Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Enam orang mahasiswa yang terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan, pergi melakukan penelitian ke sebuah pulau bernama Pulau Zirah. Mereka adalah Alvin, Lidya, Luthfi, Epe, Intan, dan Harris. Sebelumnya mereka mendapatkan kesulitan dari pemilik kapal yang kapalnya hendak mereka pakai untuk pergi ke sana. Pemilik kapal sebelumnya tidak bersedia meminjamkan kapalnya kepada mereka, namun akhirnya ia mau setelah diberikan uang cukup banyak. Tiga hari di kemudian, di sebuah kantor polisi, seorang polisi perempuan bernama Reina diberi tugas oleh atasannya untuk pergi bersama timnya melakukan pencarian terhadap enam orang mahasiswa ke pulau yang bernama Pulau Zirah, setelah orang tua dari salah-satu mahasiswa tersebut melaporkan bahwa anaknya sudah tiga hari tidak ada kabar setelah pergi ke pulau tersebut.
Reina kemudian melakukan rapat dengan keempat anggota timnya yaitu Bimo, Arma, Tyo, dan Yusa. Setelah melakukan rapat, Reina dan timnya langsung bergegas ke pulau misterius bernama Pulau Zirah tersebut. Sesampainya di sana, mereka langsung melakukan pencarian lengkap dengan rompi dan senjata masing-masing. Ketika mereka memasuki area hutan, salah-satu anggota mereka yaitu Yusa tiba-tiba diserang oleh makhluk ganas menyeramkan yang perawakannya seperti mayat hidup (zombie). Mereka berhasil membunuh makhluk tersebut namun sayang, nyawa Yusa sudah tak tertolong. Yusa tewas mengenaskan akibat serangan makhluk tersebut. Di saat itu juga, mereka lagi-lagi diserang oleh makhluk serupa namun kali ini dengan jumlah yang banyak. Mereka sempat melawan dan membunuh beberapa makhluk tersebut dengan senjata mereka, namun karena kalah jumlah, mereka pun memutuskan untuk mundur dan lari.
Malam sudah tiba. Reina bersama ketiga rekannya yang tersisa berhasil melepaskan diri dari kejaran para makhluk ganas tersebut dengan bersembunyi di balik batu-batu besar sembari beristirahat. Reina berniat melanjutkan pencarian. Namun salah-satu anggotanya yaitu Arma menolak karena ia merasa yakin keenam mahasiswa itu sudah mati oleh makhluk-makhluk ganas tersebut. Reina sebagai kapten tim tidak mempercayai hal itu. Sehingga terjadilah perdebatan antara mereka. Namun pada akhirnya, Reina memutuskan untuk tetap melanjutkan pencarian. Sementara Arma, Bimo, dan Tyo ia persilahkan untuk kembali ke kapal. Mereka bertiga akan menuggu Reina hingga matahari terbit. Jika sampai saat itu Reina belum juga kembali, maka mereka terpaksa meninggalkannya. Bimo sebenarnya bersikeras untuk ikut bersama Reina melanjutkan pencarian. Tapi Reina tidak mengizinkannya dan menyuruh Bimo kembali saja ke kapal bersama Arma dan Tyo. Bimo pun akhirnya mengiyakan.
Di tengah melanjutkan pencarian sendirian, Reina menemukan jasad seorang laki-laki yang berlumuran darah. Reina menduga jasad itu adalah salah-satu dari mahasiswa yang ia cari. Namun di saat itu juga, Reina dikejutkan oleh satu makhluk ganas yang tiba-tiba menyerangnya. Untungnya pada saat itu datang seorang laki-laki muda menolong Reina hingga Reina pun selamat dari serangan makhluk tersebut. Laki-laki itu ternyata adalah Alvin. Salah-satu dari keenam mahasiswa yang ia cari. Tahu bahwa orang yang ia tolong adalah polisi, Alvin pun memberitahu Reina bahwa masih ada dua temannya yang lain yang masih hidup. Alvin lalu membawa Reina ke tempat persembunyian mereka. Sementara di tempat lain, ketika Arma, Bimo, dan Tyo menuju ke kapal, Bimo sempat menanyakan kepada Arma tentang membiarkan Reina melanjutkan misi sendirian. Arma pun menanggapi pertanyaan Bimo dengan panjang lebar. Dimana hal itu membawanya pada cerita masa lalunya bersama Reina ketika masih di pelatihan dulu.
