Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Cerobong asap menyanggah langit kejam
cuaca dengan serbuk bara menabur perih pada
atap seng, gudang usang, menerobos
lubang pelarian kucing hitam. Jaring laba-laba
di pojok tembok, sepasang capung tersesat.
Dunia berubah tapi tak berubah,
segala yang di luar hanya sebentuk samar
dari ventilasi muram dan jendela nanar.
Ada lebih nyata dari yang nyata
dunia bergulir dalam ketetapan, tak beranjak
dari sejarah ke sejarah, berabad-abad
lepas kendali benda-benda astronomi
lepas dari genggam lembut tangan pepohonan.
Siang musim panas
matahari sempurna ledakkan diri
di depan jendela roster
cahaya cakram memenuhi ruang
pengap dan bising
waktu baru dua jam berjalan
lantai bergetar
dentang-dentang suara, kokoh dan teror
Hari berjalan pelan dan
pincang
sebagai kakek tua di halaman rumahmu
jala raksasa telah menyeret kita
ke sini, berguling
bergumul
di atas debu-debu, mengental dan beku
berguling di sebidang cahaya menggoda
garis fantasi merah
dan kita semut-semut lapar
merayap
dari lereng-lereng, sebalik batu, bukit kemarau
dari rumah tanpa jendela
berhambur dari puncak menara batu.
Kita pejalan-semaput
di batas mimpi buruk dan terjaga,
beranjak dan berlari
dalam lorong merah, siluet
hantu-hantu mesin menjelang siang
dengan nyanyian kesakitan
menerobos gerbang kesadaran kita.
Matahari-matahari
celaka
dari dunia tak bernama,
derap asap dari segumpal roti membangunkan
tangan dan kaki dari
ranjang moyang kita.
Tangan kita terapung, hidup dan serempak
mengeluarkan bebunyian panjang, terompet kehidupan
nyanyian-nyanyian datar, hambar dan berulang.
Tangan adalah rahim, ibu dari bayi-bayi
tanpa kehamilan
bayi logam, guci, kaca, besi
dan cahaya
Tangan-tangan kita terbang, berputar, bersiklus
sepanjang siang dan malam
sebanyak tanggal berguguran. Lalu
sepatumu, suara langkah dengan beban
kaki penuh timah sebagai fragmen teater
monoton dan membosankan.
Udara menyala
mencakar tembok dan pintu
baja. Monster kecil, monster besar
dijaga pawang sakti; menggaung, menderu,
menampakkan kilat-kilat
Bruuum...
Brumm... Brummm…
Hari berjalan pelan
dan pincang
Lalu waktu menyimak muka kita yang merunduk
menghapal peralihan detik ke detik, menit ke
menit, slide-slide yang berganti
bertukar warna dalam jiwa kita.
Dari ventilasi terbentang cakrawala yang lain
seribu mulut dengan hasrat memangsa
menunggu kita, dan resahmu lahir
berulang percuma. Di batas khayal liar
di cakrawala-cakrawala ilusi,
imaji meledak, bunyi yang tak pernah habis
menyisakan ruang antara;
yang ada dan tidak. Kita tegak dalam ketaknyataan
dalam sekarat angan-angan
dalam nujuman burung-burung hitam
yang lahir dari 1000 hari rasa lapar.
Di terowongan fantasi, harapan-harapan terbit,
melangkah di antara suara aneh penuh rahasia
sebelum bayang hitam tiba, memakai tubuh gigil
hantu kanibal, bergerak ke arah yang lain
lenyap bersama nyala angan terakhir.
Kita terlempar ke sini
luruh di balik kaki
waktu beralas api
yang berjalan pelan penuh beban.
Satu ruang dengan kaca tembus bayang
penanggalan di atas meja, perempuan seorang
dengan masker pada wajahnya
menyisakan kecantikan
pada mata hitam: mata yang melawan
lapis panas dan udara dengan sisik
bara.
Ia memanggil nama-nama, hampir tak terdengar
gaduh dan rusuh huler menelan merdu suaranya.
SAYA MENJABAT TANGANNYA
DARAHNYA HANGAT
Saya mengenal kehangatan semacam ini
di masa remaja. Lewat perempuan yang mengajakku
menyusuri malam di kota kecil
dalam masa darurat, melewati
pos-pos siaga. Melintasi sisa darah
yang berjelaga di tanah. Saat itu Agustus 1998.
Pembantaian dimulai dari ujung timur
pulau. Tubuh manusia incaran mata maut
yang lahir dari dekret rahasia
naga hijau presiden; 114 mayat
terlempar ke jurang simpang siur.
Lalu kami merayakan
separuh malam dengan ketololan, dan ia senang
atas kekurangajaran kelelakianku.
Saya mengenal darah itu, hangat
khas perempuan kesepian
yang hidup dalam tangsi baja, terapung
dalam deru mesin-mesin, miliki pagi
tergopoh-gopoh. Memiliki matahari
pucat dalam mimpinya.
