Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Deg Deg Deg.
Nafasku memburu. Jantungku berpacu. Aku sedang bersembunyi di sebuah gang sempit yang ternyata jalannya buntu. Aduh, sialan. Instingku tidak pernah salah. Aku yakin kalau orang yang sedang mencariku akan segera menemukanku.
Benar saja, sesosok perempuan dewasa tiba-tiba muncul di hadapanku. Perempuan tersebut membawa sebuah kotak yang sangat kubenci.
Aku hendak melarikan diri namun aku terlambat.
"Tertangkap kau, Manis," ucapnya sambil tersenyum puas.
Aku menggeliat dan berteriak meminta tolong. Namun tenaga perempuan itu lebih besar dibandingkan dengan tenagaku. Seakan-akan diriku seringan bulu, ia mengangkatku dan membawaku seperti membawa sekarung goni.
"Nah. Diam baik-baik ya, anak Manis. Perjalanannya tidak jauh kok," ujarnya setelah memasukkanku ke dalam mobil miliknya.
Di dalam mobil, aku tidak mau diam begitu saja. Sambil berteriak panik, aku meminta tolong. Berharap seseorang di luar sana akan mendengar suaraku dan menolongku. Namun percuma saja, yang ada malah suara tawa perempuan yang membawaku.
Aku mulai mengantuk. Apakah ini efek dari terkurasnya tenaga yang aku keluarkan sejak tadi? Mataku mulai berat dan aku pun tidak sengaja tertidur.
Baru saja sebentar aku tertidur, mobil yang membawaku berhenti.
"Nah. Sudah sampai."
Dag Dig Dug.
Jantungku kembali berdebar dan aku merasa sangat takut. Oh. Aku tahu kemana perempuan itu membawaku. Sebuah tempat berwarna ungu bertuliskan "Klinik Hewan Kiyowo". Tempat ini terkenal di kalangan kucing-kucing yang direscue sepertiku. Konon di tempat ini ada seseorang yang memasukkan suatu alat ke dalam bokong hewan sepertiku untuk mengecek suhu tubuh. Menurut testimoni mereka yang pernah kemari, rasanya sangat tidak nyaman.
Ugh.
Sebenarnya apa sih yang para manusia itu lakukan? Aku mungkin bisa mengerti dengan hal lainnya, tetapi memasukkan sesuatu ke dalam bokong? Yang benar saja!
Aku mulai waspada. Aku ingin sekali kabur dan keluar dari kotak yang mengurungku, namun kotak itu terlalu kuat dan aku tak bisa menjebolnya.
Baiklah. Pada aba-aba ketiga, sesuai instingku aku harus lari secepat mungkin.
Satu.
Perempuan tersebut mengangkat kotak yang mengurungku dari mobil menuju klinik.
Dua.
Aku mulai masuk ke dalam ruko tersebut. Suara bel dari pintu berbunyi. Aku mendengar terdapat pria yang memberikan ucapan selamat datang dan bertanya sesuatu kepada perempuan yang membawaku.
"Selamat siang kak. Sudah reservasi sebelumnya? Kucingnya sudah pernah kemari kak?"
Duaaaa.. Setengah.
"Sudah kak. Namanya Manis. Hari ini reservasi untuk ovariohisterektomi ya."
Oke. Masih belum waktunya. Sebentar lagi.
"Oh iya baik kak. Kita check up dulu kondisinya Manis ya."
Dan.. Tiga!
Begitu pintu kotak tersebut dibuka, aku langsung berlari secepat kilat. Dengan segera aku mencari jalan keluar dari tempat ini. Namun percuma saja, semua pintu tertutup dengan rapat. Orang-orang mulai berlarian mengejarku.
Dengan cekatan aku menghindar dari tangan perempuan yang ingin menggendongku.
Hisss!
Aku mengeluarkan senjata tajamku, maksudku kuku tajamku, dan memamerkannya kepada perempuan tersebut.
"Tenang, Sobat. Ssssh. It’s Okay. It’s Okay."
Aku kembali terpojok. Kali ini aku berada di bawah meja dan tidak ada tempat untuk melarikan diri.
Perempuan itu meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.
