Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
24 Jam Yang Menghapusku
2
Suka
12,738
Dibaca

Dunia di kelasku kecil. Tapi cukup untukku.

Cukup untuk tidak terlihat, cukup untuk bertahan.

Aku duduk di barisan ketiga dari belakang, dekat jendela. Kursi dengan baret tinta dan meja yang salah satu sudutnya pernah kutambal dengan lakban bening. Di situ aku menetap, seperti lukisan yang digantung di pojok ruangan tak ada yang bertanya kenapa ia di sana, tak ada juga yang benar-benar melihat. Kadang aku menulis sesuatu di balik kertas tugas, semacam catatan tentang hal-hal sepele yang kupikirkan terlalu dalam. Tentang cahaya matahari yang pecah jadi serpih emas di lantai kelas. Tentang suara detak jam dinding yang lebih jujur dari percakapan manusia.

Setiap pagi, langkah kakiku membawa tubuh ini masuk ke kelas 11 IPA 3 dengan irama yang sama: pelan, diam, menunduk. Tidak ada yang memanggil namaku, dan aku tak berharap ada. Teman-teman satu kelas bicara seperti mereka hidup di dimensi yang berbeda dengan frekuensi suara lebih tinggi, gestur yang terbuka, dan tawa yang mudah meledak. Sementara aku... aku seperti hening yang menyelip di sela kalimat mereka.

Aku Nara Irawan. Tak ada yang istimewa dari namaku, sama seperti tak ada yang istimewa dari cara aku menjalani hari.

Di rumah, aku lebih banyak mengurung diri di kamar. Dindingnya pucat, cat biru muda yang mulai kusam. Di satu sudut berdiri rak buku kecil berisi komik, novel usang, dan satu-satunya benda paling bernyawa di ruangan ini: tablet gambar yang kubeli dari hasil menabung sejak SMP. Di dunia itu, aku lebih bebas. Lebih bisa bernapas.

Nama akunku di Instagram: @iraw.illus. Hanya seribu lebih pengikut, tapi itu cukup. Cukup untuk merasa tak sepenuhnya hilang.

Aku menggambar wajah-wajah yang tidak kukenal. Kadang potret perempuan dengan rambut panjang, mata teduh, dan senyum yang tidak pernah benar-benar bahagia. Kadang lelaki yang berdiri membelakangi laut, menunggu sesuatu yang tak akan datang. Setiap garis yang kutarik seperti potongan cerita yang tak sempat kuceritakan dengan kata.

“Kenapa kamu sering gambar cewek nangis, Nar?” tanya salah satu followers-ku di kolom komentar.

Aku tak membalas. Karena aku sendiri tak tahu. Atau mungkin tahu, tapi memilih diam.

Dan lalu ada dia. Lala.

Nama itu ringan, seperti bulu dande...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Bronze
24 Jam Yang Menghapusku
Muhamad Irfan
Cerpen
Escape From The Blizzard
Raha Kurnia
Cerpen
Bronze
Sigod dan Rahasia Kebunnya, Ketika Tanaman Berbicara
go han
Novel
Bronze
Sesuci Bella Seteguh Azis (Buku Pertama)
Imajinasiku
Novel
Rebuild the Club! 2: Now or Never!
William Oktavius
Cerpen
Bronze
Wasiat Bulan
Lina Budiarti
Novel
Aku, Kamu dan Jarak
Ralea
Flash
Bronze
MONOCHROME
Lucia Triwulan Yuniestri
Flash
Bronze
Penghuni Imaji (Membicarakan Adam 21)
Silvarani
Cerpen
Bronze
PATAH HATI DI UJUNG ADAT
ari prasetyaningrum
Flash
Bronze
Ketua Kelas
Muhammad Yunus
Cerpen
Kembar Satu Jiwa
SURIYANA
Novel
Bronze
Love And Try It
Jimin Sesungki
Novel
Gold
When Patty when to College
Noura Publishing
Novel
Bronze
Cut Off
Dewi Fortuna
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
24 Jam Yang Menghapusku
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Terlambat
Muhamad Irfan
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Ibuku
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jejak yang Hilang di Lorong 4
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Nyaris
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jaket Merah yang Tak Pernah Dikembalikan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
JIKA RUMAH ADALAH LUKA
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tanpa Balasan
Muhamad Irfan
Cerpen
Tak Layak
Muhamad Irfan
Cerpen
BISU
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan yang Tidak Pernah Pulang
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tidak ada Tempat untuk Kita Berteduh
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jejak
Muhamad Irfan
Cerpen
Bukan Lagi Kita
Muhamad Irfan