Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
A COLD GOODBYE
Lampu gantung di sudut kafe berayun pelan, melemparkan bayangan samar di atas meja kayu yang memisahkan aku dan Keenan. Di luar, hujan deras mengguyur kota, menciptakan tirai air yang memutus kami dari dunia luar. Suara rintik yang menghantam kaca berbaur dengan alunan musik jaz bervolume rendah. Atmosfernya begitu intim, suasananya membuatku ingin menggenggam jemari Keenan erat-erat dan membisikkan betapa aku bersyukur memilikinya.
Aku sangat mencintai laki-laki di hadapanku ini. Cinta itu bukan lagi sesuatu yang meletup-letup seperti kembang api kala remaja dulu, melainkan seperti aliran sungai yang tenang namun mendalam, meresap ke setiap sudut jiwa yang paling sunyi.
Aku dan Keenan sudah lama menjalin hubungan kekasih, sejak masih remaja, tepatnya saat duduk di bangku SMA di tahun kedua.
Bagiku, Keenan adalah rumah. Tempat di mana aku bisa menanggalkan semua topeng dan kepura-puraan. Bersamanya, aku merasa menjadi seorang gadis yang sempurna, yang diperlakukan bak puteri seorang raja.
Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tak pernah aku rasakan selama ini.
Keenan terlihat duduk terlalu tegak. Tatapannya yang biasanya hangat bagai mentari pagi, malam itu terasa dingin seperti salju abadi di Pegunungan Alpen.
Ia menatap cangkir kopinya yang sudah mendingin, sama sekali belum menyentuhnya sejak kami duduk satu jam yang lalu. Kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya di bawah pendar lampu kekuningan, dan ada keheningan yang janggal di antara kami.
"Keenan?" panggilku lembut, mencoba memecah keheningan. "Kamu pucat sekali. Capek ya? Kalau kamu lelah, kita bisa pulang sekarang. Kamu bisa istirahat."
Ia perlahan mengangkat kepalanya. Sepasang mata cokelat gelap itu menatapku. Ada kesedihan yang begitu pekat di sana, sorot matanya belum pernah kulihat sebelumnya. Sirot mata yang dingin, kosong, namun menyiratkan sesuatu. Dadaku tiba-tiba berdesir aneh, segurat firasat buruk mendadak menyelinap di celah-celah hatiku.
"Alya," suaranya terdengar sangat pelan, hampir menyerupai bisikan, seolah tenaganya terkuras habis hanya untuk mengeja namaku. Aku bahkan tidak kengenali suara itu. "Ada yang harus aku katakan."
Aku tersenyum, mencoba mencairkan ketegangan yang tiba-tiba merayap. "Iya kamu mau ngomong apa, Keenan. Kamu bilang ada yang penting, tapi dari tadi kamu cuma diam. Ada apa?"
Keenan mengirim sebuah pesan pendek padaku tadi sore, ia mengajakku bertemu di kafe ini, katanya ada sesuatu yang penting yang ingin ia ucapkan.
Keenan menarik napas panjang. Ia tidak membalas senyumanku. Tangan kanannya bergerak di atas meja, seolah ingin meraih tanganku, namun ia mengurungkan niat itu dan menariknya kembali.
"Kita harus selesai, Al," ucapnya lirih.
Aku terdiam mendengar ucapannya. Kata-kata itu meluncur begitu saja. Sederhana, pendek, namun menghantam kuat di dadaku. Aku tertegun. Jantungku seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Hujan di luar terdengar semakin bising, meredam seluruh suara di dalam kafe. Bahkan menenggelamkan alunan musik jazz.
"Selesai?" Aku tertawa kecil, tawa yang terdengar sumbang bahkan di telingaku sendiri. "Maksud kamu apa, Keen? Jangan bercanda ah. Ini sama sekali enggak lucu."
"Aku serius, Alya. Hubungan kita... sampai di sini saja. Kita harus berpisah."
Aku menatap lekat-lekat wajahnya, mencari kilat jenaka atau tanda bahwa ia sedang mengerjaiku demi kejutan anniversary kita yang ketujuh. Namun tidak ada, tak kudapati kejutan kecil di malam itu. Wajah Keenan datar, dingin, dan sangat serius. Hanya matanya yang tidak bisa berbohong, ada badai rasa sakit di sana, tetapi ia menutupinya.
"Tapi kenapa, Keen?" Suaraku mulai bergetar. Rasa hangat yang tadi memenuhi dadaku menguap seketika, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang. "Kenapa tiba-tiba begini? Kemarin kita masih baik-baik saja. Dua hari lalu kita bahkan masih merencanakan liburan bulan depan. Apa salahku? Tolong kasih tahu aku."
