Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Jemari mungil itu menari di atas papan ketik, menciptakan irama klik-klak yang saling beradu cepat. Baginya, suara itu terdengar seperti detak bom waktu yang memburu pendengarannya sendiri. Sesekali, ia menyeka pelipis yang mulai basah, lalu dengan gerakan kasar menyisipkan beberapa helai rambut hitam yang terus menempel di pipi chubby-nya.
Gadis itu akhirnya menyerah. Ia mengembuskan napas kasar sembari menghentakkan punggung ke sandaran kursi, membuat sendi-sendi besi kursi kerjanya berdecit nyaring. Rambut panjangnya yang menjuntai hingga sepinggang tampak kusut dan berantakan, mencerminkan isi kepalanya yang kian semrawut karena laporan yang tak kunjung menemui titik temu.
Chaira kemudian bangkit berdiri, membuat tumpuan kakinya berbunyi pelan di atas lantai keramik. Ia meregangkan otot bahu hingga terdengar bunyi krek yang samar, memperlihatkan postur tubuhnya yang mungil. Meski tingginya hanya 150 sentimeter, namun aura frustrasi yang ia pancarkan saat ini begitu pekat, seolah sanggup menyedot seluruh udara di sudut area kerjanya hingga terasa sesak.
"Pengen pindah kerja aja kalau begini terus," gumam Chaira pelan. Bibirnya mengerucut, sementara matanya melirik tajam ke arah Ello. Sang ketua tim itu justru asyik bersandar santai, memutar-mutar kabel telepon sembari tertawa kecil.
"GENGS! Pak Rais sudah di depan!"
Teriakan Tino yang tiba-tiba membuat Chaira terlonjak. Rekannya itu muncul di ambang pintu dengan napas tersengal dan wajah sepucat kertas. "Beliau membawa direktur baru. Cepat berdiri, rapihkan semuanya!"
Seketika, suasana kantor yang tadinya santai berubah menjadi kacau. Suara kaki kursi yang bergeser kasar beradu dengan lantai, bunyi gedebuk tumpukan kertas yang dirapikan terburu-buru, hingga bisik-bisik panik memenuhi udara.
Chaira dengan cekatan merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring, lalu mencoba merapikan rambutnya yang berantakan hanya dengan sisiran jari.
Langkah kaki yang berat dan berirama mulai terdengar dari lorong, menciptakan keheningan yang begitu mendadak. Pak Rais muncul lebih dulu, melangkah dengan wibawa seorang pemimpin yang sudah lama disegani. Namun, yang membuat napas semua orang tertahan bukanlah beliau, melainkan sosok pria yang berjalan di sampingnya.
Pria itu tinggi menjulang, dibalut setelan jas biru tua yang tampak sangat mahal dan pas di tubuh tegapnya. Ia melangkah tanpa suara, namun auranya mendominasi ruangan. Wajahnya yang simetris tampak seperti pahatan marmer—indah, namun sangat dingin dan tak tersentuh.
"Selamat pagi semuanya," suara Pak Rais menggelegar ramah.
"Selamat pagi, Pak!" jawab para karyawan serentak.
Pak Rais berhenti tepat di depan barisan Chaira. Beliau menepuk bahu pria di sampingnya dengan bangga. "Hari ini saya memperkenalkan anak saya, Edzard Faresta Athalillah. Mulai detik ini, dia yang akan menggantikan saya sebagai direktur utama."
Edzard tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk sekilas, lalu memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana dengan gaya otoriter. "Pagi," ucapnya singkat.
Suara baritonnya yang berat seolah membuat suhu di ruangan itu menjadi dingin. Matanya yang tajam bak elang menyisir barisan karyawan satu per satu, hingga gerakannya terhenti tepat pada Chaira yang sedang menunduk dalam.
Melihaf Chaira yang menunduk, Pak Rais tersenyum kecil."Cha?" panggilnya.
