Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Aku
0
Suka
3,249
Dibaca

Aku berdiri di ambang pintu, pandanganku terhalang oleh embun pagi yang tebal, membingkai siluet rumah tua di hadapanku. Rumah itu adalah sebuah bangunan berarsitektur Belanda, dengan pilar-pilar kokoh yang menopang teras depan dan jendela-jendela tinggi yang seakan-akan menyimpan ribuan rahasia di baliknya. Warna catnya yang memudar, perpaduan antara putih gading dan hijau lumut, menambah kesan kuno yang menusuk. Ini adalah rumah yang akan menjadi penjara baruku. Sebuah penjara yang tak berjeruji, namun dibangun dari harapan orang tuaku yang rapuh. Mereka percaya, di kota kecil Tegal ini, aku akan "sembuh."

Kata "sembuh" itu seperti kutukan. Sebuah kata yang sering diucapkan, namun tak pernah benar-benar kupahami maknanya. Apa yang harus disembuhkan? Kegelisahan yang selalu menyertai, bayangan-bayangan yang menari di sudut mata, atau bisikan-bisikan yang hanya bisa kudengar? Entahlah. Yang kutahu, orang tuaku lelah. Mereka lelah melihatku menyendiri, lelah dengan laporan-laporan sekolah tentang diriku yang "tidak berinteraksi," dan lelah dengan keheningan yang mengisi rumah kami. Pindah ke sini, menurut mereka, adalah jalan keluar. Sebuah lembaran baru, di mana semua kenangan buruk bisa terkubur.

Udara pagi di Tegal terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Berbeda dengan Jakarta yang selalu terasa panas dan sumpek, di sini aku bisa menghirup udara yang lebih bersih, meskipun terasa hampa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu kencang. Aku benci perubahan. Aku benci harus meninggalkan kamarku, buku-bukuku, dan semua rutinitas yang selama ini memberiku rasa aman. Tapi aku tak punya pilihan.

"Adri, ayo masuk. Nanti sakit," suara lembut Ibu memecah lamunanku. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya memancarkan keteguhan yang membuatku merasa bersalah. Aku mengangguk, lalu melangkah maju. Langkah pertamaku di atas lantai kayu yang berderit terasa seperti langkah pertama menuju jurang. Di dalam, aku langsung disambut oleh kehangatan yang tak terduga.

Seorang pria paruh baya dengan senyum yang ramah menyambutku. Wajahnya dihiasi kerutan-kerutan halus yang dalam, tanda dari tawa dan kebahagiaan yang tak terhitung jumlahnya. Ia mengenakan kemeja batik yang sedikit usang dan celana kain. "Selamat datang, Nak. Bapak Rahmat," katanya sambil mengulurkan tangan. "Rumah Bapak di seberang sana. Jangan sungkan, ya, kalau butuh apa-apa. Anggap saja rumah sendiri."

Aku menjabat tangannya. Tangan Pak Rahmat terasa hangat dan kokoh. Ia memandangku dengan tatapan yang tulus, seolah-olah ia bisa melihat kegelisahan di mataku, tetapi memilih untuk tidak menghakiminya. Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa kaku dan asing di wajahku. Ibu dan Bapak terlihat lega melihat interaksi itu. Mereka tahu betapa sulitnya bagiku untuk bersosialisasi.

Setelah berbasa-basi, Pak Rahmat pamit undur diri. Ibu mengantarku ke sebuah kamar di lantai dua. "Ini kamarmu, Adri. Jendelanya menghadap ke taman belakang. Ada pohon mangga besar, kamu pasti suka," katanya, berusaha menghibur. Aku mengangguk. Kamar itu terasa luas dan kosong. Dindingnya berwarna krem, dan ada sebuah ranjang kayu tua dengan selimut tebal. Di sudut ruangan, ada meja belajar yang menghadap jendela. Aku berjalan ke sana, mengamati pohon mangga yang menjulang tinggi, dengan dahan-dahan yang meliuk-liuk seperti tangan-tangan raksasa.

Sore harinya, aku mulai membereskan barang-barangku. Aku ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Novel
The Game After Married
Mustofa P
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
LOG OUT
Keita Puspa
Flash
Pesan
Ujang Nurjaman
Flash
Pesawat tanpa pilot
Mahmud
Flash
Tanpa Jejak
Ika nurpitasari
Novel
Gold
Bird Box
Noura Publishing
Cerpen
Bronze
Detektif Arman Dan Dendam Sang Arwah
Bramanditya
Novel
Gold
Sherlock Holmes: Locked Rooms
Mizan Publishing
Flash
Terperangkap di Masa Lalu
Ika nurpitasari
Skrip Film
Penghuni Di Balik Tembok
Naomi Saddhadhika
Novel
99
Dianikramer
Cerpen
Last Saturday
Elkanara K.
Cerpen
Bronze
Sekali Peristiwa di Jembatan Owl Creek
Ahmad Muhaimin
Flash
Bronze
SEHIDUP, SEMATI
Ri(n)Jani
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Cermin Kedua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kematian Di Tanah Rawa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terjebak Dunia Arwah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Merapi Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Persimpangan Mimpi
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tak Ada Percaya Pada Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Radio Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dari Aku Untukku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kultus Sebuah Lagu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rumah Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jejak Pulang Yang Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Arga
Christian Shonda Benyamin