Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
0
Suka
15
Dilihat

‎Judul: Kompor

‎Genre: Kritik Sosial, Sarkasme Sosial

‎Type: Kontemporer, Satir, Liris

‎Tentang Apa?

‎Puisi tentang rakyat kecil dan wakil rakyat.

‎(*)

‎Aku terdiam bengong melihat kompor yang tak menyala-nyala,

‎Padahal aku sudah tahu tabung gasku meledak lima belas menit yang lalu,

‎Di antara puing-puing,

‎Di tengah-tengah kerumunan kaum hedonis,

‎Aku tetap bengong menatap kompor,

‎Sedangkan mayat ibu, ayah dan adikku,

‎Tertelungkup mereka biarkan.

‎(**)

‎Aku datang bersama keluargaku dari alam embrio menuju dunia,

‎Mengharapkan sebuah harapan yang kenyataannya bukanlah suatu harapan,

‎Kami salah memilih tempat,

‎Kami pergi ke tempat dimana kaum cilik menjadi olok-olokan.

‎Ibu pertiwi,

‎Ibu dari segala orang-orang patah jiwa kata mereka,

‎Tempat dimana yang lemah ditindas,

‎Yang licik mendapat tempat,

‎Itu kenyataan!

‎(***)

‎Kompor dan mentari apa bedanya?

‎Kompor menyala begitupun dengan mentari,

‎Menyala terang menyinari kita semua,

‎Bedanya nyala mentari yang sejati dimonopoli,

‎Dan itu artinya gelap bagi kami,

‎Gelap kebahagiaan,

‎Gelap kesejahteraan,

‎Gelap kesehatan,

‎Dan gelap-gelap lainnya.

‎(****)

‎Dan kami jadikan kompor sebagai pengganti matahari yang terangnya palsu,

‎Yang terangnya sudah tidak lagi meresap sampai ke sanubari.

‎Haruskah kukatakan bahwa terang itu bukan saja apa yang kita lihat dengan mata,

‎Tetapi terang itu juga ada di dalam hati dan jiwa kita semua,

‎Dan kalian sudah padamkan terang yang menyala dengan sadisnya.

‎(*****)

‎(***** 1)

‎Kami dan mereka apa bedanya?

‎Kami manusia, mereka juga ya manusia,

‎Makan, mandi, berak, ngeseks.

‎Sama!

‎(***** 2)

‎Sama-sama punya telinga,

‎Bedanya telinga mereka untuk menyadap ucapan kaum cilik yang dianggap berbahaya,

‎Sedangkan telinga kami tidak berfungsi karena kami selalu diperintahkan untuk...

‎Menutup telinga,

‎Dari siapapun yang mengumumkan kebenaran yang merugikan mereka.

‎(***** 3)

‎Sama-sama punya mata,

‎Bedanya mata mereka digunakan untuk menatap emas yang mereka rampok dari keringat kami,

‎Dan untuk mata kami...

‎Tahu sendirilah,

‎Dipaksa untuk menatap kesengsaraan sepanjang hari,

‎Bahkan sampai sepanjang hayat.

‎(***** 4)

‎Sama-sama punya mulut,

‎Bedanya mulut mereka hanya dipakai untuk membual,

‎Di kala sedang ada kepentingan saja,

‎Dipakai untuk saling memfitnah dan menjegal,

‎Dan anehnya korbannya malah selalu kami!

‎Dan untuk apa mulut kami?

‎Untuk makan makanan basi karena tidak sanggup membeli!

‎(****** 5)

‎Sama-Sama melangkah,

‎Bedanya langkah mereka untuk menjegal kami yang melakukan perlawanan.

‎Langkah mereka selaras dengan kami hanya di waktu-waktu tertentu saja,

‎Pemilihan umum misalnya.

‎Lalu kami?

‎Ah, kakiku dan yang tersayang sudah patah mencari kerja kesana-kemari.

‎Ya untuk itu!

‎(******)

‎Aku masih bengong menatap kompor yang sudah mati fungsi,

‎Dan mereka berteriak nyaring,

‎"Orang gilaaa! Orang gilaaa!"

‎Aku tertawa,

‎Gila juga makhluk Tuhan,

‎Dan meskipun aku gila...

‎Aku percaya di mata Tuhan,

‎Derajatku,

‎Derajat kami semua,

‎Masih lebih tinggi daripada mereka,

‎Dan lebih tinggi juga dari kalian,

‎Orang-orang berkuasa di negeri yang sebenarnya...

‎Tak pernah merdeka!