Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di dalam kalender Masehi, ada sebuah zona waktu yang secara ilmiah belum diakui oleh NASA, namun secara spiritual sangat ditakuti oleh seluruh pekerja kantoran berpenghasilan UMR di Indonesia. Zona waktu itu bernama: Tanggal Tua.
Hari ini adalah tanggal 24. Gajian turun tanggal 28. Jarak empat hari ini terasa seperti berjalan melintasi Gurun Sahara tanpa alas kaki sambil memikul galon air isi ulang. Aku, Devi, wanita karier yang biasanya memesan Caramel Macchiato seharga lima puluh ribu dengan santainya di awal bulan, kini sedang duduk bersila di atas karpet kosan, menghitung sisa-sisa recehan yang bisa kutemukan sejauh mata memandang.
Terkumpul : Rp 34.500,-
Tiga puluh empat ribu lima ratus perak. Uang segitu di Jakarta Selatan buat apaan?! Buat napas aja bayar parkir! Kalau aku belikan nasi padang lauk rendang, uangku sisa sepuluh ribu. Berarti besok sampai lusa aku harus bertahan hidup dengan berfotosintesis di balkon kosan seperti tanaman hias kaktus.
Perutku berbunyi nyaring. Kruuucuuuk... ngiiikkk...
Cacing-cacing di lambungku sedang melakukan demonstrasi menuntut hak asasi pencernaan. Aku harus berhemat, tapi egoku sebagai wanita metropolitan menolak untuk hanya makan mi instan rebus pakai telur berhari-hari. Aku butuh kemewahan. Aku butuh fine dining. Tapi aku cuma punya 34 ribu.
Dalam keputusasaan yang absolut, aku membuka aplikasi dewa penyelamat umat manusia: TikTok. Jari telunjukku mengetikkan kata kunci ajaib: "Resep Makanan Mewah Anak Kos Modal 15 Ribu".
Algoritma TikTok langsung bekerja secepat kilat. Layarku dipenuhi oleh video-video dari para content creator berwajah glowing yang dapurnya estetik banget, diterangi lampu warm white, dan diiringi musik lofi yang menenangkan jiwa.
Aku mengklik satu video dengan views tertinggi. Video dimulai dengan suara perempuan yang kelewat ceria dan mendayu-dayu.
"Hai bestieee! Tanggal tua pengen makan omakase restoran bintang lima tapi saldo M-Banking menangis? Jangan sedih! Hari ini kita bikin Salmon Mentai Truffle Lava Cheese Rice Cooker! Modal cuma 15 ribu aja lho, bestie! Gampang banget, anak kucing juga bisa bikin!"
Aku melotot. Salmon? Truffle? Cheese? Cuma 15 ribu?! Ini penemuan abad ini! Kalau ini beneran bisa, aku bakal bikin patung mbak-mbak TikTok ini di depan kosanku!
Aku menyimak videonya dengan saksama. Mata melotot, otak mencatat. Di video itu, si Mbak TikTok menghancurkan tahu putih, mencampurnya dengan saus tiram dan pewarna makanan oranye agar terlihat seperti daging salmon cincang. Lalu dia memasukkan beras ke dalam rice cooker, tapi airnya diganti dengan susu full cream kemasan seribuan, ditambah keju cheddar parut. Terakhir, dia membuat saus mentai dari campuran mayones sachet dan saus sambal, ditaburkan di atas nasi, lalu di-torch (dibakar pakai semburan api) sampai kecokelatan. Tampilannya? Gila. Lumer, meleleh, estetik abis. Gordon Ramsay pasti sujud syukur lihat ini.
"Tuh kan bestie, lumer banget kejunya! Rasanya ah mantap! Perpaduan creamy, gurih, dan umami-nya pecah di mulut! Selamat mencoba ya bestieee!"
Video berdurasi 60 detik itu sukses mencuci otakku. "Gampang banget ini mah!" gumamku dengan tingkat kesombongan melampaui Firaun. "Tinggal cemplung-cemplung doang ke rice cooker. Gue kan sarjana! Masa naklukin penanak nasi aja gak bisa! Sisa uang gue bisa buat beli boba besok!"