Haruskah aku memercayainya? Mungkin, rasanya tidak akan semengerikan itu. Namun sebelum aku memutuskan apa yang akan kulakukan, sebuah tangan yang memakai sarung tangan tebal menangkap dan mengangkatku.
Aduh. Kewaspadaanku malah menurun! Aku panik dan mencoba menggigit serta mencakar tangan tersebut, namun sarung tangan yang dipakai orang tersebut terlalu tebal. Gimana nih? Mereka berhasil menangkapku!
Mereka membawaku ke dalam sebuah ruangan bertuliskan "Ruang Periksa 1". Di sana aku diletakkan ke atas sebuah alat untuk menimbang berat badanku. Di depanku kini terdapat perempuan muda mengenakan jas berwarna putih dan di sampingnya terdapat perempuan dewasa yang membawaku.
"Oke. Berat badannya 3,5 kg ya kak. BCS nya juga oke." Ucap perempuan berjas putih yang disebut sebagai dokter hewan oleh perempuan yang membawaku.
"Sekarang kita cek suhu tubuhnya dulu ya." Dokter tersebut pergi mengambil sebuah alat.
Oh tidak. Oh tidak. Oh tidak. Oh tidak! Aku mulai mengeong dan lepas kendali. Mereka akan memasukkan alat ke dalam bokongku!
"Tenang, Manis. Sebentar saja ya?" pinta perempuan yang membawaku sambil berusaha mengelusku.
"Sebentar ya, Manis. Kalau nggak bisa kerja sama nanti harus berkali-kali ditusuknya lho," ucap dokter tersebut sambil tersenyum jahil.
Aku berusaha tenang. Siapa juga yang ingin ditusuk berkali-kali?! Sekali saja aku sudah tidak sudi.
Cuss!
Aku berdiri tanpa perlawanan. Alat tersebut memasuki bokongku. Sedetik pertama, rasanya tidak nyaman dan mengagetkan. Detik-detik berikutnya... Oh. Rasanya tidak semengerikan itu kok?
Piip. Piip.
Saat alat tersebut mulai berbunyi, alat tersebut dikeluarkan dari bokongku. Ah.. leganya.
"Oke suhu tubuhnya 39 derajat ya kak, masih normal."
"Manis, kamu pintar sekali ya. Bisa diajak kerja sama," ucap dokter tersebut sambil mengelus bagian daguku.
Selanjutnya, tubuhku dicek satu persatu. Mulai dari kepala, area mata, telinga, dan rongga mulut, katanya aman dan sehat. Terakhir ia meraba perutku, katanya sih untuk mengetahui apakah rahimku kosong atau sedang hamil.
"Aman sih kak, Manis boleh kita OH ya. Apakah sudah puasa makan dan minum tadi?"
"Tadi pagi sih aku belum ngasih makan dan minum Manis, dok. Tapi waktu dibuka kandangnya dia sempat kabur dan aku langsung tangkap dia. Jadi harusnya aman sih ya, Dok."
"Oke. Baik kak, sekarang kakak boleh ke bagian administrasi untuk persetujuan operasi ya. Kalau Manis sudah selesai, akan kami kabari."
"Manis. Aku tinggal dulu ya. Nanti selesai OH, kamu aku jemput lagi," ucap perempuan tersebut sambil mengelus-elus tubuhku sebelum akhirnya pergi.
Aku tidak mengerti apa itu OH tapi sepertinya tidak akan lebih menyeramkan dibandingkan dengan pengecekan suhu, kan? Aku mengucapkan salam kepada perempuan yang membawaku dengan cara mengeong lembut. Aku harap dia tidak akan meninggalkanku di tempat ini.
Jujur saja aku masih merasa takut. Lingkungan di sini terasa asing. Parahnya, di sini bau sekali. Aroma banyak kucing dan bahkan hewan lain menari di hidungku.
Aku dibawa ke dalam sebuah ruangan yang dingin. Dokter yang tadi memeriksaku berbicara dengan beberapa orang lainnya untuk menyiapkan beberapa jenis alat yang akupun tidak tahu apa fungsinya. Aku belum pernah mendengar mengenai hal ini dari kucing-kucing di area rumahku. Aku masih agak waspada.