Chaira mendongak kaget, nyaris menjatuhkan pulpen yang ia genggam di balik punggung.
"Kamu sudah mandi, kan? Kok wajahnya masih berantakan begitu?" tanya Pak Rais setengah bercanda.
Candaan itu seketika mengundang tawa riuh dari seisi ruangan. Chaira merasakan wajahnya yang panas hingga ke telinga, memerah padam karena malu di hadapan sang direktur baru. Namun, di tengah gelak tawa rekan-rekannya, ia menyadari satu hal yang membuatnya merinding. Edzard tidak ikut tertawa. Pria itu justru berdiri tegak bak patung, terus memperhatikannya tanpa berkedip dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.
Seminggu berlalu sejak pertemuan itu, hidup Chaira benar-benar berubah menjadi neraka. Entah apa yang merasuki Edzard, pria itu menariknya secara paksa menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Edzard memberikan ancaman pemecatan telak jika ia berani menolak.
Sore itu, di bawah bayang-bayang pohon besar di taman belakang kantor, Chaira melampiaskan seluruh sesak di dadanya.
"EDZARD SIALAN!" umpat Chaira sembari memukul-mukul tutup kotak nasinya menggunakan sendok plastik hingga menimbulkan bunyi tuk-tuk yang nyaring. "Tahu gitu, aku mending kerja rodi sama Pak Ello daripada sama si kulkas berjalan itu! Baru jadi direktur sudah bertingkah kayak raja!"
Tiba-tiba, sebuah donat vanila yang masih hangat muncul tepat di depan hidungnya, diikuti suara "DOR!" yang menggelegar tepat di samping telinganya.
"Huk! Huk!" Chaira tersedak butiran nasi, wajahnya yang semula merah karena marah kini berubah padam karena sesak. Ia segera menyambar botol minum di sampingnya, meneguk airnya hingga tersisa setengah.
"YAK! KAU INGIN MEMBUATKU MATI TERSEDAK, HAH?" teriak Chaira sambil terbatuk-batuk. Ia segera menyambar botol minumnya, sementara matanya melotot tajam ke arah Resta.
Resta bukannya takut, malah makin terbahak sambil memegangi perutnya. "Maaf, Cha! Habisnya kamu serius banget ngumpatnya, sampai itu nasi hampir terbang semua," sahutnya sambil menyeka air mata akibat tertawa, lalu duduk dengan nyaman di sebelah Chaira.
Resta menyenggol bahu Chaira dengan senyum penuh arti. "Tapi serius deh, Cha. Satu kantor heboh lho gara-gara Pak Edzard narik kamu jadi sekretaris pribadinya secara mendadak. Kamu sadar nggak sih? Kamu itu beruntung banget. Udah posisinya naik, bosnya gantengnya pula!"
Chaira mendengus kasar, wajahnya mendung seketika. Ia menyambar donat vanila pemberian Resta dan menggigitnya dengan penuh emosi, seolah sedang mengunyah kepala bos barunya itu.
"Ganteng kalau kelakuannya kayak iblis tetap saja bikin batin capek, Resta!" keluh Chaira dengan suara teredam donat. "Beruntung apanya? Dia itu bukan nyari sekretaris, tapi nyari budak yang bisa disiksa pelan-pelan!"
Resta baru saja ingin membalas saat ponsel di saku kemeja Chaira bergetar hebat. Sebuah pesan singkat dari nomor yang dinamainya 'Kulkas Berjalan' muncul di layar: Ke ruangan saya sekarang. Ada berkas yang harus selesai sebelum rapat jam tujuh malam.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam saat gedung kantor mulai sepi. Cahaya lampu hanya menyisakan area meja kerja Chaira di depan ruang direktur. Kelelahan Chaira benar-benar telah mencapai batasnya, setelah berkutat dengan ratusan lembar laporan sejak sore tadi.