Tanpa pikir panjang, aku menyambar dompetku, memakai sandal jepit Swallow yang warnanya beda sebelah, dan berlari menuju minimarket terdekat.
Minimarket di depan kosanku tidak seestetik di video TikTok. Susunan barangnya berantakan, dan AC-nya lebih banyak meniupkan debu daripada angin dingin.
Aku berjalan menyusuri lorong dengan gagah berani layaknya peserta MasterChef yang sedang belanja di pantry. "Oke, kita butuh tahu putih untuk salmon palsunya," kataku dalam hati. Aku menuju kulkas pendingin. Tahu putih habis. Yang ada cuma sosis ayam curah kemasan toples yang warnanya merah neon menyala, persis warna lipstik tante-tante girang. "Gak apa-apa! Sosis juga protein! Warnanya merah, mirip-mirip salmon lah!"
Aku memasukkan tiga batang sosis itu ke keranjang. Lanjut ke lorong susu. Susu full cream ukuran literan harganya 20 ribu. Gak cukup. Aku akhirnya mengambil dua kotak susu cair rasa Vanilla ukuran anak TK yang harganya tiga ribuan. "Keju mozzarella? Wah mahal gila, 35 ribu. Coret! Kita ganti pake keju cheddar balok merek antah berantah yang harganya enam ribu. Lumer gak lumer urusan nanti, yang penting warnanya kuning!"
Aku mengumpulkan Mayones sachet, Saus Sambal sachet, dan selembar Nori (rumput laut kering) merek anak-anak bergambar kartun Pororo. Total belanjaan: Rp 14.500,-. Sisa saldoku: Rp 20.000,-. Aman sentosa.
Aku kembali ke kamar kos dengan senyum mengembang. Merasa seperti penemu rute perdagangan rempah-rempah di abad ke-16. "Malam ini, gue bakal fine dining di kosan!"
Kamar kosku berukuran 3x4 meter. Dapurnya menyatu dengan area tidur, hanya dipisahkan oleh rak sepatu. Peralatan masakku sangat primitif: Satu buah rice cooker (penanak nasi) merek Miyako hadiah doorprize tujuh belasan yang tombolnya harus diganjal pakai karet gelang biar mau 'Cook', dan sebuah wajan teflon mini yang lapisan anti-lengketnya sudah mengelupas parah mirip peta topografi pegunungan Himalaya.
Aku mulai beraksi. Langkah pertama: Mencuci beras. Di video, berasnya cuma satu cup. Tapi aku kelaparan. Aku memasukkan TIGA CUP beras. Aku mencucinya di wastafel kamar mandi. Berapa kali harus dicuci? Entahlah, pokoknya sampai airnya gak butek.
Langkah kedua: Menuangkan susu. Aku menuangkan dua kotak susu anak-anak rasa Vanilla itu ke dalam beras. Tunggu. Susunya kurang. Beras tiga cup butuh air yang banyak. Karena aku pelit, aku menambahkan air keran ke dalam campuran susu itu.
LOGIKA DEVI: Susu + Air Keran = Susu Cair. Sama aja kan?
Aku memarut keju balok enam ribuan itu. Teksturnya keras banget kayak lilin mainan anak-anak. Aku memaksanya masuk ke dalam parutan sampai tanganku nyaris ikut terparut. Gumpalan keju aneh itu kumasukkan ke atas beras bersusu tadi. Terakhir, sosis ayam merah neon yang sudah kupotong cincang asal-asalan, kulempar ke atasnya.
Tampilannya di dalam panci rice cooker? Mengerikan. Air susu encer berwarna putih keruh, dengan serpihan keju yang mengambang seperti ketombe raksasa, dan potongan sosis merah neon yang terlihat seperti daging alien.
"Ah, tenang aja. Trust the process! Nanti kalau udah mateng pasti menyatu dengan indah kayak di TikTok!" aku mensugesti diriku sendiri dengan delusi tingkat akut.
Aku memasukkan panci itu, menutup rice cooker, dan menekan tombol ke bawah. Cetrek. Lampu 'Cook' menyala merah. "Tunggu 30 menit. Selesai."
