Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Akar Tumbuh
1
Suka
7,469
Dibaca

═════════════════

AKAR TUMBUH

Kebun Lentera Talas

─────────────────

Kabut di kebun ini tidak pernah benar-benar putih. Ia selalu memiliki semburat abu-abu, seperti asap dari tungku yang enggan padam, atau keraguan yang menggantung di tenggorokan seorang anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat.

Jaganara (Nara), begitu ia biasa dipanggil berdiri di tepi kebun yang liar, sepatu karetnya nyaris tenggelam dalam lumpur sisa hujan semalam. Di hadapannya, tanaman talas menjalar ke mana-mana, daun-daunnya yang lebar seperti perisai yang rusak, beberapa di antaranya sudah menguning dan berlubang dimakan ulat. Di kejauhan, rumah kayu tua berdiri dengan cat yang mengelupas, seperti luka yang tidak pernah sembuh sepenuhnya.

Nara berusia enam belas tahun, tetapi pundaknya sudah terasa memikul beban yang tidak seharusnya ia pikul. Beban itu bukan berasal dari buku pelajaran atau tugas sekolah itu terlalu ringan. Beban itu berasal dari kesadaran bahwa sejak ayah dan ibunya memilih jalannya masing-masing di kota, ia adalah satu-satunya yang tersisa untuk menjaga "titipan" ini. Kebun ini adalah satu-satunya warisan yang tidak bisa mereka jual, satu-satunya tanah yang masih mengingat langkah kaki kakeknya, Murta Wijaya.

Ia melangkah masuk, menyusuri lorong yang hampir tertutup gulma. Tangannya meraba daun talas yang terkulai, dan untuk sesaat, ia merasakan kehangatan aneh di ujung jarinya seolah tanaman itu mengenalinya, seolah ia bukan orang asing di sini.

Di beranda rumah, kursi rotan tua masih ada. Kosong. Nara mendekatinya dan menghirup udara di sekitarnya. Ada sesuatu di udara bau samar yang tidak ia mengerti. Bau arang dan getah pohon, seperti sisa tinta yang mengering di atas kertas tua. Bau itu seolah menempel di kayu beranda, meskipun ayahnya sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki di sini.

Nara tidak tahu mengapa, tetapi bau itu membuat dadanya terasa lebih ringan. Ia duduk di kursi rotan itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.

Namun, kebun ini tidak akan merawat dirinya sendiri. Dan Nara tahu, di luar sana, ada tetangga yang sudah menunggu untuk melihatnya menyerah.


Pagi berikutnya, Nara sudah berada di kebun sebelum matahari benar-benar terbit. Ia mencabut gulma dengan tangan ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Gara-gara Uang Panaik
Kim Sabu
Cerpen
Bronze
Waktu
Titin Widyawati
Cerpen
Racau
Rafael Yanuar
Cerpen
Sepotong Kewarasan
Sabrina Yunio
Cerpen
Januari & Anggrek
lucyyy12
Cerpen
Bronze
Mirna
Wulan Dzifa
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
BOY BEHIND THE VEIL
glowedy
Cerpen
Pietist
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Bronze
Elysera Surga yang Terkurung
go han
Cerpen
Bronze
Pita Hitam
Imajinasiku
Cerpen
Bronze
Light at the End of the Tunnel
Rizky Yahya
Cerpen
Alamat yang Ditulis Ulang Hujan
Tresnaning Diah
Cerpen
Bronze
KE MANA SI MBAK?
Citra Rahayu Bening
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Cerpen
Pilihan Nion
Tourtaleslights
Novel
NUSANTARA MIRALOKA
Tourtaleslights
Flash
#2. Langit Berbintang dan Rasa Takdir
Tourtaleslights
Cerpen
Terra Valley Rise of The Golem Empire
Tourtaleslights
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Flash
KESUNYIAN YANG MEMEKAKKAN
Tourtaleslights
Flash
Jembatan Negeri Rasa
Tourtaleslights
Flash
NODA KACA RETAK
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta
Tourtaleslights
Novel
17 Tahun BUCIN
Tourtaleslights
Cerpen
KAMUS 50 ISTILAH INTI VOLUME I
Tourtaleslights
Cerpen
The Famtrip Flores
Tourtaleslights
Cerpen
SBDM-MCFP
Tourtaleslights
Flash
RACUN DATANG BERTAHAN
Tourtaleslights