Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Zachariel, malaikat termuda dari barisan para archangel. Ia diciptakan berbeda, dengan rambut hitam dan warna mata yang kelam, tidak seperti kakak-kakaknya yang memiliki rambut keemasan dan sepasang mata yang cerah. Alih-alih mengenakan sayapnya untuk terbang, ia lebih senang menderapkan kakinya yang kuat dan berlari-lari di sekitar surga. Sehingga mudah melacak keberadaannya, dan mudah untuk mengetahui ketidakberadaannya.
Surga kehilangan suara derap langkahnya dalam beberapa waktu.
Michael, merasa bertanggung jawab atas hilangnya Zachariel. Ia memerintahkan seluruh malaikat untuk mencari Zachariel di seluruh jagad raya, dan paranoidnya berkembang saat salah satu prajurit malaikatnya menemukan Zachariel bermain-main di muka bumi. Ia merasa murka dan menyuruh Zachariel kembali, dan kata-kata pertama yang dicetuskan Zachariel saat kembali adalah...
"Jadi semua itu benar. Karena aku baru saja melihat bagaimana manusia berhasil berbuat kerusakan di muka bumi."
Kalimat itu cukup untuk menghidupkan kembali kenangan yang seharusnya tetap terkubur.
Lucifer.
Kini, untuk pertama kalinya sejak perang itu berakhir, Michael kembali menggenggam pedang Tuhan—bukan karena musuhnya telah kembali, melainkan karena adiknya mulai mengajukan pertanyaan yang sama. Namun Zachariel tidak berhenti. Ia tetap melihat. Tetap mencari. Hingga ia mulai memahami sesuatu yang bahkan tidak dimiliki oleh para malaikat—