Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
24 Jam Yang Menghapusku
1
Suka
1,886
Dibaca

Dunia di kelasku kecil. Tapi cukup untukku.

Cukup untuk tidak terlihat, cukup untuk bertahan.

Aku duduk di barisan ketiga dari belakang, dekat jendela. Kursi dengan baret tinta dan meja yang salah satu sudutnya pernah kutambal dengan lakban bening. Di situ aku menetap, seperti lukisan yang digantung di pojok ruangan tak ada yang bertanya kenapa ia di sana, tak ada juga yang benar-benar melihat. Kadang aku menulis sesuatu di balik kertas tugas, semacam catatan tentang hal-hal sepele yang kupikirkan terlalu dalam. Tentang cahaya matahari yang pecah jadi serpih emas di lantai kelas. Tentang suara detak jam dinding yang lebih jujur dari percakapan manusia.

Setiap pagi, langkah kakiku membawa tubuh ini masuk ke kelas 11 IPA 3 dengan irama yang sama: pelan, diam, menunduk. Tidak ada yang memanggil namaku, dan aku tak berharap ada. Teman-teman satu kelas bicara seperti mereka hidup di dimensi yang berbeda dengan frekuensi suara lebih tinggi, gestur yang terbuka, dan tawa yang mudah meledak. Sementara aku... aku seperti hening yang menyelip di sela kalimat mereka.

Aku Nara Irawan. Tak ada yang istimewa dari namaku, sama seperti tak ada yang istimewa dari cara aku menjalani hari.

Di rumah, aku lebih banyak mengurung diri di kamar. Dindingnya pucat, cat biru muda yang mulai kusam. Di satu sudut berdiri rak buku kecil berisi komik, novel usang, dan satu-satunya benda paling bernyawa di ruangan ini: tablet gambar yang kubeli dari hasil menabung sejak SMP. Di dunia itu, aku lebih bebas. Lebih bisa bernapas.

Nama akunku di Instagram: @iraw.illus. Hanya seribu lebih pengikut, tapi itu cukup. Cukup untuk merasa tak sepenuhnya hilang.

Aku menggambar wajah-wajah yang tidak kukenal. Kadang potret perempuan dengan rambut panjang, mata teduh, dan senyum yang tidak pernah benar-benar bahagia. Kadang lelaki yang berdiri membelakangi laut, menunggu sesuatu yang tak akan datang. Setiap garis yang kutarik seperti potongan cerita yang tak sempat kuceritakan dengan kata.

“Kenapa kamu sering gambar cewek nangis, Nar?” tanya salah satu followers-ku di kolom komentar.

Aku tak membalas. Karena aku sendiri tak tahu. Atau mungkin tahu, tapi memilih diam.

Dan lalu ada dia. Lala.

Nama itu ringan, seperti bulu dande...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
Pesan di Lembar Terakhir
Rika Kurnia
Skrip Film
Meisje
Abe Ruhsam
Flash
Memories
Rahara Meraki
Cerpen
Bronze
Kado untuk Ayah
penulis kacangan
Cerpen
Bronze
24 Jam Yang Menghapusku
Muhamad Irfan
Novel
Pretty Thing
clearesta nathania
Novel
Bronze
Aku tetaplah diriku
Devi Wulandari
Novel
Satu Langit Dua Cerita (Kosakata Cinta di La Sorbonne)
Martha Z. ElKutuby
Novel
Becoming 24
Febby Arshani
Novel
Sebeloem Monas Dibangoen
Silvarani
Novel
Jejak Langkah Hilang
Selfia Wulandari
Skrip Film
Heal
Tirta Mustika Yudhistira
Skrip Film
Cerita Ini Belum Berjudul
Ainun Nisa
Cerpen
Bronze
INSHAN HINA
Iman Siputra
Novel
Arunika
Wangi Gitaswara
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
24 Jam Yang Menghapusku
Muhamad Irfan
Cerpen
BISU
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bunga yang Tak Pernah Ditaruh di Vas
Muhamad Irfan
Cerpen
Tersisa di Gaza
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan di Meja Sebelah
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
JIKA RUMAH ADALAH LUKA
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jejak yang Hilang di Lorong 4
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Satu Kursi yang Kosong
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Nyaris
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tidak ada Tempat untuk Kita Berteduh
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tanpa Balasan
Muhamad Irfan
Cerpen
Tak Layak
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan yang Tidak Pernah Pulang
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tak Terdengar
Muhamad Irfan
Cerpen
Sepotong Roti Hangat di Ujung Hujan
Muhamad Irfan