Keenan menggeleng perlahan. "Kamu enggak salah apa-apa. Kamu sempurna, Al. Kamu adalah hadiah terindah yang pernah terjadi dalam hidupku."
"Lalu kenapa?!" tuntutku, air mata semakin menggenang di pelupuk mata. Beberapa pengunjung kafe di sekitar kami mulai menoleh, tetapi aku tidak peduli. Duniaku sedang runtuh, dan aku butuh pegangan. "Kalau aku enggak salah, kalau semuanya baik-baik saja, kenapa kamu mutusin aku? Pasti ada alasannya, kan? Tolong jelasin!" Kataku pelan, namun tegas. Pengunjung kafe yang lain kembali menolehku. Sementara alunan musik jazz sudah tak kudengar lagi, temggelam oleh derasnya hujaman air yang turun dari langit.
"Enggak ada alasan yang perlu dijelaskan," jawabnya datar. Nada suaranya parau, namun terdengar ragu, seolah keputusan ini telah tertulis di lembaran takdir dan tidak bisa diubah lagi. "Anggap saja aku sudah tidak bisa lagi bersamamu. Aku harus pergi."
"Itu bukan alasan, Keenan! Itu egois!" Air mataku semakin meluruh, membasahi pipi. Aku mengulurkan tangan, mencoba meraih jemarinya yang berada di atas meja. Namun, begitu kulitku menyentuh punggung tangannya, aku tersentak.
Dingin.
Kulit Keenan terasa begitu dingin, seperti es. Tidak ada kehangatan tubuh yang biasanya mengalir setiap kali kami bersentuhan. Aku menatap tanganku yang memegang tangannya, lalu mendongak menatap wajahnya. Keenan menarik tangannya dengan lembut namun pasti dari genggamanku.
"Maafkan aku, Alya," katanya lagi. Ia berdiri dari kursinya.
"Keenan, kamu mau kemana? Jangan pergi! Aku mohon jangan pergi, keenan!" Aku memohon. Memintanya untuk tidak pergi.
Aku ikut berdiri, hendak menahannya. Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja tanpa kejelasan. Jiwaku menolak untuk melepasnya. Aku begitu mencintainya, bagaimana mungkin dia memintaku berhenti mencintainya dalam satu detik?
Namun, Keenan hanya menatapku untuk terakhir kalinya. Tatapan itu, bukan tatapan seorang pria yang kejam yang sedang mencampakkan kekasihnya. Itu adalah tatapan perpisahan yang dipenuhi kerinduan yang teramat dalam, sebuah pandangan yang seolah ingin merekam setiap detail wajahku ke dalam ingatannya yang paling abadi.
"Jaga dirimu baik-baik, Al. Cari kebahagiaanmu, lupakan aku." ucapnya lirih.
Sebelum aku sempat melangkah memutari meja untuk menahannya, Keenan berbalik dan berjalan menuju pintu keluar kafe. Langkah kakinya terasa begitu ringan, nyaris tanpa suara di tengah riuh rendah kafe dan derasnya hujan. Aku segera menyambar tas dan berlari mengejarnya.
Begitu aku mendorong pintu kaca kafe, embusan angin malam yang dingin langsung menerpa wajahku, bersamaan dengan rintik hujan yang membasahi pakaianku. Aku mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan jalanan yang berkabut.
Kosong.
Keenan sudah tidak ada. Di bawah guyuran hujan deras dan temaram lampu jalan, tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Bagaimana mungkin dia bisa menghilang secepat itu? Dia bahkan tidak membawa payung ataupun mengendarai mobilnya, aku tahu karena mobilnya tidak ada di area parkir kafe malam itu. Ia menembus derasnya hujan. Ia seperti menguap begitu saja ditelan kegelapan malam.
Aku berdiri mematung di bawah guyuran hujan, membiarkan air mata dan hujan bercampur membasahi wajahku. Dadaku sesak, hancur berkeping-keping. Pria yang kuanggap sebagai masa depanku baru saja menghancurkan duniaku tanpa menyisakan satu pun jawaban. Ia pergi meninggalkanku lebih cepat dari pikiranku sendiri.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku mengurung diri di kamar, duduk meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut yang membungkus, tubuhku menggigil kedinginan. Berkali-kali aku mencoba menghubungi nomor ponselnya.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...
