Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
02 Balasan Penuh
1
Suka
10,122
Dibaca

Menjadi bahan perbincangan rasanya memang tidak nyaman di arah positif atau negatifnya. Jika topiknya positif tidak masalah tetapi, kalau sudah negatif emosi pasti meluap-meluap setiap kali disinggung. Hal ini yang selalu dirasakan Kadline. Citranya selalu buruk di mata orang-orang. Dia lahir sebagai anak keempat dari pasangan Arsalan Ghornar dan Jaleen Ghornar. Sejak lahir dia memang sudah ada di atas sebagai putri dari keluarga bangsawan sebagai anak dengan nama Ghornar. Topik buruk yang tersebar luas mengenai dirinya boleh dibilang sangatlah wajar. Kadline juga tidak terlalu memikirkannya. Namun, yang menyakiti hatinya adalah perbincangan buruk itu tidak pernah mengarah kepada keempat saudaranya yang lain.

“Sepertinya masa kejayaan keluarga Ghornar mulai hilang. Entah dosa apa yang telah dilakukan keluarga ini sehingga berkah Dewa bahkan enggan menyentuhnya. Anak yang malang.”

“Pengujian berkat dewa sudah terlewat 5 tahun dan sihirnya tidak terlihat sama sekali. Tapi, Tuan Arsalan bilang dia baik-baik saja. Apa mungkin Kadline bukan anaknya?”

Kalimat-kalimat semacam itu selalu masuk ke telinga Kadline ketika dia melewati para pelayan yang melayani keluarga. Ini bisa dinilai sebagai bentuk penghinaan bagi keluarga Ghornar. Ayahnya sudah menyangkal semua hal itu dan melarang perbincangan semacamnya. Namun, aturan ini sudah lama berlalu. Para pelayan sepertinya melupakan aturan ini dan keluarga yang memberlakukan aturan itu juga terlalu sibuk untuk memikirkannya.

Berbeda dengan Kadline dia selalu ingat aturan ini. Namun, dia memilih untuk menahan diri dan mengabaikannya meski kalimat tersebut memanas-manasi telinganya. Dia menilai ini tidak ada artinya. Jika Kadline bersikeras menyangkal pun itu hanya akan dianggap sebaliknya. Mengesampingkan hal ini, sebenarnya ada alasan lain Kadline mengabaikan bisik-bisik yang menyakiti hatinya. Alasan tersebut adalah kehadiran anak kelima yang usianya selisih 4 tahun dari Kadline.

Dia Aleta, seperti saudaranya yang lain rambutnya kuning dan merah seperti amukan api. Kadline juga sama, tetapi itu hanyalah cat. Rambut aslinya warna hitam. Ini bisa terlihat ketika akar-akar rambut tersebut tumbuh. Aleta terlahir dengan wajah yang sangat mirip dengan ibunya termasuk kecantikannya bahkan sifatnya juga dikatakan sangat mirip. Berbeda dengan Kadline walaupun sekilas mirip ibunya tetapi, tidak dengan kecantikannya. Di samping itu, anugerah dewa berupa sihir yang turun-temurun diturunkan juga mengalir padanya bahkan di usia mudanya ini jauh lebih kuat dari ketiga kakaknya. Sedangkan Kadline tidak memiliki sihir atau kemampuan khusus apapun. 

Keluarga Ghornar sudah dikenal sebagai keluarga yang disegani, dijunjung tinggi, dan yang paling dihormati bahkan oleh keluarga kerajaan sendiri. Hanya dengan kelahiran dan kehadirannya, Kadline sudah seperti dipenuhi kepalsuan yang menghina seluruh keluarga Ghornar. Maka dari itu dalam bisik-bisik yang mengarah kepadanya, orang-orang bilang bahwa Kadline adalah aib bagi keluarga Ghornar. Berbanding terbalik, keberadaan Aleta digambarkan sudah seperti simbol harapan bagi keluarga Ghornar dan simbol keselamatan seluruh kerajaan. Di lihat dari sisi manapun, Aleta dapat digambarkan sebagai sosok yang sempurna tanpa celah.

