Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
🎵 Angin malam berhembus, lirih dingin menyapa. Coba merasakan, semilir kehadiranmu~🎵 —Nyawa Hidupku-Ada Band
Aku duduk di selasar rumah kayu ini dengan mata terpejam. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Dinginnya menembus kain kebaya usang yang kukenakan, menyapa kulitku yang mulai rapuh. Di dalam kegelapan di balik kelopak mataku, aku mencoba mengosongkan pikiran. Aku hanya ingin fokus pada satu hal: merasakan kembali semilir kehadiranmu, Mas.
Seringkali, dalam hening yang paling sunyi, aku merasa seolah kamu sedang berdiri tepat di belakangku. Menaruh kedua tanganmu yang hangat di bahuku, lalu berbisik jenaka untuk mengusir sepi yang menggelayut. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam mengisi paru-paruku, berharap ada setitik aroma tubuhmu yang tertinggal di udara.
Perlahan aku membuka mata, menatap keriput di tangan.
Kulit tangan yang dahulu halus dan sering kau genggam, kini telah berubah. Garis-garis keriput melintang, bintik-bintik penuaan menghiasinya, dan tulang-tulang jemariku tampak begitu menonjol. Waktu telah berjalan begitu jauh, mengikis masa mudaku tanpa ampun. Tubuhku telah menua, rambutku telah memutih seluruhnya, namun anehnya, rasa rindu di dalam dada ini tidak pernah berkurang barang sedikit pun. Rasa ini tetap sama, sekokoh puluhan tahun lalu saat aku pertama kali melepasmu pergi.
Jari-jariku yang gemetar mengusap selembar kertas yang sudah sangat rapuh, kekuningan, dan lipatannya nyaris robek karena sudah dibuka-tutup selama puluhan tahun. Ini adalah surat terakhir yang di t...