Suara operator yang monoton itu berulang kali pula menyapa telingaku, bertindak sebagai pengingat yang kejam bahwa aku telah ditinggalkan. Aku mengirimkan puluhan pesan singkat, menanyakan apa salahku, memohon agar ia kembali, memintanya untuk memberikan satu saja alasan yang masuk akal. Namun, semua pesan itu hanya tersisa tanpa balasan.
Mengapa dia melakukan ini? Jika dia sudah bosan, mengapa tidak mengatakannya? Jika ada wanita lain, mengapa dia tidak jujur saja? Rasa tidak tahu ini jauh lebih menyiksa daripada kenyataan terpahit sekalipun. Di dalam kegelapan kamar, aku menangis hingga mataku sembap dan tenggorokanku terasa kering. Aku merasa dikhianati oleh takdir, dicampakkan oleh orang yang paling kupercaya di dunia ini.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan enggannya di balik awan mendung yang masih menggelayuti kota. Aku terbangun dengan kepala yang berdenyut pening dan hati yang masih terasa sakit, dadaku masih terasa sesak. Sisa-sisa air mata semalam membekas kering di pipiku.
Pukul sembilan pagi, ponselku yang tergeletak di atas kasur tiba-tiba bergetar. Jantungku seketika berdegup kencang. Dengan harapan yang membubung tinggi bahwa itu adalah Keenan yang menelepon untuk meminta maaf, aku langsung menyambar ponsel tersebut tanpa melihat layarnya terlebih dahulu.
"Halo, Keenan?!" seruku dengan suara serak.
Namun, bukan suara berat Keenan yang menyahut di ujung sana. Melainkan suara isak tangis seorang wanita yang sangat kukenal. Itu adalah suara Ibu Sarah, ibu kandung Keenan.
"Alya..." suara Ibu Sarah terdengar sangat gemetar, diselingi oleh tangisan yang tertahan. "Alya... kamu di mana, Nak?"
"Ibu, ada apa. Aku di rumah. Bu." Kudengar isak tangisnya semakin keras. Firasat buruk yang sempat kurasakan semalam kembali hadir, kali ini jauh lebih kuat hingga membuat bulu kudukku berdiri. "Ibu? Ibu kenapa nangis? Ada apa Bu? Semalam..." Aku menghentikan kalimatku, ragu untuk menceritakan bahwa Keenan baru saja memutuskanku.
"Alya... Keenan, Nak. Keenan..." Tangisan Ibu Sarah pecah, terdengar begitu histeris dan hancur di seberang telepon.
"Keenan kenapa, Bu? Keenan kenapa?"
Isak tangis Ibu Sarah melandai, sepertinya ia sudah bisa mengatasinya. Beberapa menit aku terdiam.
"Keenan sudah enggak ada, Alya."
Bumi tempatku berpijak seolah runtuh seketika. Kakiku gemetaran seolah tak mampu menopang tubuhku.
"Enggak ada? Maksud Ibu apa? Semalam... semalam aku baru saja ketemu Keenan di kafe biasa, Bu. Kami ketemu jam delapan malam. Keenan sehat-sehat saja, walaupun dia terlihat agak pucat. Tapi dia baik-baik saja, Bu."
Ibu Sarah kembali menangis, lalu kudengar dia suaranya bergetar, "enggak, Al, enggak. Keenan sudah engga ada."
"Ibu jangan bercanda..." Suaraku meninggi, ada penolakan yang luar biasa dari dalam diriku mendengar ucapan Ibu Sarah.
"Alya, dengerin Ibu, Nak..." Ibu Sarah mencoba menenangkan suaranya di sela tangisnya yang memilukan. "Keenan kecelakaan, Al. Hari Senin sore kemarin, jam emoat sore. Mobilnya dihantam truk kontainer di jalan tol saat dia mau pulang ke Jakarta. Keenan... Keenan meninggal di tempat kejadian, Al. Jenazahnya baru selesai diurus di rumah sakit, dan sekarang sudah di rumah duka. Kamu ke sini ya, Nak..."
Ponsel di tanganku terlepas, jatuh begitu saja ke atas kasur.
Seluruh tubuhku mendadak lemas, membuatku terdiam tak percaya. Otakku menolak keras informasi yang baru saja kuterima. Kepalaku terasa berputar hebat, mencoba mencerna garis waktu yang sama sekali tidak masuk akal.
Hari Senin sore? Meninggal di tempat? Itu berarti...
Buru-buru kuambil ponselku. Kulihat pesan yang dikirim Keenan kemarin sore. Aku melihat jam di pesan tersebut, hanya satu jam setelah Ibu Sarah bilang Keenan kecelakaan.
