Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Air di Tanah Gersang
2
Suka
517
Dibaca

AIR DI TANAH GERSANG

Bagi Fara, setahun terakhir hidupnya hanyalah tentang menunggu. Sebagai anak yatim piatu yang tumbuh di bawah asuhan sederhana Pak Rahmat dan Bu Irma di sebuah desa gersang, pendidikan adalah satu-satunya jembatan untuk mengubah garis tangan.

Setiap pagi, sebelum fajar menyentuh jendela kamarnya yang lembap, jarinya sudah menari di atas layar ponsel. Membuka kotak masuk email yang masih kosong sudah menjadi ritual yang menyakitkan. Saat kepalanya mulai didera ragu, ingatan Fara kerap melayang pada masa-masa kuliahnya di Semarang.

Orang-olah desa menganggapnya konyol karena nekat mendaftar di kampus swasta bergengsi. Beasiswa parsial yang ia dapatkan sama sekali tidak menutup seluruh biaya.

Demi membayar sisa semesteran, Fara harus rela bekerja paruh waktu hingga larut malam dan menghemat uang makan. Di kamar kosnya yang sempit dan panas, ia memeluk mimpi dengan belajar empat bahasa asing secara otodidak, hingga berhasil lulus dengan predikat cum laude dan IPK 3,9.

Hingga suatu hari, sebuah kalimat muncul di layar ponselnya dengan pendar cahaya yang memotong seluruh ingatan pahit itu:

“Welcome to University of Oxford”

"Nak, Ibu dan Bapak akan merindukanmu. Tapi kamu telah memilih jalanmu," bisik Bu Irma di bandara. Kerudung tuanya basah oleh air mata saat ia harus melepas Fara terbang ke London untuk merajut asa melalui jurusan MSc in Education (Child Development and Education).

Fara memeluk mereka erat, "Jangan khawatir, Bu. Aku akan kembali. Aku tidak akan menjadi debu yang hilang ditiup angin." Janji Fara pada orang tua angkatnya kala itu.

---

Di Oxford, Fara menjelma menjadi sosok yang luar biasa. Ketajaman otaknya dalam menganalisis sistem edukasi wilayah berkembang membuat ia menjadi mahasiswa kebanggaan para profesor. Ia menyelesaikan studinya jauh lebih cepat dari target, seolah-olah sedang berlari mengejar waktu agar bisa segera membalas budi pada keluarga angkatnya.

Kecerdasannya tercium oleh lembaga pendidikan raksasa, dan tak butuh waktu lama bagi Fara untuk bisa direkrut sebagai Chief Curriculum Researcher di Aegis Education Group, sebuah firma konsultan pendidikan internasional ternama di London.

Lima tahun berlalu, Fara bukan lagi gadis desa yang kebingungan. Namun, kenyamanan itu memiliki harga yang mahal. Ia terjepit dalam kontrak Iron-Clad yang mengunci kebebasannya dengan denda penalti miliaran rupiah jika ia berhenti di tengah jalan.

Di tengah gemerlap London dan pencapaian luar biasanya, kabar dari tanah air merobek ketenangannya malam itu. Sebuah pesan dari kerabat masuk:

“Far, Ibu masuk rumah sakit. Beliau terus memanggil namamu. Bisakah kau kembali meski hanya sebentar?”

Fara kini terjebak di antara dua pilihan, sedangkan di sebuah rumah sakit di ruang rawat kelas tiga, Bu Irma terus memanggil nama anak yang bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya. “Pak, Fara mana? Apa dia sudah melupakan kita?”

Sementara Pak Rahmat hanya bisa berharap anaknya ingat jalan kembali ke rumahnya. “Sabar ya Bu, Bayu sudah mengirim pesan, semoga Fara masih ingat sama kita.”

---

Fara berdiri di ruang kerja Mr. Alistair Collins direktur riset Aegis Education Group yang memiliki tatapan sedingin es kutub. Di atas meja itu, surat pengunduran diri Fara tergeletak.

"Anda gila, Fara?" Alistair tertawa, tawa yang merendahkan. "Anda punya karir yang diimpikan jutaan orang di seluruh dunia. Di sini, Anda merancang kurikulum global yang menjadi aset dunia. Sedangkan di negara Anda? Anda hanya akan menjadi mutiara yang tenggelam di lumpur birokrasi."

Alistair menyandarkan tubuhnya, mencoba memprovokasi dengan fakta yang paling tajam. "Fara, dengar. Bukankah Anda ke sini bukan dengan beasiswa negara Anda? Anda mendapatkan beasiswa mandiri non-LPDP dari program Digital Scholarship. Secara hukum, Anda tidak punya kewajiban melapor pada siapa pun. Anda tidak berutang satu sen pun pada negara Anda! Mengapa harus merasa terikat pada tanah yang bahkan tidak membantu biaya kuliah Anda?"

Fara tertegun. Kalimat Alistair menghujam ingatannya pada masa SMA di desa. Saat ia berjalan kaki membawa wadah plastik berisi gorengan untuk dititipkan di kantin sekolah, bibir culas tetangga sekelas Bu Darti selalu mencibirnya:

"Ngapain toh sekolah tinggi-tinggi, Far? Perempuan itu setinggi apa pun sekolahnya, ujung-ujungnya cuma ngurus rumah dan di dapur!"

Di kultur tempatnya tumbuh, anak-anak dipaksa putus sekolah untuk bekerja demi sesuap nasi, bahkan anak sering dijadikan mesin investasi balas budi untuk hari tua orang tua. Berbeda dengan negara barat yang membebaskan anaknya bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya sendiri setelah dewasa.

