Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Ada Maling dalam Tubuhku
2
Suka
250
Dibaca

Aku diinterogasi polisi. Dituduh mencuri. Memang mencuri, tapi itu aku yang lain. Bukan aku yang saat ini berbicara, bukan aku yang sekarang. Aku tidak berbohong. Jangan tuduh aku maling. Kau meneriakiku Si Maling! Si Pendusta! Si Pembohong! Oh pak polisi, jangan seperti itu. Maling teriak maling, padahal siapa yang maling?

Jangan adili aku oh pak polisi yang terhormat. Cukup Tuhan yang mengadiliku. Eh sebentar, bukan mengadili aku yang saat ini berbicara, tapi diriku yang lain. Hukum saja dia, tapi jangan aku. Kau ingin aku memanggil diriku yang lain? yang suka mencuri? aku tidak bisa memanggilnya atau mengusirnya, karena aku pun sering lupa kapan dia sudah mengambil alih tubuhku.

Jika kau bertanya kepadaku apakah aku senang mencuri, tentu jawabanku tidak, lain cerita dengannya: diriku yang lain. Aku tahu bahwa mencuri adalah suatu tindakan tercela. Tapi, tubuhku, jiwaku yang lain tak dapat menahan gejolak itu. Rasanya seperti tai yang sudah berada tepat di ujung anus. Benar-benar tak tertahankan.

Toh, aku yang lain tak mencuri uang, tak mencuri barang berharga. Tak mencuri dengan niat yang merugikan si empunya barang. Diriku yang lain mencuri gulma, mencuri sampah, dan satu-satunya barang berharga yang dicuri adalah buku. Lagi pula, buku itu digunakan sebagai pengganjal pintu oleh si pemilik. Sungguh lucu jika aku akan dipenjara hanya karena hal itu. Terlebih lagi sudah aku katakan berulang kali, bahwa bukan aku yang mencurinya, melainkan diriku yang lain.

Kau baru saja mengatakan bahwa aku gila? Banyak yang lebih gila dariku oh pak polisi. Aku punya teman. Dia baik dan jujur, tapi itu dulu, sebelum jadi wakil rakyat. Sekarang? Dia masih baik walaupun tak lagi jujur. Dia juga jadi gemar sekali mencuri, mencuri hak-hak rakyat, mengatasnamakan kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Sulit mengatakan bila tak semua pejabat itu koruptor, karena banyak kasus orang baik yang jujur jadi rusak sehabis resmi menjadi wakil rakyat atau pejabat. Apa yang mereka curi jauh lebih berharga daripada sebuah gulma, buku yang jadi ganjalan pintu, bahkan sampah. Lucu sekali negeriku! Jadi apa atau siapa yang gila?

Aku juga memiliki teman seorang polisi, hampir sama dengan kasus yang aku sebutkan di atas. awalnya ia jujur dan menjunjung tinggi keadilan. Setelah jadi polisi? Kewarasannya patut dipertanyakan, karena ia merasa sudah seperti Tuhan, tapi suka mencuri kesempatan. Memang tak semua polisi melakukannya dengan sengaja, mungkin juga terpaksa karena terseret arus politik yang begitu kuat, sama halnya dengan pejabat atau wakil rakyat.

Pernah suatu ketika, saat aku mengendarai motor di jalan raya, aku tiba-tiba diberhentikan oleh seorang polisi lalu lintas. Tanpa basa-basi polisi memintaku menunjukkan kartu surat izin mengemudi, surat tanda nomor kendaraan, dan buku pemilik kendaraan bermotor.

Tentu dengan senang hati aku menunjukkannya. Pak polisi mengerutkan dahi, matanya mengamatiku beserta kendaraanku secara seksama. Ekspresinya berubah saat melihat roda depan motorku. Polisi memberiku surat tilang dan akan menilangku saat itu juga. Tentu aku menolaknya, karena aku merasa aku sudah mematuhi peraturan lalu lintas. Tanpa banyak bicara, pak polisi menunjuk roda depan pada sepeda motorku, aku masih tak paham apa kesalahanku. Dan alasan dia menilangku karena tak ada tutup pentil roda depan pada motorku. Alasan yang dibuat-buat itu sungguh-sungguh membuat darahku mendidih! Ternyata pelayan masyarakat juga meresahkan masyarakat, dan yang lebih mengejutkan, dia adalah teman yang kusebutkan tadi.

Tak cuma polisi. Aku juga punya teman ustadz. Dia menjadi panutan di kampungku. Tapi tak ada warga yang tahu, kalau dia juga maling, lebih tepatnya penipu dengan embel-embel hibah dan nilai-nilai kebaikan. Lihat saja masjid di kampungku, lama-lama menaranya sudah seperti Menara Eiffel! Bahkan jika terus dibiarkan mungkin tingginya akan melebihi tinggi Menara Burj Khalifa di Dubai!

Oh pak polisi, masihkah kau menganggapku aneh? menganggapku gila? Tak masalah. Aku memang kerap dianggap aneh dan gila oleh para tetangga. Tapi tidak dengan orang tuaku. Orang tuaku tak menganggapku gila, mereka memvonisku kerasukan jin. Bapak ibuku pernah membawaku ke dukun. Ya biasalah, bukan rakyat negeri ini kalau tidak kental dengan hal mistis. Tapi itu jauh lebih masuk akal, setidaknya menurutku.

Sesampainya di tempat si dukun, dompet bapak ibuku sudah dilumat habis, karena memang sejak awal sudah tak ada yang tersisa dalam dompet mereka. Bapak ibuku buat makan sehari-hari aja utang sana-sini. Si dukun menjelaskan, bahwa biayanya yang mahal itu, setimpal dengan kesulitan untuk mengusir jin-jin yang merasukiku. Bapak ibuku yang terlalu polos dan baik, percaya-percaya saja. Dan perlu diingat bayarnya harus kontan.

