Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aron berdiri di depan pintu panti asuhan, menatap bangunan tua yang menyimpan begitu banyak kenangan. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma kayu basah dan asap lilin dari dalam. Cahaya temaram dari jendela kecil memantulkan bayangan-bayangan samar di tanah berbatu.
Saat masih kecil, tempat ini adalah dunianya. Dia ingat bagaimana dulu dia dan Francka sering duduk di dekat perapian, mendengar cerita dari Priest Ana yang mengasuh mereka. Dia ingat malam-malam panjang saat mereka berbicara tentang masa depan—tentang bagaimana mereka ingin menjadi prajurit suci, bertarung melawan iblis, dan suatu hari mungkin menjadi Paladin di kota besar.
Sudah lama dia meninggalkan panti ini. Walaupun ada di samping gereja dan dia cukup sering berkunjung di tengah kesibukannya sebagai prajurit, namun kini, kehangatan itu terasa jauh. Priest Ana masih ada, tapi cerita-ceritanya tak lagi bisa membuatnya lupa pada kenyataan yang menunggu di luar sana.
Francka selalu lebih kuat darinya. Dari sudut pandangnya, Francka bisa melakukan banyak hal yang sulit baginya. Dia cepat belajar dalam pertarungan, tubuhnya lebih tangguh, dan sihirnya lebih kuat.
Sihir Francka bangkit bahkan sebelum dia meminum air suci untuk pertama kalinya. Hal itu membuatnya direkrut lebih awal sebelum upacara kenaikan. Itu adalah perbedaan terbesar Aron dan Francka.
Aron tidak memiliki kemampuan khusus sebelum upacara kenaikannya yang pertama. Dia harus menunggu giliran, meminum air suci, dan baru setelah itu dia bisa merasakan kekuatan mengalir dalam dirinya. Sementara itu, Francka… dia sudah terlahir dengan sesuatu yang lebih.
Karena itu, tahun berikutnya, setelah upacara besok, Francka mendapatkan kesempatan untuk minum air suci satu kali lagi, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Aron. Dia tidak iri. Setidaknya, itulah yang selalu dia yakinkan pada dirinya sendiri. Tetapi jauh di dalam hatinya, ada perasaan tertinggal yang sulit diabaikan.
Pintu panti terbuka tiba-tiba, membuyarkan lamunannya. Yang membuka pintu adalah Priest Ana. Mungkin, dia terlalu lama di depan pintu mengganggu orang di dalam.
“Aron?”
Tiga anak laki-laki berusia empat belas tahun menghampiri Ana yang berdiri di ambang pintu, wajah mereka cerah melihatnya. Mereka hampir setinggi Aron sekarang, dan besok mereka juga akan mengikuti upacara.
Syarat untuk menjadi seorang prajurit adalah dewasa. Di kerajaan ini mereka akan dianggap dewasa setelah menginjak usia 15 tahun. Namun karena upacara ini hanya dilakukan setahun sekali, dan ulang tahun mereka ada di beberapa bulan ke depan, ketiga anak ini harus mengikuti upacara besok atau menunggu lebih lama lagi.
“Kau pulang cepat hari ini!” ujar Theo, bocah berambut ikal yang selalu penuh semangat.
“Tidak ada misi?” tanya Erwin, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.
Aron tersenyum kecil, menyembunyikan pikirannya yang tadi melayang jauh. “Tidak, besok upacara kenaikan. Aku hanya ingin melihat panti sebelum itu.”
Lucas, yang paling pendiam di antara mereka, menatapnya dengan mata berbinar. “Kita juga akan meminum air suci besok, kan?”
Aron mengangguk.
Ada anak lain yang menghampiri, dia menghela napas. “Aku iri. Aku ingin cepat menjadi prajurit juga.”
“Kau tidak takut?” tanya Erwin tiba-tiba. “Bertarung dengan iblis… menghadapi kematian…”
“Takut lah. Siapa yang tidak takut? Mereka pasti bohong,” anak itu menjawabnya jelas.
Aron menatap keempatnya. Mereka masih anak-anak, seperti dirinya dulu. Penuh impian, tetapi belum mengerti sepenuhnya apa yang menanti mereka.
“Rex benar. Aku juga takut,” jawabnya jujur. “Tapi aku tidak akan lari.”
Keempatnya terdiam. Kemudian Lucas tersenyum kecil. “Aku juga tidak akan lari.”
