Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
7 Hari Bersemayam
0
Suka
6
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator


Dengan sisa-sisa energi yang yang masih tersisa seorang wanita berdiam mencerna apa saja yang terjadi dalam kilas-kilas ingatan yang menggantung semraut seperti benda benda disekitar ruangan ini.

“Bu...”

Entahlah siapa yang memanggil yang jelas ku lihat dari ekor mata ada seorang mengenakan pakaian putih dengan jas yang begitu rapi. Rasanya sulit sekali membuka mulut untuk bertanya keberadaan ku saat ini.

“Tak perlu dipaksakan Bu, jika sudah membaik semua akan terasa biasa saja.”

Aku mendengar namun entah mengapa seorang pria tersebut berkata

jika sudah membaik...” memang apa yang sedang tidak baik.

Sudah hari kelima kata pria berjas putih yang dapat ku sebut dokter. Kali ini aku bisa tersenyum, dan melirik sekitar ruang yang dapat ku sebut rumah sakit. Aku bahkan sudah dapat makan dan minum sambil dibantu untuk memakan bubur, kuah sup kaldu ayam, dan minum segelas air yang disajikan diatas nampan yang dibawakan 3 kali dalam sehari. Sering juga dibawakan buah-buahan yang sangat segar, namun aku tidak selera untuk makan buah tersebut. Suasana selama hari tersebut sangatlah membosankan, namun keheningan tersebutlah yang selalu ku harapkan tiap kali aku berada dikerumuan orang yang tak ku kenali.

Karena ku merasa bosan aku mencoba untuk berpindah posisi untuk duduk dengan kursi roda yang berada cukup jauh dari jangkauan ku. Tanpa sepatah kata yang terlontar hanya dengan gerakan sedikit saja membuat orang yang mengenakan pakaian putih tersebut menengok ke arah ku, dan tentunya ia sangat sigap langsung membawakan kursi roda yang ku incar dengan isyarat pandangan fokus kearah benda tersebut. Tak hanya itu, ia juga membantu ku untuk berpindah posisi dan mendorong ku ke arah dekat jendela.

“Apakah kamu ingin menghirup udara segar?” Aku mengangguk sambil menatapnya.

“Maaf, kata dokter kamu belum diperbolehkan keluar ruangan ini. Tapi aku tidak keberatan untuk membuka sedikit jendela ini agar kamu dapat menghirup udara.”

Ya tidak apa, lagi pula akupun malas keluar ruangan dan menjumpai orang-orang disini karna pasti mereka juga tampaknya tidak senang berada disini dan mengeluhkan hal yang serupa. Selain tidak suka menjumpai banyak orang, aku juga tidak suka bertemu dengan orang yang memasang wajah muram.

Cuaca pagi ini sangat bagus, dengan mentari yang cukup menyorot jendela berwarna putih dan ada kicauan burung yang bercampur suara kendaraan yang berlalu lalang, ku lihat dari meja samping tempat tidur ku tertera angka K.308 Lt. 9, yang dapat ku simpulkan itulah nomor kamar ku yang memang berada cukup tinggi dibangunan ini jika dilihat kearah bawah dari jendela.

Kurang lebih sekitar 30 menit aku diminta untuk segera kembali ke hospital bed dan jendela pun kembali tertutup. Tak lama dari itu entah angin mana yang membuat rasa kantuk kian menggebu dan aku terlelap. Hari-hari terasa begitu saja berlalu ditempat ini, seperti yang sudah ku ceritakan sebelumnya bahwa disini sangat membosankan namun orang-orang disini begitu baik membantu ku, mereka juga begitu ramah dengan ku dengan senyuman dan motivasi-motivasi pagi setiap hari. Disini aku tidak memikirkan banyak hal yang ku khawatirkan seperti hari-hari kemarin karna aku sepenuhnya sudah percaya kepada para manusia yang mengenakan pakaian putih yang selalu ku temui, disini juga aku merasa tenang tanpa perlu menjelaskan persoalan dunia selama 24 jam, karna 24 jam berjalan begitu saja.

Kini hari keenam, aku mengulangi kebiasaan membuka jendela selama 30 menit. Bedanya hariini cuaca tak secerah kemarin, dan tidak ada kicauan burung menghiasi telinga ku. Langitnya begitu pekat, benar sekali kata orang bahwa 50% mendung sudah pasti akan turun hujan, dan 15 menit kemudian turun hujan dengan aroma khasnya yang ku suka. Dengan sigap seseorang menutup jendela, namu ku tahan dan kami saling pandang lalu ke mengisyaratkan untuk melirik ke arah jam dinding yang merujuk 09.15. Artinya aku masih punya waktu 15 menit lagi untuk menghirup udara luar, kaliini tidak ku sebut “segar” karna memang tidak segar namun ku menyukai petrichor.