Ketika sedang asyik menceritakan hal tersebut sembari bersembunyi di balik batu, mereka lalu melihat ada satu makhluk ganas di depan jalur mereka. Arma pun berniat untuk menembaknya secara diam-diam, namun Bimo tiba-tiba melarangnya yang membuat tembakannya meleset. Arma pun kesal dengan apa yang dilakukan Bimo. Arma lalu terpaksa melancarkan tembakan kedua untuk membunuh makhluk tersebut. Ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan, Bimo tiba-tiba berubah pikiran dan memilih untuk menyusul Reina. Arma pun mengizinkannya. Hingga akhirnya mereka berpisah, dimana Bimo pergi menyusul Reina, sedangkan Arma dan Tyo melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke kapal.
Sementara itu, Reina berhasil sampai di tempat persembunyian Alvin bersama kedua temannya yang lain. Tempat tersebut adalah sebuah rumah kayu kecil di atas pohon besar. Begitu Reina memasukinya, Reina bertemu dengan dua teman Alvin lainnya yaitu Epe dan Lidya. Reina sempat teringat dengan adik perempuannya karena adiknya tersebut memiliki nama yang sama dengan Lidya. Di sana mereka membicarakan banyak hal mulai dari apa yang terjadi kepada mahasiswa yang lain, darimana datangnya makhluk-makhluk ganas itu, hingga alasan kenapa Alvin dan teman-temannya mendatangi pulau itu. Selepas pembicaraan mereka, Reina kembali teringat masa lalunya bersama adik perempuannya. Saat itu ia masih berumur 15 tahun dan adiknya berumur 6 tahun. Ketika itu Reina memarahi adiknya karena telah merusak barang kesayangannya yang membuat adiknya tersebut menangis dan pergi dari rumah. Reina berdiri melamun mengingat masa itu.
Sedangkan di tempat lain, Arma dan Tyo berhasil sampai ke kapal dengan selamat. Mereka berdua membuat api unggun di tempat yang sedikit tinggi dari tepi pantai dan agak jauh dari kapal. Mereka membicarakan apakah Reina dan Bimo berhasil menemukan keenam mahasiswa tersebut dan apakah mereka bisa sampai ke kapal sebelum matahari terbit. Setelah membicarakan itu, Arma pergi ke kapal untuk mencari benda yang bisa digunakan dan meninggalkan Tyo di sana sendirian. Ketika Tyo sedang sendirian, Tyo mendengar ada sesuatu yang bergerak di balik pepohonan di belakangnya. Awalnya Tyo mengira itu adalah Arma, namun tidak ada jawaban. Tyo pun menganggap itu hanya angin dan menghiraukannya.
Reina bersama ketiga mahasiswa lainnya mempersiapkan diri untuk pergi dari rumah pohon kecil tersebut. Mulai dari mempersiapkan senjata masing-masing, hingga rencana agar bisa sampai ke kapal dengan selamat. Ketika menyusun rencana, mereka mengetahui bahwa para makhluk ganas itu memiliki masalah penglihatan, dimana mereka sulit bergerak di kondisi gelap. Oleh karena itu, mereka bertiga memutuskan untuk bergerak ketika awan menutupi cahaya bulan serta melewati tempat yang memiliki pohon-pohon besar yang dapat menutupi mereka dari cahaya bulan. Dan mereka juga akan berusaha menghindari setiap makhluk ganas yang mereka temukan nanti. Rencana sudah disusun, senjata sudah siap, mereka pun bergegas pergi ketika cahaya bulan ditutupi awan.
Di perjalanan, mereka berhasil menghindari makhluk-makhluk ganas yang mereka temui. Namun ketika jalan mereka dihadang oleh makhluk ganas dengan jumlah banyak, mereka pun memilih untuk mencari jalan lain. Namun saat itu Epe melakukan suatu kecerobohan yang menyebabkan ia dan teman-temannya ketahuan lalu diserang oleh makhluk-makhluk ganas tersebut. Reina sudah kehabisan peluru, dan Alvin kewalahan melawan serangan makhluk-makhluk itu, sementara Epe sendiri tewas setelah digigit beramai-ramai oleh makhluk tersebut. Di tengah keadaan terpojok, tiba-tiba Bimo datang menyelamatkan mereka. Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan.
