Indozone ID Menulis artikel
@indozone

Jangan Terlalu Panik, Corona Bukan Vonis Mati yang Tak Bisa Sembuh

Jangan Terlalu Panik Corona Bukan Vonis Mati yang Tak Bisa Sembuh

INDOZONE.ID - Hingga saat ini, virus corona masih menjadi topik perbincangan yang hangat dibicarakan orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Pasalnya, wabah virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok ini telah menewaskan 3.406 jiwa.

Banyaknya jumlah korban jiwa ini tentu saja membuat banyak orang khawatir, dengan serangan virus yang diyakini berasal dari pasar hewan hidup di Wuhan, Tiongkok yang tidak higienis. 

amskerPetugas medis menyempatkan waktu untuk bermain sambil tetap memakai masker. (REUTERS/China Daily)

Dari akhir tahun lalu sampai Kamis (5/3/2020), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut jumlah pasien positif tertular virus di Tiongkok mencapai 80.565 jiwa.

Sedangkan dalam hitungan skala global, jumlah pasien positif tertular virus corona mencapai 95.333 jiwa.

Di Tiongkok sendiri angka kematian karena virus corona mencapai 3.015 jiwa, sementara di luar Tiongkok, angkanya bisa menembus 267 jiwa.

Sementara itu, berdasarkan data statistik worldometers, laman penyedia informasi statistik independen yang telah menjadi rujukan berbagai lembaga dunia, per Jumat (6/3/2020) menunjukkan 100.162 jiwa dilaporkan positif tertular virus dan jumlah korban tewas mencapai 3.406 jiwa.

hadnPotret warga antri untuk mendapatkan hand sanitizer. (REUTERS/Lindsey Wasson)

Banyaknya jumlah korban ini tentu saja membuat banyak orang khawatir dan takut. Bahkan, virus ini sampai memicu aksi kekerasan dan intimidasi berbasis rasial terhadap warga asal Tiongkok dan negara di Asia Timur lainnya.

Seperti halnya yang terjadi pada seorang warga Singapura keturunan Tiongkok bernama Jonathan Mok. Ia dihajar sampai babak belur oleh empat orang tak dikenal di Oxford, London Februari lalu.

Mok mengatakan, saat ia diserang para pelaku menyebutkan bahwa mereka tak ingin ada virus corona.

"Kami tidak ingin ada virus corona di sini," ujar pelaku kekerasan itu pada Mok.

Ketakutan dan rasa khawatir adalah perasaan wajar yang dirasakan setiap orang karena corona. Namun, jangan sampai ketakutan itu justru berdampak negatif pada diri sendiri dan orang lain.

Seperti yang terjadi beberapa waktu belakangan ini, di mana orang-orang mengalami panic buying alias aksi belanja besar-besaran, untuk memborong peralatan kesehatan dan bahan makanan.

Daripada memenuhi perasaan akan ketakutan terhadap virus corona, ada baiknya jika kita mencoba untuk menenangkan diri.

Pasalnya, virus corona bukanlah wabah virus yang mematikan. Karena banyak pasien dari berbagai negara yang dinyatakan negatif dan sembuh dari virus corona ini.

Tingkat kematian rendah

Dalam sesi pengarahan rutin pada Selasa (3/3/2020), Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, tingkat kematian (fatality rate) dunia dari virus corona mencapai 3,4%. Sedangkan angka mortalitas flu pada umumnya mencapai 1%.

Angka ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan virus MERS-CoV (Middle East respiratory syndrome coronavirus), yang tingkat kematiannya mencapai 34,4%.

Sementara tingkat mortalitas sindrom pernapasan akut berat (SARS) mencapai 11%.

WHODirektur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (REUTERS/Denis Balibouse)

Berdasarkan data dari worldometers, sebanyak 55.812 pasien dinyatakan sembuh atau 94% dari total penderita COVID-19. Sejauh ini, korban tewas mencapai 3.406 jiwa atau sekitar 6% dari total kasus.

Artinya, penderita COVID-19 memiliki peluang besar untuk dapat sembuh apabila cepat mendapat perawatan medis.

Di Tiongkok sendiri, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh mencapai 53.929 jiwa. Sementara di Iran dan Korea, jumlah pasien sembuh masing-masing sebanyak 739 jiwa dan 135 jiwa.

Sementara Italia, yang melaporkan adanya 3.858 kasus penularan virus juga mengumumkan 414 pasien di antaranya telah dinyatakan pulih.

