Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
A COLD GOODBYE
Lampu gantung di sudut kafe berayun pelan, melemparkan bayangan samar di atas meja kayu yang memisahkan aku dan Keenan. Di luar, hujan deras mengguyur kota, menciptakan tirai air yang memutus kami dari dunia luar. Suara rintik yang menghantam kaca berbaur dengan alunan musik jaz bervolume rendah. Atmosfernya begitu intim, suasananya membuatku ingin menggenggam jemari Keenan erat-erat dan membisikkan betapa aku bersyukur memilikinya.
Aku sangat mencintai laki-laki di hadapanku ini. Cinta itu bukan lagi sesuatu yang meletup-letup seperti kembang api kala remaja dulu, melainkan seperti aliran sungai yang tenang namun mendalam, meresap ke setiap sudut jiwa yang paling sunyi.
Aku dan Keenan sudah lama menjalin hubungan kekasih, sejak masih remaja, tepatnya saat duduk di bangku SMA di tahun kedua.
Bagiku, Keenan adalah rumah. Tempat di mana aku bisa menanggalkan semua topeng dan kepura-puraan. Bersamanya, aku merasa menjadi seorang agdis yang sempurna, yang diperlakukan bak puteri seorang raja.
Namun malam itu, ada sesuatu yang yang berbeda. Sesuatu yang tak pernah aku rasakan selama ini.
Keenan terlihat duduk terlalu tegak. Tatapannya yang biasanya hangat bagai mentari pagi, malam itu terasa dingin ...