Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bab demi bab telah kutulis
dengan tangan yang pernah gemetar setiap kali mengeja namamu,
dengan hati yang dulu percaya
bahwa setiap halaman akan berakhir
pada bahagia yang sama-sama kita rencanakan.
Namun kini,
cerita demi cerita perlahan berubah.
Namamu yang dahulu kutulis penuh hati-hati,
seakan ia adalah doa yang tak boleh salah eja,
kini perlahan memudar
terhapus oleh waktu
dan tergantikan oleh kata ganti: dia.
Bukan karena aku lupa
atau tak lagi mampu mengingatnya,
melainkan karena menuliskan namamu
terasa seperti menusukkan luka
ke dadaku sendiri,
berulang kali,
pada tempat yang belum sempat sembuh.
Ada nyeri yang tetap tinggal
setiap kali huruf-huruf itu ingin kutuliskan,
seolah semesta mengingatkanku
bahwa beberapa nama
diciptakan hanya untuk dikenang dalam diam,
bukan untuk diabadikan.
Dan begitulah,
cerita itu hampir rampung.
Bukan karena tak ada lagi yang bisa diceritakan,
tetapi karena akhirnya aku memilih
untuk menutup buku ini
tanpa perlu lagi menyebut namamu.