Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Hana mengalihkan pandangannya ke arah Gedung Menara Kaca di seberang jalan. Itu adalah markas besar firma arsitektur ternama, tempat yang menjadi mimpi buruk sekaligus cita-cita setiap mahasiswa di jurusannya. Di lantai dua belas, ada sebuah jendela besar dengan bingkai perak yang selalu menarik perhatiannya.
Di balik jendela itu, selalu ada siluet seorang pria.
Pria itu jarang bergerak. Ia biasanya berdiri atau duduk di depan meja gambar yang diterangi lampu arsitek berwarna putih dingin. Di saat semua orang sudah mematikan komputer dan bersiap pulang, pria itu tetap di sana, menjadi satu-satunya titik kehidupan di gedung yang mulai menggelap.
Hana sering bertanya-tanya, siapa pria itu? Apakah dia seorang jenius yang tenggelam dalam karyanya, atau hanya jiwa kesepian lainnya yang tidak memiliki alasan untuk pulang?
Tiba-tiba, jantung Hana berdegup sedikit lebih kencang saat melihat siluet itu bergerak. Pria itu mendekat ke arah jendela, seolah-olah sedang memandang ke bawah, ke arah taman. Secara refleks, Hana menundukkan kepalanya dalam-dalam ke buku sketsanya, berpura-pura sangat sibuk menggambar meski tangannya sedikit gemetar.
Jangan menoleh, Hana. Dia tidak mungkin melihatmu dari jarak sejauh itu, batinnya menenangkan diri sendiri.