Di sepanjang perjalanan berikutnya, mereka membicarakan kenapa Bimo datang dan apa yang terjadi dengan Arma dan Tyo. Bimo juga membuang pistolnya karena sudah kehabisan peluru. Perjalanan mereka pun membawa mereka ke sebuah sungai kecil. Di sana mereka mencuci muka mereka serta meminum air sungai tersebut. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Ketika mereka hampir sampai di pantai, ternyata jalan mereka dihadang oleh kumpulan makhluk ganas. Mereka sempat berencana untuk memutar, namun mereka tidak bisa melakukannya karena waktu yang tinggal sedikit. Reina pun berniat menjadikan dirinya umpan agar Bimo, Alvin, dan Lidya bisa melewatinya. Tentu saja Alvin, Lidya, terutama Bimo tidak menyetujuinya. Bahkan Bimo menawarkan agar dirinya saja yang menjadi umpan karena ia bawahan Reina. Begitu pun dengan Alvin dan Lidya. Hingga perdebatan kecil pun terjadi. Meskipun begitu, akhirnya Reina lah yang menjadi umpan. Bimo, Alvin, dan Lidya pun berhasil lari ketika semua makhluk ganas tersebut tengah mengejar Reina.
Reina terus berlari dari kejaran makhluk-makhluk ganas tersebut. Hingga ia sampai di sebuah tebing tinggi dengan sungai kecil di bawahnya. Dalam keadaan terkepung, akhirnya Reina memutuskan untuk pasrah dan melompat dari tebing. Namun sebelum ia melompat, ia kembali teringat pada masa lalunya ketika ia dimarahi oleh ayahnya karena membuat adik perempuannya menangis dan pergi dari rumah. Bahkan sampai saat itu, adiknya belum juga kembali. Di tengah ayahnya yang cemas, ia mendapat kabar bahwa adiknya mengalami kecelakaan. Reina berserta kedua orang tuanya pun mendatangi rumah sakit dan mengetahui bahwa adiknya telah meninggal karena kecelakaan yang dialaminya. Kedua orang tua Reina pun syok dan menangis, sedangkan Reina hanya bisa terdiam mengetahui adiknya sudah tiada. Momen itu pun membuat Reina sempat meneteskan air mata, sebelum akhirnya ia melompat dari tebing tersebut. Hari mulai terang. Bimo, Alvin, dan Lidya berhasil sampai di dekat pantai. Namun mereka tidak melihat kapalnya dan tidak menemukan siapapun di sana. Setelah melihat sekeliling, mereka pun melihat kapal yang tidak jauh dari tempat mereka. Lidya dan Alvin pun bergegas ke sana. Sementara Bimo ketika hendak pergi, tiba-tiba terhenti setelah menemukan tumpukan kayu bekas dibakar. Ternyata tempat itu adalah tempat dimana Arma dan Tyo membuat api unggun sebelumnya. Bimo juga menemukan jejak darah yang mengarah ke dalam pepohonan. Bimo kemudian mengikutinya. Bimo terus mengikuti darah tersebut sampai ke dalam pepohonan dan menemukan rekannya Tyo yang sudah mati. Di saat itu juga, Arma tiba-tiba datang dari belakang Bimo dan langsung menodongkan pisau ke leher Bimo. Bimo akhirnya tahu bahwa Arma lah yang telah membunuh Tyo. Arma berniat untuk menjadi satu-satunya polisi yang selamat, agar tidak ada orang yang melaporkan dirinya bahwa ia telah menelantarkan misi.
Pertarungan antara Bimo dan Arma pun terjadi. Bimo mengalami beberapa luka sayatan hingga akhirnya Arma hampir membunuh Bimo, namun beruntung Alvin datang dengan memukul kepala Arma dari belakang dengan sebuah balok kayu. Di saat Arma yang sedang teralihkan oleh Alvin, Bimo langsung menusuk leher Arma dari belakang dengan pisau. Arma pun mati. Dalam keadaan terluka, Alvin membantu Bimo bergegas ke kapal dimana Lidya menunggu mereka di sana. Di atas kapal, Lidya membantu mengobati luka Bimo. Akhirnya mereka bertiga pun berhasil pergi dari Pulau Zirah tersebut dengan selamat.