Priest Ana tersenyum. Dia merasa lega tentu saja. Menjadi prajurit adalah jalan mulia.
“Laki-laki tidak akan menarik kembali kata-katanya. Jaga baik-baik,” kata Priest Ana mempermainkan Lucas.
Aron tertawa kecil. Mereka mengingatkannya pada dirinya sendiri dan Francka saat masih di panti.
“Tunggu saja,” katanya, mengacak rambut Lucas. “Tahun depan, giliran kalian.”
Meski dia berkata demikian, dia bertanya-tanya apakah mereka akan menjadi lebih kuat darinya juga.
***
Aron duduk diam di kursi kayu gereja, tempat para jemaat biasanya berdoa. Malam sudah larut, dan kesunyian memenuhi ruang besar itu, hanya dipecah oleh suara napasnya sendiri.
Di hadapannya, patung Dewi bersayap berdiri megah di belakang mimbar, diterangi cahaya redup dari lilin-lilin yang masih menyala. Sayapnya terentang lebar dari ujung ruangan ke ujung lainnya, seolah ingin merangkul siapa pun yang datang dengan doa dan harapan. Wajahnya tenang, dengan mata yang menatap jauh ke masa depan.
Aron menatap patung itu tanpa berkedip. Apakah Dewi itu benar-benar melihatnya? Atau hanya sekadar hiasan tanpa makna? Dalam diam, Aron merasakan beban di pundaknya semakin berat. Doanya tidak pernah berubah. Tapi jawabannya selalu sama—sunyi.
Saat suara langkah mendekat dari pintu utama gereja, itu adalah Archpriest Malva dan Francka. Aron segera berdiri dari kursinya. Malam yang sunyi membuat suara itu terdengar jelas, langkah yang pelan namun tegas. Dia membalikkan badan dan melihat keduanya berjalan perlahan ke arahnya.
Francka berjalan dengan langkah pelan, menyesuaikan diri dengan ritme langkah wanita tua di sampingnya. Dia mengenakan mantel pendek abu abu dengan bawahan hitam. Adapun tas yang di bawa Francka isinya adalah jubah putih bersulam emas yang menandakan Archpriest Malva akan kembali menjadi Archpriest walau hanya sementara. Wajahnya dipenuhi kerutan, tetapi matanya masih tajam. Malva adalah sosok yang dihormati, bahkan setelah dirinya pensiun dari gereja. Rambutnya yang dahulu hitam pekat kini hampir seluruhnya memutih.
Aron maju beberapa langkah, lalu menundukkan kepala dalam penghormatan.
“Selamat malam, Yang Mulia Archpriest Malva. Terima kasih sudah datang,” katanya dengan suara yang lebih dalam dari biasanya.
Malva berhenti di hadapan Aron, menatapnya sejenak sebelum tersenyum tipis.
“Sudah lama aku tidak dipanggil begitu,” katanya. Suara lembutnya terdengar seperti bisikan di antara dinding-dinding gereja yang dingin.
Aron mengangkat kepalanya dan mengamati wajah Malva lebih dekat. Ada garis-garis kelelahan di sekitar matanya, tetapi ada juga keteguhan yang tidak luntur oleh usia.
“Mari masuk lebih dalam,” Aron berkata, memberi isyarat ke arah altar.
Malva mengangguk pelan dan mulai berjalan menuju kursi di dekat mimbar. Aron mengikuti di belakangnya, masih merasa ada sesuatu yang berbeda pada wanita tua itu malam ini. Sesuatu yang belum bisa dia pahami.
Aron sangat senang Malva menggantikan Archpriest Nachman sehingga upacara kenaikan tetap akan diadakan. Namun, rasa senang itu sama sekali tidak dibalas Malva. Wanita tua itu akhirnya hanya diam sampai dia duduk di kursi depan mimbar.
Malva menatap patung Dewi sama seperti yang dilakukan Aron dengan mata tuanya yang tajam. “Besok adalah hari besar,” ujar Malva pelan dengan nafas lelah, lebih kepada yang tergambar di wajahnya.
Aron mengangguk. “Ya, dan Anda akan memimpin upacara. Kami semua berterima kasih karena Anda bersedia kembali ke gereja untuk ini.”
Malva tidak langsung menjawab, sorot matanya menyiratkan kelelahan. Jarak rumahnya yang jauh membuatnya tidak mungkin bolak-balik, dan karena itu, ia akan menginap di gereja. Di balik patung Dewi, terdapat sebuah ruangan—ruang kerja Archpriest, yang juga memiliki tempat tidur sederhana di dalamnya. Itu akan menjadi tempat peristirahatan Malva malam ini.