"Enggak mungkin... itu enggak mungkin!" teriakku histeris di dalam kamar yang sepi. "Semalam aku menyentuh tangannya! Dia berbicara denganku! Dia memutuskanku semalam! Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa menemuiku semalam?!"
Aku memang melihat wajahnya pucat, aku juga menyentuh tangannya yang dingin, tapi...
Arrghh..!
Tanpa memedulikan penampilanku yang berantakan dengan mata sembap dan rambut kusut, aku menyambar kunci mobil dan dompetku di atas meja, lalu aku berlari keluar kamar. Aku berkendara seperti orang kesetanan menuju rumah Keenan. Di sepanjang jalan, air mataku mengalir deras menghalangi pandangan, tetapi aku terus menekan pedal gas. Aku harus membuktikan bahwa ini semua adalah kesalahan. Ini pasti salah paham. Ini pasti lelucon yang sangat buruk. Siapa tahu ini prank Keenan di hari jadi kita yang ketujuh. Kalau memang itu benar, Keenan keterlaluan. Dia sampai menggunakan ibunya memainkan drama ini.
Berakli-kali kukatakan di jalan, Keenan-ku masih hidup. Dia semalam bersamaku!
Begitu mobilku berbelok ke jalan arah rumah Keenan, bentangan bendera kuning yang terikat di tiang listrik langsung menyambutku. Jantungku rasanya berhenti berdetak. Di depan rumah pagar hitam itu, sebuah tenda putih besar telah berdiri. Puluhan kursi lipat berjajar, diisi oleh orang-orang berpakaian hitam yang duduk dengan wajah-wajah penuh duka.
Aroma bunga melati dan papan bunga duka cita yang berjejer di sepanjang pagar membuat dadaku semakin sesak. Di salah satu papan bunga terbesar, tertulis dengan jelas.
Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Keenan Aditya.
Aku keluar dari mobil dengan kaki gemetaran. Langkahku goyah saat berjalan memasuki halaman rumah. Beberapa kerabat Keenan yang mengenalku menatapku dengan pandangan penuh rasa iba, tetapi aku mengabaikan mereka semua. Pandanganku hanya tertuju pada pintu ruang tamu yang terbuka lebar.
Di dalam ruangan itu, di tengah-tengah pelayat yang sedang membacakan doa, terbujur sebuah keranda yang ditutupi kain hijau berlafazkan ayat suci. Di sebelahnya, Ibu Sarah duduk bersimpuh dengan mata yang bengkak.
"Alya..." Ibu Sarah melihatku dan langsung berdiri, memelukku dengan sangat erat. Tubuh wanita paruh baya itu bergetar hebat. "Keenan sudah pergi, Al... Dia ninggalin kita..." Ibu menanngis di pelukanku. Aku masih tegar menyaksikan keranda itu. Menurut Ibu Sarah, tubuh Keenan langsung dimasukkan ke keranda karena sebagian hancur. Benturan itu sangat keras, bahkan mobilnya sudah tak berbentuk lagi.
Aku tidak bisa menangis lagi. Tubuhku kaku. Mataku menatap lurus ke arah sebuah foto berbingkai hitam yang diletakkan di dekat kepala keranda. Itu foto Keenan. Foto di mana dia tersenyum sangat manis, senyuman yang selalu berhasil membuatku merasa aman.
"Bu..." suaraku terdengar seperti desisan angin, kering dan tanpa emosi. "Ka-kapan sebenarnya kejadiannya?"
Ibu Sarah mengusap air matanya dengan tisu yang sudah basah kuyup. "Kemarin sore, Al, jam empat. Waktu itu dia mau langsung menemuimu, katanya mau kasih kejutan. Tapi di tol, ada truk yang remnya blong. Truk itu menghantam Mobil Keenan hingga hancur, Nak. Keenan langsung meninggal di tempat. Ibu sengaja baru mengabari kamu pagi ini karena kemarin keadaannya sangat kacau, dan Ibu tahu kamu pasti sangat terpukul."
Mendengar penjelasan itu, lututku benar-benar kehilangan kekuatannya. Aku bersimpuh di lantai karpet, menatap keranda itu dengan tatapan kosong.
Hari Senin sore.
Sementara Keenan menemuiku malamnya pukul delapan. Selisih waktu beberapa jam saja.
Jadi, siapa yang menemuiku semalam di kafe? Siapa pria yang duduk di hadapanku, yang menatapku dengan mata penuh kesedihan, yang memutuskan hubungan kami tanpa alasan yang jelas?
Tiba-tiba, semua potongan teka-teki yang janggal dari pertemuan semalam mulai menyatu di dalam benakku.
