Bacaan Remaja Indonesia 1970-2000, Dari Era Stensil, Petruk dan Gareng, Sampai Chiklit
Bacaan Remaja Indonesia 1970-2000  Dari Era Stensil  Petruk dan Gareng  Sampai Chiklit - Fey Anca katanya,tahun,70-an,yang,terbaik,80-an,tanpa,tanding,90-an,best,millenium,serba,indah,padahal,masing-masing,zaman,punya,cerita
Katanya tahun 70-an yang terbaik. 80-an tanpa tanding. 90-an the best. Millenium serba indah. Padahal masing-masing zaman punya cerita.

Dari zaman kapanpun kamu lahir, kamu ga bakal nyesel dilahirkan di Indonesia, lantaran setiap zaman punya penulis hebat masing-masing, yang membikin generasi kamu tetap asyik.

Di era 70 an misalnya, para remajanya terkenal berciri rebel pada tradisi feodal, daripada nonton wayang mending ngerock'n roll. Daripada kondangan pake selop, mending nongkrong pake jens belel.

Sementara di tahun 80-an, wajah negeri berubah, kayu-kayu menghilang digantikan beton dan baja. Anak-anak muda jadi anak papa dan mama, tapi dalam hati mereka sepi, sepet, bagai makan mangga muda campur daki. Akhirnya cari hobby berorganisasi, itung-itung ngumpulin sertifikat buat lamaran kerja.

Tahun 90-an beda lagi. Kakak-kakak sibuk gawe, papi-mami hilang seharian. Di rumah sendirian, nihil, kosong, akhirnya bikin ulah bareng geng. Ga eksis kalau ga punya geng.

Tahun 2000 semuanya dah ga jelas, orang-orang makin banyak, bising, pusing, mending internetan n nyosmed.

Nah disetiap zaman, selalu ada penulis yang tahu pasarnya remaja. Tahu caranya masukin keajaiban kata-kata ke sanubari kita lewat novel, cergam, komik, atau stensilan. Yuk kita simak, apa saja bacaan dari zaman ke zaman.

1. 70-an Lahirnya Era Stensilan

Era stensilan di tahun 70-an sebenarnya tidak benar-benar stensilan. Disebut demikian karena kualitasnya bagai stensilan, padahal boleh jadi menggunakan cetak handpress biasa. Pada era tersebut, suasana batin bangsa tengah muram durja, penuh cekaman ketakutan akan kondisi perang dingin yang tidak ada habisnya. Maka dari itu, penulis-penulis lokal dari Motingo Busye, Annie Arrow, Teguh Esha, Abdullah Harahap menawarkan kisah-kisah "hiburan" yang penuh "gairah meletup-letup" pada remaja. Entah lewat kemarahan, atau pada cinta kasih yang erotis. Bisa dibilang, era 70-an adalah era tegang universal. Tegang di atas, tegang di bawah. Karena motto dari era tersebut adalah Make Love Not War.

2. Era 80-an, Saat Musim Duren Tiba

Di era 80-an terbagi dua jenis remaja. Mereka yang risau atau kritis dengan deru pembangunan, dan mereka yang bawa selon.

Yang risau ngepacking diri untuk jadi traveler, pergi jauh dari kebisingan mesin pembangunan bagai tokoh si Roy yang dikarang Gola Gong. Atau diam di tempat di mana mama dan papa menyuruhmu, lalu ciptakan dunia anehnya sendiri bagai tokoh "chaos" bernama Lupus yang dikarang Hilman Hariwijaya.

Yang bawa selon nikmati masa-masa indah saat mie bakso masih seharga 100 rupiah per porsi, sehingga ngapelin pacar dengan modal 500 perakpun meluncurlah. Meminjam istilah dari novel Helmy Yahya itulah era "ketika musem duren tiba", selain Helmy, Adra P. Daniel, Zarra Zettira, Dwianto Setiawan, mengajak pembaca remaja 80-an untuk selon dan melow.

3. Era 90-an, Serbuan Cergam Impor

Saat perang dingin berakhir, saat Jerman Timur dan Jerman Barat disatukan, dunia mengenal istilah baru globalisasi. Artinya, penulis dalam negeri harus rela bersaing dengan penulis-penulis impor. Dari sanalah, cergam, novel asing merajalela. Di era tersebut, Marvel menerbitkan Punisher seri War Journal, Spiderman seri The Web of Spiderman, hasbro dan Marvel dengan izin dari Stan Lee menerbitkan Gi-Joe. Serbuan cergam amerika ini turut menemani cergam Eropa seperti Tintin, Smurf, Ramtamtam yang lebih dahulu tiba.

Tapi tidak ada yang mampu menahan bom Manga di era tersebut. Jika penulis Eropa atau Amerika masih mau berbagi pasar dengan penulis lokal, tidak dengan Manga asal Jepang. Manga lantas menjadi game changer, dan penguasa de fakto era 90-an hingga saat ini. Sementara para komikus lokal sejak Hans, Djair, atau Jan Mintaraga, hilang kejayaan dan hanya mampu bertahan di tingkat Petruk dan Gareng.

4. Era 2000-an, Chicklit dan Kamu

Inilah konon era kebebasan bicara, di mana kamu bebas mengungkapkan ekspresimu sendiri. Tapi karena bebas, akhirnya semua bingung mau ngapain? Tidak ada yang perlu dilawan, diresapi, dipertentangkan. Akhirnya dunia penulisan jatuh ke subgenre, tidak lagi bisa dinikmati untuk seluruh genre bagai era-era sebelumnya.

Di era ini muncullah di pasaran dua jenis genre terkuat. Chiklit yang menyasar remaja wanita, serta genre religi yang menyasar pasar yang sama namun dengan kekuatan narasi keagamaan. Jika ada yang beda pakem, itu dianggap luar biasa. Padahal di era lalu, kreatifitas di luar genre chiklit dan religi itu biasa.

Tapi, ada sepercik cahaya harapan, yakni genre kamu yang sedang menulis listicle di sini. Inilah genremu, genre meme dan listticle yang semestinya wajib dipatenkan.

    Dilihat .
Saran dari Discover
21 November 2017

Ini Reka Adegan Yang Dialami SN Ketika Menabrak Tiang Listrik

24 Mei 2018

Dikenal sebagai Negara Maju, Jepang Punya 5 Sekte Sesat yang Aneh

01 Maret 2018

Inilah yang Terjadi ketika Istri Merasa Cemburu Dengan Hobi Suami, Ternyata Sangat Mengerikan

24 November 2017

20 Foto Terbaik Diambil Pas "Momen Paling Tepat" Yang Terpilih dari Berbagai Dunia