“Aku tidak berniat kembali. Aku hanya mengambil kesepakatan.”
Aron mengangkat kepala. “Maksud Anda?”
“Aku bersedia memimpin upacara ini hanya demi cucuku, Raesha bisa menjadi prajurit suci,” Malva menjawab. “Dia sama sepertimu Aron. Aku bisa melihatnya, kau dan Raesha itu sama.”
Aron merasakan tubuhnya menegang. Nama itu tidak asing baginya. Raesha adalah seseorang yang sudah berkali-kali mencoba mengikuti upacara kenaikan, tetapi selalu gagal.
Francka mencondongkan tubuhnya ke depan. “Saya mendengar para Priest seharusnya bisa meminta Archbishop atau Bishop menggantikan Archpriest, tapi mereka menolak.”
“Ya,” Malva mengangguk. “Mereka tidak ingin mengganggu hirarki lebih tinggi untuk sesuatu yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Aku tidak ingin kembali, tetapi… jika aku tidak turun tangan, Raesha mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatannya lagi.”
Aron ingin bertanya menyangkut hal barusan yang dikatakan Malva. Namun, dia menatapnya dengan tajam.
“Dan kau, Aron,” katanya pelan. “Kau seharusnya tidak meminum air suci itu.”
Aron terdiam sejenak sebelum akhirnya mengerutkan kening. “Apa maksud Anda?”
Francka juga menatap Malva dengan penuh tanda tanya.
Malva tidak langsung menjawab. Dia melipat tangannya di pangkuan, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Melihat kau sama dengan cucuku. Sumber kekuatanmu juga pasti bukan air suci.”
Aron mengepalkan tangannya, merasakan tekanan kukunya hampir menembus telapak tangannya sendiri. Dalam hatinya, dia berpikir, “Apakah aku akan tertinggal lagi?”
“Tapi tanpa itu, aku takkan bisa bertarung. Aku harus menjadi lebih kuat. Aku menjawab ancaman yang semakin hari semakin kuat juga.”
“Menurutku, Aron....” Malva menghela napas pelan, lama, seolah sedang menimbang kata-katanya dengan hati-hati. “Kau memiliki kekuatan yang tidak dibatasi, tidak seperti Francka atau semua orang yang meminum air suci.”
Aron mengernyit, mencoba memahami kata-kata Malva. Apa maksudnya, kekuatannya tidak dibatasi? Itu terdengar... berlebihan. Dia membuang napas pelan, lalu tertawa kecil. “Jangan bercanda.”
“Itu benar, Aron.” Francka yang sejak tadi hanya mendengar akhirnya bicara. Mungkin, karena namanya disinggung. “Sihirku sudah lama tidak tumbuh. Jika bukan karena kau yang bertarung bersamaku, aku tidak akan mendapat pencapaian.”
Aron tidak menganggapnya serius. Wajahnya dia arahkan ke tempat lain. “Ya, kau kuat.”
Francka tidak memperdulikan Aron yang sepertinya kesal padanya. “Kau selalu bilang kau iri padaku. Namun aku selalu bertanya, kenapa kau iri padaku? Sihirmu berkembang lebih cepat dariku.”
Aron bingung. Malva kemudian melanjutkan perkataannya yang sebelumnya. “Air suci hanya memicu kekuatan yang sudah ada dalam dirimu, bukan memberimu kekuatan. Air suci bukanlah sumber kekuatamu.”
Ruangan itu terasa lebih dingin dari sebelumnya. Aron tidak tahu kenapa, tapi kata-kata Malva membuat sesuatu dalam dirinya bergetar.
“Dari awal kau salah, Aron. Kau bukan seorang petarung,” lanjut Malva. “Kekuatanmu bukan untuk menyerang… melainkan untuk memulihkan.”
Aron tidak bisa mengatakan apa pun karena yang Malva katakan ada benarnya.
“Kekuatanmu mampu menyembuhkan tubuhmu sendiri dan orang-orang di sekitarmu,” Malva melanjutkan. “Kekuatanmu sangat bertolak belakang dengan para monster yang merusak sehingga kekuatan itu sangat merusak bagi monster. Sama seperti Raesha.”
Suasana menjadi hening.
Aron ingin bertanya lebih banyak, ingin memahami lebih dalam, tetapi Malva menutup matanya, seakan memutuskan bahwa tidak ada lagi yang perlu dikatakan.
