Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Aku
0
Suka
5,668
Dibaca

Aku berdiri di ambang pintu, pandanganku terhalang oleh embun pagi yang tebal, membingkai siluet rumah tua di hadapanku. Rumah itu adalah sebuah bangunan berarsitektur Belanda, dengan pilar-pilar kokoh yang menopang teras depan dan jendela-jendela tinggi yang seakan-akan menyimpan ribuan rahasia di baliknya. Warna catnya yang memudar, perpaduan antara putih gading dan hijau lumut, menambah kesan kuno yang menusuk. Ini adalah rumah yang akan menjadi penjara baruku. Sebuah penjara yang tak berjeruji, namun dibangun dari harapan orang tuaku yang rapuh. Mereka percaya, di kota kecil Tegal ini, aku akan "sembuh."

Kata "sembuh" itu seperti kutukan. Sebuah kata yang sering diucapkan, namun tak pernah benar-benar kupahami maknanya. Apa yang harus disembuhkan? Kegelisahan yang selalu menyertai, bayangan-bayangan yang menari di sudut mata, atau bisikan-bisikan yang hanya bisa kudengar? Entahlah. Yang kutahu, orang tuaku lelah. Mereka lelah melihatku menyendiri, lelah dengan laporan-laporan sekolah tentang diriku yang "tidak berinteraksi," dan lelah dengan keheningan yang mengisi rumah kami. Pindah ke sini, menurut mereka, adalah jalan keluar. Sebuah lembaran baru, di mana semua kenangan buruk bisa terkubur.

Udara pagi di Tegal terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Berbeda dengan Jakarta yang selalu terasa panas dan sumpek, di sini aku bisa menghirup udara yang lebih bersih, meskipun terasa hampa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu kencang. Aku benci perubahan. Aku benci harus meninggalkan kamarku, buku-bukuku, dan semua rutinitas yang selama ini memberiku rasa aman. Tapi aku tak punya pilihan.

"Adri, ayo masuk. Nanti sakit," suara lembut Ibu memecah lamunanku. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya memancarkan keteguhan yang membuatku merasa bersalah. Aku mengangguk, lalu melangkah maju. Langkah pertamaku di atas lantai kayu yang berderit terasa seperti langkah pertama menuju jurang. Di dalam, aku langsung disambut oleh kehangatan yang tak terduga.

Seorang pria paruh baya dengan senyum yang ramah menyambutku. Wajahnya dihiasi kerutan-kerutan halus yang dalam, tanda dari tawa dan kebahagiaan yang tak terhitung jumlahnya. Ia mengenakan kemeja batik yang sedikit usang dan celana kain. "Selamat datang, Nak. Bapak Rahmat," katanya sambil mengulurkan tangan. "Rumah Bapak di seberang sana. Jangan sungkan, ya, kalau butuh apa-apa. Anggap saja rumah sendiri."

Aku menjabat tangannya. Tangan Pak Rahmat terasa hangat dan kokoh. Ia memandangku dengan tatapan yang tulus, seolah-olah ia bisa melihat kegelisahan di mataku, tetapi memilih untuk tidak menghakiminya. Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa kaku dan asing di wajahku. Ibu dan Bapak terlihat lega melihat interaksi itu. Mereka tahu betapa sulitnya bagiku untuk bersosialisasi.

Setelah berbasa-basi, Pak Rahmat pamit undur diri. Ibu mengantarku ke sebuah kamar di lantai dua. "Ini kamarmu, Adri. Jendelanya menghadap ke taman belakang. Ada pohon mangga besar, kamu pasti suka," katanya, berusaha menghibur. Aku mengangguk. Kamar itu terasa luas dan kosong. Dindingnya berwarna krem, dan ada sebuah ranjang kayu tua dengan selimut tebal. Di sudut ruangan, ada meja belajar yang menghadap jendela. Aku berjalan ke sana, mengamati pohon mangga yang menjulang tinggi, dengan dahan-dahan yang meliuk-liuk seperti tangan-tangan raksasa.

Sore harinya, aku mulai membereskan barang-barangku. Aku ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Novel
DERMAGA HIKARI
Reynaldo Manuel Tampubolon
Novel
Luka yang tersembunyi
M.varian farhan
Novel
GHAMABETA
Titon Adrinanto
Novel
Allegory
Lifya Q. Raida
Flash
Bebek bertelur emas
Mahmud
Cerpen
The Last Quarantine
Remith G
Novel
Hikayat Pesta Babi
Harly B. Poetra
Cerpen
Bronze
Agnosia
Godok
Cerpen
Pesan dari Pembunuh
Seto Permada
Novel
Mathematics, Law??? Forensic
Tera
Skrip Film
Manuscript Hunters
Wirdatun Nafi'ah
Flash
Bronze
Someone in the corner
Elz
Novel
Superpower - Your Life Is The Price
Alexander Blue
Cerpen
The Sketch
Ida Ayu Saraswati
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Ingin Menyakitiku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bunker Jepang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Yamero
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pelaku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jurnal Kosong
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ouija
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Luka Di Kota Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terkutuk
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rantai Pemicu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Hidup Di Dunia Lain
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Penunggang Kuda Hitam
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Streamer Yang Tragis
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jumat Akhir Bulan Juli
Christian Shonda Benyamin