Premis
Lima orang polisi pergi ke sebuah pulau misterius bernama Pulau Zirah untuk mencari enam orang mahasiswa yang dilaporkan hilang setelah pergi ke pulau tersebut, namun sesampainya di sana mereka justru bertemu dengan makhluk-makhluk ganas menyeramkan yang membunuh mereka satu per satu.
Pengenalan Tokoh
Enam orang mahasiswa yang terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan, pergi melakukan penelitian ke sebuah pulau bernama Pulau Zirah. Mereka adalah Alvin, Lidya, Luthfi, Epe, Intan, dan Harris. Sebelumnya mereka mendapatkan kesulitan dari pemilik kapal yang kapalnya hendak mereka pakai untuk pergi ke sana. Pemilik kapal sebelumnya tidak bersedia meminjamkan kapalnya kepada mereka, namun akhirnya ia mau setelah diberikan uang cukup banyak. Tiga hari kemudian, di sebuah kantor polisi, seorang polisi perempuan bernama Reina diberi tugas oleh atasannya untuk pergi bersama timnya melakukan pencarian terhadap enam orang mahasiswa ke pulau yang bernama Pulau Zirah, setelah orang tua dari salah-satu mahasiswa tersebut melaporkan bahwa anaknya sudah tiga hari tidak ada kabar setelah pergi ke pulau tersebut. Reina kemudian melakukan rapat dengan keempat anggota timnya yaitu Bimo, Arma, Tyo, dan Yusa. Setelah melakukan rapat, Reina dan timnya langsung bergegas ke pulau misterius bernama Pulau Zirah tersebut. Sesampainya di sana, mereka langsung melakukan pencarian lengkap dengan rompi dan senjata masing-masing. Ketika mereka memasuki area hutan, salah-satu anggota mereka yaitu Yusa tiba-tiba diserang oleh makhluk ganas menyeramkan yang perawakannya seperti mayat hidup (zombie). Mereka berhasil membunuh makhluk tersebut namun sayang, nyawa Yusa sudah tak tertolong. Yusa tewas mengenaskan akibat serangan makhluk tersebut. Di saat itu juga, mereka lagi-lagi diserang oleh makhluk serupa namun kali ini dengan jumlah yang banyak. Mereka sempat melawan dan membunuh beberapa makhluk tersebut dengan senjata mereka, namun karena kalah jumlah, mereka pun memutuskan untuk mundur dan lari. Malam sudah tiba. Reina bersama ketiga rekannya yang tersisa berhasil melepaskan diri dari kejaran para makhluk ganas tersebut dengan bersembunyi di balik batu-batu besar sembari beristirahat. Reina berniat melanjutkan pencarian. Namun salah-satu anggotanya yaitu Arma menolak karena ia merasa yakin keenam mahasiswa itu sudah mati oleh makhluk-makhluk ganas tersebut. Reina sebagai kapten tim tidak mempercayai hal itu. Sehingga terjadilah perdebatan antara mereka. Namun pada akhirnya, Reina memutuskan untuk tetap melanjutkan pencarian. Sementara Arma, Bimo, dan Tyo ia persilahkan untuk kembali ke kapal. Mereka bertiga akan menuggu Reina hingga matahari terbit. Jika sampai saat itu Reina belum juga kembali, maka mereka terpaksa meninggalkannya. Bimo sebenarnya bersikeras untuk ikut bersama Reina melanjutkan pencarian. Tapi Reina tidak mengizinkannya dan menyuruh Bimo kembali saja ke kapal bersama Arma dan Tyo. Bimo pun akhirnya mengiyakan. Di tengah melanjutkan pencarian sendirian, Reina menemukan jasad seorang laki-laki yang berlumuran darah. Reina menduga jasad itu adalah salah-satu dari mahasiswa yang ia cari. Namun di saat itu juga, Reina dikejutkan oleh satu makhluk ganas yang tiba-tiba menyerangnya. Untungnya pada saat itu datang seorang laki-laki muda menolong Reina hingga Reina pun selamat dari serangan makhluk tersebut. Laki-laki itu ternyata adalah Alvin. Salah-satu dari keenam mahasiswa yang ia cari. Tahu bahwa orang yang ia tolong adalah polisi, Alvin pun memberitahu Reina bahwa masih ada dua temannya yang lain yang masih hidup. Alvin lalu membawa Reina ke tempat persembunyian mereka. Sementara di tempat lain, ketika Arma, Bimo, dan Tyo menuju