Fara menjeda, menatap langsung ke mata Alistair. "Anda benar, Mr. Collins. Secara administratif, saya tidak punya kontrak apa pun dengan Negara saya. Saya tidak punya kewajiban hukum untuk kembali,"

Fara menarik napas dalam, memantapkan suaranya. "Tapi ada satu hal yang tidak tertulis di kontrak mana pun: rasa memiliki. Banyak orang menganggap perempuan berpendidikan tinggi itu sia-sia karena akhirnya hanya mengurus rumah tangga. Itu keliru. Justru karena seorang perempuan akan menjadi ibu dan mengurus rumah, ia wajib berpendidikan tinggi! Ibu adalah rumah bagi anak-anaknya. Ibu adalah madrasah pertama, sekolah paling awal yang membentuk peradaban generasi masa depan. Bagaimana mungkin desa saya bisa memutus rantai kemiskinan jika para calon ibunya dipaksa tetap bodoh oleh lingkungan?"

Fara menegakkan punggungnya. "Mungkin bagi Anda tanah saya gersang, tapi justru karena gersang, mereka butuh air. Saya tidak belajar ilmu pendidikan di Oxford hanya untuk memperkaya negara yang sudah maju. Saya akan menjadi 'air' bagi tanah saya sendiri, meski saya harus membayar denda itu dengan seluruh tabungan saya."

Alistair tertegun, namun ia tetap diam saat Fara melangkah keluar ruangan setelah mengurus administrasi penalti yang mencekik seluruh tabungannya.

---

Beberapa hari kemudian, Fara melangkah terburu-buru di lorong Bandara Heathrow. Di kepalanya hanya ada wajah Bu Irma dan rumah kayu yang ia tinggalkan lima tahun silam. Tiba-tiba, sebuah suara menghentikannya.

"Fara!"

Itu Alistair. Pria itu tampak sedikit terengah-engah, jauh dari kesan angkuh yang biasanya ia tunjukkan. Ia menyodorkan sebuah map kecil berisi surat rekomendasi internasional dan paspor Fara yang telah dilepaskan dari ikatan kontrak. Di dalamnya, terselip cek pengembalian dana penalti yang telah Fara bayarkan sebelumnya.

"Kau menang, Fara," ujar Alistair pelan, suaranya penuh rasa hormat yang tulus. "Melihatmu rela melepaskan karier global demi membangun fondasi manusia di tanah airmu... menahan uangmu rasanya seperti merampok kehormatan seorang pejuang. Simpan uangmu. Gunakan untuk mendirikan yayasan pendidikan yang kau impikan di negaramu. Di Aegis, pintu akan selalu terbuka untuk orang sehebat dirimu."

Fara tertegun, lalu mengangguk. "Terima kasih, Mr. Collins. Kemuliaan bukan tentang di mana saya diakui, tapi tentang siapa yang saya selamatkan saat saya kembali."

---

Saat pesawatnya menyentuh aspal Semarang, hawa panas menyergap kulitnya. Fara berlari menuju RSUD yang penuh sesak. Di depan brankar, ia melihat Bu Irma yang kuyu. Fara bersimpuh, mencium tangan kasar yang dulu menyuapinya.

"Ibu... Fara pulang. Fara membawa ilmu dari Oxford untuk mengajar anak-anak di desa kita."

Pak Rahmat menyeka air matanya di sudut ruangan, tak kuasa menahan air mata melihat anak yang ia besarkan, kini kembali ke dalam pelukannya.

Beberapa bulan kemudian, di atas tanah gersang tempat Bu Darti dulu mencibirnya, berdiri sebuah bangunan yang ramah lingkungan dengan plang nama di depannya: Yayasan Rumah Kita.

Di tempat itulah, Fara mulai menyirami ingatan anak-anak desa bahwa kemiskinan bisa ditembus, dan perempuan adalah tiang peradaban yang berhak menggenggam dunia.

Fara adalah benih unggul yang melanglang buana, hanya untuk kembali dan tumbuh menjadi pohon rindang yang melindungi akar tempatnya bermula.

"Sejauh apa pun aku terbang, meski Eropa menawarkan segalanya, Indonesia tetap tempatku kembali. Negaraku mungkin tidak bisa memberiku dunia, tapi ini adalah rumahku. Aku akan memberikan duniaku untuk negaraku."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Air di Tanah Gersang
Ririna
Cerpen
Kamu Gapapa?
Godok
Cerpen
Bronze
Cerita Tentang Kota Yang Dipenuhi Spanduk & Janji
Bumi Bercerita
Cerpen
Bronze
ES GABUS SADIKIN
Toni Al-Munawwar
Cerpen
Bronze
Perjalanan
Fatimah Ar-Rahma
Cerpen
Insta Story Harga Mati
Ryan Esa
Cerpen
Bronze
Saksi yang bungkam (2)
Nazwa Nadya
Cerpen
Bronze
Pagar Depan Rumah
spacekantor
Cerpen
Bronze
Paradoks Kehidupan
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Mencintai Dalam Sunyi
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Toko Bunga Bernama Luka
Saskia Azzahra
Cerpen
Lampu dari Sungai yang Mengering
Desto Prastowo
Cerpen
Sekali Lagi Purnama
Siti Sulha Darmaini
Cerpen
Bronze
Pelajaran dari Ban
Nuel Lubis
Cerpen
Bronze
Kanak Rinjani
ahmad yusro ahmad yusro
Rekomendasi
Cerpen
Air di Tanah Gersang
Ririna
Cerpen
Baskara Sialan: Menanam Benih, Lupa Memanen
Ririna