“Ada alasan tertentu untuk hal itu,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih pelan. “Tapi… aku tidak akan membicarakannya malam ini. Kau akan mengetahuinya sendiri, nanti. Saat itu tiba panggil Raesha dan datanglah padaku bersamanya.”
Aron menatapnya, masih ingin mendesak, tetapi tatapan Malva memberinya peringatan untuk tidak melangkah terlalu jauh.
Dan di dalam gereja yang sepi, kata-kata Malva menggantung di udara, menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Malam semakin larut, tetapi Aron dan Francka masih duduk di kursi gereja, berhadapan dengan Malva Perpetua. Percakapan mereka telah berakhir, namun keheningan yang mengikuti terasa lebih berat daripada kata-kata yang telah diucapkan.
Francka menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu. “Aku masih tidak percaya Archpriest Nachman benar-benar pergi begitu saja.”
Aron merundukkan kepalanya, jarinya mengetuk-ngetuk lututnya. “Ya…” suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya. “Dia bahkan tidak berpamitan.”
Archpriest Nachman telah merawat mereka sejak kecil. Bagi Aron dan Francka, dia bukan hanya pemimpin gereja ini, bukan hanya Archpriest—dia adalah seseorang yang bisa mereka anggap sebagai ayah. Setiap kali mereka merasa ragu atau lelah, Nachman selalu ada di sana untuk mendengar dan memberi semangat.
Aron tersenyum kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. “Aku ingat ketika kita masih anak-anak, saat aku bilang ingin menjadi Paladin di kota besar, Archpriest Nachman tertawa dan bilang kalau aku harus belajar bersabar lebih dulu.”
Francka menatapnya. “Dan kau malah kesal dan bersumpah akan membuktikan kalau kau bisa.”
“Dan aku berhasil,” Aron mengangkat dagunya dengan bangga, tetapi kemudian ekspresinya melunak. “Tapi dia tetap tidak ada di sini untuk melihatnya.”
Keheningan kembali mengisi ruangan. Lilin-lilin di altar bergoyang karena angin malam yang masuk dari celah jendela tinggi gereja.
Malva, yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. “Tidak ada jejak yang menunjukkan ke mana dia pergi,” katanya, matanya tertuju pada lilin-lilin yang berkedip. “Para Priest telah mencoba mencari ke berbagai tempat. Mereka berspekulasi bahwa Archpriest Nachman ada di basemen-nya karena ada jejak sihirnya di sana.”
Aron mengangkat wajahnya, menatap Malva dengan ragu. “Menurut Anda, kenapa dia pergi?”
Malva menghela napas. “Bisa jadi banyak alasan.”
“Bahkan bisa jadi dia diculik,” Francka menyahut dengan nada getir.
Aron mengerutkan kening. “Iblis, ya?”
Tidak ada yang menjawab, tetapi udara di antara mereka terasa lebih dingin.
Akhir-akhir ini, iblis yang mereka hadapi mulai berubah. Mereka tidak hanya menjadi lebih kuat, tetapi beberapa dari mereka mulai bisa berbicara. Awalnya hanya gumaman tidak jelas. Tetapi semakin lama, kata-kata mereka semakin terstruktur. Semakin… mirip dengan manusia. Aron menggenggam tangannya erat. “Aku tidak mengerti. Apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa mereka bisa berbicara?”
Francka menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Kau sendiri pernah bertarung melawan salah satunya. Kau tahu mereka lebih dari sekadar makhluk buas sekarang.”
Aron menelan ludah. Dia ingat. Pertarungannya melawan salah satu iblis yang berbicara. Itu bukan hanya sekadar kata-kata kosong. Iblis itu berbicara dengan penuh kesadaran. Seakan… mengerti rasa sakit. Seakan… menyimpan sesuatu yang mirip dengan ingatan.
“Apa menurutmu…” suara Francka sedikit bergetar, “itu alasan Archpriest Nachman menghilang?”
Aron tidak menjawab. Tetapi di dalam hatinya, dia mulai merasakan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.
Sesuatu telah berubah. Bukan hanya pada iblis yang mereka lawan. Tetapi juga pada dunia yang mereka tinggali.
***
Seminggu setelah upacara kenaikan Aron masih belum sadarkan diri. Setiap hari aku mengunjunginya, berharap dia akan bangun, tetapi wajahnya tetap pucat, napasnya teratur, seolah hanya tertidur. Namun, sesuatu tentang tidurnya terasa salah.