Disusul dengan Singapura di mana 81 orang pasien telah dinyatakan sembuh dari total penderita sebanyak 117 orang.

Tak hanya itu, ada sejumlah negara lainnya yang telah melaporkan tingkat kesembuhan warganya dari virus corona.

Seperti Vietnam dengan total 16 pasien, Kamboja satu pasien, Latvia satu pasien, Nepal satu pasien, dan Sri Lanka satu pasien.

Meskipun tingkat kematian COVID-19 masih tergolong rendah dibandingkan dengan wabah lain, WHO mengingatkan negara-negara dunia untuk tetap waspada dan bertindak cepat merawat mereka yang dinyatakan positif tertular.

Pasalnya, hanya dengan langkah cepat, terukur dan arah yang jelas, penyakit serta virus tersebut dapat ditangani tanpa mengorbankan banyak korban jiwa.

"Epidemi ini dapat ditangani hanya dengan pendekatan kolektif, terkoordinasi, dan komprehensif yang melibatkan seluruh unsur pemerintahan," jelas Ghebreyesus.

Kasus corona di Indonesia

Senin (2/3/2020), pemerintah Indonesia mengumumkan dua kasus penularan virus corona. Namun, pada Jumat (6/3/2020), jumlah pasien bertambah menjadi empat orang.

juruJuru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto. (ANTARA/Indra Arief)

"Pasien 3 dan 4 ada kontak dekat dengan pasien nomor 1 dan nomor 2," kata Achmad Yurianto, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan yang ditunjuk jadi juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Yurianto menjelaskan keempat pasien dirawat dalam ruang isolasi Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianto Saroso, Sunter, Jakarta Utara.

Pasien pertama dan kedua telah dirawat sejak Senin (2/3/2020), sementara pasien ketiga dan keempat menjalani perawatan sejak Kamis (5/3/2020).

Tak hanya itu, seorang pasien terduga virus corona juga diketahui menjalani perawatan di RS Persahabatan. Pasien tersebut diketahui bekerja sebagai anak buah kapal pesiar Diamond Princess.

Sejak wabah mulai merebak, pemerintah melalui sejumlah kementerian telah mengeluarkan berbagai imbauan perjalanan agar tidak mengunjungi negara-negara yang terdampak virus.

Tidak hanya itu, pemerintah per 8 Maret pukul 00:00 WIB akan membatasi pendatang yang punya riwayat perjalanan selama 14 hari ke Iran, Italia, dan Korea Selatan untuk masuk ke Indonesia.

coronaPetugas memeriksa keadaan warga guna mencegah corona. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, pendatang yang ingin masuk atau transit ke Indonesia, harus menunjukkan sertifikat sehat yang dikeluarkan otoritas kesehatan berwenang di negara masing-masing.

Tak hanya membatasi masuknya pendatang, pada Rabu (4/3/2020), pemerintah juga telah menyusun protokol penanganan jenis baru virus corona, demikian keterangan dari Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko di Jakarta.

Protokol penanganan itu terdiri dari sejumlah prosedur, di antaranya penanganan kasus COVID-19 mulai dari pasien dengan status "orang dalam pemantauan" (ODP) sampai ia dinyatakan sehat.

Pemantauan orang yang masuk dan keluar negeri di 135 pintu masuk/titik perbatasan, aturan penyebaran informasi yang dibuat oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Komunikasi dan Informasi, dan peningkatan pendidikan serta kesadaran masyarakat yang dijalankan oleh Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menanggapi wabah virus yang sudah merebak ke sejumlah negara, Ghebreyesus mengatakan bahwa persoalan ini telah ditangani seluruh pihak.

"Ini bukan latihan. Ini bukan saat untuk menyerah. Ini bukan waktu menghindar. Ini bukan momen untuk berhenti," tegasnya.

Artikel Menarik Lainnya:

Sumber: indozone.id
0
0 none
Artikel dari Indozone ID
Yuk, Konsumsi Bawang Putih Mentah untuk Menjaga Kesehatan Mulut
Harimau di Kebun Binatang AS Terinfeksi COVID-19 dari Petugas Kebun Binatang
Hindari 3 Asupan Ini Karena Dapat Memicu Diabetes
Yang mungkin kamu suka
"DC FanDome" Tampilkan Pemain dan Pencipta Film-Film DC Universe
Yuk Bikin Sendiri Cairan Disinfektan di Rumah!
Dampak Pandemi Virus Corona, Bandara di Asia Alami Krisis
Komentar