Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Aku
0
Suka
4,596
Dibaca

Aku berdiri di ambang pintu, pandanganku terhalang oleh embun pagi yang tebal, membingkai siluet rumah tua di hadapanku. Rumah itu adalah sebuah bangunan berarsitektur Belanda, dengan pilar-pilar kokoh yang menopang teras depan dan jendela-jendela tinggi yang seakan-akan menyimpan ribuan rahasia di baliknya. Warna catnya yang memudar, perpaduan antara putih gading dan hijau lumut, menambah kesan kuno yang menusuk. Ini adalah rumah yang akan menjadi penjara baruku. Sebuah penjara yang tak berjeruji, namun dibangun dari harapan orang tuaku yang rapuh. Mereka percaya, di kota kecil Tegal ini, aku akan "sembuh."

Kata "sembuh" itu seperti kutukan. Sebuah kata yang sering diucapkan, namun tak pernah benar-benar kupahami maknanya. Apa yang harus disembuhkan? Kegelisahan yang selalu menyertai, bayangan-bayangan yang menari di sudut mata, atau bisikan-bisikan yang hanya bisa kudengar? Entahlah. Yang kutahu, orang tuaku lelah. Mereka lelah melihatku menyendiri, lelah dengan laporan-laporan sekolah tentang diriku yang "tidak berinteraksi," dan lelah dengan keheningan yang mengisi rumah kami. Pindah ke sini, menurut mereka, adalah jalan keluar. Sebuah lembaran baru, di mana semua kenangan buruk bisa terkubur.

Udara pagi di Tegal terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Berbeda dengan Jakarta yang selalu terasa panas dan sumpek, di sini aku bisa menghirup udara yang lebih bersih, meskipun terasa hampa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu kencang. Aku benci perubahan. Aku benci harus meninggalkan kamarku, buku-bukuku, dan semua rutinitas yang selama ini memberiku rasa aman. Tapi aku tak punya pilihan.

"Adri, ayo masuk. Nanti sakit," suara lembut Ibu memecah lamunanku. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya memancarkan keteguhan yang membuatku merasa bersalah. Aku mengangguk, lalu melangkah maju. Langkah pertamaku di atas lantai kayu yang berderit terasa seperti langkah pertama menuju jurang. Di dalam, aku langsung disambut oleh kehangatan yang tak terduga.

Seorang pria paruh baya dengan senyum yang ramah menyambutku. Wajahnya dihiasi kerutan-kerutan halus yang dalam, tanda dari tawa dan kebahagiaan yang tak terhitung jumlahnya. Ia mengenakan kemeja batik yang sedikit usang dan celana kain. "Selamat datang, Nak. Bapak Rahmat," katanya sambil mengulurkan tangan. "Rumah Bapak di seberang sana. Jangan sungkan, ya, kalau butuh apa-apa. Anggap saja rumah sendiri."

Aku menjabat tangannya. Tangan Pak Rahmat terasa hangat dan kokoh. Ia memandangku dengan tatapan yang tulus, seolah-olah ia bisa melihat kegelisahan di mataku, tetapi memilih untuk tidak menghakiminya. Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa kaku dan asing di wajahku. Ibu dan Bapak terlihat lega melihat interaksi itu. Mereka tahu betapa sulitnya bagiku untuk bersosialisasi.

Setelah berbasa-basi, Pak Rahmat pamit undur diri. Ibu mengantarku ke sebuah kamar di lantai dua. "Ini kamarmu, Adri. Jendelanya menghadap ke taman belakang. Ada pohon mangga besar, kamu pasti suka," katanya, berusaha menghibur. Aku mengangguk. Kamar itu terasa luas dan kosong. Dindingnya berwarna krem, dan ada sebuah ranjang kayu tua dengan selimut tebal. Di sudut ruangan, ada meja belajar yang menghadap jendela. Aku berjalan ke sana, mengamati pohon mangga yang menjulang tinggi, dengan dahan-dahan yang meliuk-liuk seperti tangan-tangan raksasa.

Sore harinya, aku mulai membereskan barang-barangku. Aku ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Novel
Kaktus
fifin yuliana
Cerpen
Gua Aspas dan Tiga Bersaudara
Rifin Raditya
Novel
Serangkai Bunga Mei Hwa
Eva Cristine Ronauli
Novel
Titisan batarakara
herul arifin
Cerpen
MANTRA LUDAH
Hans Wysiwyg
Cerpen
Zoon Politicon
Teguh Santoso
Novel
Gold
PBC Mystery of Library
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Batu Batu Lapar Rabindranath Tagore ; penerjemah : ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Bronze
Tuah Si Denok
Omius
Novel
City of Wave
After Future
Cerpen
Bronze
Terlambat
Muhamad Irfan
Flash
Demon Hunter
Via S Kim
Cerpen
Bronze
ZONA HITAM
andri hasanuddin
Novel
[true-story] Misteri Telaga Pelangi
Firdaus
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suara Dari Frekuensi Mati
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kamera Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bus Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Melodi Desiran Ombak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Sudut Mata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Dokter
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sahabat Backpacker Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kata Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Streamer Yang Tragis
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pak Suryo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pintu Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
19:00
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Putih
Christian Shonda Benyamin