"Jo, kita mulai ya. Tolong pegang kucingnya. Aku mulai injeksi obat biusnya sekarang."
Sepasang tangan yang memakai sarung tangan tebal kembali memegangku. Aku mencoba berontak tapi pergerakanku terbatas. Dokter mulai memegang daerah kaki belakangku dan sebuah jarum kecil menusuk bagian otot di kaki tersebut.
"Miaaaaaw!" aku berteriak kencang. Rasanya sakit dan mengejutkan.
Tidak lama dari itu, aku pun tertidur.
***
Aku terbangun di sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa kandang yang berisikan kucing-kucing. Aku merasa kebingungan. Kepalaku sangat pusing. Aku mencoba untuk berdiri namun aku terjatuh. Aku juga merasakan sakit di sekitar perut bawahku. Saat kulihat area perutku, ada sebuah plester menempel di sana. Aku hendak melepas plester tersebut saat kudengar ada sebuah suara dari seekor kucing di sebrangku.
"Hei, nak. Tenanglah! Jangan kau apa-apakan plester itu."
"Tapi ini sakit."
"Tentu saja. Kamu kan habis OH."
"OH itu apa?"
"Aku tidak tahu apa kepanjangannya tapi mereka bilang OH itu operasi pengangkatan rahim."
Aku terkejut, "Apa itu berarti aku tidak bisa hamil?"
"Nak, apakah kamu kucing liar?"
"Bersyukurlah operasimu lancar dan aman. Aku juga merupakan kucing liar. Namun hidupku sulit karena sebelumnya aku hamil terus menerus, hingga akhirnya rahimku mengalami infeksi."
"Saat aku seumuran denganmu, sepertinya aku sudah merasakan empat kali hamil. Karena aku kucing liar dan belum ada yang merescue ku saat itu, aku merasakan kewalahan dalam menjaga anak-anakku. Hingga akhirnya banyak anakku yang sakit dan meninggal."
"Bagi kucing liar seperti kita, infeksi rahim rentan terjadi, apalagi kalau belum OH. Infeksi rahim ini juga sangat berbahaya nak. Penyakit lain seperti kista dan kanker juga bisa terjadi."
"Dengan umurku yang sudah tua ini operasi merupakan tindakan yang berisiko, Nak. Aku bersyukur dapat melalui operasi ini dengan baik. Namun, aku menyayangkan kenapa tidak dari dulu saja ada orang yang mensterilku sehingga aku tidak perlu operasi infeksi rahim. Menurutku lebih baik OH dilakukan secepatnya sebelum terlambat sepertiku."
"Orang yang membawamu kemari pasti sangat peduli dengan hewan-hewan seperti kita."
Ucapan ibu kucing tersebut terngiang-ngiang di dalam benakku. Kini aku berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang. Pandanganku terhadap perempuan yang membawaku untuk OH perlahan menjadi berubah. Aku yang dulunya sering merasakan waspada kini merasa aman dan tenang ketika bertemu perempuan tersebut. Dipikir-pikir, betul juga ya? Kalau bukan dari perempuan itu, darimana lagi aku mendapatkan makanan?
Selama seminggu, aku dikurung di dalam sebuah kandang. Katanya sih, supaya aku dapat diobservasi. Aku diberikan obat selama tujuh hari. Tapi ternyata bekas lukaku sudah kering sebelum tujuh hari lho! Hebat ya? Setelah obat habis aku dibawa kembali ke Klinik Hewan Kiyowo untuk kontrol. Kali ini, aku tidak rewel lagi. Aku sudah tidak takut dengan tempat tersebut. Dokter bilang, jahitan lukaku aman dan aku sehat. Sesuai janji perempuan yang merescue ku, aku sudah boleh dilepasliarkan.
Rasanya senang sekali bisa bebas! Aku berkeliling sambil menyapa teman-temanku setelah lama menghilang. Tak lagi jadi pemberontak, aku meyakinkan mereka bahwa Klinik Hewan Kiyowo tidak begitu menakutkan. Badanku pun jadi lebih sehat dan segar!