Kepalanya berdenyut hebat, seolah dihantam benda tumpul. Dengan gerakan lunglai dan tangan yang sedikit gemetar, Chaira merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebutir obat pusing, memasukkannya ke mulut, lalu segera menyiramnya dengan sisa air putih di botol hingga tandas.
Rasa pahit obat itu masih tertinggal di pangkal lidah saat ia merebahkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja kerja. Niatnya, hanya ingin memejamkan mata selama lima menit. Namun, efek obat dan rasa lelah yang menumpuk selama seminggu terakhir bekerja lebih cepat dari dugaannya. Kesadaran Chaira perlahan meredup, tenggelam ke dalam kegelapan yang pekat dan nyaman.
Chaira benar-benar terlelap, sampai tidak menyadari saat pintu ruang direktur di hadapannya terbuka tanpa suara. Ia tak merasakan kehadiran sosok pria yang berdiri mematung di samping mejanya, menatap wajah lelah itu dengan pandangan sendu yang jauh dari kesan dingin. Pria itu menghela napas panjang, lalu dengan gerakan yang sangat lembut sepasang lengan kekar menyelinap di bawah tubuh Chaira dan mengangkatnya dalam satu dekapan yang hangat.
Saat terbangun, Chaira tidak lagi mencium aroma kantor yang kaku. Ia berada di sebuah kamar luas bernuansa klasik dengan aroma kayu cendana yang menenangkan. Dengan bingung dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia turun dari ranjang yang terasa asing. Langkahnya terhenti di depan sebuah meja pajangan di sudut kamar.
Jantung Chaira serasa berhenti berdetak saat melihat sebuah bingkai foto di sana. Itu adalah dirinya. Dirinya saat berusia delapan belas tahun, tertawa lepas dengan bando kelinci yang miring di kepala, berlatar hamparan kebun teh di Bandung. Di sampingnya, ada sosok Edzard muda yang sedang merangkul pundaknya sambil tersenyum lebar—senyum tulus yang tak pernah ia lihat lagi selama seminggu ini.
"Kak... Ed?" bisiknya parau. Suaranya bergetar, dan seketika itu juga air mata mulai menggenang, mengaburkan pandangannya pada memori yang selama ini ia kira telah hilang.
Pintu kamar terbuka dengan suara gesekan halus. Edzard masuk tanpa setelan jas, hanya mengenakan kaos hitam santai yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Ia membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas susu. Langkahnya terhenti saat melihat bingkai foto itu sudah berpindah ke tangan Chaira.
"Sudah ingat?" tanya Edzard pelan. Suaranya tidak lagi dingin atau ketus, melainkan rendah dan penuh kerinduan yang tertahan.
Chaira berbalik dengan bahu gemetar, air matanya jatuh membasahi pipi. "Kenapa Kakak melakukannya? Kenapa harus pura-pura tidak kenal dan menekanku dengan semua pekerjaan gila itu?"
Edzard meletakkan nampan di meja terdekat, lalu berjalan mendekat. Ia tidak berhenti sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa inci. Edzard meletakkan kedua tangannya di meja pajangan, mengurung tubuh mungil Chaira dalam kuasanya. Aroma kayu cendana dari tubuhnya kini terasa begitu nyata.
"Menurutmu kenapa, Chara?" tanya Edzard balik dengan suara serak. "Kamu menghilang begitu saja dari Bandung. Kamu tahu berapa lama aku mencari gadis yang meninggalkanku tanpa sepatah kata pun di stasiun sepuluh tahun lalu?"
"Tapi itu bukan alasan untuk menyiksaku di kantor, Kak!" potong Chaira sesenggukan, jemarinya meremas pinggiran bingkai foto. "Aku takut setiap kali Kakak menatapku dingin di ruang rapat. Aku pikir... aku pikir Kakak benar-benar membenciku."
Edzard menghela napas panjang. Ia menyentuh dagu Chaira dengan ujung jarinya, mengangkat wajah gadis itu agar mata mereka bertemu.
