Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Akar Tumbuh
1
Suka
7,538
Dibaca

═════════════════

AKAR TUMBUH

Kebun Lentera Talas

─────────────────

Kabut di kebun ini tidak pernah benar-benar putih. Ia selalu memiliki semburat abu-abu, seperti asap dari tungku yang enggan padam, atau keraguan yang menggantung di tenggorokan seorang anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat.

Jaganara (Nara), begitu ia biasa dipanggil berdiri di tepi kebun yang liar, sepatu karetnya nyaris tenggelam dalam lumpur sisa hujan semalam. Di hadapannya, tanaman talas menjalar ke mana-mana, daun-daunnya yang lebar seperti perisai yang rusak, beberapa di antaranya sudah menguning dan berlubang dimakan ulat. Di kejauhan, rumah kayu tua berdiri dengan cat yang mengelupas, seperti luka yang tidak pernah sembuh sepenuhnya.

Nara berusia enam belas tahun, tetapi pundaknya sudah terasa memikul beban yang tidak seharusnya ia pikul. Beban itu bukan berasal dari buku pelajaran atau tugas sekolah itu terlalu ringan. Beban itu berasal dari kesadaran bahwa sejak ayah dan ibunya memilih jalannya masing-masing di kota, ia adalah satu-satunya yang tersisa untuk menjaga "titipan" ini. Kebun ini adalah satu-satunya warisan yang tidak bisa mereka jual, satu-satunya tanah yang masih mengingat langkah kaki kakeknya, Murta Wijaya.

Ia melangkah masuk, menyusuri lorong yang hampir tertutup gulma. Tangannya meraba daun talas yang terkulai, dan untuk sesaat, ia merasakan kehangatan aneh di ujung jarinya seolah tanaman itu mengenalinya, seolah ia bukan orang asing di sini.

Di beranda rumah, kursi rotan tua masih ada. Kosong. Nara mendekatinya dan menghirup udara di sekitarnya. Ada sesuatu di udara bau samar yang tidak ia mengerti. Bau arang dan getah pohon, seperti sisa tinta yang mengering di atas kertas tua. Bau itu seolah menempel di kayu beranda, meskipun ayahnya sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki di sini.

Nara tidak tahu mengapa, tetapi bau itu membuat dadanya terasa lebih ringan. Ia duduk di kursi rotan itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.

Namun, kebun ini tidak akan merawat dirinya sendiri. Dan Nara tahu, di luar sana, ada tetangga yang sudah menunggu untuk melihatnya menyerah.


Pagi berikutnya, Nara sudah berada di kebun sebelum matahari benar-benar terbit. Ia mencabut gulma dengan tangan ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
OH MY BOSS
ELI WAHYUNI
Cerpen
Bronze
Pahlawan Negeri Sipil
spacekantor
Cerpen
Selamat Tinggal
Hanif
Cerpen
Bronze
Pelanggan Terbaik
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Balada Tes CPNS
spacekantor
Cerpen
KARTU TAKDIR
Yumkiii
Cerpen
Yang katanya KEMBAR
Wahyu Setyowati
Cerpen
Jodoh di Tangan Juragan
Dian Rinda
Cerpen
Pemangsa Paling Kejam
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Petasan Yang Kontroversial
Yovinus
Cerpen
Bronze
Pembaca Baju
Ferdiagus Rudi Junaedi
Cerpen
Bronze
Sisa Kopi di Gelas Plastik
Wahyu Hidayat
Cerpen
The Real Lie Detector
Tia Dia
Cerpen
Bronze
Mimpi yang Dikubur Hidup-Hidup
Muhaimin El Lawi
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Flash
KESUNYIAN YANG MEMEKAKKAN
Tourtaleslights
Cerpen
AKARNUSA
Tourtaleslights
Flash
SIMPUL YANG KUAT
Tourtaleslights
Novel
SILOMBRA: Catatan Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Cerpen
KAMUS 50 ISTILAH INTI VOLUME I
Tourtaleslights
Novel
Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan
Tourtaleslights
Cerpen
The Famtrip Flores
Tourtaleslights
Novel
Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM
Tourtaleslights
Skrip Film
MALAM SEBELUM PANGGILAN
Tourtaleslights
Flash
#1. Aroma Sakura di Tengah Kekacauan
Tourtaleslights
Flash
Jembatan Negeri Rasa
Tourtaleslights
Flash
#3. Rasa Takdir dan Kebebasan
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta II
Tourtaleslights