Wajahnya yang pucat. Suaranya yang teramat pelan seolah datang dari tempat yang sangat jauh. Tangannya yang terasa sedingin es saat aku menyentuhnya.
Dan bagaimana dia bisa menghilang begitu cepat di tengah guyuran hujan deras tanpa meninggalkan jejak apa pun.
Dia tidak sedang mencampakkanku karena berhenti mencintaiku. Dia memutuskanku karena dia memang harus pergi. Dia melepaskan ikatan kami agar aku tidak terus terikat pada seseorang yang sudah menjadi masa laluku. Dia membebaskanku.
Air mataku, yang sempat membeku, kini tumpah tak terbendung lagi. Aku merangkak mendekati keranda Keenan, menyentuh kain penutupnya yang dingin. Dadaku berguncang hebat oleh tangisan yang begitu pilu hingga beberapa pelayat lain mencoba menenangku.
"Keenan..." bisikku di sela-sela tangis, suaraku tertelan oleh riuh doa di dalam ruangan. "Kenapa kamu harus se-enggak tega itu? Kenapa kamu harus pura-pura mutusin aku cuma supaya aku enggak meratapi kematianmu?"
Aku tahu persis sifat Keenan. Dia adalah pria yang selalu menempatkan kebahagiaanku di atas segalanya. Bahkan dalam kematiannya sekalipun, dia tidak ingin melihatku hancur karena meratapi kepergiannya sebagai seorang kekasih. Dia sengaja datang menemuiku malam itu, menggunakan sisa-sisa eksistensinya yang tersisa di dunia ini, hanya untuk membuatku marah dan benci kepadanya. Dia ingin aku berpikir bahwa hubungan kami telah berakhir karena kesalahannya, sehingga saat aku tahu dia telah tiada, rasa sakit yang kurasakan adalah rasa sakit karena kehilangan seorang "mantan kekasih yang egois", bukan kehilangan belahan jiwa yang pergi selamanya saat cinta kami sedang mekar-mekarnya.
Dia ingin aku membencinya, agar proses merelakannya menjadi lebih mudah bagiku.
"Kamu bodoh, Keenan!" bisikku lagi, menyandarkan keningku pada tepi keranda. "Kamu pikir dengan cara seperti ini aku bisa berhenti mencintaimu? Kamu pikir aku akan membencimu?"
Aku memejamkan mata, dan ingatan tentang tatapan terakhirnya di kafe semalam kembali terbayang dengan sangat jelas. Tatapan penuh kerinduan, kesedihan, dan cinta yang teramat besar yang tidak mampu dia sembunyikan di balik kata-kata dinginnya. Dia memutuskanku dengan hati yang sama hancurnya denganku.
Di malam terakhir itu, dia datang bukan untuk menyakitiku. Dia datang untuk mengucapkan selamat tinggal yang tidak sempat dia katakan saat maut menjemputnya di jalan tol yang dingin.
"Aku tahu, Keen... aku tahu semuanya sekarang," ucapku dalam hati, membiarkan air mata membasahi kain penutup kerandanya. "Aku tahu betapa kamu mencintaiku, sampai-sampai di saat kamu sudah bukan lagi bagian dari dunia ini, kamu masih memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan hatiku dari kehancuran."
Rasa sakit yang kurasakan saat ini memang luar biasa, sebuah luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh sepanjang sisa hidupku. Namun, di balik rasa perih yang mengoyak dada, ada sebuah keikhlasan yang perlahan-lahan mulai tumbuh.
Aku tidak akan membencinya seperti yang dia inginkan. Aku akan tetap mencintainya, menyimpan seluruh kenangan tentangnya di tempat paling suci di dalam hatiku. Dan aku berjanji, demi cinta luar biasa yang telah dia tunjukkan bahkan setelah detak jantungnya berhenti, aku akan memenuhi permintaan terakhirnya.
Aku akan menjaga diriku baik-baik. Aku akan melanjutkan hidupku. Dan suatu saat nanti, aku akan menemukan kembali kebahagiaanku, seperti yang dia bisikkan di tengah rintik hujan malam itu.
Selamat jalan, rumahku. Selamat jalan, Keenan-ku. Terima kasih telah datang hanya untuk berpamitan. Terima kasih karena kamu selalu ada di sisiku. Terima kasih telah singgah dihatiku, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Bayangan dan kenanganmu akan melekat kuat di hati dan benakku. Entah butuh berapa lama aku akan bisa melupakanmu.
***
Untuk seseorang yang pernah menemaniku.