Oleh karena kesempurnaannya tersebut, sebetulnya Kadline membenci adiknya ini, setidaknya sampai dua tahun yang lalu. Kadline menyadari bahwa yang selalu menemaninya di kesendirinya bukan kedua orangnya, kakak-kakaknya atau pelayan yang mengurusnya, tetapi Aleta yang selalu tahu dimana dirinya berada. Aleta yang sering mengikutinya kemanapun dia pergi meski tidak diinginkan dan diusirnya bahkan dianggapnya halangan atau gangguan. Tidak salah lagi hal itu disebabkan oleh banyaknya kebencian menumpuk yang mengarah padanya. Orang-orang bahkan sampai memfitnah Kadline membunuh ibunya sendiri hanya untuk menyingkirkannya. Untungnya saat itu masih ada yang membelanya, Aleta dan ayahnya. Namun, berbeda dengan tiga saudaranya, mereka tenggelam dalam kebencian setelah mendengar fitnah yang terlontar dari orang-orang. Kebencian saudara laki-lakinya ini bahkan sampai berakhir ke pengucilan dan perundungan.

Dua tahun terlewat, masa lalu pasti perlahan memudar. Kadline memang tidak bisa terbiasa tetapi, semuanya sudah berkurang oleh waktu. Meski kebencian malah berlaku sebaliknya dan perundungan tetap berjalan, Aleta dan ayahnya selalu berhasil menghentikannya selama itu. Kadline tetap bisa mendapat kehidupan yang layak berkat mereka. Namun, karena Kadline tidak diizinkan pergi keluar rumah, kesehariannya terbatas pada rumah yang dia tinggali. 

Dulu dan sekarang dia menghabiskan hari-harinya di empat tempat yang berbeda yaitu kamarnya sendiri atau kamar adiknya, perpustakaan dan taman di halaman rumah. Di perpustakaan dia mengambil buku bacaan lalu menceritakannya kembali ke adiknya menjadi bahan perbincangan atau bahan uji coba sekadar bermain-main. Di taman, Kadline cukup sering mengadakan acara minum teh walau hanya dihadiri Aleta adiknya. Dia menghabiskan harinya sambil menunggu masa lalu berlalu. Namun, tanpa disangka kesehariannya yang penuh dengan kedamaian ini menjadi tempat terulangnya masa lalu yang ingin dia lupakan. Teh yang disiapkannya sendiri meracuni Aleta.

“Kakak.” 

Sebuah kata yang bergetar, sebuah suara dari sisa-sisa tenaga yang perlahan hilang dikaburkan darah yang menyebur keluar dari mulutnya. Wajahnya menunjukan ketidakpercayaan kepada kakaknya. Ketenangan Kadline ketika itu terguncang mendengar kata terakhir adiknya sebelum jatuh pingsan. 

Kadline tidak memikirkan apapun selain keselamatan adik tercintanya saat para pelayan berdatangan mencoba membantu. Dia tidak memikirkan apa yang salah? Apa yang ada di meja? Semua hal yang dia siapkan untuk acara minum teh itu dia siapkan sendiri tanpa campur tangan orang lain. Aleta minimum teh beracun adalah sebuah kemustahilan. Namun, faktanya teh itu memanglah beracun.

Pemeriksaan dilakukan beberapa saat setelahnya. Atas kronologi yang dipaparkan Kadline dan para pelayan, pemeriksaan tersebut diselesaikan dengan cepat. Saat itu kamar Kadline digeledah pertama kali. Hasilnya diketahui begitu mengejutkan bagi semua orang yang terlibat. Sekantung racun yang digunakan untuk meracuni Aleta ditemukan di sana. 

Kadline menangis sejadi-jadinya ketika mendengar hal ini. Dia tidak bisa mengelak sama seperti sebelumnya saat dia difitnah membunuh ibunya sendiri. Dia sudah mengira-ngira ini akan terjadi kembali melalui instingnya yang mengenali situasi yang sama seperti dulu, tetapi pikirannya masih menolak bahwa dirinya akan difitnah untuk kedua kalinya. Dia berdoa dan bertanya sebayak mata yang mengarah padanya.

“Hidupku tak berguna dan dibenci banyak orang. Jika nyawa ini cukup untuk menyelamatkan adikku maka ambilah.”

Sementara itu, Arsalan dipenuhi emosi yang meledak-ledak dalam dirinya. Dia kehabisan kata-kata tak disangka darah dagingnya sendiri akan melakukan hal sekeji ini. “Katakan kenapa harus kami yang menderita? Katakan alasannya kenapa kamu menargetkan keluargaku wahai orang asing?” 

“Ayah aku ….”

“AKU BUKAN AYAHMU.” 

“Ayah ….” 

Tangisannya semakin nyaring dan air mata semakin deras tetapi bahkan tidak sama sekali menyentuh hatinya. Hati yang selalu tergera membela sekarang berbalik arah. Sebelumnya kasus kematian ibunya ditutupi mati-matian oleh Arsalan sebab dirinya tidak ingin kehilangan dua anggota keluarganya secara bersamaan. Tidak mungkin Kadline melakunnya. Namun, kini Arsalan benar-benar sudah kehilangan Kadline di hatinya.

