Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Aku Tidak Sakit
0
Suka
5,714
Dibaca

Bab 1 – Warisan yang Menyala Sendiri

Udara di dalam rumah warisan itu berbau apak dan kenangan yang membusuk. Davin menarik napas panjang, menahan gelombang mual yang naik ke tenggorokannya. Bukan karena bau, tapi karena beban yang tiba-tiba menimpanya. Orang tuanya—kedua-duanya—tewas dalam kecelakaan tunggal di jalan tol, sebuah insiden yang begitu mendadak hingga Davin merasa seperti terlempar ke dalam dimensi lain. Ia sekarang adalah satu-satunya pewaris, dan rumah ini, dengan segala isinya yang terasa membeku dalam waktu, adalah miliknya.

Selama seminggu terakhir, Davin sibuk mengurus formalitas kematian, menjauhi rumah yang terasa terlalu sunyi ini. Kini, ia tak punya pilihan. Ia harus membersihkan, mengatur, dan pada akhirnya, menghadapi hantu-hantu kenangan yang berkeliaran di setiap sudut. Matanya menyapu ruang tamu yang luas, mencari titik awal. Debu menutupi segalanya seperti selimut abu-abu yang tebal. Kursi-kursi berlengan yang dulu menjadi saksi tawa dan pertengkaran kecil, kini membisu. Rak buku yang penuh dengan novel-novel usang dan album foto keluarga, tampak sendu.

Di tengah semua itu, di dinding yang berhadapan langsung dengan pintu masuk, berdiri sebuah anomali. Sebuah televisi tabung besar, keluaran tahun 80-an, dengan layar cembung dan bodi kayu gelap yang tebal. Beratnya pasti tak masuk akal. Sejak kecil, Davin ingat televisi itu selalu ada di sana, seperti bagian tak terpisahkan dari fondasi rumah. Ayahnya pernah bercerita, televisi itu adalah hadiah pernikahan kakek neneknya, sebuah barang antik yang mereka banggakan. Davin tak pernah benar-benar menyentuhnya, apalagi mencoba memindahkannya. Televisi itu seolah menancap kuat, lebih dari sekadar perabot, melainkan monumen bisu dari masa lalu.

Ia ingat pernah mencoba mendorongnya sekali, saat ia masih kecil dan penasaran ingin melihat apa yang ada di balik layarnya. Televisi itu tak bergeming. Rasanya seperti ada lem super yang menempelkannya ke lantai, atau bahkan menyatu dengan struktur bangunan. Davin menyerah, dan televisi itu terus menjadi pusat gravitasi ruang tamu, sebuah kotak hitam yang terkadang menampilkan gambar buram dari acara berita atau sinetron sore.

Malam itu, setelah seharian membersihkan beberapa ruangan yang paling esensial—kamar tidur, kamar mandi, dan dapur—Davin merasa kelelahan. Punggungnya pegal, dan jiwanya terasa lebih berat daripada tumpukan debu yang ia singkirkan. Ia memesan makanan daring dan memakannya di atas meja kopi yang sudah ia bersihkan seadanya. Cahaya remang-remang dari lampu belajar yang ia bawa sendiri menerangi sudut ruangan, menyisakan sebagian besar ruang tamu dalam kegelapan yang pekat. Matanya sesekali melirik ke arah televisi tua itu. Dalam kegelapan, benda itu tampak seperti mata raksasa yang menatap kosong ke depannya, memantulkan sedikit cahaya dari jendela yang terbuka.

Ia mencoba untuk tidak memikirkannya, berusaha mengalihkan perhatian dengan memutar musik dari ponselnya. Namun, entah mengapa, televisi itu seolah memiliki daya tarik tersendiri. Sebuah firasat aneh, seperti tarikan tak kasat mata, terus-menerus menarik perhatiannya kembali. Davin mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kelelahan, stres pasca-kematian orang tuanya. Logikanya berteriak, "Ini hanya TV tua, Davin. Tidak ada yang istimewa."

Tepat ketika ia akan mematikan lampu dan mencoba tidur, sebuah keanehan terjadi.

Klik.

Suara itu datang dari televisi. Sebuah suara mekanis yang jelas, seperti tombol yang ditekan. Davin menegang. Ia yakin tidak ada siapa pun di sana. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena bingung. Ia tahu ia tidak menyalakannya. Tidak ada remot di sekitarnya, dan bahkan jika ada, ia tak pernah melihatnya berfungsi.

Lalu, sebuah cahaya samar mulai berpendar dari layar televisi. Mula-mula, hanya bintik-bintik putih yang menari-nari di atas latar hitam, seperti semut yang berkerumun. Kemudian, bintik-bintik itu menyatu, membentuk sebuah gambar. Davin terkesiap. Layar itu menyala sendiri.

Gambar yang muncul adalah hitam putih, buram, dan bergerak-gerak seperti rekaman CCTV lama yang bersemut. Sudut pandangnya aneh, seolah diambil dari ketinggian, menyorot ke bawah. Davin mengerjap, mencoba mencerna apa yang ia lihat. Itu bukan siaran televisi biasa. Tidak ada logo stasiun, tidak ada teks berjalan. Hanya gambar bergerak yang asing.

Ia melihat sebuah lorong sempit, ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
DAYU 1983
Nuraini Mastura
Novel
JERAT
Nyonya Maneh
Cerpen
Sunyi Terlarang
Ade Vina
Flash
Berkemah Di Hutan Larangan
D. Rasidi
Flash
ANGGORO KASIH
Endah Wahyuningtyas
Novel
Nini Curug
Kala Senja
Novel
Janji Untuk Pergi
langit.eileen
Novel
Gold
Fantasteen Ghost Dormitory in Sidney
Mizan Publishing
Novel
Lonceng Mahira
dwi nurhidayah
Novel
Bronze
Rante Aji
Arumdalu
Cerpen
Bronze
Awal dari Akhir
Moment
Cerpen
Bronze
MANGSA PERTAMA
Darryllah Itoe
Flash
Buka Pintu
BANYU BIRU
Flash
Angin dan Daun Yang Jatuh
Salman Faris
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Labirin Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Diri
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ruko Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Notifikasi Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Paranoid
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kereta Cepat Whoosh
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aroma Kopi Di Bangunan Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kabut Asap Pelabuhan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terjebak Dunia Arwah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sahabat Backpacker Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Kota Fajar
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Insomnia
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Streamer Yang Tragis
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pintu Retak
Christian Shonda Benyamin