan mengelupas di sana-sini, meninggalkan bercak-bercak lumut hijau pekat. Jendela-jendela tinggi yang berjejer rapi tampak seperti mata kosong yang menatap ke kejauhan, tersembunyi di balik gorden tipis yang nyaris tak terlihat dari luar. Di depannya, hamparan rumput liar tumbuh tak beraturan, sesekali diselingi bunga kamboja putih yang gugur, menebarkan aroma yang aneh, mirip kematian yang manis.

"Selamat datang, Arjun," suara datar Bu Ratna memecah lamunan Arjun. Kepala perawat senior itu berdiri di ambang pintu utama, mengenakan seragam putih bersih yang kontras dengan latar belakang panti yang suram. Rambutnya disanggul rapi, dan matanya yang tajam menatap langsung ke arah Arjun, tanpa senyum. "Saya Bu Ratna, kepala perawat di sini. Saya sudah menunggu."

Arjun mengulas senyum terbaiknya. "Terima kasih, Bu Ratna. Saya Arjun, pekerja sosial baru. Senang bisa bergabung." Ia mengulurkan tangan, namun Bu Ratna hanya mengangguk singkat, tanpa membalas jabatan tangannya. Kecanggungan itu langsung menyergap. Suhu di ambang pintu terasa aneh, seolah ada batas tak kasat mata antara dunia luar yang hangat dan bagian dalam panti yang dingin mencekam.

"Mari, saya tunjukkan sekeliling," ujar Bu Ratna, berbalik dan melangkah masuk tanpa menunggu jawaban Arjun.

Arjun mengikuti, merasakan suhu udara di dalam panti langsung berubah. Dingin dan lembap. Aroma lumut dan debu tua berpadu dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang Arjun tidak bisa identifikasi tapi terasa sangat tidak nyaman. Mirip karat, tapi lebih pekat, lebih tua, dan entah mengapa, terasa seperti logam berkarat yang bercampur dengan bau tanah basah dari makam yang baru digali. Mereka melewati lorong panjang dengan lantai tegel yang dingin, motif bunga usang yang nyaris tak terlihat. Lampu-lampu pijar yang menggantung rendah memancarkan cahaya kekuningan yang redup, membuat bayangan Arjun membayangi di dinding seperti hantu. Setiap langkah kakinya bergema di kesunyian yang mencekam.

"Panti ini sudah ada sejak tahun lima puluhan," jelas Bu Ratna, suaranya terdengar seperti gumaman di lorong yang sunyi. Nada suaranya tanpa emosi, seolah sedang membaca laporan. "Dulu milik keluarga kaya, sebelum akhirnya dihibahkan untuk jadi panti jompo."

Arjun mengangguk, mencoba menyerap informasi. Ia melihat beberapa pintu kamar tertutup rapat, dan sesekali, dari celah yang terbuka, ia bisa melihat ranjang tua dengan selimut kusut. Tidak ada suara, tidak ada tawa, bahkan batuk sekalipun. Panti ini terasa sepi, terlalu sepi untuk sebuah tempat yang dihuni puluhan orang. Ia pernah magang di panti jompo lain, dan suasana di sana jauh lebih hidup, bahkan dengan segala keterbatasan penghuninya.

"Ini area umum," Bu Ratna menunjuk ke sebuah ruangan luas dengan beberapa kursi rotan usang dan televisi tabung tua di sudut. Debu tipis melapisi permukaan meja dan bingkai foto yang usang. Tidak ada seorang pun di sana. Sebuah majalah lama tergeletak terbuka di salah satu kursi, halaman-halamannya menguning. "Biasanya penghuni berkumpul di sini. Tapi hari ini mungkin mereka lelah."

Arjun mengerutkan kening. "Lelah?"

Bu Ratna hanya mengangkat bahu, tatapannya beralih ke sebuah jendela yang menghadap ke kebun belakang yang rimbun dan tak terawat. "Mereka sudah tua, wajar jika sering lelah." Ada nada final dalam suaranya yang mengakhiri percakapan.

Arjun mulai merasa gelisah. Antusiasmenya perlahan luntur, digantikan oleh firasat aneh. Ia membayangkan dirinya dikelilingi lansia yang ceria, berbagi cerita, dan tertawa. Bukan kesunyian yang menekan seperti ini. Kesunyian yang terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya.

Selama beberapa hari pertama, Arjun mencoba berinteraksi dengan para penghuni. Kebanyakan dari mereka hanya menatapnya dengan tatapan kosong, atau sekadar menggumamkan kata-kata yang tidak jelas dan tak beraturan. Ia mencoba menginisiasi permainan papan, membaca buku, bahkan sekadar berbincang tentang masa muda mereka. Namun, responsnya minim. Hanya segelintir yang mau membuka diri, salah satunya adalah Mbah Siti.

Mbah Siti adalah seorang wanita tua dengan rambut perak yang tipis dan senyum yang keriput, namun matanya masih memancarkan kec...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Aku Yakin Ini Nyata
Christian Shonda Benyamin
Novel
Gold
Fantasteen They Call Me Psycopath
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Sang Kolektor Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Skrip Film
Gondo Mayit
Herman Sim
Flash
Bronze
Menjelang Kiamat
Rere Valencia
Flash
Peternakan Nenek
aleu
Novel
Gold
Fantasteen Beautiful Stranger
Mizan Publishing
Komik
Video Terkutuk
winzaldinirmansyah
Cerpen
Bronze
BURUNG HANTU BERMATA IBLIS
Sri Wintala Achmad
Novel
HILANG DI BUNIAN
Shira Aldila
Cerpen
Rencana
Endah Wahyuningtyas
Novel
Gold
Fantasteen Saving Ludo
Mizan Publishing
Cerpen
Sekar Arum
LaVerna
Novel
Bronze
The Evil of The Black Rose
Trinaya
Flash
Mengapa Juga?
Drew Andre A. Martin
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Aku Yakin Ini Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Dalam Cermin
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sang Kolektor Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Batas Senja Berbisik
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pusaka Naga Hitam
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Teman Kamar Yang Kasat Mata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pelaku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Kaktus Berdarah Seri 03
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suara Terompet
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Siaran Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ujung Koridor
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
#fyp Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mawar Kematian
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ruko Terlarang
Christian Shonda Benyamin