Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Guruh, laki-laki berusia 12 tahun yang hidup hanya bersama Ibunya yang bernama Lastri sedang menderita lumpuh akibat kecelakaan. Ayah Guruh pergi meninggalkan mereka entah kemana. Mereka hidup dalam sebuah gubuk yang sudah reot. Walaupun keadaan ekonomi mereka tergolong sangat tidak mampu, Guruh tetap sekolah duduk di bangku kelas 6 SD. Guruh menghidupi Marni, ibunya dengan bekerja sebagai tukang sol sepatu dan semir sepatu keliling. Kehidupan Guruh tidak seperti anak-anak yang lain.
Sepulang dari sekolah rutinitas yang Guruh lakukan setiap hari adalah memasak dan merawat ibunya. "Assalamu'alaikum..."Guruh mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam." Ibunya menjawan
Guruh pulang dari sekolah masuk dan menemui Ibunya lalu salim. Tanpa gant baju terlebih dahulu, Guruh langsung berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang Ibunya. Guruh mebuka tempat nasi ternyata tinggal satu piring. Guruh mengambil nasi lalu menuangkan ke piring kemudian mengambil kecap yang tinggal sedikit, lalu menuangkan ke atas nasi. Guruh menghampiri Ibunya di atas ranjang.
"Ibu makan dulu." Ucap Guruh.
Lalu Guruh menyuapi Ibunya penuh dengan ketulusan. Lalu Guruh mengucap lirih,
"Maafin Guruh ya Bu, lauknya cuma kecap."
Ibunya menjadi sedih,
"Gak pa-pa nak...Kamu juga nanti langsung makan..."
"Iya Bu..." Guruh menjawab.
"Nasinya masih ada kan?" Tanya Ibunya.
"Masih ada Bu." Guruh terpaksa bohong karena nasi sudah habis.
Ibunya tersenyum lalu Guruh kembali menyuapi yang terakhir. Guruh bangkit dan berjalan ke dapur. Di dapur, Guruh mencuci piring bekas makan Ibunya tadi. Setelah selesai, Guruh ambil air wudhu. Guruh masuk ke ruangan Ibunya untuk mengganti baju.
Guruh sholat dhuhur disamping ranjang Ibunya. Terlihat raut wajah yang sedih pada Ibunya saat menatap.wajah Guruh yang sedang sholat. Ibunya merasa bersalah dan berdosa karena tidak seharusnya Guruh hidup seperti sekarang. Mata Ibunya berkaca-kaca lalu perlahan wajahnya berubah seperi menyimpan dendam. Tiba-tiba Ibunya dikagetkan dengan Guruh yang berpamitan.
"Bu, Guruh mau nyari uang dulu..." Guruh pun salim.
Ibunya tidak menjawab hanya mengangguk. Ibunya terlihat tidak ikhlas jika anaknya bekerja.
Di emperan toko elektronik yang memajang banyak televisi di etalase. Ini adalah tempat Guruh mangkal sebagai tukang sol sepatu. Guruh duduk di emperan sambil menonton tv. Tampak orang lalu lalang lalu Guruh menawarkan jasanya, "Sol sepatunya om....Sol sepatunya Pak..." Orang-orang yang melintasi Guruh tidak menghiraukan. Tiba-tiba perut ...