“Baiklah.” Kata orang tersebut, mengerti tentang apa yang ku mau.

 Jika ku menghitung hari, ini merupakan hari ketujuh. Tepat menunjukan pukul 05.00, sangat pas sekali angka yang hinggap disebuah benda berbentuk lingkaran berwarna putih. Aku mengamati sekeliling ku melalui kedua bola mata ini. Begitu hening, tidak ada orang sama sekali selain aku. Aku mencoba untuk bangun sekedar mengambil segelas air yang berada disamping kanan ku, namun sangat sulit terjangkau oleh lengan ku karna yang satu terikat oleh selang infus. Kering sekali rasanya, namun aku tidak bisa meminta bantu siapa-siapa. Tidak ada orang mengenakan baju putih seperti sebelum-sebelumnya, tidak pula ada kicauan burung, mungkin karna ini terlalu pagi.

Setelah mencoba menjangkau gelas tersebut berkali-kali aku memutuskan untuk melupakan keringnya tenggorokan ini dengan cara memejamkan mata. Satu, dua, tiga, dan berkali-kali ternyata tidak bisa. Aku memberanikan diri untuk bangun, menggerakan kedua kaki yang sangat berat ini. Mungkin karna selama 7 hari belakangan ini aku tidak menggunakannya dengan khalayak. Mata ku tertuju pada segelas yang masih bertengger disana, masih ku usahakan sebisa mungkin namun ternyata tak hanya segelas air, ada buku kecil disampingnya. Aku mencoba meruncingkan mata, penasaran.

Kepala ku seakan pening, pening sekali dan ini bukan karna efek samping belum meminum air segelas yang sedang ku perjuangkan. Buku itu seperti tidak asing, pernah ku lihat entah di toko buku, di ruang atau tempat umum, atau milik orang lain. Atau bahkan memang milik ku sendiri, tapi sebelumnya tak terlihat ada disitu. Jadi mungkin milik orang yang sering kesini namun tertinggal begitu saja disitu. Aku mencoba untuk memejamkan mata lagi dan lagi karna ini masih sangat terlalu pagi untuk membuka jendela dan menghirup udara luar seperti hari-hari kemarin. Barangkali aku memang hanya butuh segelas air itu, bukan udara segar dari jendala itu.

“Tap.. tap... tap...”

Itu seperti langkah orang yang datang menghampiri ku, dengan mudah orang tersebut mengambil buku yang sangat ku ingin tahu isi dalamnya. Iya seakan buru-buru dengan sigap meraihnya, dan ia berkata sendiri, karna memang tidak ada siapa-siapa lagi disini. Hanya aku dan lelaki dengan jas putih dengan wajah sedikit kebingungan.

“Nah, sepertinya buku ini yang dimaksud oleh pihak keluarga.”

 

***

Jika kamu penasaran, ini yang tertulis di halaman akhir buku:)

Untuk Papa, Mama, dan seluruh orang sekitar ku yang aku sayangi sampai bertemu dilain waktu lagi. Semoga kalian ingat selalu dengan ku, karna kalian pun akan terkenang didalam buku kecil yang selalu kebawa kemanapun. Barangkali tulisan ini menjadi saksi, aku sangat mencintai kalian dan tidak pernah takut mati.

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Boneka Plastik
Sri Wintala Achmad
Cerpen
7 Hari Bersemayam
Sri Nuraini
Cerpen
Bronze
Rantai yang Lebih Bermoral
Bang Jay
Cerpen
Bronze
Luka yang Dalam
Aralya Seraquin
Cerpen
Bolehkah Aku Hidup Di Belakang Gigimu?
Sabrina Sabila Dwi Hikmah
Cerpen
Cugak
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Satu Kali Lagi
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mendung Masih Bergelayut
Munkhayati
Cerpen
1/2 Nakal & 1/2 Polos (Tetangga Ku)
muhamad fahmi fadillah
Cerpen
Bronze
Misi Minggat- Gagal total
Novita Ledo
Cerpen
Yang Penting Bisa Hidup
Yovinus
Cerpen
Tandang
RD Sinta
Cerpen
Bronze
Tumbler Yang Tertukar
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
GINJAL
Yasin Yusuf
Cerpen
Sebuah kegagalan karena ketidakpedulian kesombongan dan meremehkan perhatian kecil
Andika Prawira
Rekomendasi
Cerpen
7 Hari Bersemayam
Sri Nuraini