"Aku tidak pernah membencimu, Chara. Aku hanya... marah. Marah karena setelah bertahun-tahun aku mencarimu, kamu justru berdiri di depanku dengan wajah polos seolah-olah kita tidak pernah punya kenangan apa pun. Kamu bahkan tidak mengenaliku saat pertama kali kita bertemu di divisi marketing."
Chaira menunduk, bibirnya mengerucut kecil karena merasa bersalah. "Wajah Kakak berubah banyak. Kakak yang dulu selalu memakai kaos oblong dan mengajakku jajan di pasar, bukan pria kaku yang hobi mengancam memecat orang setiap jam."
Edzard terkekeh pendek. "Ancaman itu satu-satunya cara agar kamu tidak kabur lagi. Kalau aku tidak memaksamu jadi asisten pribadiku, apa kamu mau duduk di depanku setiap hari? Apa kamu mau menemaniku lembur sampai malam?"
"Enggak," jawab Chaira jujur sambil menyeka sisa air matanya.
Edzard tersenyum tipis, tangannya beralih mengusap pipi Chaira yang kemerahan. "Itulah sebabnya. Aku ingin kamu ada di jangkauanku. Aku ingin memastikan bahwa kali ini, saat aku bangun, kamu tidak akan menghilang lagi."
Edzard mengambil bingkai foto dari tangan Chaira dan meletakkannya kembali ke meja. "Pekerjaan itu... maafkan aku kalau terlalu berat. Aku hanya ingin kamu kembali bergantung padaku, seperti dulu di Bandung."
"Tapi Kakak keterlaluan. Suruh buatkan kopi, beli makanan, antar berkas ke apartemen..." Chaira mulai mengabsen kekejaman pria itu dengan bibir mengerucut.
"Dan semuanya kamu lakukan dengan baik," puji Edzard pelan, tangannya kini merapikan helai rambut Chaira yang menutupi wajah. "Aku hanya ingin melihat sejauh mana asisten pribadiku ini bisa bertahan denganku."
"Kak Ed jahat," gumam Chaira, namun tangannya perlahan merambat naik, mencengkeram kaos hitam Edzard. "Aku benar-benar mengira Kakak adalah direktur sombong yang ingin menyiksaku."
"Aku memang sombong, tapi hanya padamu," bisik Edzard. Ia mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Chaira. Aroma maskulin pria itu kini terasa begitu menenangkan, bukan lagi mengintimidasi. "Jadi, setelah semua lembur dan amarah ini, apa asisten pribadiku masih mau mengundurkan diri besok pagi?"
Chaira menggeleng pelan. "Asal Kakak janji, tidak ada lagi teriakan atau tatapan maut di kantor."
"Janji. Tapi sebagai gantinya, di rumah ini, tidak ada lagi panggilan 'Pak Direktur'. Hanya 'Kak Ed'. Mengerti?"
Chaira mengangguk, lalu memberanikan diri menatap mata elang itu. "Kenapa Kakak masih menyimpan foto bando kelinci itu? Aku kelihatan sangat konyol di sana."
Edzard menarik Chaira ke dalam pelukannya, mendekapnya erat. "Karena di foto itu, kamu tersenyum padaku. Dan aku bersumpah, Chara... kali ini aku yang akan memastikan senyum itu tidak hilang lagi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi untuk kedua kalinya."
Chaira terdiam, merasakan detak jantung Edzard yang berpacu sama cepatnya dengan jantungnya sendiri. Ia memejamkan mata, menikmati kehangatan yang telah sepuluh tahun ia rindukan tanpa ia sadari.
"Terima kasih sudah menemukanku kembali, Kak Ed," bisik Chaira pelan di dada bidang pria itu.
Edzard tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan kecupan lama di puncak kepala Chaira, mengunci janji yang telah ia simpan rapat dalam doa-doanya selama sepuluh tahun penantian.
Di luar, bintang-bintang seolah menjadi saksi bahwa pelarian Chaira telah berakhir di pelukan yang paling tepat.