Aku duduk di atas kasur, memainkan handphone menunggu keajaiban terjadi. Sepuluh menit pertama, aman. Lima belas menit, mulai tercium aroma aneh. Bukan aroma gurih keju dan susu, melainkan aroma manis yang memuakkan (karena aku pakai susu rasa vanilla yang manis) bercampur dengan bau amis sosis murahan. Perpaduan bau kue bolu bantat dan pabrik sosis.
Menit ke-20. Bencana dimulai. Dari lubang ventilasi kecil di tutup rice cooker, keluar gelembung-gelembung putih. Blub... blub... blub... Awalnya kecil. Tapi kemudian, gelembung itu mulai membesar dan memproduksi busa secara masif.
BLUBUBUBBUB! CSSSSSHHHH! Busa putih kental, hasil dari susu yang mendidih dan meluap (karena kapasitas panci kepenuhan beras tiga cup), mulai MUNCROT keluar dari lubang ventilasi! Busa mendidih itu meluber menuruni dinding luar rice cooker, mengenai elemen pemanas di bagian bawah.
PSHHHHTTT!!! Suara cairan mendidih menghantam besi panas terdengar nyaring. Asap putih tebal berbau susu gosong seketika mengepul memenuhi kamar kosanku!
"KYAAAAAA!!!! MELEDAAAKKK!!!" teriakku histeris. Aku melompat dari kasur, panik luar biasa. Asap tebal membuat mataku perih. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kalau kucabut colokannya, nasinya mentah! Kalau kubiarkan, kosan ini bisa kebakaran dan aku akan masuk berita kriminal di TV One!
Otakku nge-blank. Dengan refleks bar-bar, aku mengambil buku buku tebal (Kamus Akuntansi) dan mulai mengipasi rice cooker itu dari jauh layaknya orang mengipasi sate madura. "JANGAN MELEDAK PLIS JANGAN MELEDAK! GUE BELUM NIKAH!"
Busa susu itu terus meluber, menciptakan kerak hitam lengket di meja kecilku. Aku akhirnya menyerah dan nekat menekan tombolnya ke atas secara paksa menjadi 'Warm'. Gumpalan asap perlahan mereda. Bau gosongnya menempel di gorden, sprei, dan baju kerjaku. Kamar kosku baunya seperti pabrik susu meledak.
Aku batuk-batuk, mendekati rice cooker dengan ketakutan. Perlahan, aku membuka tutupnya. Ceklek. Uap panas menyembur.
Aku mengintip ke dalam.
YA ALLAH. Apa ini? Nasinya belum sepenuhnya matang (masih bertekstur kletis-kletis keras di tengah), tapi bagian bawahnya SUDAH GOSONG MENGHITAM karena susunya mengendap jadi kerak karamel. Di bagian atas, kejunya tidak lumer! Keju murahan itu justru menggumpal keras seperti karet penghapus, berwarna kekuningan pucat. Dan sosisnya? Sosisnya membengkak dua kali lipat, mengembang seperti jempol kaki manusia.
TRUST THE PROCESS MATAMU PICEEEKKK!!!! batinku memaki-maki Mbak TikTok dengan kata-kata kebun binatang.
INI BUKAN OMAKASE! INI LIMBAH RADIOAKTIF CHERNOBYL!!
Aku mengambil sendok, mengaduk gumpalan laknat itu. Teksturnya lengket, basah (karena air keran tadi), dan keras di saat bersamaan. Sebuah paradoks fisika yang memuakkan.
Tapi egoku masih terlalu besar untuk menyerah. "Enggak! Ini belum selesai! Kunci dari makanan ini adalah SAUS MENTAI! Kalau sausnya enak, bentuknya kayak aspal basah pun bakal kerasa enak!"
Sambil menunggu nasinya 'tanak' (berharap nasinya melunak secara ajaib walau mustahil), aku beralih ke wajan teflon mini. Di video TikTok, nasi mentai itu diselimuti oleh Tornado Omelet—telur dadar tipis yang diputar menggunakan sumpit hingga membentuk pusaran badai yang estetik.
"Tornado Omelet? Gampang! Cuma butuh sumpit kayu sama pergelangan tangan yang lentur!" Aku memecahkan dua butir telur ke dalam mangkuk, mengocoknya dengan sekuat tenaga sampai berbusa. Aku menyalakan kompor portable kecilku.
