Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
Aku, Tebu dan Bambu
1
Suka
10
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Jangan terlalu benci, Syl. Nanti yang ada kamu malah beneran jatuh cinta,” seloroh Melati sambil memutar-mutar sedotan es kopinya.

Syla menatap sahabatnya itu dengan pandangan datar. “Enggaklah. Pokoknya itu enggak mungkin.”

“Tapi dia mirip Min-ho lho, Syl! Cowok idolamu yang bikin kamu histeris cuma gara-gara liat fotonya di Instagram.”

“Iya, mukanya lumayan. Tapi enggak harus bikin aku cinta buta juga kan, Mel?” Syla bersedekap, bersandar pada kursi kafe.

Mel tertawa. “Iya deh, lagian kan kamu yang jalani, kamu yang jatuh cinta, dan kamu juga yang mau terima dia. Terserah kamu deh!” Melati menepuk jidatnya, terkekeh geli. “Udah, enggak usah ngelunjak ngamuknya. Kuping dia berdenging gara-gara elo omongin terus dari tadi.”

Syla menghela napas panjang. Tatapannya menerawang ke luar jendela kafe, memperhatikan rintik hujan yang mulai membasahi jalanan.

Secara fisik, Rendy memang tidak mengecewakan. Waktu minggu lalu ketemu pertama kali di "darat", Syla harus mengakui bahwa cowok itu lumayan, paling tidak untuk pendekatan awal. Wajahnya menarik dengan mata sendu menawan, proporsi tubuhnya pas, meski sejujurnya ada riak canggung yang membedakannya dari versi online yang tampak begitu percaya diri.

Hari itu, Syla sempat merasa nyaman. Ada satu momen yang membuat pertahanan Syla luluh, ketika Rendy menatap matanya lalu berkata bahwa masa lalu Syla yang kelam tidak harus menentukan akan menjadi seperti apa Syla di masa depan.

Selama ini, Syla selalu berusaha mempertahankan prinsip empatetik, berusaha menjaga empati besar untuk mendengarkan cerita orang lain, tetapi di saat yang sama, radarnya selalu menyala tinggi jika radarnya menangkap sinyal bahaya. Pengalaman pahit di masa lalu dengan pria brengsek mengajarkannya untuk tidak pernah lagi lengah.

***

Namun, Ilusi itu retak tak lama kemudian. Ketika Rendy akhirnya berterus terang mengenai kepribadian dan cara pandangnya soal hidup, Syla diam membisu. Tiba-tiba, alarm bahaya di kepala Syla menjerit keras. Ada jurang raksasa di hadapannya soal prinsip yang dipegangnya.

Syla benci misogini dan patriarki. Celakanya, Rendy justru mempraktikkannya dengan santai tanpa merasa salah soal hubungannya dengan orang lain sebelumnya. Di tengah obrolan, Rendy tanpa ragu juga mengkerdilkan pendapat Syla soal karier, bahkan menunjukkan respons nir-empati saat Syla membahas masa lalunya.

Hubungan yang dibangun di atas perbedaan yang rapuh seperti ini, pikir Syla, hanya akan menjadi neraka kecil berisi percekcokan berulang dan rasa ketidakadilan yang bisa menumpuk nantinya.

Syla bahkan menangkap sinyal bahaya lainnya soal parenting pasangan, saat Rendy secara terbuka menolak belajar hal-hal dasar dalam hidup dengan alibi "kan nanti ada pasangan." Syla langsung bisa melihat masa depannya semakin jelas, kalau ia bukan sedang diajak menjadi pasangan hidup, melainkan "ibu kedua" yang harus mengurus kebutuhan dasar cowok itu, mengelola emosinya, dan menanggung seluruh beban mental sendirian.

Syla mendesah berat, jika ia berada di dekat orang yang terus meremehkan pemikirannya, hanya akan mengikis kepercayaan dirinya sampai habis tak tersisa. Apalagi ini untuk pilihan menjadi pasangan seumur hidup.

***

“Aku cuma enggak mau sama orang yang dependent, EQ rendah, nir-empati, dan pakai anxious attachment cuma buat dijadiin trauma bonding demi ngedeketin cewek,” cetus Syla tiba-tiba, memecah lamunan Melati. “Gaya ngomongnya kayak kurang berpendidikan, attitude-nya nol besar.”

Melati menahan tawa, menatap Syla dengan mata membelalak. “Lama-lama omonganmu kayak psikolog, Syl! Kamu salah ambil jurusan kali, harusnya kuliah psikologi, bukan manajemen.”

“Ish, apaan sih!” Syla menyenggol lengan Melati. “Bangun hubungan yang seumur hidup jangan mikir bakal seumur jagung, semua butuh keseriusan, Mel. Ini soal masa depan.”

“Iya, iya, Bu Dokter,” goda Melati sambil tersenyum geli. “Tapi aku penasaran, kamu udah cerita soal ini ke temanmu yang satu lagi, kan?

Syla mengangguk. “Udah. Aku udah ngobrol banyak sama dia, dan dia juga mikir hal yang sama persis kayak aku.”

Melati memajukan kepalanya, menatap Syla dengan tatapan curiga yang dibuat-buat. “Jangan-jangan teman konsultan gadunganmu itu cemburu sama kamu? Makanya dia ngasih respons segitu negatifnya ke teman barumu?”