Ia begitu ramah.
Dengan jemarinya yang bening
dibubuhkan sesuatu di atas kertas. Angka-angka
dan rentetan peristiwa
Sedangkan hari terus berjalan
pelan dan pincang
melintasi jenjang angin di luar gudang pengap.
IA MEMBERI ISYARAT
DAN SAYA KEMBALI
Kami menunggangi lagi
punggung monster aneh
membiarkan moncongnya menderu
membawa mimpi buruk siang hari
mengobrak-abrik gendang telinga
membakar sumbu-sumbu tembaga.
Kita di sini, kami di mana-mana
kami di sini dan kita di sana
mengembara dalam suara tanpa nada
gerak tangan jadi keterasingan panjang
dunia dengan warna yang rawan
dan waktu memukul, mencambuk,
menombak tubuh yang kami pinjam
dari malam-malam muram.
Jam
mencair
setelah delapan angka
mengawasi kami.
Waktu menetes merembes ke seluruh
dinding. Hari mulai membungkuk
memamerkan pinggangnya yang merah
menggosokkan kaki pada
lampu-lampu lava, mengibaskan badan
merontokkan debu, asap pekat, dan asam karbonat.
Kemudian waktu berganti
layar berganti, adegan masih serupa...
Dengan pinggul yang cemerlang
langit memamerkan lampu zenit, cahaya beku
tak lebih dari 10 watt
tapi
siapa peduli
kami masih mencengkram setiap lapisan
cakram yang tak henti meluncur dari rahim diesel
buatan Rudolf dan Charles F. Kettering
meniupkan roh ke setiap bayi mungil nan cantik
memberi nama, menghangatkannya
dalam tungku perak.
Siapa peduli
kami adalah tangan-tangan gaib
dalam akuarium api.
Makhluk-makhluk baru planet bumi
telah kami sempurnakan segera meluncur
dalam peti kemas
dengan kapal cargo kecepatan rata-rata 10 knot
ke Rotterdam
ke Port Jackson
ke Singapura
dan sebagian Amerika
melewati laut beku, kristal biru maut
dan mereka abadi di sana,
kekal dan hayat
susul menyusul, bersiklus, berputar,
berjejal, mengisi ruang-ruang
dan tangan-tangan gaib makin gaib
berpacu dengan monster, mengejar lampu zenit
yang akan meledak di pinggul cemerlang malam.
TELAH SEMPURNA KAMI LAHIRKAN
KEMBARAN DEMI KEMBARAN
Dengan daging natrium, darah dari perasan batu
dan rangka tulang-tulang baja
beratus-ratus beribu-ribu berjuta-juta
menjadi koloni baru muka bumi
melancarkan eksodusnya pada umat manusia
dengan gairah merah
gelora tubuh kekar tanpa
uretra.
Dan di balik keajaiban demi keajaiban
kau takkan melihat lagi muka pucat
garis tangan terputus
suara ditelan udara klorida
keringat disedot asap belerang.
Kau takkan temukan kerling sunyi mata perempuan
yang sembunyikan separuh kecantikan
dengan cadar tebal anti kadmium
semua telah sempurna
semua serba sempurna
boneka api dengan roh ajaib.
Fajar menggasing di kaki kami, menampakkan
kaca-kaca
pecah dan bising
perputaran ger mencipta musik dalam tempo presto
berdentum seperti roda zaman
bangunkan kami dan mereka yang lapar
dan pagi tergopoh-gopoh
dengan baju hijau kebesarannya
kaki-kaki dalam sepatu berdebu
hinggap kembali menyerupai jejer
pepohonan pinus dini hari
menyemburkan tenaga ke seluruh ruang
memasangkan cakar kawat di segenap jarinya.
Mereka semut dalam lingkaran
kita semut dalam lingkaran
lingkaran-fantasi putih
lingkaran-fantasi merah
lingkaran-fantasi hijau
fantasi ungu
mengerubungi keping-keping daging
yang dihamburkan kencana sutra.
Hidup dalam kemarau
dengan bilur di tulang pinggang,
tulang punggung, sepanjang lengan
dan memar di dahi dan nasib.
Kita tubuh-tubuh terkapar,
ngantuk di bawah lengkung sejarah yang insomnia
kita jiwa-jiwa terbakar, pudar
dalam hidup yang sekadar.
Telah kami ciptakan dan akan terus kami
ciptakan, dengan hasrat hampa
dan senyap pikiran dalam kebisingan:
kembaran demi kembaran
sempurna, melalui garis ukur,
simetris dan seimbang
mengukur kedalaman diri yang legam.
Dan hari-hari tak pernah ganti baju
lusuh sepanjang waktu
sambil memainkan serbuknya ke udara
melalui cerobong berdiri sombong,
jendela roster bermotif kucing hitam.
Dan nama telah kita tanggalkan dalam dinding bisu
bersama angka dalam penanggalan beku.