Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Aku capek.”
Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutku, pelan, hampir seperti bisikan yang takut didengar dunia.
Laptop di hadapanku masih menampilkan halaman yang sama. Bab IV hasil penelitian. Sudah tiga jam aku duduk di tempat yang sama, di kursi yang sama, dengan secangkir kopi yang sejak satu jam lalu sudah tidak lagi hangat. Namun, tidak ada satu paragraf pun yang benar-benar selesai.
Kursor itu terus berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Seolah-olah ia sedang mengejekku. Atau mungkin justru sedang menungguku.
Aku tidak tahu.
Aku hanya tahu bahwa malam semakin larut, tetapi pekerjaanku seperti tidak bergerak ke mana-mana.
Namaku Raka. Mahasiswa semester akhir yang seharusnya sudah sidang bulan lalu.
Seharusnya.
Kata itu terasa begitu sederhana, tetapi akhir-akhir ini menjadi kata yang paling sering muncul dalam pikiranku.
Seharusnya aku sudah sidang.
Seharusnya revisiku sudah selesai.
Seharusnya aku sudah mendaftar ujian.
Seharusnya aku sudah memikirkan wisuda.
Seharusnya.
Terlalu banyak “seharusnya” yang akhirnya membuatku lupa bahwa aku masih sedang berproses.
Tanganku tanpa sadar meremas ujung kertas revisi yang penuh coretan merah. Ada begitu banyak komentar dari dosen pembimbingku. Sebagian sudah kubaca berkali-kali, tetapi tetap saja ada beberapa bagian yang tidak benar-benar kupahami.
Aku mengambil satu lembar, membacanya lagi.
“Ini bukan salah, tapi belum tepat.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Bukan salah.
Belum tepat.
Belum selesai.
Belum lulus.
Aku menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
Di luar jendela, malam sudah semakin pekat. Beberapa lampu gedung kampus masih menyala. Entah karena ada mahasiswa lain yang sedang bekerja seperti aku atau karena lampu-lampu itu memang tidak pernah dimatikan.
Aku kadang bertanya-tanya, apakah hanya aku yang masih tertinggal di tempat ini.
Ponselku yang sejak tadi tergeletak di samping laptop tiba-tiba bergetar.
Satu notifikasi.
Lalu dua.
Lalu semakin banyak.
Grup WhatsApp kelas kembali ramai.
Aku sebenarnya tidak ingin membukanya. Tetapi tanganku tetap mengambil ponsel.
Satu per satu kabar muncul.
Ada yang mengirim foto setelah sidang.
Ada yang mengunggah foto bersama dosen penguji.
Ada yang bercerita bahwa revisinya tinggal sedikit.
Ada yang sudah mulai mengurus wisuda.
Ada pula yang hanya menulis singkat:
“Puji Tuhan, akhirnya selesai juga!”
Aku menatap layar itu lama.
Ada foto-foto dengan senyum yang terlihat begitu lepas. Ada wajah-wajah yang kukenal sejak awal kuliah. Orang-orang yang dulu duduk bersamaku di kelas, mengeluh tentang tugas yang sama, tertawa karena dosen yang sama, dan pernah sama-sama mengatakan bahwa skripsi terasa seperti sesuatu yang tidak akan pernah selesai.
Sekarang mereka sudah sampai lebih dulu.
Jempolku sempat ingin mengetik ucapan selamat.
Aku bahkan sudah membuka kolom pesan.
“Selamat ya!”
Dua kata itu sudah kuketik.
Namun, beberapa detik kemudian, aku menghapusnya.
Bukan karena aku tidak bahagia untuk mereka.
Aku bahagia.
Sungguh.
Aku bangga melihat teman-temanku berhasil menyelesaikan apa yang mereka mulai.
Hanya saja, di balik kebahagiaan itu ada rasa lelah yang sulit kujelaskan.