ke kapal, Bimo sempat menanyakan kepada Arma tentang membiarkan Reina melanjutkan misi sendirian. Arma pun menanggapi pertanyaan Bimo dengan panjang lebar. Dimana hal itu membawanya pada cerita masa lalunya bersama Reina ketika masih di pelatihan dulu. Ketika sedang asyik menceritakan hal tersebut sembari bersembunyi di balik batu, mereka lalu melihat ada satu makhluk ganas di depan jalur mereka. Arma pun berniat untuk menembaknya secara diam-diam, namun Bimo tiba-tiba melarangnya yang membuat tembakannya meleset. Arma pun kesal dengan apa yang dilakukan Bimo. Arma lalu terpaksa melancarkan tembakan kedua untuk membunuh makhluk tersebut. Ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan, Bimo tiba-tiba berubah pikiran dan memilih untuk menyusul Reina. Arma pun mengizinkannya. Hingga akhirnya mereka berpisah, dimana Bimo pergi menyusul Reina, sedangkan Arma dan Tyo melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke kapal. Sementara itu, Reina berhasil sampai di tempat persembunyian Alvin bersama kedua temannya yang lain. Tempat tersebut adalah sebuah rumah kayu kecil di atas pohon besar. Begitu Reina memasukinya, Reina bertemu dengan dua teman Alvin lainnya yaitu Epe dan Lidya. Reina sempat teringat dengan adik perempuannya karena adiknya tersebut memiliki nama yang sama dengan Lidya. Di sana mereka membicarakan banyak hal mulai dari apa yang terjadi kepada mahasiswa yang lain, darimana datangnya makhluk-makhluk ganas itu, hingga alasan kenapa Alvin dan teman-temannya mendatangi pulau itu. Selepas pembicaraan mereka, Reina kembali teringat masa lalunya bersama adik perempuannya. Saat itu ia masih berumur 15 tahun dan adiknya berumur 6 tahun. Ketika itu Reina memarahi adiknya karena telah merusak barang kesayangannya yang membuat adiknya tersebut menangis dan pergi dari rumah. Reina berdiri melamun mengingat masa itu. Sedangkan di tempat lain, Arma dan Tyo berhasil sampai ke kapal dengan selamat. Mereka berdua membuat api unggun di tempat yang sedikit tinggi dari tepi pantai dan agak jauh dari kapal. Mereka membicarakan apakah Reina dan Bimo berhasil menemukan keenam mahasiswa tersebut dan apakah mereka bisa sampai ke kapal sebelum matahari terbit. Setelah membicarakan itu, Arma pergi ke kapal untuk mencari benda yang bisa digunakan dan meninggalkan Tyo di sana sendirian. Ketika Tyo sedang sendirian, Tyo mendengar ada sesuatu yang bergerak di balik pepohonan di belakangnya. Awalnya Tyo mengira itu adalah Arma, namun tidak ada jawaban. Tyo pun menganggap itu hanya angin dan menghiraukannya. Reina bersama ketiga mahasiswa lainnya mempersiapkan diri untuk pergi dari rumah pohon kecil tersebut. Mulai dari mempersiapkan senjata masing-masing, hingga rencana agar bisa sampai ke kapal dengan selamat. Ketika menyusun rencana, mereka mengetahui bahwa para makhluk ganas itu memiliki masalah penglihatan, dimana mereka sulit bergerak di kondisi gelap. Oleh karena itu, mereka bertiga memutuskan untuk bergerak ketika awan menutupi cahaya bulan serta melewati tempat yang memiliki pohon-pohon besar yang dapat menutupi mereka dari cahaya bulan. Dan mereka juga akan berusaha menghindari setiap makhluk ganas yang mereka temukan nanti. Rencana sudah disusun, senjata sudah siap, mereka pun bergegas pergi ketika cahaya bulan ditutupi awan. Di perjalanan, mereka berhasil menghindari makhluk-makhluk ganas yang mereka temui. Namun ketika jalan mereka dihadang oleh makhluk ganas dengan jumlah banyak, mereka pun memilih untuk mencari jalan lain. Namun saat itu Epe melakukan suatu kecerobohan yang menyebabkan ia dan teman-temannya ketahuan lalu diserang oleh makhluk-makhluk ganas tersebut. Reina sudah kehabisan peluru, dan Alvin kewalahan melawan serangan makhluk-makhluk itu, sementara Epe sendiri tewas setelah digigit beramai-ramai oleh makhluk tersebut. Di tengah keadaan terpojok, tiba-tiba Bimo datang menyelamatkan mereka. Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan. Di sepanjang perjalanan berikutnya, mereka membicarakan kenapa Bimo datang dan apa yang terjadi dengan Arma dan Tyo. Bimo juga membuang pistolnya karena sudah kehabisan peluru. Perjalanan mereka pun membawa mereka ke sebuah sungai kecil. Di sana mereka mencuci muka mereka serta meminum air sungai tersebut. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Ketika mereka hampir sampai di pantai, ternyata jalan mereka dihadang oleh kumpulan makhluk ganas. Mereka sempat berencana untuk memutar, namun mereka tidak bisa melakukannya karena waktu yang tinggal sedikit. Reina pun berniat menjadikan dirinya umpan agar Bimo, Alvin, dan Lidya bisa melewatinya. Tentu saja Alvin, Lidya, terutama Bimo tidak menyetujuinya. Bahkan Bimo menawarkan agar dirinya saja yang menjadi umpan karena ia bawahan Reina. Begitu pun dengan Alvin dan Lidya. Hingga perdebatan kecil pun terjadi. Meskipun begitu, akhirnya Reina lah yang menjadi umpan. Bimo, Alvin, dan Lidya pun berhasil lari ketika semua makhluk ganas tersebut tengah mengejar Reina. Reina terus berlari dari kejaran makhluk-makhluk ganas tersebut. Hingga ia sampai di sebuah tebing tinggi dengan sungai kecil di bawahnya. Dalam keadaan terkepung, akhirnya Reina memutuskan untuk pasrah dan melompat dari tebing. Namun sebelum ia melompat, ia kembali teringat pada masa lalunya ketika ia dimarahi oleh ayahnya karena membuat adik perempuannya menangis dan pergi dari rumah. Bahkan sampai saat itu, adiknya belum juga kembali. Di tengah ayahnya yang cemas, ia mendapat kabar bahwa adiknya mengalami kecelakaan. Reina berserta kedua orang tuanya pun mendatangi rumah sakit dan mengetahui bahwa adiknya telah meninggal karena kecelakaan yang dialaminya. Kedua orang tua Reina pun syok dan menangis, sedangkan Reina hanya bisa terdiam mengetahui adiknya sudah tiada. Momen itu pun membuat Reina sempat meneteskan air mata, sebelum akhirnya ia melompat dari tebing tersebut. Hari mulai terang. Bimo, Alvin, dan Lidya berhasil sampai di dekat pantai. Namun mereka tidak melihat kapalnya dan tidak menemukan siapapun di sana. Setelah melihat sekeliling, mereka pun melihat kapal yang tidak jauh dari tempat mereka. Lidya dan Alvin pun bergegas ke sana. Sementara Bimo ketika hendak pergi, tiba-tiba terhenti setelah menemukan tumpukan kayu bekas dibakar. Ternyata tempat itu adalah tempat dimana Arma dan Tyo membuat api unggun sebelumnya. Bimo juga menemukan jejak darah yang mengarah ke dalam pepohonan. Bimo kemudian mengikutinya. Bimo terus mengikuti darah tersebut sampai ke dalam pepohonan dan menemukan rekannya Tyo yang sudah mati. Di saat itu juga, Arma tiba-tiba datang dari belakang Bimo dan langsung menodongkan pisau ke leher Bimo. Bimo akhirnya tahu bahwa Arma lah yang telah membunuh Tyo. Arma berniat untuk menjadi satu-satunya polisi yang selamat, agar tidak ada orang yang melaporkan dirinya bahwa ia telah menelantarkan misi. Pertarungan antara Bimo dan Arma pun terjadi. Bimo mengalami beberapa luka sayatan hingga akhirnya Arma hampir membunuh Bimo, namun beruntung Alvin datang dengan memukul kepala Arma dari belakang dengan sebuah balok kayu. Di saat Arma yang sedang teralihkan oleh Alvin, Bimo langsung menusuk leher Arma dari belakang dengan pisau. Arma pun mati. Dalam keadaan terluka, Alvin membantu Bimo bergegas ke kapal dimana Lidya menunggu mereka di sana. Di atas kapal, Lidya membantu mengobati luka Bimo. Akhirnya mereka bertiga pun berhasil pergi dari Pulau Zirah tersebut dengan selamat.