Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kabut telah datang dari perkebunan luas keluarga Lancaster. Merayap ke dalam ruangan yang beralaskan beludru merah bersulam sutra langka itu, diantara lilin-lilin yang menyalang sendu, Elizabeth berdiri di depan cermin perak di meja rias mewah berlapis emas. Wajahnya tampak kaku dan menahan sesuatu yang teramat sesak. Karena saat ini, jemari suaminya— Arch Duke Romanov Lancester–tengah menarik tali korsetnya dengan ketat. Seolah-olah semuanya harus dekat, semakin rapat, agar lebih rekat. Dan penuh muslihat.
Romanov Lancester adalah pria dengan ketampanan yang tajam dan berbahaya. Seperti belati yang dibalut oleh beludru mewah, terlebih, beludru itu diambil dari serpihan gaun Elizabeth.
“Kau gemetar, El.” bisik julian tepat berada di samping telinganya. Nafasnya dingin berbau kayu cendana, jika diresapi, aroma itu seperti tercampur dengan sesuatu yang dekat dengan besi?... seperti…darah yang kental namun sudah lama mengering.
“Udara disini semakin menusuk, My Lord.” jawab Elizabeth dengan kelembutan yang memikat. Jauh di dalam sana, ia mati-matian berusaha untuk menyembunyikan getar suaranya.
Sudah tiga bulan Elizabeth resmi menjadi Nyonya di Kastil dan wilayahnya ini. Semua penduduk dan pekerja sangat ramah dan ia punya lingkungan yang nyaman. Suaminya pun sangat menyayanginya, meski terkadang cintanya seakan terlalu berlebihan.
Romanov memberikan segalanya. Mengabulkan seluruh keinginanya. Romanov bahkan tidak ragu untuk selalu mengikuti kehendaknya. Ini adalah kehidupan yang tidak berani ia bayangkan sebelumnya.
Meski sesekali, Elizabeth mendengar sesuatu mengenai mantan istri suaminya, Margiant. Seorang putri bangsawan kelas atas yang rumornya melarikan diri di malam pernikahan keduanya. Sebuah pernikahan yang diatur oleh kedua keluarga. Tidak seperti dirinya yang hanya anak bangsawan yang jatuh, Margiant adalah seorang Lady yang sangat sempurna, sosok yang menyandang Bunga Sosial dan sangat serasi dengan Romanov. Ketika Elizabeth menanyakan tentang Lady Margiant pada Romanov, ia hanya menjawab asal atau mengalihkan pembicaraan. Mungkin Romanov tidak mau mengenang hal yang tidak menyenangkan itu.
“Yang Mulia Duchess, udara mulai dingin. Saya harap anda berkenan untuk ikut kembali ke kamar anda, Yang Mulia.”
Elizabeth menatap pelayan pribadinya–Anna– dengan senyum hangatnya yang tipis. Anna menuntun sang Nyonya dengan perlahan. Di sampingnya ada Juli yang memegang lampu minyak untuk menerangi jalan mereka.
Langkah ketiganya melewati perpustakaan, di sana, sebuah suara cakaran samar melintas di pendengaran Elizabeth, “Anna, Juli, kalian dengar itu?”
Keduanya hanya menggeleng pelan. Dan melanjutkan langkah mereka dengan anggun dan pasti.
Sejak saat itu, Elizabeth mendengar hal yang sama. Namun ia selalu saja tidak bisa menemukannya, atau waktunya sangat sulit lepas dari pandangan Romanov.
Sampai, suatu malam yang paling dingin. Saat Romanov pergi dalam urusan “bisnis” yang mendesak. Elizabeth dengan lilin yang hampir padam, menyusuri suara yang beberapa malam ini membuatnya penasaran. Ia menyelinap ke ruang kerja suaminya, di sana, di sebuah karpet beludru mewah tersembunyi sebuah rahasia. Sebuah pintu antik yang dapat dibuka.
Ia menemukan sebuah tangga spiral yang membawanya turun ke ruang bawah tanah yang dingin juga lembab. Di sana tidak ada mayat, tidak ada tulang belulang atau pikiran-pikiran kacau lainnya. Hanya ada—
Banyak sekali lukisan-lukisan yang menggambarkan potret dirinya. Bukan lukisan yang ia buat. Melainkan gambar sketsa dirinya saat sedang tidur, mandi, menari dan bahkan sketsa saat ia menangis sendirian di taman.
Matanya beralih ke samping, sebuahlemari kaca dengan banyak botol-botol kaca berisi cairan merah pekat tersusun di sana, lengkap dengan tanggal-tanggal dimana Elizabeth merasa lemas luar bisa setelah meminum arak dari Romanov.
“Sayang?”
