Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Akar Tumbuh
1
Suka
7,000
Dibaca

═════════════════

AKAR TUMBUH

Kebun Lentera Talas

─────────────────

Kabut di kebun ini tidak pernah benar-benar putih. Ia selalu memiliki semburat abu-abu, seperti asap dari tungku yang enggan padam, atau keraguan yang menggantung di tenggorokan seorang anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat.

Jaganara (Nara), begitu ia biasa dipanggil berdiri di tepi kebun yang liar, sepatu karetnya nyaris tenggelam dalam lumpur sisa hujan semalam. Di hadapannya, tanaman talas menjalar ke mana-mana, daun-daunnya yang lebar seperti perisai yang rusak, beberapa di antaranya sudah menguning dan berlubang dimakan ulat. Di kejauhan, rumah kayu tua berdiri dengan cat yang mengelupas, seperti luka yang tidak pernah sembuh sepenuhnya.

Nara berusia enam belas tahun, tetapi pundaknya sudah terasa memikul beban yang tidak seharusnya ia pikul. Beban itu bukan berasal dari buku pelajaran atau tugas sekolah itu terlalu ringan. Beban itu berasal dari kesadaran bahwa sejak ayah dan ibunya memilih jalannya masing-masing di kota, ia adalah satu-satunya yang tersisa untuk menjaga "titipan" ini. Kebun ini adalah satu-satunya warisan yang tidak bisa mereka jual, satu-satunya tanah yang masih mengingat langkah kaki kakeknya, Murta Wijaya.

Ia melangkah masuk, menyusuri lorong yang hampir tertutup gulma. Tangannya meraba daun talas yang terkulai, dan untuk sesaat, ia merasakan kehangatan aneh di ujung jarinya seolah tanaman itu mengenalinya, seolah ia bukan orang asing di sini.

Di beranda rumah, kursi rotan tua masih ada. Kosong. Nara mendekatinya dan menghirup udara di sekitarnya. Ada sesuatu di udara bau samar yang tidak ia mengerti. Bau arang dan getah pohon, seperti sisa tinta yang mengering di atas kertas tua. Bau itu seolah menempel di kayu beranda, meskipun ayahnya sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki di sini.

Nara tidak tahu mengapa, tetapi bau itu membuat dadanya terasa lebih ringan. Ia duduk di kursi rotan itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.

Namun, kebun ini tidak akan merawat dirinya sendiri. Dan Nara tahu, di luar sana, ada tetangga yang sudah menunggu untuk melihatnya menyerah.


Pagi berikutnya, Nara sudah berada di kebun sebelum matahari benar-benar terbit. Ia mencabut gulma dengan tangan ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Harapan dari Sepiring Nasi
Saifoel Hakim
Cerpen
Alien
Cassandra Reina
Cerpen
Bronze
Delusi
Nisa Dewi Kartika
Cerpen
Bronze
Pardi
C. Gunharjo Leksono
Cerpen
KISAH DI BALIK HUJAN
Penulis N
Cerpen
Bronze
Asih
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Perayaan Paling Sunyi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kubawa ke Mandalika
Mochamad Rozikin
Cerpen
Sebelah
Yooni SRi
Cerpen
Apa Makan Malammu
Godok
Cerpen
Bronze
Mendadak Jadi Pelajar Sekolah Dasar
Nuel Lubis
Cerpen
Perhatikan Rani (Part 2)
Cassandra Reina
Cerpen
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Another You Want
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Novel
Birokrasisekai: LINTAS SAMUDRA & KONSORSIUM — Volume 2
Tourtaleslights
Novel
Keluarga Jamur
Tourtaleslights
Cerpen
Negri Sonooharu
Tourtaleslights
Novel
Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta
Tourtaleslights
Novel
Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan
Tourtaleslights
Novel
Pejabat Negeri Sonoharu
Tourtaleslights
Cerpen
Terra Valley Rise of The Golem Empire
Tourtaleslights
Flash
#3. Rasa Takdir dan Kebebasan
Tourtaleslights
Cerpen
SILOMBRA: Catatan dari Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Cerpen
AKARNUSA
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Airdrops Bingo
Tourtaleslights
Cerpen
Pilihan Nion
Tourtaleslights