Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Resonansi Pabrik dalam Tempo Presto
1
Suka
14
Dilihat

Cerobong asap menyanggah langit kejam

cuaca dengan serbuk bara menabur perih pada

atap seng, gudang usang, menerobos

lubang pelarian kucing hitam. Jaring laba-laba

di pojok tembok, sepasang capung tersesat.

Dunia berubah tapi tak berubah,

segala yang di luar hanya sebentuk samar

dari ventilasi muram dan jendela nanar.

Ada lebih nyata dari yang nyata

dunia bergulir dalam ketetapan, tak beranjak

dari sejarah ke sejarah, berabad-abad

lepas kendali benda-benda astronomi

lepas dari genggam lembut tangan pepohonan.

Siang musim panas

matahari sempurna ledakkan diri

di depan jendela roster

cahaya cakram memenuhi ruang

pengap dan bising

waktu baru dua jam berjalan

lantai bergetar

dentang-dentang suara, kokoh dan teror

Hari berjalan pelan dan

pincang

sebagai kakek tua di halaman rumahmu

jala raksasa telah menyeret kita

ke sini, berguling

bergumul

di atas debu-debu, mengental dan beku

berguling di sebidang cahaya menggoda

garis fantasi merah

dan kita semut-semut lapar

merayap

dari lereng-lereng, sebalik batu, bukit kemarau

dari rumah tanpa jendela

berhambur dari puncak menara batu.

Kita pejalan-semaput

di batas mimpi buruk dan terjaga,

beranjak dan berlari

dalam lorong merah, siluet

hantu-hantu mesin menjelang siang

dengan nyanyian kesakitan

menerobos gerbang kesadaran kita.

Matahari-matahari

celaka

dari dunia tak bernama,

derap asap dari segumpal roti membangunkan

tangan dan kaki dari

ranjang moyang kita.

Tangan kita terapung, hidup dan serempak

mengeluarkan bebunyian panjang, terompet kehidupan

nyanyian-nyanyian datar, hambar dan berulang.

Tangan adalah rahim, ibu dari bayi-bayi

tanpa kehamilan

bayi logam, guci, kaca, besi

dan cahaya

Tangan-tangan kita terbang, berputar, bersiklus

sepanjang siang dan malam

sebanyak tanggal berguguran. Lalu

sepatumu, suara langkah dengan beban

kaki penuh timah sebagai fragmen teater

monoton dan membosankan.

Udara menyala

mencakar tembok dan pintu

baja. Monster kecil, monster besar

dijaga pawang sakti; menggaung, menderu,

menampakkan kilat-kilat

Bruuum...

Brumm... Brummm…

Hari berjalan pelan

dan pincang

Lalu waktu menyimak muka kita yang merunduk

menghapal peralihan detik ke detik, menit ke

menit, slide-slide yang berganti

bertukar warna dalam jiwa kita.

Dari ventilasi terbentang cakrawala yang lain

seribu mulut dengan hasrat memangsa

menunggu kita, dan resahmu lahir

berulang percuma. Di batas khayal liar

di cakrawala-cakrawala ilusi,

imaji meledak, bunyi yang tak pernah habis

menyisakan ruang antara;

yang ada dan tidak. Kita tegak dalam ketaknyataan

dalam sekarat angan-angan

dalam nujuman burung-burung hitam

yang lahir dari 1000 hari rasa lapar.

Di terowongan fantasi, harapan-harapan terbit,

melangkah di antara suara aneh penuh rahasia

sebelum bayang hitam tiba, memakai tubuh gigil

hantu kanibal, bergerak ke arah yang lain

lenyap bersama nyala angan terakhir.

Kita terlempar ke sini

luruh di balik kaki

waktu beralas api

yang berjalan pelan penuh beban.

Satu ruang dengan kaca tembus bayang

penanggalan di atas meja, perempuan seorang

dengan masker pada wajahnya

menyisakan kecantikan

pada mata hitam: mata yang melawan

lapis panas dan udara dengan sisik

bara.

Ia memanggil nama-nama, hampir tak terdengar

gaduh dan rusuh huler menelan merdu suaranya.

SAYA MENJABAT TANGANNYA

DARAHNYA HANGAT

Saya mengenal kehangatan semacam ini

di masa remaja. Lewat perempuan yang mengajakku

menyusuri malam di kota kecil

dalam masa darurat, melewati

pos-pos siaga. Melintasi sisa darah

yang berjelaga di tanah. Saat itu Agustus 1998.

Pembantaian dimulai dari ujung timur

pulau. Tubuh manusia incaran mata maut

yang lahir dari dekret rahasia

naga hijau presiden; 114 mayat

terlempar ke jurang simpang siur.

Lalu kami merayakan

separuh malam dengan ketololan, dan ia senang

atas kekurangajaran kelelakianku.

Saya mengenal darah itu, hangat

khas perempuan kesepian

yang hidup dalam tangsi baja, terapung

dalam deru mesin-mesin, miliki pagi

tergopoh-gopoh. Memiliki matahari

pucat dalam mimpinya.