Aku mengunjungi rumah Archpriest Malva berharap jawaban darinya. Rumahnya terletak jauh dari gereja, di ujung desa kecil yang bahkan tidak masuk dalam wilayah perlindungan prajurit suci. Tidak ada lonceng doa di sini, tidak ada jubah putih para Priest yang mondar-mandir, tidak ada suara nyanyian liturgi. Hanya angin dingin yang bertiup melewati ladang kosong dan hutan yang mulai merambat di sekitar desa.
Aku duduk di bangku kayu di dekat perapian kecil yang redup. Rumah ini sunyi, terlalu sunyi untuk seorang mantan Archpriest. Dia tetap membolak-balikan beberapa halaman kitab tua, seolah kehadiranku tidak berarti.
Aku penuh dengan pertanyaan.
Kepalaku masih dipenuhi ingatan tentang Upacara Kenaikan. Hari yang seharusnya menjadi hari kebanggaan, hari yang seharusnya menjadi langkah besar dalam hidup kami—aku dan Aron. Tapi… itu justru menjadi hari yang mengubah segalanya.
Gereja dipenuhi manusia, lebih ramai dari biasanya. Bahkan di luar halaman, orang-orang berdiri berdesakan, berharap bisa melihat sedikit dari apa yang terjadi di dalam.
Calon prajurit yang berusia laki-laki 14 dan 15 tahun dan perempuan 9 dan10 tahun berdiri di barisan terdepan, didampingi oleh keluarga mereka yang berdoa dengan penuh harap. Banyak di antara mereka adalah anak-anak dari para prajurit, yang bercita-cita mengikuti jejak orang tua mereka.
Di belakang mereka, kami—prajurit—berdiri tegak, menunggu giliran untuk meminum Air Suci untuk kedua kalinya.
Dan di belakang kami, para prajurit suci, mereka yang telah menempuh perjalanan panjang dalam keimanan dan pertempuran, bersiap menerima Air Suci biru tua yang akan memperkuat kekuatan mereka sekali lagi.
Di altar utama, tiga cawan perak besar bersinar di bawah cahaya lilin menampung air suci. Air Suci yang pertama sangat jernih, diperuntukkan bagi para calon prajurit. Yang kedua, kebiruan, diberikan kepada kami, prajurit biasa. Yang terakhir, biru tua pekat, diperuntukkan bagi prajurit suci.
Pada bagian pertama ini disebut Pengujian Berkat Dewa. Di sinilah aku mulai merasakan kegelisahan. Aku melirik ke samping, melihat Aron yang berdiri tegak, wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang. Kata-kata Archpriest Malva sebelum upacara masih terngiang di kepalaku.
“Aron, jangan minum air itu.”
Tapi Aron menolak mendengarkan.
Upacara dimulai. Para calon prajurit maju satu per satu, meminum Air Suci jernih dengan penuh harapan. Sebagian dari mereka terbatuk, tubuh mereka bereaksi terhadap sihir suci yang meresap ke dalam darah mereka, tetapi itu adalah hal yang wajar.
Giliran kami tiba. Aku mengambil cawan berisi Air Suci kebiruan dan meminumnya. Dada terasa panas, tubuh terasa lebih ringan—ini adalah kekuatan yang selama ini aku nantikan.
Tapi ketika giliran Aron… segalanya berubah menjadi kekacauan.
Dia meneguk Air Suci, seperti yang telah kami lakukan sebelumnya. Untuk sesaat, semuanya tampak normal. Tapi kemudian, Aron tiba-tiba meronta kesakitan.
Tubuhnya melengkung ke belakang, cawan di tangannya jatuh dan pecah di lantai. Tangannya mencengkeram dada, suaranya berubah menjadi jeritan yang menggema di seluruh gereja.
Para Priest terkejut, beberapa dari mereka segera mendekat, tetapi energi aneh mulai terpancar dari tubuhnya.
Orang-orang di dalam gereja mulai panik. Para calon prajurit dan keluarga mereka mundur dengan ketakutan. Beberapa anak kecil menangis.
Aron jatuh berlutut, urat-uratnya menghitam seolah-olah ada sesuatu yang melawan di dalam tubuhnya. Aku mencoba mendekatinya, tetapi kekuatan yang terpancar darinya terlalu kuat, seperti ada sesuatu yang tidak seharusnya bersentuhan dengan Air Suci.