Elizabeth terkejut dan hampir saja menjatuhkan lilinnya yang tinggal sedikit itu, suara panggilan itu berasal dari arah atas. Suara yang sangat ia kenali.
“Sayang, kau tahu aku tidak suka ada tamu yang tidak diundang di ruang pribadiku, kan, Nyonya Lancester?” sebuah suara berat menggema menuruni tangga.
Elizabeth memutar badannya, berbalik dan mendapati Romanov berdiri di sana. Siluetnya memanjang diterpa cahaya lilin. Ia tidak tampak marah; ia tampak... lapar. Elizabeth tidak merasa takut, ia justru penasaran. Kasih sayang dan cinta Romanov membuatnya berani.
“Kau meracuniku?” tanya Elizabeth yang suaranya terdengar sedikit parau.
Romanov mendekat, ia membelai sayang pipi Elizabeth dengan punggung tangannya yang dingin, mata sayunya jatuh pada struktur wajah Elizabeth yang begitu cantik, seolah jika bisa lebih dari sekedar mengagumi, ia akan melakukannya.
“Bukan racun, Sayangku, itu adalah cara agar kau tetap bisa santai. Agar kau tetap menjadi milikku satu-satunya. Karena dunia diluar sana begitu kasar untuk kecantikanmu yang rapuh.”
Elizabeth menggenggam pergelangan Romanov, ia tidak peduli apakah ia dianggap kurang ajar. Toh Elizabeth percaya bahwa Romanov tidak akan menyakitinya, “Dimana Lady Margiant?!”
Rimanov tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak mencapai matanya yang gelap. Namun Elizabeth tidak merasa terancam,
"Dia mencoba pergi bahkan setelah mencoba memisahkan kita, Sayang. Para Bangsawan bodoh itu mencoba melawan takdir kita. Dia bahkan tidak mengerti bahwa di Lancester, cinta berarti pengabdian total. Maka kuberikan saja, meski aku tidak sudi. Sekarang, dia adalah bagian dari pondasi rumah ini—abadi, diam, dan tidak akan ada lagi yang menghalangi cintaku kepadamu, Elizabeth.” ucapnya sambil merapikan anak rambut di wajah Elizabeth.
Romanov merengkuh pinggang Elizabeth, ia menariknya ke dalam pelukan yang menyesakkan. Tangannya melingkar erat pada pinggang Elizabeth yang masih menggunakan korset yang dipasangkan oleh Romanov. Meski begitu, Elizabeth bisa merasakan detak jantung suaminya yang tenang—terlalu tenang untuk seorang manusia. Tapi, jika dirasakan lebih dalam. Ia cukup nyaman dengan segalanya.
“Kau punya dua pilihan, Elizabeth, Sayang,” ucap Romanov sambil mencium keningnya dengan lembut namun posesif, “Kau bisa menjadi Ratu dengan apa yang kau inginkan di istana bayangan ini, dicintai sepenuhnya dengan cara yang tidak dipahami oleh orang awam dan akan kuberikan segalanya. Atau, kau bisa menjadi rahasia lain yang tertanam di bawah lantai ini.”
Elizabeth menatap mata suaminya. Tidak hanya ada kegelapan yang tak berdasar disana, namun juga sebuah obsesi yang memabukkan. Sebuah kombinasi yang penuh akan kemewahan. Elizabeth sangat mengenal Romanov dan selama ini tidak pernah ada satu hal pun yang merugikan dirinya. Di zaman dimana wanita hanyalah properti,
Romanov telah menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar kata hidup: "keabadian yang mengerikan."
Meski begitu, hanya Romanov yang menerimanya, hanya Romanov yang mencintainya, ia sangat merasa beruntung bertemu Romanov yang bisa menentang para bangsawan sombong itu hanya untuk hidup bersamanya. Bahkan jika Romanov meminta darah terakhirnya, ia akan membelah nadinya dengan sukarela.
Elizabeth mempererat pelukannya, ia tidak berteriak. Ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Romanov, membiarkan kegelapan kastil itu menelannya utuh. Hanya jika Romanov ada di sisinya, maka dunia pun bisa ia genggam.
"Kencangkan korsetnya sedikit lagi, My Lord," bisik Elizabeth dingin. "Aku ingin merasa seolah-olah aku tidak bisa bernapas tanpamu.”
“Tentu saja, My Lady. Sesuai keinginanmu, Sayang.”
Dan mulai malam itu, gaun pestaku berubah menjadi ribuan sayap lalat saat dia menyentuh pinggangku. Memanen madu yang bercampur arak yang memabukkan, dia tidak berbisik dengan bibir, tapi dengan detak jantungnya yang berhenti tepat di telingaku.