Kelemahan terbesarku adalah: Teflonku sudah tidak anti-lengket. Lapisan hitamnya sudah terkelupas sana-sini, memperlihatkan warna perak aluminium di bawahnya. Aku menuangkan minyak goreng agak banyak agar telurnya tidak menempel. Menunggu minyaknya panas sampai berasap (kesalahan fatal orang awam).
Lalu aku menuangkan telur kocok itu. CSHRRRRRRRR!!! Minyak panas meledak-ledak. Telur itu langsung matang dan mengeras di bagian pinggir dalam waktu dua detik. "Oke, sekarang diputar!" Aku menusukkan sepasang sumpit kayu mi ayam ke tengah telur, lalu mencoba memutarnya sesuai instruksi video.
Tapi karena teflonku laknatullah... telurnya MENEMPEL KUAT di dasar wajan! Aku memutar sumpitnya. KREEK. Bukannya membentuk pusaran tornado yang indah, telurnya malah sobek! Hancur! Sumpitku menembus telur dan menggores dasar wajan berbunyi Sreeettt.
"Ayo dong putar! Putaaarrr!" teriakku emosi, memutar sumpit itu dengan tenaga kuli bangunan. Hasilnya? Telur itu hancur berantakan menjadi orak-arik gosong yang bentuknya mirip serpihan keset kaki yang dicacah. Warnanya cokelat kehitaman, teksturnya krispi karena digoreng di minyak yang kelewat panas.
TORNADO OMELET DARI MANANYA?! INI MAH PUTING BELIUNG SAMPAH MASYARAKAT!! Aku membanting sumpit kayu itu ke dinding. Napasku memburu. "Bodo amat! Tinggal taro di atas nasi, sausin mayones, kelar!"
Aku meraup "nasi susu sosis gosong" dari rice cooker ke dalam piring. Warnanya abu-abu pucat. Lalu aku menutupi aib itu dengan telur dadar orak-arik yang gagal tadi. Estetika: -10/10.
Tahap terakhir. Puncak mahakarya. Saus Mentai. Aku mencampurkan sisa mayones dengan saus sambal kemasan. Warnanya jadi merah muda pucat. Lumayan menjanjikan. Aku menuangkan saus itu di atas piringku dengan gerakan melingkar ala koki profesional.
Sekarang, efek pembakarannya (torched effect). Saus mentai harus dibakar sedikit atasnya supaya ada aroma smokey (asap) dan karamelisasinya. Di video, si TikToker menggunakan Blowtorch gas yang harganya seratus ribuan. Aku? Aku anak kos tanggal tua. Aku tidak punya alat tukang las itu.
Tapi aku tidak pernah kehabisan akal (bodoh). Aku teringat sebuah video hack lain: "Kalau gak punya blowtorch, panasin punggung sendok logam pake lilin/korek gas, terus tempelin punggung sendok panas itu ke saus mayonesnya! Efek bakarnya dapet banget!"
"Jenius!" pekikku. Aku mengambil sendok makan stainless steel andalanku. Lalu aku mencari korek api. Aku menemukan korek gas Tokai warna ijo neon milik Mas Hanif yang gak sengaja kebawa ke tasku minggu lalu.
Aku menyalakan korek Tokai itu. Apinya menyala kecil. Aku menaruh punggung sendok tepat di atas api biru korek itu. Membakarnya selama satu menit. Besi sendok itu mulai menghitam terkena jelaga. Panas merambat ke gagang sendok yang kupegang. "Aww! Panas panas panas!" ringisku, memindahkan peganganku ke ujung sendok.
Setelah dirasa cukup panas, aku segera menempelkan punggung sendok hitam itu ke atas saus mayones di piringku. Cesss... Bunyi desisan pelan terdengar. "Wah! Berhasil! Mantap!" Aku mengangkat sendoknya.
Bencana pamungkas terjadi. Mayones itu berbahan dasar minyak dan telur. Ketika terkena besi panas bersuhu ekstrem, minyak di dalam mayones itu PECAH. Mayonesku yang tadinya kental dan lembut, mendadak mencair menjadi genangan minyak kuning bening yang sangat menjijikkan! Bukan efek karamelisasi yang kudapat, tapi genangan lemak jahat!