Aku senang melihat mereka sampai di garis akhir, tetapi diam-diam aku bertanya kepada diriku sendiri:
“Kalau mereka sudah sampai, kenapa aku masih di sini?”
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sesak.
Aku meletakkan ponsel kembali.
Aku mencoba membaca hasil penelitianku, tetapi kalimat-kalimat di layar mulai terlihat seperti kumpulan kata yang tidak memiliki arti.
Aku membaca paragraf pertama.
Tidak masuk.
Kembali ke awal.
Tetap tidak masuk.
Aku menutup laptop.
Membukanya lagi.
Menutupnya.
Membukanya kembali.
Pada akhirnya aku hanya menatap layar tanpa melakukan apa-apa.
“Raka, kamu belum pulang.”
Aku tersentak.
Suara itu membuatku menoleh.
Sinta berdiri di ambang pintu ruang baca.
Dia masih seperti biasa.
Rapi, tenang, dan entah kenapa selalu terlihat lebih kuat dariku.
“Belum,” jawabku singkat.
Sinta berjalan mendekat. Ia tidak langsung bertanya. Ia hanya meletakkan tasnya di kursi sebelahku lalu melihat layar laptop.
“Bab IV?”
Aku mengangguk.
“Masih di bagian yang sama?”
Aku tersenyum tipis.
“Kayaknya.”
Sinta menarik kursi dan duduk di sebelahku.
Kebiasaan Sinta memang begitu. Tidak banyak bertanya, tetapi selalu hadir.
Ada orang-orang yang hadir dengan banyak nasihat.
Sinta tidak seperti itu.
Ia lebih sering hadir dalam diam.
Dan anehnya, diamnya sering kali terasa lebih menenangkan daripada banyak kata.
“Kamu stuck lagi,” katanya pelan.
Aku tertawa kecil.
“Kayaknya aku memang tidak pernah tidak stuck.”
Sinta ikut tersenyum.
“Kamu terlalu keras sama diri sendiri.”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
“Terus?”
Aku menatap layar laptop.
“Aku cuma merasa kalah cepat.”
Sinta diam beberapa saat.
Kemudian ia bertanya,
“Cepat dari siapa?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, entah mengapa aku tidak langsung bisa menjawab.
Aku menatap tanganku sendiri.
Dari siapa?
Aku tidak tahu.
Atau sebenarnya aku tahu, tetapi malu mengakuinya.
Dari teman-temanku.
Dari orang-orang yang sudah sidang.
Dari mereka yang sudah wisuda.
Dari mereka yang bisa mengunggah foto kelulusan sementara aku masih bergulat dengan satu bab penelitian.
Tetapi bukankah kami tidak pernah benar-benar berlomba?
Aku tahu itu.
Aku tahu setiap orang punya jalannya masing-masing.
Aku tahu kehidupan bukan perlombaan.
Aku tahu semua orang memiliki waktu yang berbeda.
Namun, mengetahui sesuatu tidak selalu berarti mampu menghayatinya.
Kadang-kadang kita tetap merasa tertinggal meskipun secara sadar tahu bahwa tidak ada yang sedang mengejar kita.
“Aku cuma...” Aku berhenti.
Sinta menunggu.
“Aku takut kalau aku nggak selesai-selesai.”
Sinta tidak langsung menjawab.
Aku melanjutkan.
“Kadang aku merasa semua orang bergerak. Aku malah diam di tempat.”
“Kamu benar-benar merasa diam?”
Aku mengangguk.
Sinta menunjuk laptopku.
“Kamu datang ke sini setiap hari?”
“Iya.”
“Masih revisi?”
“Iya.”
“Masih baca penelitian?”
“Iya.”
“Masih menghubungi dosen?”
“Kadang.”
Sinta tersenyum kecil.
“Kalau begitu, kamu tidak diam.”
Aku terdiam.
“Kamu cuma merasa diam karena hasilnya belum kelihatan.”
Aku tidak menjawab.
Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu yang selama ini sengaja kuhindari.