Ia begitu ramah.

Dengan jemarinya yang bening

dibubuhkan sesuatu di atas kertas. Angka-angka

dan rentetan peristiwa

Sedangkan hari terus berjalan

pelan dan pincang

melintasi jenjang angin di luar gudang pengap.

IA MEMBERI ISYARAT

DAN SAYA KEMBALI

Kami menunggangi lagi

punggung monster aneh

membiarkan moncongnya menderu

membawa mimpi buruk siang hari

mengobrak-abrik gendang telinga

membakar sumbu-sumbu tembaga.

Kita di sini, kami di mana-mana

kami di sini dan kita di sana

mengembara dalam suara tanpa nada

gerak tangan jadi keterasingan panjang

dunia dengan warna yang rawan

dan waktu memukul, mencambuk,

menombak tubuh yang kami pinjam

dari malam-malam muram.

Jam

mencair

setelah delapan angka

mengawasi kami.

Waktu menetes merembes ke seluruh

dinding. Hari mulai membungkuk

memamerkan pinggangnya yang merah

menggosokkan kaki pada

lampu-lampu lava, mengibaskan badan

merontokkan debu, asap pekat, dan asam karbonat.

Kemudian waktu berganti

layar berganti, adegan masih serupa...

Dengan pinggul yang cemerlang

langit memamerkan lampu zenit, cahaya beku

tak lebih dari 10 watt

tapi

siapa peduli

kami masih mencengkram setiap lapisan

cakram yang tak henti meluncur dari rahim diesel

buatan Rudolf dan Charles F. Kettering

meniupkan roh ke setiap bayi mungil nan cantik

memberi nama, menghangatkannya

dalam tungku perak.

Siapa peduli

kami adalah tangan-tangan gaib

dalam akuarium api.

Makhluk-makhluk baru planet bumi

telah kami sempurnakan segera meluncur

dalam peti kemas

dengan kapal cargo kecepatan rata-rata 10 knot

ke Rotterdam

ke Port Jackson

ke Singapura

dan sebagian Amerika

melewati laut beku, kristal biru maut

dan mereka abadi di sana,

kekal dan hayat

susul menyusul, bersiklus, berputar,

berjejal, mengisi ruang-ruang

dan tangan-tangan gaib makin gaib

berpacu dengan monster, mengejar lampu zenit

yang akan meledak di pinggul cemerlang malam.

TELAH SEMPURNA KAMI LAHIRKAN

KEMBARAN DEMI KEMBARAN

Dengan daging natrium, darah dari perasan batu

dan rangka tulang-tulang baja

beratus-ratus beribu-ribu berjuta-juta

menjadi koloni baru muka bumi

melancarkan eksodusnya pada umat manusia

dengan gairah merah

gelora tubuh kekar tanpa

uretra.

Dan di balik keajaiban demi keajaiban

kau takkan melihat lagi muka pucat

garis tangan terputus

suara ditelan udara klorida

keringat disedot asap belerang.

Kau takkan temukan kerling sunyi mata perempuan

yang sembunyikan separuh kecantikan

dengan cadar tebal anti kadmium

semua telah sempurna

semua serba sempurna

boneka api dengan roh ajaib.

Fajar menggasing di kaki kami, menampakkan

kaca-kaca

pecah dan bising

perputaran ger mencipta musik dalam tempo presto

berdentum seperti roda zaman

bangunkan kami dan mereka yang lapar

dan pagi tergopoh-gopoh

dengan baju hijau kebesarannya

kaki-kaki dalam sepatu berdebu

hinggap kembali menyerupai jejer

pepohonan pinus dini hari

menyemburkan tenaga ke seluruh ruang

memasangkan cakar kawat di segenap jarinya.

Mereka semut dalam lingkaran

kita semut dalam lingkaran

lingkaran-fantasi putih

lingkaran-fantasi merah

lingkaran-fantasi hijau

fantasi ungu

mengerubungi keping-keping daging

yang dihamburkan kencana sutra.

Hidup dalam kemarau

dengan bilur di tulang pinggang,

tulang punggung, sepanjang lengan

dan memar di dahi dan nasib.

Kita tubuh-tubuh terkapar,

ngantuk di bawah lengkung sejarah yang insomnia

kita jiwa-jiwa terbakar, pudar

dalam hidup yang sekadar.

Telah kami ciptakan dan akan terus kami

ciptakan, dengan hasrat hampa

dan senyap pikiran dalam kebisingan:

kembaran demi kembaran

sempurna, melalui garis ukur,

simetris dan seimbang

mengukur kedalaman diri yang legam.

Dan hari-hari tak pernah ganti baju

lusuh sepanjang waktu

sambil memainkan serbuknya ke udara

melalui cerobong berdiri sombong,

jendela roster bermotif kucing hitam.

Dan nama telah kita tanggalkan dalam dinding bisu

bersama angka dalam penanggalan beku.