“Dia hanya pingsan,” kata salah satu priest.
“Istirahatkan dia dengan baik,” balas Archpriest Malva.
Dirinya berdiri di altar, wajahnya muram tetapi tidak terkejut. Dia sudah tahu hal ini akan terjadi. Semalam dia mengatakan bahwa Raesha sama seperti Aron karena itulah dia tidak memanggilnya hingga akhir Pengujian Berkat Dewa.
Aron dilarikan ke ruang samping gereja segera setelah dia pingsan. Para Priest yang merawatnya mengatakan bahwa tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya, tetapi aku melihat sesuatu yang membuatku gelisah. Urat-uratnya masih bersinar samar, seolah ada sesuatu yang belum sepenuhnya padam di dalam dirinya.
Aku seharusnya bersyukur karena dia masih bisa selamat. Itu mungkin karena daya tahan tubuhnya dan kemampuan penyembuhannya. Tapi di dalam hatiku, ada perasaan lain yang lebih kuat: ketakutan.
Meskipun kejadian itu menggemparkan, Upacara Kenaikan tetap berlanjut setelah Aron dibawa pergi dan air suci pun diisi kembali.
Setelah upacara, struktur para prajurit suci mengalami perombakan besar. Ini adalah acara berikutnya dan terakhir adalah peresmian. Beberapa dari mereka diangkat menjadi kesatria dan akan segera dikirim ke pusat kota untuk bergabung dengan kekuatan militer utama kerajaan.
Di sisi lain, tiga anak dari panti asuhan—anak-anak yang dulu menyambut Aron dengan penuh semangat—resmi akan menjadi prajurit setelah mereka berusia 15 tahun. Mereka akan dipimpin oleh Raesha.
Sebuah keputusan yang sangat tidak biasa. Raesha hanya dipanggil ketika penobatan dan langsung dinobatkan sebagai prajurit suci. Biasanya, seseorang harus melalui proses panjang sebelum mendapatkan gelar itu, apalagi tanpa menerima air suci. Tentu saja banyak prajurit suci yang menolaknya tetapi dia berhasil membuktikan kelayakannya.
Aku bertanya-tanya mengapa Malva menyembunyikannya. Apa yang terjadi sebenarnya? Aku marasa ini sangat mengganjal. Ditambah lagi tiga hari setelah Upacara Kenaikan, Archpriest Nachman akhirnya ditemukan. Bukan dalam keadaan hidup. Dia ditemukan tak bernyawa di basement rumahnya. Pintu terkunci dari dalam, dan tidak ada tanda-tanda perlawanan atau serangan dari luar.
Dia mengakhiri hidupnya sendiri.
Aku menggenggam cangkir kayu di tanganku, tetapi teh di dalamnya sudah dingin.
Aku menatap Archpriest Malva yang masih diam, membolak-balik kitabnya seperti tidak ada yang terjadi. Aku sudah menunggu jawaban darinya cukup lama tetapi, dia sama sekali tidak mencari jawaban.
Aku akhirnya berbicara, suaraku terdengar lebih tajam dari yang kuharapkan.
“Nenek Malva. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Aron.”
Archpriest tidak langsung menjawab. Dia menutup kitabnya dengan pelan, lalu menatapku dengan tatapan yang terasa seperti melihat sesuatu yang sudah lama dia duga akan terjadi.
“Francka,” katanya akhirnya. “Aku sudah memperingatkan dia.”
Aku mengepalkan tanganku. “Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
Nenek menarik napas dalam terlihat lelah.
“Sebenarnya aku tidak mau membahas hal ini. Setidaknya untuk sekarang.”
“Baiklah, kalau begitu. Bagaimana dengan Archpriest Nachman. Sebelumnya beliau sangat menolak Raesha untuk bergabung. Apakah ini ada hubungannya?” Aku bertanya dengan suara lebih pelan. “Kenapa dia bunuh diri? Atau itu hanya spekulasi para Priest?”
Nenek terdiam sesaat, menimbang apakah harus memberi tahunya. Namun dia memutuskan, “Aku akui dia adalah pria yang baik, sayangnya dia terlalu banyak memikul beban.”
Sepertinya tidak ada hal lain lagi. Nenek Malva tidak mau menjawabnya. Sebenarnya rahasia apa dibalik air suci ini? Ada apa dengan gereja? Kenapa Archpriest Nachman harus membunuh dirinya sendiri? Apa yang dia ketahui?