Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lumbung itu tak pernah bertanya,
kenapa bulir-bulir padi di perutnya
selalu terasa berkurang,
diam-diam.
Ia hanya diam,
menyimpan apa yang tersisa.
Pasrah.
Saat
tikus-tikus datang tanpa permisi.
Mulutnya kecil,
tapi laparnya abadi.
Kata para tikus,
mereka hanya mengutip sedikit,
sekadar untuk menyambung
janji-janji.
Ternyata
giginya yang tajam
tak hanya mengunyah padi,
tapi
menggerogoti tiang-tiang
harapan
juga.
Dinding lumbung yang kian lapuk
mendengar decit tikus-tikus
seperti tembang
sumbang.
Begini decitnya,
“Ini hanya soal perut.”
“Toh, padi sebanyak ini takkan ada yang menghitung.”
Sementara,
di luar,
petani yang lelah
bermimpi panen esok hari
akan
lebih
b-e-r-u-n-t-u-n-g.
Dan lambung itu hanya
tetap diam.
Menyimpan padi,
menyimpan mimpi,
juga menyimpan
tikus-tikus
di dalamnya.
Barangkali,
hingga tiang terakhirnya roboh,
nanti.