Untungnya Aleta baik-baik saja berkat daya tahan tubuhnya dan kegigihannya. Dia sempat berkata bahwa dirinya tidak ingin terbunuh oleh kakaknya sendiri. Hal ini membawa angin segar bagi keluarga Ghornar termasuk Kadline sendiri. Ayah dan tiga saudaranya menilai Aleta sungguh berhati mulya seperti ibunya. Sayangnya kedatangan Aleta dipenghakiman tidak membawa perubahan apapun kepada Kadline. Bahkan sebaliknya, rasa syukur Kadline dibalas dengan cara seburuk-buruknya.

“Aleta kau baik-baik saja?” 

Kadline menyeka air mata seolah semua bebannya telah dihapuskan. Namun, bukannya ikut senang melihat kakaknya, rasa syukurnya dibalas dengan sandiwara konyol. Aleta bertingkah ketakutan dan bersembunyi di balik punggung ayahnya. Ini seketika menyulut kebencian semakin membesar. Sementara di sisi gelap itu, Aleta menunjukan senyumnya hanya pada Kadline. 

Ketika itu dia tahu apa yang sedang terjadi. Dari dulu memang tidak ada yang berpihak padanya, dirinya benar-benar hancur sekarang. Seluruh keluarganya membencinya begitupun dengan dunia mengikuti. Tidak ada lagi tempat untuknya tetapi, rasa syukurnya tidak pernah hilang sejak saat itu. Dia sudah lepas dari keluarga yang mengurungnya dari lahir hingga sekarang. Di tempat itu, dua balok kayu membebaskan jerat kehidupannya. Rumor yang tidak diketahui dari mana asalnya sekarang sudah tampak. Walau rasa takut pada hukuman tidak hilang. seharusnya Kadline bisa pasrah menerima semuanya dan mengakhiri hidupnya disana. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu benar tentang apa yang dilakukan Kadline di saat-saat terakhirnya.

 “Siapapun yang melakukan pembunuhan atau berniat membunuh akan tersiksa dan kematiannya ditentukan di depan publik.”

Raja mendorong kematian mendekat semetara Kadline terus membuka mulutnya. Kalimat terakhirnya itu terus diulang walau tenggorokannya tidak lagi mampu sampai bilah memotongnya.

“AYAH! AKU ALETA. AKU BUKAN KADLINE, AKU ALETA.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
TOXIC
Rain Emmeline
Komik
Kilogram
Dwirns
Skrip Film
Diary-nya
Riwisssss
Skrip Film
Perihal Luka dan Waktu
Marantika Rizka Prasasti
Skrip Film
Elegi
Andini Pradya Savitri
Flash
Perempuan dan buku
Jumadri Febriyandi
Flash
Bronze
Tengah Malam Jumat, Nonton Bola
Nuel Lubis
Cerpen
02 Balasan Penuh
Bima Kagumi
Cerpen
Ada Apa dengan Cinta(ku)
hyu
Novel
Bronze
Cerita Hidup Irawan Bersaudara
Jenny C Blom
Novel
BENUA ASA
Nana
Novel
Bronze
Menjelang Magrib
Heri Winarko
Skrip Film
Sweet Taste of Demise
Rahmat Gunawan
Cerpen
NENEK BERWAJAH KAKEK
Meliana
Cerpen
Bronze
Bimbim (alias Ibrahim), Kamu Jangan Menangis!
Habel Rajavani
Rekomendasi
Cerpen
02 Balasan Penuh
Bima Kagumi
Cerpen
01 Pemuja
Bima Kagumi
Novel
Proyek Superkuasa
Bima Kagumi
Flash
Pagi yang Damai
Bima Kagumi
Cerpen
Debu Pembangunan
Bima Kagumi
Cerpen
Bronze
04 Dia Tabib
Bima Kagumi
Cerpen
Regulasi
Bima Kagumi
Cerpen
05 Path to Happiness
Bima Kagumi
Flash
Terbaik Selamanya
Bima Kagumi
Cerpen
Bronze
06 Sang Pengamat
Bima Kagumi
Cerpen
03 Rumah di Keabadian
Bima Kagumi
Flash
Jalan Setapak
Bima Kagumi
Novel
Proyek Superkuasa Part 2
Bima Kagumi
Flash
Hanya Sampah
Bima Kagumi
Novel
The Other Sides: Next World
Bima Kagumi