Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Akar Tumbuh
1
Suka
7,204
Dibaca

═════════════════

AKAR TUMBUH

Kebun Lentera Talas

─────────────────

Kabut di kebun ini tidak pernah benar-benar putih. Ia selalu memiliki semburat abu-abu, seperti asap dari tungku yang enggan padam, atau keraguan yang menggantung di tenggorokan seorang anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat.

Jaganara (Nara), begitu ia biasa dipanggil berdiri di tepi kebun yang liar, sepatu karetnya nyaris tenggelam dalam lumpur sisa hujan semalam. Di hadapannya, tanaman talas menjalar ke mana-mana, daun-daunnya yang lebar seperti perisai yang rusak, beberapa di antaranya sudah menguning dan berlubang dimakan ulat. Di kejauhan, rumah kayu tua berdiri dengan cat yang mengelupas, seperti luka yang tidak pernah sembuh sepenuhnya.

Nara berusia enam belas tahun, tetapi pundaknya sudah terasa memikul beban yang tidak seharusnya ia pikul. Beban itu bukan berasal dari buku pelajaran atau tugas sekolah itu terlalu ringan. Beban itu berasal dari kesadaran bahwa sejak ayah dan ibunya memilih jalannya masing-masing di kota, ia adalah satu-satunya yang tersisa untuk menjaga "titipan" ini. Kebun ini adalah satu-satunya warisan yang tidak bisa mereka jual, satu-satunya tanah yang masih mengingat langkah kaki kakeknya, Murta Wijaya.

Ia melangkah masuk, menyusuri lorong yang hampir tertutup gulma. Tangannya meraba daun talas yang terkulai, dan untuk sesaat, ia merasakan kehangatan aneh di ujung jarinya seolah tanaman itu mengenalinya, seolah ia bukan orang asing di sini.

Di beranda rumah, kursi rotan tua masih ada. Kosong. Nara mendekatinya dan menghirup udara di sekitarnya. Ada sesuatu di udara bau samar yang tidak ia mengerti. Bau arang dan getah pohon, seperti sisa tinta yang mengering di atas kertas tua. Bau itu seolah menempel di kayu beranda, meskipun ayahnya sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki di sini.

Nara tidak tahu mengapa, tetapi bau itu membuat dadanya terasa lebih ringan. Ia duduk di kursi rotan itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.

Namun, kebun ini tidak akan merawat dirinya sendiri. Dan Nara tahu, di luar sana, ada tetangga yang sudah menunggu untuk melihatnya menyerah.


Pagi berikutnya, Nara sudah berada di kebun sebelum matahari benar-benar terbit. Ia mencabut gulma dengan tangan ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Sungguhan Teman?
Glorizna Riza
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Jejak Dunia Maya
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Mat Tabik
Bonari Nabonenar
Cerpen
Bronze
Neraca Uriping Manungsa
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Persetan
Yuli Harahap
Cerpen
Brownies Dalu
Hary Silvia
Cerpen
DUH.. KE RESET LAGI
zanu ariska wakhida ainia
Cerpen
Sitta dan Warna
Rewinur Alifianda Hera Umarul
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Cerpen
Kartini dan Sekolah Terbaiknya
Sucayono
Cerpen
Bronze
Gamophobia
Jasma Ryadi
Cerpen
Maghdiraghar Nyurathala
JWT Kingdom
Cerpen
Tuan Oh Tuan
Jie Jian
Cerpen
Bau yang Menyeruak dari Mayat Sahabatku
Galang Gelar Taqwa
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Novel
Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan
Tourtaleslights
Cerpen
Pilihan Nion
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Airdrops Bingo
Tourtaleslights
Cerpen
KAMUS 50 ISTILAH INTI VOLUME I
Tourtaleslights
Novel
Pejabat Negeri Sonoharu
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta II
Tourtaleslights
Cerpen
Negri Sonooharu
Tourtaleslights
Cerpen
Macaronion
Tourtaleslights
Novel
Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM
Tourtaleslights
Novel
NUSANTARA MIRALOKA
Tourtaleslights
Cerpen
THE DREAM OF A SLEEPING WORLD
Tourtaleslights
Novel
17 Tahun BUCIN
Tourtaleslights
Cerpen
SBDM-MCFP
Tourtaleslights