Aku terlalu sering mengukur kemajuan dari hasil.
Kalau belum selesai, berarti gagal.
Kalau belum sidang, berarti tertinggal.
Kalau belum lulus, berarti belum melakukan apa-apa.
Padahal mungkin aku sudah berjalan cukup jauh.
Hanya saja aku terlalu sibuk melihat garis akhir sampai lupa melihat langkah-langkah yang sudah kulewati.
“Rak,” kata Sinta.
Aku menoleh.
“Kamu ingat waktu awal mulai skripsi?”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Kamu pernah bilang sesuatu.”
“Apa?”
Sinta tersenyum.
“Kamu bilang yang penting selesai dengan jujur, bukan cepat.”
Aku terdiam.
Aku memang pernah mengatakan itu.
Aku bahkan mengatakannya dengan penuh keyakinan.
Saat itu aku merasa mampu menjalani semuanya dengan tenang.
Aku tidak peduli siapa yang lebih dulu.
Aku tidak peduli siapa yang lebih cepat.
Aku hanya ingin mengerjakan skripsiku dengan sungguh-sungguh.
Tetapi waktu berjalan.
Teman-temanku mulai selesai.
Satu demi satu.
Dan tanpa kusadari, prinsip yang dulu kupegang perlahan berubah.
Aku mulai membandingkan.
Mulai menghitung.
Mulai merasa kurang.
Mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri.
“Sekarang kamu berubah,” lanjut Sinta.
Aku menunduk.
“Kamu mulai membandingkan dirimu dengan orang lain.”
Aku tidak membantah.
Karena memang benar.
“Capek ya?” tanyanya pelan.
Kali ini aku tidak menahan diri.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Suaraku nyaris tidak terdengar.
“Capek banget.”
Sunyi menyelimuti kami.
Hanya suara kipas angin yang berputar pelan di atas kepala.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Anehnya, aku tidak merasa harus menjelaskan semuanya.
Aku tidak harus mengatakan betapa seringnya aku merasa gagal.
Aku tidak harus menceritakan berapa kali aku membuka laptop lalu menutupnya lagi.
Aku tidak harus menjelaskan bagaimana rasanya membaca kabar teman-teman yang sudah selesai ketika aku sendiri bahkan belum tahu kapan giliranku tiba.
Sinta sepertinya sudah mengerti.
Atau mungkin dia tidak benar-benar mengerti semuanya.
Tetapi setidaknya dia mau tinggal.
Kadang-kadang, mungkin itu yang paling kita butuhkan.
Bukan seseorang yang menyelesaikan masalah kita.
Hanya seseorang yang mengingatkan bahwa kita tidak sendirian.
“Tapi kamu masih di sini,” kata Sinta akhirnya.
Aku menatapnya.
“Kamu masih membuka laptopmu.”
Aku diam.
“Masih membaca revisi.”
Aku menatap kertas-kertas di meja.
“Masih berusaha memahami.”
Aku menarik napas.
“Itu artinya kamu belum menyerah.”
Kalimat itu sederhana.
Sangat sederhana.
Namun entah kenapa terasa seperti sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari.
Aku belum menyerah.
Aku memang belum selesai.
Tetapi belum selesai tidak sama dengan gagal.
Aku hanya belum sampai.
Dan belum sampai bukan berarti tidak akan pernah sampai.
Sinta berdiri lalu merapikan tasnya.
“Aku duluan, ya.”
Aku mengangguk.
“Jangan pulang terlalu malam.”
“Iya.”
Dia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.
“Rak.”
“Hm?”
“Kerjakan satu paragraf saja malam ini.”
Aku tersenyum kecil.
“Satu paragraf?”
“Iya.”
“Kalau nggak selesai?”
“Besok kerjakan satu paragraf lagi.”
Aku tertawa.
“Sesederhana itu?”
“Tidak harus sempurna.”
Aku terdiam.
Sinta tersenyum.
“Yang penting bergerak.”