Syla tertawa sambil menggeleng. “Bisa jadi... tapi enggak lah. Dia dukung aku mikir kalau aku pasti bakal nemuin orang yang jauh lebih baik. Dia ngga nawarin diri jadi ban serep. Aku pikir dia masih punya pemikiran yang jauh lebih sehat daripada Rendy. Dia mungkin akan tetap suka sama aku, tapi ngga pernah mikir untuk memilikiku.”

"Yakin? Bagaimana kalo dia diam-diam masih suka sama kamu?"

"Percayalah, aku yakin dia ngga berani serius soal itu. Dia malah berharap aku dapat yang terbaik. Dia justru menunjukkan sisi-sisi yang selama ini bahkan tak terpikirkan olehku."

"Kamu si jago debat, mahasiswa terbaik di kampus kita masih mau menerima pendapat dari orang yang seharusnya kamu hindari jauh-jauh? Baiklah aku ikut feelingmu aja."

Melati memajukan badannya, menatap Syla dengan raut wajah sedikit lebih serius, meski tone suaranya tetap santai. “Tapi, kamu tau enggak, aku malah khawatir sama kamu, Syl. Kamu pilih-pilih banget soal pasangan. Nanti malah dapetnya bambu, bukannya tebu. Enggak ada manis-manisnya gitu.”

Syla malah terkekeh. Ia mengaduk sisa es kopi di gelasnya, mendengarkan bunyi gemerincing es batu yang berbenturan.

“Mungkin,” jawab Syla tenang. “Tapi seenggaknya bambu masih bisa bermanfaat buat pondasi yang kokoh daripada aku dapet tebu, habis manis, sepahnya dibuang. Dan jujur, itu yang pernah terjadi sama aku dulu.”

Melati terdiam. Ia bisa melihat kilat keteguhan di mata Syla. Ketakutan masa lalu memang ada, tetapi Syla yang sekarang bukan lagi sosok yang bisa diintimidasi oleh ketampanan semu atau kata-kata manis tanpa isi. Kecuali mungkin kalo terpaksa, tak ada pilihan lain, harus segera punya pasangan daripada di-ghibahin tetangga, adu mulut sama ibunya.

Syla merapikan tasnya dan berdiri dari kursi. Rasa cemas dan keraguan yang sempat membayangi pikirannya sepanjang minggu ini perlahan menguap, berganti dengan rasa lega yang membuncah di dada. Ia tahu pasti apa yang harus dilakukannya.

Rendy mungkin punya wajah selayaknya bintang sinetron, tetapi Syla tidak sedang mencari pemeran utama dalam ilusi romantisme. Ia mencari mitra sejajar, seorang suami. Dan jika itu berarti ia harus berjalan sendiri lebih lama, Syla tidak takut.

“Mau ke mana, Syl?” tanya Melati mendongak.

“Pulang!” Syla tersenyum, merapikan jaketnya.

“Jadi beneran nih langsung di-blok nomernya?”

“Yup. Logika aku udah cukup sadar. Buat apa mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas bakal bikin sakit kepala di masa depan?” Syla melangkah menuju pintu keluar kafe, merasakan angin segar menyapa wajahnya. Dunia ini terlalu luas dan hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan bersama orang yang salah, seumur hidupnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
Aku, Tebu dan Bambu
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
PERNIKAHAN KERIS
Rayasa Kherta
Flash
Bronze
Pisau Dapur
Diba Tesi Zalziyati
Novel
Siasat Orang Buangan
Dedy Tri Riyadi
Cerpen
Senggol Tonjok
Astromancer
Cerpen
Bronze
Odyssey: Melintasi Dimensi Waktu
Shinta Larasati Hardjono
Novel
Elang Angkasa: The Beginning
Kingdenie
Novel
Bronze
98 JUNI
Putri Tari Lestari
Flash
Di Halaman Gereja
ranieva
Cerpen
Bersama kita, Bisa menghadapi segalanya.
Hildafatwa Aulia
Novel
Bronze
RAJAPATI
Robby Kusumalaga
Flash
Bronze
JIKA MOTOR BISA NGOMONG..
Shabrina Farha Nisa
Cerpen
Bronze
The Dark Knight
felix Ivander Angwyn
Cerpen
Pahlawan dengan Manisan
zain zuha
Flash
Bronze
Yang Hilang Tak Kembali
Emma Kulzum
Rekomendasi
Cerpen
Aku, Tebu dan Bambu
Hans Wysiwyg
Flash
Dinda
Hans Wysiwyg
Flash
Titik Nol
Hans Wysiwyg
Cerpen
Ayah, Aku Pulang
Hans Wysiwyg
Flash
Perahu Langit
Hans Wysiwyg
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Flash
Kursi Nomor 7
Hans Wysiwyg
Flash
Cerita Baper
Hans Wysiwyg
Cerpen
Musim Gugur Tak Pernah Menunggu
Hans Wysiwyg
Flash
SEPULANG REUNI IBU SAKIT
Hans Wysiwyg
Flash
Hari Ini Bapak Menyemir Sepatuku
Hans Wysiwyg
Flash
Seorang Perempuan dan Sarang Lebah di Kamarnya
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg
Flash
MAKLAR
Hans Wysiwyg
Cerpen
Perempuan dari Masa Depan & Masa Lalu
Hans Wysiwyg