Untungnya bapak ibuku sangat miskin. Jadi mereka membawaku pulang. Selamat-pikirku! Aku tak terlalu mengambil hati dengan kelakuan bapak ibuku, justru aku bersyukur karena mereka sangat perhatian kepadaku. Melihat tak semua orang tua benar-benar menyayangi anaknya, terutama di zaman sekarang.

Awalnya aku terpaksa mencuri. Pertama kali aku mencuri, aku masih seutuhnya aku. Masih tidak ada aku yang lain di kepalaku. Tak tanggung-tanggung, aku mencuri sebuah daun. Oh pak polisi, jangan kau tertawa dulu. Daun itu bernilai jutaan rupiah pada saat itu. Ya, itu daun ganja. Tentu aku tak tahu seberbahaya apa itu ganja dan nilainya yang setinggi itu. Aku dipaksa teman-temanku sewaktu kecil. Aku terjebak dalam sebuah permainan yang bertujuan untuk menunjukkan siapa yang paling berani. Apa temanku mengerjaiku? tentu tidak, mereka juga tak tahu-menahu soal ganja. Yang aku tahu, bahwa pemiliknya adalah seorang preman kampung yang paling ditakuti. Hobinya bolak-balik keluar masuk penjara.

Kejadian itu saat malam hari. Tepatnya di sebuah warung yang terkenal dengan menunya, yakni kopi pangku. Aku dan teman-temanku yang lain sudah bersiap-siap di warung. Menunggu kesempatan di mana si preman kampung yang sedang asyik memangku seorang wanita, dan banyak orang di sekelilingnya itu lengah. Ucapan mereka tak begitu aku dan teman-temanku mengerti. Salah satu temanku mengatakan kalau mereka sedang asyik mabuk. Lalu dari belakang bilik warung, dengan seksama mengamati. Kami secara tak sadar sudah dalam pose berlari, seakan olimpiade.

Momen yang ditunggu datang, lalu secepat kilat aku berlari. Menangkap daun yang tergeletak di sebuah meja. Aku diunggulkan oleh tubuhku yang kurus, aku lebih dulu sampai, jauh meninggalkan teman-temanku. Aku ambil daun itu. Aku sembunyikan diam diam di celana dalamku. Aku tukar daun itu dengan daun yang aku tadi ambil di pekarangan pak tani.

Lalu aku kembali ke bilik warung. Teman-temanku? Mereka juga kembali dengan selamat lalu menyusulku. Kami pun kembali ke tempat yang kami jadikan markas kami. Preman dan teman-temannya tak menyadari apa yang telah kuperbuat. Keesokan harinya kami kembali mengendap-ngendap ke tempat preman, mereka sibuk adu mulut, bahkan sempat terjadi adu jotos. Teman-temanku takut, namun anehnya aku malah senang melihat kegaduhan itu.

Dari sanalah aku mulai mencuri. Namun aku menjadi tersadar akan perbuatanku setelah pernah dipergoki orang tuaku, aku memutuskan berhenti. Tapi ada yang mulai aneh. Seperti sudah lahir seseorang yang lain dalam diriku. Ada maling dalam tubuhku. Oh pak polisi, selamatkanlah aku! Usir aku yang lain dalam tubuhku! Jangan malah memborgolku!

Dengan tangan terborgol, aku digiringnya ke balik jeruji besi. Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian putih mendatangiku. Memberikanku sebuah resep. Obat? Bercanda. Kau bercanda oh bu dokter. Berikan saja resep itu pada para koruptor! Karena bukan cuma aku yang memiliki maling dalam tubuhku, maling-maling juga bersemayam dalam tubuh koruptor-koruptor yang berdasi itu!

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Aegis of Us
Arslan Cealach
Skrip Film
Sakura Barcelona
Yesno S
Cerpen
Bronze
Gagal Memahami Perasaan Ini Terhadapmu, Akhirnya Penyesalan
Mochammad Ikhsan Maulana
Cerpen
Siapa Peduli
Rizki Mubarok
Cerpen
Ada Maling dalam Tubuhku
Arba Sono
Novel
Jari Yang Diperbudak Hati dan Fikiran
Maharani Tegar Borneo Bimashanty
Novel
Me- Tanpa Di-
Indahdee__
Novel
Bronze
Ralyska Si Anak Angkat
Amarsya SW
Novel
Perspektif Hati
Oyenart
Novel
Seperti awan,hujan dan ombak
athifsyaa
Novel
UNDER 18 (we all depressed)
Risfatia
Novel
Claire eister
Pamela gita
Novel
Found You
Kaa
Novel
Paruh Waktu
Nurmala Manurung
Novel
Bronze
jika rindu salah haruskah menyerah (?)
Nia Kurniasih
Rekomendasi
Cerpen
Ada Maling dalam Tubuhku
Arba Sono
Flash
Tiga Botol yang Tersesat
Arba Sono
Flash
Ritual Gelap
Arba Sono
Flash
Mengutuk Tuhan Palsu
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Ingin Mati saat Rekreasi
Arba Sono
Cerpen
Baaa-baba-baaa-bababa-baaaanguuun!
Arba Sono
Flash
Wizard Monk
Arba Sono
Cerpen
Ketika Seluruh Orang di Dunia Menjadi Gundul
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Misteri Celana Dalam Olda Veyotta
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Percakapan Orang Mati
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Kognisi
Arba Sono