Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Judul: Kompor
Genre: Kritik Sosial, Sarkasme Sosial
Type: Kontemporer, Satir, Liris
Tentang Apa?
Puisi tentang rakyat kecil dan wakil rakyat.
(*)
Aku terdiam bengong melihat kompor yang tak menyala-nyala,
Padahal aku sudah tahu tabung gasku meledak lima belas menit yang lalu,
Di antara puing-puing,
Di tengah-tengah kerumunan kaum hedonis,
Aku tetap bengong menatap kompor,
Sedangkan mayat ibu, ayah dan adikku,
Tertelungkup mereka biarkan.
(**)
Aku datang bersama keluargaku dari alam embrio menuju dunia,
Mengharapkan sebuah harapan yang kenyataannya bukanlah suatu harapan,
Kami salah memilih tempat,
Kami pergi ke tempat dimana kaum cilik menjadi olok-olokan.
Ibu pertiwi,
Ibu dari segala orang-orang patah jiwa kata mereka,
Tempat dimana yang lemah ditindas,
Yang licik mendapat tempat,
Itu kenyataan!
(***)
Kompor dan mentari apa bedanya?
Kompor menyala begitupun dengan mentari,
Menyala terang menyinari kita semua,
Bedanya nyala mentari yang sejati dimonopoli,
Dan itu artinya gelap bagi kami,
Gelap kebahagiaan,
Gelap kesejahteraan,
Gelap kesehatan,
Dan gelap-gelap lainnya.
(****)
Dan kami jadikan kompor sebagai pengganti matahari yang terangnya palsu,
Yang terangnya sudah tidak lagi meresap sampai ke sanubari.
Haruskah kukatakan bahwa terang itu bukan saja apa yang kita lihat dengan mata,
Tetapi terang itu juga ada di dalam hati dan jiwa kita semua,
Dan kalian sudah padamkan terang yang menyala dengan sadisnya.
(*****)
(***** 1)
Kami dan mereka apa bedanya?
Kami manusia, mereka juga ya manusia,
Makan, mandi, berak, ngeseks.
Sama!
(***** 2)
Sama-sama punya telinga,
Bedanya telinga mereka untuk menyadap ucapan kaum cilik yang dianggap berbahaya,
Sedangkan telinga kami tidak berfungsi karena kami selalu diperintahkan untuk...
Menutup telinga,
Dari siapapun yang mengumumkan kebenaran yang merugikan mereka.
(***** 3)
Sama-sama punya mata,
Bedanya mata mereka digunakan untuk menatap emas yang mereka rampok dari keringat kami,
Dan untuk mata kami...
Tahu sendirilah,
Dipaksa untuk menatap kesengsaraan sepanjang hari,
Bahkan sampai sepanjang hayat.
(***** 4)
Sama-sama punya mulut,
Bedanya mulut mereka hanya dipakai untuk membual,
Di kala sedang ada kepentingan saja,
Dipakai untuk saling memfitnah dan menjegal,
Dan anehnya korbannya malah selalu kami!
Dan untuk apa mulut kami?
Untuk makan makanan basi karena tidak sanggup membeli!
(****** 5)
Sama-Sama melangkah,
Bedanya langkah mereka untuk menjegal kami yang melakukan perlawanan.
Langkah mereka selaras dengan kami hanya di waktu-waktu tertentu saja,
Pemilihan umum misalnya.
Lalu kami?
Ah, kakiku dan yang tersayang sudah patah mencari kerja kesana-kemari.
Ya untuk itu!
(******)
Aku masih bengong menatap kompor yang sudah mati fungsi,
Dan mereka berteriak nyaring,
"Orang gilaaa! Orang gilaaa!"
Aku tertawa,
Gila juga makhluk Tuhan,
Dan meskipun aku gila...
Aku percaya di mata Tuhan,
Derajatku,
Derajat kami semua,
Masih lebih tinggi daripada mereka,
Dan lebih tinggi juga dari kalian,
Orang-orang berkuasa di negeri yang sebenarnya...
Tak pernah merdeka!