Aku mengangguk.
“Makasih, Sin.”
“Sama-sama.”
Setelah itu Sinta pergi.
Pintu ruang baca tertutup perlahan.
Aku kembali sendirian.
Ruangan terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.
Aku menatap laptop.
Kursor itu masih berkedip.
Tetapi kali ini rasanya berbeda.
Aku membuka kembali file penelitian.
Bab IV.
Bagian yang sejak tiga jam lalu tidak bergerak.
Aku membaca kalimat terakhir.
Aku menarik napas.
Tidak memikirkan wisuda.
Tidak memikirkan teman-teman.
Tidak memikirkan kapan aku akan selesai.
Tidak memikirkan apakah aku terlambat.
Aku hanya memikirkan satu hal.
Satu paragraf.
Aku mulai mengetik.
Satu kalimat.
Lalu satu lagi.
Aku berhenti sebentar.
Membaca kembali.
Ada kesalahan.
Aku memperbaikinya.
Aku menulis lagi.
Tidak sempurna.
Bahkan mungkin masih jauh dari bagus.
Tetapi untuk pertama kalinya hari itu, aku tidak berhenti di tengah jalan.
Aku menatap layar dan tersenyum kecil.
Ternyata aku masih bisa.
Mungkin aku memang tidak secepat mereka.
Mungkin jalanku lebih panjang.
Mungkin aku harus melewati lebih banyak keraguan daripada yang kubayangkan.
Tetapi mungkin tidak apa-apa.
Tidak semua perjalanan harus memiliki kecepatan yang sama.
Ada orang yang berlari.
Ada yang berjalan.
Ada yang berhenti sebentar untuk menarik napas.
Dan ada pula yang harus berjalan lagi setelah berkali-kali hampir menyerah.
Aku mungkin termasuk yang terakhir.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Di luar jendela, malam masih sama.
Lampu-lampu gedung masih menyala.
Kampus masih sunyi.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada foto kelulusan.
Tidak ada yang tahu bahwa malam itu aku baru saja memenangkan sesuatu yang kecil.
Aku memenangkan diriku sendiri.
Bukan karena aku sudah selesai.
Tetapi karena aku memilih untuk tidak berhenti.
Aku melihat jam.
Sudah cukup malam.
Aku menyimpan file, menutup laptop, lalu membereskan kertas-kertas revisi.
Aku berdiri dari kursi.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, langkahku terasa sedikit lebih ringan.
Aku belum tahu kapan akan benar-benar selesai.
Aku belum tahu kapan revisi ini akan berakhir.
Aku belum tahu kapan aku akan berdiri di ruang sidang dan mendengar namaku dipanggil.
Aku juga belum tahu apakah perjalanan setelah ini akan menjadi lebih mudah.
Tetapi malam ini aku belajar sesuatu.
Aku tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.
Aku hanya perlu terus berjalan.
Sedikit demi sedikit.
Satu halaman.
Satu paragraf.
Satu kalimat.
Satu langkah.
Aku berhenti sejenak di depan pintu ruang baca dan memandang kembali meja tempatku bekerja selama berjam-jam.
Kemudian aku tersenyum.
“Aku belum selesai,” gumamku pelan.
Aku menarik napas.
“Tapi aku bertahan.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa tertinggal.
Aku hanya sedang berjalan.
Berjalan di jalanku sendiri.
Dengan kecepatanku sendiri.
Dengan segala ketakutan, keraguan, dan lelah yang masih kubawa.
Tetapi tetap berjalan.
Karena mungkin, pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Bukan pula tentang siapa yang lebih dulu mencapai garis akhir.
Mungkin hidup adalah tentang keberanian untuk terus melangkah ketika kita belum tahu kapan perjalanan itu akan selesai.
Dan malam itu aku memilih untuk melangkah.
Bukan langkah besar.
Hanya satu langkah kecil.
Tetapi cukup untuk membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku masih bertahan.