Parahnya lagi, jelaga hitam pekat (arang) dari punggung sendok yang kubakar tadi MENEMPEL sempurna di atas nasi mentaiku. Piringku kini terlihat seperti baru saja dijatuhi sisa arang pembakaran sate kambing.
Dan malapetaka tidak berhenti di situ. Karena aku panik melihat sausnya mencair jadi minyak, aku refleks menyentakkan tanganku. Gagang sendok yang panas itu mengenai jariku. "AAA! SAKIT!" Aku menjatuhkan sendok itu. Dan korek Tokai yang masih menyala di tangan kiriku ikut terlepas dari genggamanku!
Korek gas itu jatuh tepat ke atas gundukan telur dan saus berminyak di piringku. Untungnya, apinya mati. Tapi karena korek itu mendarat di atas wajan mini yang masih panas bekas goreng telur tadi... Bzzzttt... PPOPPP!!! Plastik korek Tokai itu meleleh karena panas wajan! Gas cair di dalamnya menguap, meledak kecil seperti petasan banting, menciptakan api kilat yang membakar ujung tisu dapur di dekat kompor!
"KEBAKARAANNNNN!!!!" teriakku dengan frekuensi suara lumba-lumba. Aku menyambar gelas es tehku, mengguyurnya ke atas tisu yang terbakar itu. Splash! Apinya padam. Asap abu-abu berbau plastik gosong mengepul memenuhi dapur sempitku.
Aku berdiri mematung. Dadaku naik turun dengan cepat. Keringat membasahi seluruh wajah dan ketiakku. Tangan kiriku merah terkena besi panas. Pakaianku berbau seperti kombinasi susu basi, gas metana, dan plastik meleleh.
Aku menatap pelan ke arah "Mahakarya Omakase 15 Ribu" di atas mejaku. Piring itu... menjijikkan adalah kata yang terlalu lembut untuk mendeskripsikannya. Nasi abu-abu mentah dengan kerak gosong susu vanilla yang lengket, sosis merah neon yang membengkak melepuh, keju karet yang memucat, dibungkus oleh telur hancur berwarna hitam, digenangi lautan minyak bening, ditaburi arang jelaga hitam, dan dihiasi oleh plastik korek Tokai yang setengah meleleh. Baunya? Bau keputusasaan murni. Limbah nuklir mungkin punya nilai gizi lebih baik daripada makanan ini.
Tetapi, ingat. Tanggal Tua. Aku kelaparan. Aku sudah berjuang berdarah-darah. "Gak apa-apa. Bentuk boleh jelek, siapa tahu rasanya ajaib," aku membohongi diriku sendiri dengan tingkat delusi melampaui pasien rumah sakit jiwa.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil sendok bersih. Aku menyendok sedikit nasi, telur, dan sosis mutan itu. Kutahan napasku. Aku memasukkannya ke dalam mulutku.
Satu detik. Dua detik kunyahan.
Otakku langsung mengirimkan sinyal bahaya (SOS) ke seluruh sistem saraf pusat. Rasa manis susu vanilla berpadu dengan asinnya keju murahan yang bantat. Tekstur nasinya di luar lembek tapi di dalam masih berupa biji beras keras (al dente dari neraka). Aroma sosis ayam kadaluarsa meledak di lidahku, disusul oleh rasa pahit arang jelaga dan pedasnya saus sambal yang sudah berubah menjadi minyak panas.
Perpaduan rasa ini menghasilkan sebuah sensasi yang membuat rohku ingin mencabut dirinya sendiri dari ragaku.
"HOEEEKKKK!!!!" Aku langsung memuntahkan seluruh isi mulutku ke dalam wastafel piring kotor. Aku menyalakan keran, berkumur-kumur seperti orang gila, meminum air keran mentah-mentah untuk menghilangkan rasa trauma di papila lidahku. "Jijik! Jijik banget Ya Allah! Ini makanan buat nyiksa tahanan perang apa gimana sih?!" ratapku sambil menangis sesenggukan meratapi nasib.
Uang 15 ribuku melayang. Berasku terbuang sia-sia. Susuku jadi kerak. Telurku hangus. Teflonku makin baret. Jariku melepuh. Kamarku bau plastik gosong. Dan perutku masih bernyanyi keroncongan dengan nada minor.
Aku menatap layar handphone-ku yang tergeletak di kasur. Video TikTok itu mengulang sendiri. "...Perpaduan creamy, gurih, dan umami-nya pecah di mulut! Selamat mencoba ya bestieee!"
"BESTIE PALA KAU!!!!" Aku mengaum marah, melempar gulungan tisu ke arah HP itu.
Setengah jam kemudian. Pukul sembilan malam. Aku sudah mandi, membersihkan sisa jelaga di wajahku, dan mengganti baju berbau plastik gosongku dengan kaos oblong kucel.
Aku berjalan menyeret kaki menuju ujung gang kosan. Di sana, di bawah remangnya lampu neon jalanan, berdiri sebuah bangunan sederhana berdinding hijau yang selalu menjadi pelukan hangat bagi jiwa-jiwa melarat sepertiku: Warteg Kharisma.
Di etalase kacanya, tidak ada tulisan Truffle, Wagyu, atau Omakase. Yang ada hanyalah deretan baskom berisi keajaiban dunia nyata.
"Eh, Neng Devi. Tumben malem amat makannya," sapa Pak Bahar, pemilik warteg yang memakai peci haji dan handuk kecil di lehernya. Senyumnya ramah, mengalahkan senyum mbak-mbak TikTok tadi.
"Iya, Pak. Habis kena musibah di dapur," jawabku lemas. "Pesen biasa ya, Pak. Nasi rames."
"Nasi setengah, kuah sayur nangka dibanyakin, lauknya orek tempe, usus bumbu kuning, sama telur dadar krispi, kan?" Pak Bahar menghafal pesananku bak hafalan ayat suci.
"Iya, Pak. Tambah kerupuk putihnya dua ya." Sisa uang 20 ribu di dompetku cukup untuk menebus dosa penderitaanku hari ini.
Sepiring nasi hangat mengepul dihidangkan di depanku. Telur dadarnya lebar, berminyak wajar, dan renyah. Kuah nangkanya meresap sempurna ke dalam butiran nasi putih yang dimasak matang 100%, bukan al dente keras. Orek tempe manis pedasnya berkilau di bawah lampu.
Aku menyendok suapan pertama. Memasukkannya ke mulut. Kresss... Nyam...
Ledakan rasa gurih kaldu MSG, manis kecap bango, pedas cabai rawit merah, dan kehangatan nasi pulen menyebar di seluruh rongga mulutku. Tidak ada rasa plastik gosong. Tidak ada keju bantat. Hanya ada kebahagiaan murni, sederhana, dan membumi.
Air mata bahagia benar-benar menetes dari sudut mataku. Jatuh menetes ke meja kayu warteg yang lengket.
"Enak banget, Ya Allah..." isakku pelan sambil terus mengunyah dengan kecepatan maksimal. "Ini baru makanan manusia. Persetan dengan estetik TikTok. Persetan dengan mentai abal-abal."
Di warteg malam itu, di tengah kesunyian Jakarta Selatan, aku belajar satu pelajaran filosofis yang sangat berharga. Pelajaran yang akan kuingat seumur hidupku sebagai budak korporat: Ketahuilah tempatmu di rantai makanan ini. Jika takdirmu adalah nasi rames warteg dan orek tempe, janganlah engkau dengan sombongnya memaksakan diri memasak Salmon Truffle Mentai menggunakan penanak nasi hadiah lomba 17 Agustus.
Aku mengunyah kerupuk putih dengan suara keras. KRIUK! "Pak Bahar! Es teh manisnya satu ya! Yang manisnya kayak janji manis HRD pas interview!" teriakku, melepaskan segala beban stres di pundakku.
Malam itu, perutku kenyang, dompetku menyisakan koin lima ratusan, tapi setidaknya, aku bertahan hidup melewati satu malam lagi di kejamnya ibu kota. Dan HP-ku? Aku membuka video yang kutonton tadi dan me-reportnya dengan keterangan 'penipuan'.